
Pov Bima
Pagi ini seperti biasanya aku hanya sarapan seorang diri. Sejak kak Ajay masuk rumah sakit, mamih sering mengurung diri di kamarnya, tak jarang beliau juga sering menghabiskan sarapannya di dalam kamar.
Hari ini aku bangun agak siang. Karena selepas solat subuh, aku baru pulang dari rumah sakit. Tadi malam adalah jadwal malamku menjaga saudaraku.
Baru saja aku menyeruput sedikit kopi hitam kesukaanku, tiba-tiba ponselku berdering. Aku melihat nama yang tertera di layar ponsel, mbok Nah ? Pikiranku segera tertuju pada kak Ajay.
Dan benar saja ? Saat aku mengangkat telpon, aku mendengar suara mbok Nah bergetar memberitahukan apa yang sedang terjadi. Aku pun masih bisa mendengar suara gaduh yang mengiringi suara bergetarnya mbok Nah. Aku sudah bisa menebaknya, sepertinya sesuatu terjadi kepada kakakku. Tanpa membuang waktu, aku pun segera mengeluarkan mobil dan melajukannya menuju rumah sakit.
Tiba di sana, aku segera meminta satpam rumah sakit untuk memarkirkan mobilku. Aku sendiri secepat kilat berlari menuju ruangan tempat kakakku di rawat.
Aku terus berlari tanpa memperhatikan kiri kanan, depan belakangku. Yang ku pikirkan hanya satu, bagaimana caranya agar aku bisa segera sampai di kamarnya Ajay.
***
Brugh.....!
"Maaf......!" ujar Bima
"Tidak apa-apa...! Kau....!"
Laki-laki yang tengah ditabrak Bima terkejut saat mengenali orang yang menabraknya.
"Kak Ar...?" gumam Bima.
Ternyata laki-laki itu adalah Aaron.
"Bima...?" tanya Aaron heran ketika mendapati Bima berlari dengan wajah yang penuh kecemasan.
"Maaf kak ! Bima buru-buru ! Permisi, kak !" ucap Bima segera berlari.
Aaron hanya bisa melongo melihat sikap Bima. Tiba-tiba saja dari ujung depan koridor, seorang perempuan paruh baya berteriak memanggil Bima.
"Den Bima, den Ajay sudah di bawa ke ruang ICU, sebaiknya kita pergi ke sana saja !" teriak mbok Nah.
Bima segera menghampiri mbok Nah dan terus berlari menuju ruang ICU.
Aaron masih berdiri karena terkesima dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Ajay....? ICU....? Ada apa ini...?
Karena merasa penasaran, Aaron pun pergi ke ruangan perawat VVIP untuk menanyakan kabar tentang pasien yang bernama Ajay.
"Mohon maaf pak, rekam medis pasien adalah privasi dokter, jadi kami tidak berhak memberitahukan kepada siapapun tanpa persetujuan pihak dokter dan rumah sakit."
Hanya itu informasi yang Aaron dapatkan dari ruang perawat VVIP. Namun saat Aaron sedang berjalan di koridor ruangan VVIP, tanpa sengaja dia mendengar dua orang perawat perempuan yang sedang bergosip.
"Aku tidak yakin jika kali ini, nyawanya akan tertolong."
"Iya..., ish kenapa pembantunya ceroboh sekali. Terus, apa perawat yang memberikan obatnya akan terkena sanksi ?"
"Entahlah...? Aku penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada tuan Ajay, hingga dia menjadi gila seperti itu ?
Gila....? batin Aaron.
"Ssst...! Jangan sembarang kalau bicara ! Bisa gawat jika didengar oleh salah satu anggota keluarganya. Memangnya kamu mau dipecat ?"
"Ish, ya enggaklah...!"
Aaron menyeringai. Sepertinya dia memiliki sebuah ide.
"Ehm...ehm...!" dia berdeham di belakang kedua perawat yang sedang asyik berghibah itu.
"Eh, maaf mas, ada yang bisa saya bantu ?" ujar perawat yang tadi memperingati temannya.
"Aku dengar apa yang kalian bicarakan tentang sepupuku." ujar Aaron sedikit tersenyum smirk.
Kedua perawat itu saling pandang.
"Ma... maksud mas...?" perawat yang tadi mengatakan Ajay gila, memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku tadi dengar kalian bilang sepupuku gila, apa kalian sudah bosan bekerja di sini ?" Aaron mulai menggertak kedua perawat itu.
Seketika wajah kedua perawat itu pucat pasi.
"Ma...maaf mas ! Ka..kami tidak bermaksud seperti itu. Ka...kami hanya merasa lelah saja menghadapi sepupu mas ! Tolong jangan pecat kami !" perawat yang mengatai gila itu mulai memohon.
"Aku tidak akan melaporkan perbuatan kalian pada pihak rumah sakit. Tapi kalian harus ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada tuan Ajay Sanjaya."
Kedua perawat itu saling pandang, namun karena tidak punya pilihan lain, mereka pun menceritakan apa yang mereka ketahui tentang pasien yang bernama Ajay.
Sampai detik ini, Aaron masih tidak percaya tentang apa yang telah didengarnya mengenai sahabat, atau lebih tepatnya mantan sahabatnya. Akhirnya, langkah Aaron pun membawa dirinya untuk menemui Bima menuju ruang ICU.
Tiba di sana, tampak Bima berdiri menatap kesibukan yang terjadi di depan jendela ruangan. Sedangkan mbok Nah sedang duduk seraya menangis di kursi tunggu. Aaron pun menghampiri Bima dan menepuk pundaknya. Bima menoleh.
"Kak Ar...!" ucapnya lirih.
Tanpa bicara lagi, Bima pun segera memeluk sahabat kakaknya yang sudah dianggap kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Sabar Bim !" ujar Aaron mencoba menguatkan hati orang yang sudah dianggapnya adik tersebut.
"Bima takut, kak ! Bima takut jika kali ini nyawa kak Ajay tidak akan tertolong. Mbok Nah bilang, tadi mulutnya kak Ajay berbusa. Bima takut kak...!"
Aaron hanya bisa mengusap-usap punggung Bima untuk menenangkannya.
Beberapa jam yang lalu...
Seperti biasanya seorang perawat masuk ke kamar Ajay untuk memberikan obat. Ajay sudah tidak bisa diajak berkomunikasi oleh siapapun. Hanya mbok Nah yang bisa membujuk Ajay untuk meminum obatnya. Namun karena mbok Nah sedang berada di kamar mandi, sang perawat pun menaruh obat-obat tersebut di atas nakas. Cerobohnya, entah kenapa pagi itu sang perawat menaruh obat yang masih tersegel dalam kemasan botolnya.
Saat mbok Nah keluar kamar mandi, tampak Ajay sudah kejang-kejang dan mulutnya tampak berbusa. Mbok Nah pun berlari memanggil perawat. Setelah perawat tiba, mereka segera melarikan Bagas ke ruang ICU untuk mendapatkan pertolongan. Sepertinya Ajay mencoba kembali mengakhiri hidupnya dengan cara menelan semua obat yang ada dalam botol tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa Ajay bisa sampai seperti ini ?" tanya Aaron.
Dengan berat hati, Bima pun menceritakan apa yang terjadi kepada kakaknya tanpa ada yang terlewat. Aaron tampak terkejut ketika mendengar gagalnya pertunangan Kyara dan Ajay. Tangannya mulai mengepal. Seandainya kondisi Ajay tidak seperti sekarang, rasanya Aaron ingin menghajarnya habis-habisan.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan sekarang ?"
"Dokter psikiater bilang, satu-satunya cara hanyalah mempertemukan kak Ajay dengan kak Kyara."
"Terus, kenapa kalian tidak mempertemukan mereka ?"
"Masalahnya, kami tidak tahu harus mencari kak Kya kemana ? Sejak putusnya pertunangan mereka, kak Kya menghilang seolah di telan bumi."
"Kak Bagas ? Apa kau pernah menanyakannya kepada Bagas ?"
"Aku yakin kak Bagas pun tidak akan mengetahuinya, kak. Terakhir aku pergi bersama kak Bagas untuk mencari kak Kya ke kampung halamannya, namun semua itu tak membuahkan hasil. Sejak ayahnya meninggal, ibunya kak Kya menjual rumahnya dan pergi entah kemana. Tak ada satu pun orang yang tahu kemana mereka pindah."
"Ayah Kya meninggal ? Jadi pak Ahmad meninggal ? Kapan ?"
"Iya kak, pak Ahmad meninggal saat melihat kabar pertunangan kak Ajay dengan kak Cecil."
Astaghfirullah hal adzim....., Kyara..., kenapa aku sampai tidak mengetahui apa pun tentang mu..., batin Aaron.
Drrtt.... drrtt...
Tiba-tiba, ponsel Aaron bergetar.
"Sayang, lo dimana ? Lo udah selesai nebus obatnya ? Kalau udah selesai, ayo kita pulang ! Gue kangen pengen makan soto ayam yang di taman. Kita mampir kesana ya..., dedek utun udah kelaparan banget nih....
Suara cempreng seseorang di sana membuat Aaron harus sedikit menjauhkan telponnya agar tidak merusak gendang telinganya.
"Ya, tunggulah di lobi, sebentar lagi aku turun !"
"Bim, kakak pulang dulu ! Kalau ada waktu, insyaallah kakak bantu kamu buat cari Kyara. Kabari kakak jika ada apa-apa dengan kakakmu !"
Sebelum pergi, Aaron melihat Ajay yang tengah diberikan pertolongan dari celah jendela ruangan ICU. Ada rasa iba saat Aaron melihat wajah tak berdayanya Ajay.
***
"Lo kenapa sih ? Dari tadi gue perhatiin kok kayak yang nggak bergairah gitu ?"
"Kita tuh udah nikah, bisa nggak sih ngomongnya nggak usah lo gue gitu !"
"Maaf Ar..., udah kebiasaan..! Ya aneh aja kali, tiap hari kita bertengkar kayak Anjing ma kucing, terus tiba-tiba aja 3 bulan yang lalu, lo ucap ijab qobul. Lo tau Ar, semua itu begitu tiba-tiba, kayak mimpi aja ! Maafin gue ya Ar, seandainya gue dengerin lo dulu, semua ini nggak akan mungkin terjadi. Lo nggak harus nikah sama cewek urakan kayak gue, hiks... hiks...! Gue emang bodoh Ar..., gue terlalu percaya sama cowok bajingan itu...! Rasanya gue pengen bunuh dia ! Gue pengen potong-potong tuh badannya buat gue jadiin makanan ikan lele jumbo di rumah kakak lo..., hu...hu...!"
"Ssstt..., udah nggak usah nangis lagi ! Nggak baik untuk perkembangan anak kita ! Sudahlah, takdir itu, Tuhan yang menentukan, manusia hanya tinggal menjalaninya saja dengan ikhlas. Sudah malam ayo kita tidur !"
Aaron pun menarik istrinya ke dalam pelukannya. Mungkin memang tidak ada cinta di antara mereka, namun ada ikatan yang akan membuat mereka saling bergantung satu sama lain.
"Besok aku ada urusan di kota J. Kamu tunggu di rumah ya sama bik Sum. Ingat, jangan kemana-mana !"
"Ada urusan apa ?"
"Aku mau menemui Bagas. Aku dengar dia membuka anak cabang perusahaannya di kota J. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
"Apa gue nggak boleh ikut ?"
"Kamu itu lagi hamil muda, harus banyak istirahat dan nggak boleh berkendaraan jauh-jauh. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama anak kita."
"Apa lo mencintai anak ini ?"
"Pertanyaan macam apa itu ? Aku bapaknya, sudah jelas aku sangat mencintainya."
"Ish, lo cinta anak lo, tapi lo nggak bisa cinta ma gue. Itu kan aneh...!"
"Apa kamu mencintaiku ?"
Hening.....
***
"Assalamualaikum bos ? Ada orang yang ingin bertemu dengan anda ?" ujar Jeje sekretaris barunya Bagas.
"Waalaikumsalam, siapa ?"
"Katanya kawan lamanya bos !"
Bagas mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Bagaimana, bos ?"
"Suruh dia masuk !"
"Siap !"
Jeje meletakkan gagang telponnya.
"Silakan masuk, tuan !" ujar Jeje seraya mengerlingkan matanya ke tamu bos nya.
Aaron pun bergidik melihat tingkah laku sekretaris Bagas yang casingnya cowok namun dalemannya cewek.
Tok...tok...tok...
"Masuk !" titah Bagas.
"Apa saya mengganggu, bapak CEO BA Group ?"
Suara itu...!!
Seketika Bagas melirik ke arah sumber suara yang amat dikenalnya.
"Ar....!!" teriak Bagas.
Dia benar-benar kaget melihat sahabatnya yang tengah berdiri di ambang pintu. Entah apa yang ada dipikiran Bagas, namun satu yang pasti, ada rasa haru membuncah di dadanya saat bertemu kembali dengan sahabatnya.
Kedua sahabat itu pun saling merangkul, untuk melepas kerinduan satu sama lain.
"Lo ngilang kemana Ar ? Sejak lo pindah, lo nggak pernah ada kabar. Gue hubungi nggak pernah aktif. Gue tanya kakak dan nyokap lo, mereka sama-sama kompak nggak mau kasih kabar soal lo ke gue."
"Sorry Gas, saat itu gue bener-bener pengen ngelupain semuanya. Gue pikir, kalau gue terus-terusan berhubungan sama lo, tentunya gue nggak akan mudah untuk bisa lupain Kyara."
Bagas menghela napasnya. Saat ini pikirannya sedang kacau.
Haruskah aku bilang soal pernikahanku dengan Kyara ? Tapi bagaimana jika Aaron tidak bisa menerimanya ? Dia pasti akan menganggapku pagar makan tanaman ?"
"Hei...! Kok ngelamun..!"
Bagas tersentak kaget. "Sorry Ar, akhir-akhir ini gue lagi banyak kerjaan, jadi terkadang suka kurang fokus." elak Bagas.
"Jadi lo sibuk ya...? Padahal gue mau ngajakin lo ke suatu tempat." terdengar nada kecewa dari suara Aaron.
Bagas mengernyitkan dahinya.
"Mmm, sebenarnya..., gue ke sini buat ngajakin lo jengukin Ajay."
"Uhuk...uhuk....!"
Bagas yang sedang menyeruput kopinya langsung tersedak mendengar ucapan sahabatnya.
"Ma... maksud kamu ?"
"Apa kamu belum tahu jika Ajay sedang di rumah sakit saat ini ?"
Bagas melap mulutnya dengan sapu tangannya. Dia kemudian menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
"Yang gue tahu, Ajay mengalami kecelakaan dan sempat koma. Namun sebulan kemudian dia sudah kembali sadar."
"Hhhh...., lo bener Gas ! Dia emang sudah sadar, tapi keadaannya sekarang benar-benar mengkhawatirkan."
"Gue nggak ngerti, Ar ?"
"Jika lo mau ngerti, ikutlah sama gue. Lo bisa lihat kondisi Ajay saat ini."
"Boleh gue tanya sesuatu Ar ?"
Aaron mengangguk seraya menyeruput kopinya.
"Lo udah nggak benci Ajay ?"
"Hingga saat sebelum gue melihat dia, kebencian itu masih tumbuh subur di hati gue. Apalagi saat gue tahu jika dia tidak menikahi Kyara. Hati gue bener-bener panas. Rasanya gue ingin menghajar dia, terlebih lagi saat Bima bilang jika pak Ahmad meninggal gara-gara melihat pertunangan dia di tv, sumpah Gas, rasanya gue pengen bunuh dia. Tapi saat gue lihat keadaannya sekarang, kebencian gue sirna Gas ! Gue rasa, Ajay sudah mendapatkan hukumannya. Tapi gue juga nggak bisa ngebiarin dia menyerah begitu saja. Bagaimanapun juga, dia pernah jadi sahabat gue. Dan gue pengen dia bangkit seperti Ajay yang dulu."
"Bangkit...??" Bagas semakin tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya.
"Ya...! Ajay merasa dikhianati oleh istrinya. Sepertinya dia merasa bersalah pada Kyara. Semenjak dia sadar, hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya. 'Maafkan aku Kya...!' hanya itu yang mampu dia ingat. Ajay depresi dan berkali-kali mencoba bunuh diri."
"A... apa...! Jangan bercanda lo Ar ! Tidak mungkin pria sombong dan egois seperti Ajay bisa selemah itu !" ujar Bagas tak percaya.
"Mungkin Gas...! Mungkin saja ! Dalam cinta, segala sesuatunya memiliki kemungkinan ! Gue tahu Ajay pernah mencintai Kyara, dan gue yakin jika apa yang dia lakukan saat ini, itu karena perasaan bersalahnya telah mengkhianati kesetiaan Kyara."
Pyarrr....
Cangkir yang dipegang Bagas seketika terjatuh saat Aaron berkata jika selalu ada kemungkinan dalam cinta.
Bersambung....
Lanjut besok ya gaisss...
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗
__ADS_1