Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Don't Do That...!


__ADS_3

Kriiing...!


Alarm ponsel di atas nakas membuat Kyara terbangun dari tidurnya. Kyara segera meraih ponselnya dan mematikan alarm tersebut agar tidak membuat Bagas terbangun karena kaget. Kyara tersenyum begitu melihat wajah suaminya yang masih tertidur. Kyara sedikit menyibak selimutnya. Tampak tubuhnya dan tubuh suaminya yang terlihat polos tanpa sehelai benangpun. Meski kaget namun akhirnya Kyara mengucap syukur karena bisa melalui semua traumanya selama ini.


Perlahan Kyara mulai bangkit.


"Ish..., perih sekali...!" gumam Kyara.


Meskipun merasakan sakit, namun Kyara tetap memaksakan diri untuk berjalan. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00. Kyara harus segera membersihkan dirinya, karena waktu subuh sebentar lagi tiba. Saat Kyara menghentikan langkahnya sejenak karena merasa perih yang amat sangat di area sensitifnya, tiba-tiba...


Huff...


Bagas tiba-tiba mengangkat tubuh Kyara dan menggendongnya ala bridal style menuju kamar mandi.


Blush....


Seketika rona merah tampak semakin jelas di kedua pipi putih milik Kyara. Bukan tanpa sebab kedua pipi Kyara berubah warna bak kepiting rebus. Masalahnya saat itu, Kyara berjalan dengan tubuh polosnya karena mengira suaminya masih terbuai di alam mimpi.


"Turunkan aku kakang...! Aku...aku malu sekali...!" ujar Kyara seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.


Namun Kyara pun semakin terhenyak ketika menyadari tubuh suaminya pun tak berbalut pakaian.


"Ish, kakang ..! Kenapa kau tak memakai bajumu !" ujar Kyara memukul pelan dada suaminya, setelah itu Kyara pun semakin menyusupkan wajahnya di leher suaminya.


Bagas hanya tergelak melihat tingkah malu istrinya.


"Kau sangat kesulitan untuk berjalan, lalu kenapa kau tidak membangunkan aku ?" tanya Bagas.


"Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu." jawab Kyara masih memejamkan matanya.


"Kau ini...!"


Ceklek...


Bagas membuka pintu kamar mandi. Dia mendudukkan Kyara di pinggir bathtub. Dia pun mulai mengisi bathtub dengan air hangat. Setelah dirasa air sudah cukup memenuhi bathub nya, Bagas kembali memangku Kyara dan meletakkannya di atas bathtub.


"Kita mandi sama-sama, ya ! Biar cepat selesai. Sebentar lagi subuh." bisik Bagas di telinga Kyara.


Kyara mengangguk.


Bagas pun tersenyum. Dia kemudian memasuki bathtub dan duduk di belakang Kyara.


"Biar kugosok punggungmu, sayang !" ujar Bagas.


Kembali Kyara mengangguk.


Bagas mulai menuangkan sabun cair di telapak tangannya. Dia menggosokkan kedua tangannya. Setelah dirasa sudah cukup berbusa, Bagas mulai mengusap lembut tengkuk Kyara.


Kyara memejamkan matanya saat merasakan tangan Bagas mulai mengusap-usap pelan tengkuk dan punggungnya. Wangi aroma therapy dari sabun yang digunakan suaminya, membuat Kyara semakin nyaman. Namun kenyamanan itu berubah menjadi sebuah desiran panas di sekujur tubuh Kyara saat kedua tangan Bagas bergerilya di sekitar dadanya.


Kyara semakin memejamkan matanya menahan gairah akibat r*****n tangan Bagas di kedua bukit kembarnya.


Bagas menciumi punggung Kyara seraya tangannya bergerilya semakin ke bawah. Napasnya semakin terasa berat menahan hasratnya yang mulai naik ke ubun-ubun. Puas menyusuri punggung Kyara dengan bibirnya, Bagas menyandarkan punggungnya ke tepi bathtub dan meraih pundak Kyara agar ikut menyandar di dada bidangnya.


"Ishhh.....!"


Kyara mendesis pelan saat tangan Bagas menyentuh sesuatu yang menjadi kelemahannya.


"Aaahhh...., sa...yang....!" suara Bagas mulai serak saat hasratnya mulai memuncak.


Kyara menengadahkan wajahnya. Matanya masih terpejam karena merasa malu dengan apa yang tengah dia lakukan. Namun tidak bisa dipungkiri jika Kyara menikmati setiap sentuhan suaminya.


Bagas segera membenahi posisinya. Dia mulai mengkungkung tubuh Kyara di bawahnya. Di bawah genangan air bathtub, dia pun memulai penyatuannya terhadap istrinya.


Gila....! Sensasi yang benar-benar gila ! Entah apa yang merasuki keduanya sehingga mereka melakukan penyatuan di dalam bathtub. Namun inilah hasrat bercinta. Terkadang manusia tak bisa mengukur logika saat birahi mulai merasuki jiwa yang sedang bergairah.


Akhirnya, mandi yang seharusnya selesai dalam 20 menit, kini harus berakhir dalam waktu satu jam. Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Mereka pun kembali membersihkan dirinya supaya tidak kesiangan solat subuh.


Selepas solat subuh berjamaah, Kyara pun segera membuka mukenanya karena hendak pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


Melihat istrinya membuka mukenanya tergesa-gesa, Bagas bertanya. "Mau kemana ?"


"Masak." jawab Kyara.


"Tidak usah masak, kita delivery saja !"


"Tapi kang ?"


"Kemarilah !" Bagas mengulurkan tangannya. "Ini hari Minggu, temani aku tidur lagi !" ujar Bagas.


Sejenak Kyara diam. Sejujurnya dia takut jika Bagas akan kembali menggerayanginya.


"Ish kakang...! Apa masih belum cukup ?" tanya Kyara sedikit menggerutu.


Bagas berjalan mendekati Kyara.


"Tidak akan pernah ada kata cukup untuk menyentuh dirimu, sayang ! Kau seperti candu bagiku, dan aku benar-benar ketagihan dengan semua yang ada dalam dirimu." bisik Bagas yang berhasil membuat Kyara bergidik ngeri.


Apa dia memiliki kelainan seksual ? tanya Kyara dalam hati.


"Jangan bilang kau menginginkan kita melakukan itu lagi ?" cicit Kyara dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Kenapa ? Apa kau sudah tidak mau melayaniku ?" ujar Bagas seraya menatap tajam Kyara.

__ADS_1


"Bu.... bukan begitu...! Ta... tapi satu jam yang lalu kita melakukannya, apa... apa kau belum merasa puas ?"


"Ish sayang...! Tidak akan pernah ada kepuasan bagiku untuk menikmati setiap inci tubuhmu ! Bila perlu kita lakukan sepanjang hari, mumpung ini hari libur !" ujar Bagas menyeringai.


"What ! Apa kau gila !" pekik Kyara.


"Ya ! Aku gila Kya ! Aku benar-benar tergila-gila padamu ! 6 tahun aku selalu berfantasi akan tubuhmu ! Dan sekarang, aku telah memilikimu. Akan aku lakukan semua fantasiku bersamamu saat ini !" Bagas tersenyum smirk, membuat Kyara mulai merasa takut melihatnya.


"Dokter Nita ! Aku harus segera menghubungi dokter Nita !" ujar Kyara seraya melangkahkan kakinya hendak mengambil ponselnya di atas nakas.


Bagas mengernyitkan dahinya. Siapa dokter Nita ? batinnya.


"Apa yang akan kau lakukan ?" tanya Bagas begitu melihat istrinya mengambil ponsel.


"Aku akan menghubungi temanku. Dia seorang psikiater, dia pasti bisa menyembuhkan penyakitmu !"


Psikiater ? Ish, apa dia pikir aku tidak waras...!


Bagas menyambar telponnya Kyara dan melemparkannya ke atas ranjang.


"Memangnya kenapa aku harus membutuhkan psikiater ? Aku tidak gila, Kya ! Aku masih waras !" ujar Bagas geram.


"Sa... sayang kau memang tidak gila, tapi kau sakit !" ujar Kyara lembut, mencoba menenangkan suaminya.


"Ya ! Aku sakit ! Tapi aku tidak butuh psikiater untuk bisa menyembuhkan penyakitmu, aku hanya butuh dirimu Kya ! Tubuhmu !"


DEG....!


Jantung Kyara seakan berhenti berdetak saat Bagas mengatakan hanya membutuhkan tubuhnya.


Ja.... jadi..., se... selama ini di... dia hanya menginginkan tubuh ini...! Di... dia tidak men... mencintaiku dengan tulus...! Dia ha... hanya menginginkan tubuhku...!!


Kaki Kyara seakan tak bertulang mendengar dan melihat seringai licik di wajahnya Bagas. Hatinya benar-benar hancur melihat kenyataan jika suaminya hanya menginginkan tubuhnya. Sejurus kemudian, Kyara mulai kembali merasakan kebencian akan tubuhnya.


"Kau...! Ke .. kenapa kau lakukan ini padaku !" Kyara menatap dingin ke arah Bagas.


Eh..., kenapa wajahnya berubah seperti itu..., batin Bagas.


Kyara benar-benar merasa tersakiti oleh semua ucapan suaminya. Kini dia merasa seolah tidak punya harga diri lagi. Dengan langkah gemetar Kyara mendekati Bagas.


"Kau menginginkan tubuhku ?" tanya Kyara datar.


Bagas hanya bisa diam terpaku melihat tatapan dingin istrinya.


Kyara tersenyum sinis.


"Kau hanya menginginkan tubuhku bukan ! Baiklah ! Lakukanlah ! Miliki tubuhku ! Jamah aku sekarang ! Puaskanlah nafsumu ! Ayo lakukan ! Kau ingin tubuhku kan ! Katakan ! Tubuh bagian mana yang membuatmu senang ? Tubuh bagian mana yang membuatmu merasa ketagihan ? Apa bibirku ? Dadaku ? V*****ku ?"


Dengan berurai air mata, Kyara mulai melucuti semua pakaiannya hingga tubuh polosnya terekspos sempurna.


Bagas benar-benar terkejut melihat perbuatan istrinya. Dia tidak pernah menyangka jika perbuatannya yang hanya untuk menggoda istrinya malah membuat istrinya menjadi kalap.


"Apa yang kau lakukan sayang ?"


Bagas menarik selimut yang telah terlipat di atas ranjang. Dia kemudian menutupi tubuh polos istrinya dengan selimut itu.


"Kenapa ? Kenapa kau malah menutupinya ? Bukankah kau sangat menginginkan tubuhku ? Bukankah selama 6 tahun ini kau selalu berfantasi dengan tubuhku ? Lakukan ! Lakukan jika itu bisa membuatmu puas ! Lakukan sekarang ! Puaskan hasratmu sekarang ! Tapi setelah itu, ceraikan aku dan jangan pernah menemuiku lagi ! Ayo lakukan !"


Kyara mulai berteriak histeris. Bayangan masa lalu saat dia mendapatkan pelecehan dari Ajay kini mulai berkelebat dalam ingatannya.


"Kau benar-benar brengsek ! Tak ada bedanya dengan sahabatmu ! Kalian semuanya brengsek ! Kalian mencintaiku hanya untuk mendapatkan tubuhku ! Bajingan !"


Bagas terkesima mendengar ucapan Kyara.


"Kya, sayang ! Kau...kau salah paham !"


Bagas segera memeluk tubuh Kyara.


"Lepaskan...! Lepaskan aku...! Aku benci tubuhku ! Kenapa setiap lelaki yang aku cintai hanya menginginkan tubuhku saja ! Apa salahku pada kalian ! Sampai kalian tega memperlakukan aku seperti ini ! Kenapa..!"


Brugh...


Kaki Kyara sudah tidak bisa menopang lagi tubuhnya. Dia pun terjatuh dan mulai duduk mendekap kedua lututnya dengan berbalutkan selimut.


"Kya, sayang..., maafkan aku ! Aku tidak bermaksud merendahkanmu ! Aku hanya bercanda sayang ! Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu ! Tadi aku hanya ingin menggodamu sayang. Percayalah padaku !"


Bagas menangkup kedua pipi Kyara. Dia menatap penuh penyesalan ke arah Kyara.


"Sa.... sayang..., aku mohon maafkan aku ! Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan semua ucapanku ! Aku hanya menggodamu sayang ! Tolong jangan samakan aku dengan dirinya ! Aku benar-benar mencintaimu sayang ! Maafkan aku ! Aku mohon maafkan aku !"


Bagas sudah tak sanggup lagi melihat Isak tangis istrinya. Dia benar-benar menyesal. Dia tidak pernah menyangka jika istrinya akan menanggapi serius perkataannya.


Bagas menjambak rambutnya dengan kasar. Dia pun mulai menitikkan air mata karena merasa bersalah telah membuat istrinya terluka. Bagas terlihat frustasi ketika melihat Kyara duduk seperti itu. Dia pun mulai takut jika Kyara akan kembali menyalahkan dirinya sendiri.


"Sayang, lihat aku ! Tatap mataku ! Aku tidak pernah membohongimu, aku mencintaimu...aku sangat mencintaimu...! Aku mohon, maafkan kecerobohanku yang tidak memikirkan akibatnya. Jujur Kya, tadi itu aku hanya bercanda, aku hanya berniat untuk menggodamu. Aku tidak punya niatan untuk merendahkanmu. Aku mohon maafkan aku !"


Diam...! Kyara hanya bisa diam. Dia sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi.


"Kya, aku mohon ! Jangan diam saja ! Dengar, kau boleh menghukumku dengan cara apapun yang kau mau. Tapi aku mohon, maafkan aku Kya ! Jangan tinggalkan aku ! Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu !"


Bagas mulai menundukkan kepalanya menyadari kesalahannya.


Kyara sudah tidak tahan lagi melihat suaminya. Akhirnya.....

__ADS_1


Bhua...ha...ha...


Ha....ha....ha....


Kyara tertawa keras seraya memegang selimut yang menutupi tubuhnya.


Bagas terkejut melihat perubahan di wajah Kyara.


Ish apa ini ? Apa dia benar-benar merasa tertekan sehingga dia mulai labil kembali...? Ya Allah..., maafkan hambaMu ini...


Kyara mulai berdiri. Dengan santainya dia kembali memunguti pakaiannya, kemudian pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, Kyara kembali keluar lengkap dengan pakaian yang telah melekat ditubuhnya.


Kyara mendekati suaminya yang masih terduduk di lantai dengan perasaan yang tak karuan.


Kyara berjongkok di hadapan suaminya. Dia pun meraih dagu suaminya sekejap kemudian dia mengecup bibir suaminya.


"Kenapa kakang ? Apa kau pikir hanya kamu yang bisa mengerjaiku ?" ujar Kyara sambil mengedip-ngedipkan matanya ke arah Bagas.


"Kau....!"


"Iya...! Aku...! Kenapa ? Kaget karena aku bisa balik mengerjaimu ! Aku Hebat kan...! He...he...he..." ucap Kyara terkekeh kecil seraya berlari ke luar kamar.


"Kau...! Ish... keterlaluan, kemari kau...!"


Bagas segera mengejar istrinya keluar kamar. Tiba di ruang tamu, mereka pun saling berkejaran. Hingga akhirnya rasa lelah mulai menghampiri mereka.


Hup...


Bagas menangkap tubuh Kyara dan menariknya ke atas sofa. Dia mulai menggelitiki pinggang istrinya. Membuat Kyara berteriak meminta ampun karena kegelian. Jika boleh jujur, Kyara memang paling tidak tahan dengan rasa geli karena digelitiki.


"Sudah cukup kakang ! Aku sudah tidak tahan lagi ! Geli ih ! Ampun... ha....ha...!"


"Rasakan ini ! Berani-beraninya kau mengerjai suamimu sendiri...!" ujar Bagas tak menghentikan aksinya.


"Ha...ha..., iya .. maaf..., maaf kang...! Kya janji...he...he..., Kya nggak bakalan... lakuin itu lagi...! Stop kang...! Ish, Kya bisa ngompol di sini nih.....!"


Bagas pun menghentikannya. Dia kemudian mendekap erat tubuh istrinya. Kembali menghirup kuat aroma rambut istrinya.


Kyara melirik ke arah Bagas. Jarinya mengelus pipi suaminya. "Maaf...!" ujarnya lirih.


"Maafkan aku juga !" ujar Bagas mengecup pipi istrinya. "Aku penasaran sayang, kenapa kamu bisa tahu jika aku sedang mengerjaimu ?" tanya Bagas penasaran.


"Ah tuan..., apa kau lupa jika aku ini seorang psikolog anak ? Dengar ya sayang, seorang psikolog tentu belajar tentang ilmu  micro expression, karena itu aku bisa membedakan yang mana kejujuran dan yang mana kebohongan." ujar Kyara merasa bangga.


"Wah, gawat dong !"


"Kenapa gawat ?" tanya Kyara mendongakkan wajahnya.


"Kalau aku bohong, pasti langsung ketahuan."


"Ish, awas aja kalau berani bohongi aku !" ujar Kyara seraya mencubit tangan suaminya yang melingkar di pundaknya.


"Aww...! Sakit yang...! Iya-iya, aku nggak bakalan pernah bohongi kamu ! Tapi janji ya sayang..." ujar Bagas memggantung kalimatnya.


"Don't do that ! Please don't do that again ! Aku benar-benar bisa gila jika kamu sampai berpikiran yang tidak-tidak tentang aku. Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang ! Aku mencintaimu !"


Kyara membenarkan posisi duduknya. Dia menatap lembut ke arah suaminya.


"I'm promise..!"


Bagas mendekatkan wajahnya, dia mulai mengecup bibir mungil Kyara. Kyara mulai terhanyut dalam kecupan hangat suaminya. Dorongan tubuh Bagas memaksa Kyara untuk berbaring di atas Sofanya. Melihat istrinya terbaring pasrah, Bagas pun tak kuasa lagi menahan hasratnya. Akhirnya, pagi itu mereka lewati penuh keindahan....


***


Seminggu telah berlalu. Belum ada perkembangan yang baik dari kondisi Ajay. Karena itu, kedua orang tuanya belum bisa membawanya ke psikiater. Akhirnya dokter Firman memutuskan untuk menghubungi temannya.


"Assalamualaikum dokter Nita ! Apa kabar ?"


"Waalaikumsalam, kabar saya baik dok ! Dokter Firman sendiri ?"


"Alhamdulillah, saya baik juga dok ! Ngomong-ngomong apa dokter sibuk ?"


"Kebetulan hari ini saya sedang cuti, dok."


"Benarkah ? Berapa lama ?"


"Seminggu, tapi sisa cutiku hanya tinggal beberapa hari lagi. Memangnya kenapa dok ?"


"Emmm, kalau tidak keberatan, bisakah dokter Nita datang ke kota saya ?


"Memangnya ada apa, dok ?"


"Saya membutuhkan pertolongan dokter. Untuk lebih jelasnya, nanti saya jelaskan di sini !"


"Gitu ya...? Baiklah..., nanti sore saya berangkat ! Kebetulan siang ini saya masih ada janji dengan sahabat saya."


"Ah, baiklah...! Saya tunggu dok ! Terima kasih sudah menyempatkan waktunya.


"Iya, sama-sama ! Kalau begitu saya tutup dulu telponnya ya, dok ! Assalamualaikum...!"


"Waalaikumsalam..."


Dokter Firman pun tersenyum. Semoga saja dokter Nita bisa membantuku menyembuhkan Ajay...

__ADS_1


Bersambung....


Makasih atas dukungannya yaa....


__ADS_2