
Setelah menunggu lebih dari setengah jam. Tiba-tiba sebuah angkot tepat berhenti di sebelah warung tempat mereka mangkal.
Seorang laki-laki yang berperawakan tinggi tegap, dengan kulit sawo matang, terlihat membuka pintu angkot tersebut. Guratan ketampanannya semasa muda, masih terlihat jelas di wajahnya.
"Kang Subro !" teriak mang Tatang memanggil lelaki yang berperawakan tinggi tersebut.
Senyum yang penuh kharisma, terpancar dari wajahnya.
"Ada apa, Tang ?" tanya kang Subro menghampiri temannya.
"Ini ada dua orang pemuda yang ingin bertemu dengan akang. Katanya mereka sedang mencari Aneng !"
Seketika, lelaki yang bernama kang Subro terkejut begitu Tatang menyebutkan nama Aneng.
Apa mereka temannya Aneng ? Batin kang Subro.
Bagas dan Bima berdiri untuk menyambut kedatangan kang Subro. Setelah mereka saling mengenalkan diri, akhirnya kang Subro mengajak Bagas dan Bima ke sebuah warung nasi.
Tiba di tempat.
"Makan ?" tawar kang Subro.
"Boleh, pak !" jawab Bagas.
"Ceu ! Paket komplit 3 ya ! Ayamnya di bakar saja !" teriak kang Subro kepada penjaga warung nasi tersebut.
Selagi mereka menunggu makanannya, kang Subro mengajak mereka duduk di pojok, agar lebih nyaman untuk mengobrol.
"Baiklah, apa yang bisa saya bantu, nak ?" tanya kang Subro setelah mereka duduk bersila di tempat lesehan itu.
"Kami sedang mencari Kyara, pak ! Tapi pada saat kami ke rumahnya, katanya rumah mereka telah dijual. Pemilik rumah yang baru menyarankan kami menemui bapak untuk mendapatkan informasi tentang Kyara." jawab Bagas
"Siapa kalian ? Dan untuk apa kalian mencari Kyara ?" tanya kang Subro bertanya penuh selidik.
"Kak Kya adalah...!"
Belum selesai Bima menjawab pertanyaan kang Subro, Bagas menyentuh tangannya agar Bima tidak melanjutkan perkataannya.
"Sebenarnya, saya teman kerjanya Kyara. Dan ini adik saya, hubungan dia dengan Kyara sudah seperti adik kakak. Karena itu, dia meminta saya ke kampung ini untuk menemui Kyara."
Bagas terpaksa berbohong. Sedari tadi Bagas perhatikan, sepertinya kang Subro sangat terkejut saat mang Tatang memberi tahu jika kedatangan mereka untuk mencari Kyara.
Kang Subro menghela napasnya.
"Tidak banyak yang saya tahu tentang Aneng." jawab kang Subro datar.
"Apa bapak tahu kenapa rumahnya dijual ?" kembali Bagas bertanya kepada kang Subro.
"Ratna bilang, terlalu banyak kenangan yang tidak bisa mereka lewati sendirian di sana. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa lagi. Kehidupan mereka cukup sulit semenjak suaminya meninggal. Gagalnya pertunangan anaknya, menjadi gunjingan para tetangganya. Terlebih lagi, tak ada satu pun keluarga suaminya yang bisa membela mereka dari cemoohan para tetangganya. Karena itu, Ratna memutuskan untuk menjual rumah itu dan pindah ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang akan mengenali mereka.
Hati Bagas semakin merasa sakit mendengar kesusahan yang Kyara alami setelah kembali ke desanya. Begitu juga dengan Bima, kebencian terhadap keluarganya mulai bersarang di hatinya.
"Apa bapak tahu, di mana sekarang mereka tinggal ?"
"Maaf, nak ! Jujur, bapak tidak tahu di mana sekarang mereka tinggal. Sepertinya Ratna benar-benar menutup diri dari orang-orang yang mengenalnya. Bahkan minggu kemarin, pada saat bapak hendak membayar pelunasan rumah itu, Ratna sama sekali tidak memberikan alamat rumah barunya. Dia malah yang datang menemui bapak di rumah."
Bagas menghela napasnya. Sepertinya akan kembali sulit untuk menemukan Kyara..., batinnya.
"Tapi, cobalah kalian pergi ke panti asuhan Kasih Bunda, tempatnya di jalan Harun, kota T. Terakhir kali bapak dengar, Aneng bekerja di sana sebagai pengasuh anak-anak panti."
"Benarkah..?"
__ADS_1
Wajah Bima mulai berseri-seri saat kang Subro memberitahukan tempat Kyara bekerja.
"Baiklah, setelah ini, kami akan coba mengunjungi panti itu, pak !"
"Semoga berhasil, nak !" ujar pak Subro seraya menepuk pundak Bagas.
Setelah pesanan mereka terhidang, mereka pun makan siang bersama.
***
"Ibu, Kya permisi dulu ya..! Hendak menyerahkan formulir pendaftaran beserta persyaratannya ke kampus Putra Bangsa !" pamit Kyara seraya mencium punggung tangan bu Hana.
"Iya, hati-hati sayang ! Semoga berhasil !" ujar bu Hana.
Setelah mengucap salam, Kyara pun berlari kecil keluar halaman panti untuk mengejar angkot yang akan membawanya menuju kota T.
Ya ! Hari ini adalah hari pertama pendaftaran mahasiswa baru di kampus Putra Bangsa. Sebuah kampus berstatus negeri yang terdapat di pusat kota T. Kyara sengaja memilih kampus yang masih berada di daerahnya, supaya dia masih bisa bekerja di panti meskipun statusnya nanti berubah menjadi mahasiswa. Kyara berjanji, dia akan membagi waktunya agar dia bisa berkuliah sambil bekerja.
Tiba di kampus. Antrian mahasiswa baru yang hendak mendaftar di kampus terfavorit itu, sangatlah panjang. Bahkan, sampai hari menjelang dzuhur pun, nama Kyara masih juga belum dipanggil. Kyara hanya mampu menghela napasnya.
Sabar Kya...., selalu ada rintangan untuk setiap kesuksesan...! Batinnya menyemangati dirinya sendiri.
***
Setelah makan siang berakhir. Bagas dan Bima segera berpamitan pada kang Subro. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju panti asuhan Kasih Bunda.
Tiba di sana, Bagas memarkirkan mobilnya. Setelah mereka turun, mereka pun kembali berjalan beriringan menuju pos penjagaan.
"Permisi ! Selamat siang !" sapa Bagas.
Pak Dul yang sedang terkantuk-kantuk di dalam pos penjagaan, langsung mengerjapkan matanya.
"Apa saya bisa bertemu dengan Kyara ?" tanya Bagas lagi.
"Maaf, aden-aden ini, siapa ya ? Darimana ?"
"Nama saya Bagas, ini adik saya, namanya Bima. Kami datang dari kota B." jawab Bagas memperkenalkan dirinya dan juga Bima yang sudah dianggap adiknya.
"Oh..! Sebentar, ya !"
Pak Dul segera menghubungi nomor kantor panti.
"Assalamualaikum, bu ! Ini ada orang yang mencari neng Kyara. Katanya mereka dari kota B !"
"................"
"Iya bu !"
"............."
"Siap bu !"
Pak Dul meletakkan kembali gagang telpon.
"Maaf den ! Neng Kya sudah tidak ada di sini lagi ! Sebaiknya aden-aden sekalian pulang saja !" ujar pak Dul.
"Bapak jangan bohong, ya ! Tadi jelas-jelas kang Subro bilang, kalau kak Kya bekerja di sini !" ujar Bima dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Waduh.. ! Kenapa aden jadi marah ? Beneran den ! Bapak tidak bohong, neng Kya memang sudah tidak ada di sini ! Lagipula, siapa itu kang Subro ? Bapak tidak mengenalnya..!" jawab pak Dul merasa kesal.
"Begini saja, pak ! Apa saya boleh bertemu dengan pemilik panti ini ?" tanya Bagas lagi.
__ADS_1
"Aeh...aeh..., kenapa atuh kalian teh maksa banget buat ketemu neng Kya ? Sudah dibilangin tidak ada, masih tidak percaya ! Sebentar ! Tunggu di sini ! Saya mau telpon kantor dulu !" ujar pak Dul seraya kembali ke dalam pos penjagaan.
5 menit berlalu, akhirnya pak Dul mempersilakan Bagas dan Bima masuk.
"Ayo ! Kalian lurus saja dari sini ! Nanti di depan belok kiri, itu kantor ibu panti." ujar pak Dul.
Bagas dan Bima segera berjalan mengikuti petunjuk dari pak Dul. Tiba di sana, Bagas segera mengetuk pintu kantor.
"Masuk !"
Ceklek...
Bagas membuka pintunya. Tampak seorang wanita paruh baya sedang menunggunya di kursi kebesarannya.
"Silakan duduk !" perintah bu Hana.
Bagas dan Bima duduk di kursi tamu yang telah tersedia di hadapan bu Hana.
"Ada apa kalian mencari Kyara ?" tanya bu Hana dingin.
"Perkenalkan bu, nama saya Bagas dan ini adik saya, Bima."
Bagas dan Bima mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pemilik panti. Namun sayangnya, bu Hana sama sekali tidak memberikan reaksi apa pun.
"Katakan saja, apa maksud kalian mencari Kyara !"
"Sebenarnya, adik saya merasa kangen sama Kyara, karena itu saya menemaninya untuk menemui Kyara. Bagaimanapun juga, hubungan mereka sebagai kakak adik sudah sangat dekat. Saya tidak sampai hati melihat dia menangis karena merindukan Kyara." jawab Bagas.
"Pintar sekali anda berbohong ! Saya rasa, adik anda bukan anak kecil lagi, yang suka menangis karena merindukan seseorang. Terlebih lagi yang dirindukannya adalah orang lain."
"Tapi itu benar, bu ! Saya sangat merindukan kak Kya, saya benar-benar ingin bertemu dengan kak Kya !"
"Pergilah...! Percuma kalian mencari Kyara kemari ! Kyara sudah tidak bekerja di sini lagi !" usir bu Hana.
"Tapi bu...! Kang Subro bilang, kakak Kya bekerja di tempat ini sebagai pengasuh !" ujar Bima tak terima perkataan bu panti.
"Ya..! Seminggu yang lalu, dia memang masih kerja di sini. Tapi, semenjak rumahnya terjual, ibunya membawa Kyara pergi." jawab bu Hana.
"Apa ibu tahu mereka pergi ke mana ? tanya Bagas.
Bu Hana menggedikkan bahunya.
"Mereka tidak bilang mau pergi kemana, mereka hanya bilang, mereka akan membuka lembaran baru di tempat yang baru. Di mana tak ada seorang pun yang akan mengenalinya. Mereka sudah cukup menderita mendengar hinaan dan ejekan orang-orang karena putusnya pertunangan Kyara dengan pemuda kota itu !"
Bu Hana menarik napasnya, berat. Dia menyayangi Kyara seperti anaknya sendiri, karena itu hatinya terasa sesak saat mengingat kejadian putusnya hubungan Kyara dengan tunangannya.
"Pergilah ! Kalian sudah sangat banyak membuang waktuku dengan percuma !"
Usiran halus, bu Hana lontarkan kepada Bagas dan Bima.
Pada akhirnya, Bagas dan Bima pun mengalah, dan segera pergi meninggalkan kantor panti.
Bagas dan Bima segera memasuki mobilnya. Perlahan, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke kota B.
Kembali menghilang...! Sekali lagi kamu menghilang nona...! Aku tidak tahu harus mencarimu kemana ? Ah nona..., kenapa kau senang sekali bersembunyi dariku...!
Bersambung...
Jangan lupa untuk like vote n komen cerita ini
🙏🤗
__ADS_1