
Tuan Mahesa pergi sambil tangannya terus memegangi dada sebelah kirinya yang semakin terasa sakit.
Tak lama setelah tuan Mahesa pergi, Rahmat sopir pribadinya tiba.
"Mari mbak, saya antar pulang !" tawar pak Rahmat.
Andin mengangguk. Dengan diantar sopir pribadi tuan Mahesa, Andin pun kembali di kantornya.
***
Tuan Mahesa tiba di rumah dengan kondisi pucat pasi karena harus menahan rasa sakit sepanjang perjalanan.
"Masya Allah, apa yang terjadi Ren ?" tanya nyonya Aini kepada Renald.
"Maaf nyonya, saya sendiri tidak tahu. Tadi setelah berbicara dengan salah satu karyawan Delona Group, tiba-tiba saja, tuan meminta saya untuk mengantarnya pulang." jawab Renald.
"Aini...!" panggil tuan Mahesa, lemah.
"Iya, suamiku !" jawab nyonya Aini.
"Tolong bantu aku ke kamar ! Aku mau istirahat !" pinta tuan Mahesa.
Segera nyonya Aini dan Renald memapah tuan Mahesa ke kamar untuk beristirahat. Setelah membaringkan tuannya di atas kasur. Renald pun pamit untuk kembali ke kantor. Nyonya Aini kemudian menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa kondisi suaminya.
Setelah 20 menit menunggu, dr Joni yang tak lain sahabat sekaligus dr keluarga Sanjaya pun tiba. Segera beliau memeriksa kondisi kawan karibnya semenjak SMA.
"Apa yang terjadi padamu, Sa ?" tanya dr Joni.
"Aku tidak apa-apa, Jon. Mungkin aku hanya kelelahan." jawab tuan Mahesa.
Dokter Joni menarik napasnya, panjang. Dia paham jika saat ini, sahabatnya sedang tidak ingin bercerita.
"Baiklah, jika kau tidak ingin bercerita, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku mohon, jaga kesehatanmu, Sa ! Di usia kita yang sekarang ini, rawan sekali bagi kita untuk terserang berbagai macam penyakit. Jangan terlalu kecapean ! Jangan terlalu banyak pikiran, Sa !" nasihat dr Joni.
Tuan Mahesa mengangguk, "Iya..., iya, Jon. Akan aku ingat semua nasihatmu ini." ujar tuan Mahesa.
"Baiklah, aku buatkan resepnya dulu. Nanti kamu bisa menyuruh asistenmu untuk menebusnya di apotek." jawab dr Joni seraya menuliskan resep di secarik kertas.
Setelah selesai, dia kemudian menyerahkan salinan resep tersebut kepada tuan Mahesa.
"Terima kasih, Jon !"
__ADS_1
"Sama-sama. Istirahatlah !"
Setelah selesai memeriksa kondisi sahabatnya, dr Joni pun kembali ke rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi, suamiku ?" tanya nyonya Aini selepas mengantar dr Joni ke depan pintu.
"Aku tidak apa-apa Aini, mungkin hanya kecapean saja." jawab tuan Mahesa.
Nyonya Aini hanya terdiam mendengar alasan tuan Mahesa. Sebenarnya dia ingin menanyakan perihal karyawan yang diceritakan Renald. Namun, dia takut kondisi suaminya akan kembali ngedrop.
"Baiklah, istirahatlah...! Aku akan pergi ke apotek dulu untuk menebus obatnya." ujar nyonya Aini.
"Kenapa kau harus repot-repot, Aini. Suruh saja Renald untuk menebus obatnya !" jawab tuan Mahesa.
"Tidak apa-apa, suamiku. Lagipula, Renald sudah kembali ke kantor, kasihan jika kita harus menyuruhnya untuk kembali lagi kemari !" ujar nyonya Aini.
"Tapi, bukankah Rahmat sedang tidak ada di rumah ?" tanya tuan Mahesa.
"Tidak apa-apa, aku bisa pergi dengan taksi online." jawab nyonya Aini.
"Baiklah, terserah kamu saja !" ujar tuan Mahesa yang paham atas sifat keras kepala istrinya.
Nyonya Aini tersenyum, "Akan kusuruh Ijah untuk menjagamu !"
Nyonya Aini tersenyum seraya mengusap pipi suaminya. Kemudian dia pun pergi untuk menebus obat suaminya di apotek terdekat.
Selepas kepergian istrinya, tuan Mahesa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asistennya.
"Hallo, assalamualaikum..!" sapa Renald di ujung telpon.
"Waalaikumsalam. Sekarang juga, kamu cari tahu tentang gadis yang bernama Cecilia Maharani ! Cari tahu siapa dia sebenarnya, berasal dari mana, bagaimana latar belakangnya dan apa hubungannya dengan cucuku, Ajay ! Aku tunggu kabarnya, secepatnya !"
"Baik, tuan !"
Sambungan telpon pun terputus. Tuan Mahesa memejamkan matanya. Masalah apa lagi yang sedang dibuat anak itu...? Kenapa sifatnya tidak pernah berubah, selalu saja bermain perempuan...
***
Seminggu berlalu. Akhirnya Renald berhasil mendapatkan semua data yang diinginkan tuannya.
Tok...tok... tok...
__ADS_1
Renald mengetuk pintu ruang kerja tuannya.
"Masuk !" perintah tuan Mahesa.
Renald membuka pintu, kemudian masuk untuk menemui tuannya.
"Duduk Ren !" perintah tuan Mahesa.
Renald kemudian duduk berhadapan dengan tuannya.
Tuan Mahesa menghentikan aktivitasnya.
"Apa sudah kau dapatkan informasi tentang gadis itu ?" tanya tuan Mahesa.
Renald mengangguk. Dia kemudian menyerahkan amplop besar berwarna coklat.
Tuan Mahesa menerima amplop tersebut. Dia kemudian membukanya. Terdapat beberapa lembar berisi tentang data diri gadis itu. Tuan Mahesa membacanya dengan seksama.
Cecilia Maharani. Putri tunggal dari pasangan Guna Wirawan dan Alya Wirawan. Ayahnya seorang pengusaha sawit terbesar di negara Indonesia, sedangkan ibunya pemilik sebuah yayasan sosial di Kalimantan.
Besar di keluarga yang sibuk dengan urusannya masing-masing, membuat Cecilia pergi dari rumahnya ke kota B dan hidup sendirian di kota ini.
Dia merupakan sahabat terdekat dari Andin Rosalinda. Hubungan persahabatan terjalin sejak kecil karena hubungan kedua orang tuanya yang bersahabat juga. Namun persahabatan mereka sempat renggang saat usia mereka menginjak dewasa. Persoalan yang terjadi diakibatkan karena Andin pernah merebut kekasih Cecilia yang bernama Edo Hadikusuma. Atas desakan ibunya, Cecilia kembali menjalin persahabatan dengan Andin.
Cecilia bertemu dengan tuan Ajay tanpa sengaja. Ketika nona Andin yang masih berstatus pacar tuan Ajay menghabiskan liburannya di L.A. Hubungan Cecilia dengan tuan Ajay semakin dekat, hingga beberapa minggu yang lalu, semuanya terbongkar.
Tanpa sengaja nona Andin melihat tuan Ajay dan Cecilia sedang berada di kamar 304 lantai 9, hotel Bintang. Karena perselingkuhan itu, akhirnya hubungan tuan Ajay dan nona Andin putus. Informasi terakhir yang didapat, kabarnya saat ini, Cecilia sedang mengandung anak tuan Ajay.
"Argghh...!"
Kembali tuan Mahesa memegang dada kirinya. Kalimat terakhir yang dibacanya, membuat jantungnya berpacu tak beraturan. Segera tuan Mahesa membuka laci mejanya dan mengeluarkan berbagai macam jenis obat-obatan yang selalu menemaninya seminggu terakhir ini. Setelah dirasa cukup tenang, dia pun menyuruh Renald pergi, dan segera memasuki kamar yang ada di ruangan kerjanya untuk beristirahat.
Tiba di kamar. Tuan Mahesa membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Mengandung anak Ajay...! Ya Tuhan, ternyata sampai sejauh itu mereka berhubungan. Apa yang harus aku lakukan ? Bagaimana dengan nasib Kyara ? Dan gadis macam apa yang sanggup berselingkuh dengan pacar sahabatnya ? Aku yakin jika gadis itu bukan gadis baik-baik. Tidak ada yang lebih pantas untuk menjadi istri Ajay selain Kyara. Tapi, anak itu..? Bagaimanapun juga, dia keturunan keluarga Sanjaya. Darah Ajay mengalir di tubuh anak itu. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan ? Aku tidak mungkin menelantarkan anaknya Ajay, tapi aku juga tidak bisa menerima gadis itu sebagai cucu menantuku. Lalu, apa yang harus aku katakan pada Kyara dan orang tuanya ?
Tanpa disadarinya, air bening mulai menggenang di sudut mata orang tua itu. Orang yang sangat berwibawa dan disegani di kalangan pengusaha, kini dia terlihat sangat lemah. Ada banyak luka di hatinya akibat perbuatan buruk cucunya.
Kenapa nak...? Kenapa kamu tidak pernah bisa berubah ? Kenapa kamu tidak pernah bisa bersikap dewasa ? Sampai kapan kamu akan terus mencoreng nama baik keluarga kita..??
Bersambung....
Selamat melaksanakan ibadah puasa...
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu mendukung karya ini dengan cara like vote n komen...
Makasih....🙏