Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Extra Part 1 Becomes a Perfect Daddy


__ADS_3

Hari-hari berwarna mulai dirasakan oleh pasangan muda yang baru seminggu menjadi orang tua. Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi, Bagas pun selalu membantu Kyara dalam mengurusi si kecil.


Kyara memutuskan untuk mengurus anaknya tanpa bantuan seorang baby sitter. Dia ingin merasakan menjadi orang tua yang sebenarnya bagi putranya. Bahkan keputusan Kyara untuk segera resign dari pekerjaannya pun sudah final. Dia benar-benar ingin fokus mengurus anak dan suaminya. Bukankah itu tugas utama seorang wanita ?


"Sayang, kamu bisa pertimbangkan lagi keputusanmu. Aku bisa mencarikan seorang pengasuh yang akan membantumu mengurusi anak kita jika kau masuk kerja lagi." ujar Bagas kepada istrinya.


"Tidak kakang, Kya rasa ini sudah keputusan yang terbaik bagi Kya. Kya nggak mau melewatkan perkembangan Elang dari waktu ke waktu." jawab istrinya.


Elang adalah nama panggilan yang diberikan Bagas kepada anaknya. Entahlah, Kyara sendiri tidak mengerti kenapa harus Elang. Setiap kali dia bertanya, Bagas hanya menjawab tentang filosofi burung elang yang gagah perkasa mampu terbang membumbung tinggi melewati luasnya cakrawala yang biru. Ah, tak habis pikir memang dengan ayah yang satu ini.


Pagi ini, Elang sedang tertidur dengan lelapnya. Setelah tragedi setiap malam yang selalu terbangun mulai dari tengah malam hingga menjelang subuh. Bik Mar bilang, itu adalah hal yang wajar. Katanya, setiap bayi memang memiliki kebiasaan seperti itu hingga usianya mencapai 40 hari.


"Selamat pagi baby El, anaknya abap sama bunda yang paling ganteng !" ujar Bagas seraya menusuk-nusuk pipi Elang yang semakin chubby.


Baby Elang menggeliat merasakan dingin menyentuh kulitnya. Kyara yang samar-samar mendengar suara Bagas yang sedang menggoda anaknya, langsung menarik tangan suaminya.


"Ish kakang...! Jangan di ganggu lagi ! Kya masih ngantuk !" rengek Kyara yang tidak terima waktu tidurnya akan kembali terganggu karena harus menyusui Elang yang terbangun.


"Iya, maaf sayang ! Abisnya kakang gemes banget liat pipinya yang makin gembul." jawab Bagas. "Kalau nggak boleh ganggu Elang, ganggu bundanya Elang, boleh kan...?" lanjut Bagas seraya berjalan berputar mengelilingi tempat tidurnya.


Bagas merangkak mendekati istrinya yang tengah tertidur menyamping. Dia pun memposisikan dirinya untuk memeluk Kyara dari belakang. Tangan Bagas yang mulai melingkar di perutnya, tiba-tiba membuka kancing piyama Kyara dan hinggap di salah satu bukit kembar istrinya.


Kyara mengerjapkan matanya, saat merasakan dinginnya tangan Bagas menyentuh kulitnya.


"Ish, kakang...! Nggak usah macam-macam deh..! Kya ngantuk nih...!"


"Nggak macam-macam kok, sayang ! Kakang cuma mau satu macam saja." ujar Bagas seraya meraih bahu Kyara agar berbalik.


Masih memejamkan matanya, Kyara pun mengikuti pergerakan Bagas hingga tubuhnya saling berhadapan.


"Sayang, kapan kita boleh ML lagi ?" tanya Bagas pelan.


"Masih lama." jawab Kyara tanpa membuka matanya.


"Berapa lama lagi ?" Bagas kembali bertanya.


"4 bulan."

__ADS_1


"What...!"


"Ish kakang ! Berisik !" ujar Kyara seraya menutup kupingnya.


"Maaf sayang, aku cuma kaget aja. Kok lama banget sih ? Bukankah hanya 40 hari saja ya masa nifasnya ?"


"Iya, itu cuma untuk masa nifas ! Tapi untuk pemulihan harus di tambah lagi waktunya hingga mencapai 4 bulan." ujar Kyara serius, meski di dalam hatinya dia sangat ingin tertawa.


"Ish, jamuran dong junior kakang...!" ujar Bagas lemas.


Secara gitu, sejak kecelakaan yang membuat dia bersembunyi selama hampir 8 bulan, Bagas hanya 2 kali menyentuh kesempurnaan milik istrinya. Sedangkan baginya, setiap inci tubuh Kyara adalah candu.


Kyara tersenyum. "Sabar ya....! Tidak selama itu kok. Kya cuma becanda. Masa nifas itu memang 40 hari kang, tapi ada juga yang lebih, sampai 60 hari." ujar Kyara menjelaskan.


"Sayang, setelah kamu selesai nifas, kita bikin resepsi pernikahan yuk ! Abis itu kita honeymoon ! Kamu mau kan ?"


Seketika Kyara membelalakkan matanya dengan sempurna.


"No !" ucapnya seraya memonyongkan bibirnya.


"Udah deh sayang, nggak usah mancing-mancing ya !" ujar Bagas merasa gemas dengan sikap Kyara.


"Itu, bibir kamu, ngapain monyong-monyong gitu, kayak minta dicium !"


"Ish, nggak usah halu ya, masih pa..."


Hummpphh....


Belum sempat Kyara menyelesaikan kalimatnya, Bagas ternyata sudah menerkamnya duluan. Bagas mulai melahap Cherry itu dengan sempurna, hingga mata Kyara kembali terbelalak.


"Ka...humph...kang...ish...eemmhh...


Kyara mencoba mendorong tubuh suaminya, namun sayangnya, tangan kanan Bagas mulai menahan tengkuk Kyara. Bagas pun semakin memperdalam ciumannya, membuat Kyara hanya bisa pasrah menerima gangguan di pagi hari.


***


Di kediaman Gunawan. Kak Indah kembali merengek meminta suaminya untuk mengantarkannya ke tempat Bagas dan Kyara.

__ADS_1


"Ayolah mas ! Kita temui mereka yuk ! Aku penasaran pengen lihat anaknya mereka." pinta kak Indah.


"Sabarlah Khumaira, pekerjaan mas masih sangat banyak. Kamu sendiri kan tahu kita harus mengungkapkan jati diri orang yang selama ini kita anggap Bagas. Kasihan keluarganya ! Mas mohon ya, kamu bisa ngertiin mas ! Ini juga buat kebaikan Bagas, ya Khumaira..." jawab Gunawan.


Setelah mengetahui jika adik iparnya masih hidup, Gunawan pun memutuskan untuk membongkar makam yang selama ini disangka Bagas. Gunawan melakukan tes DNA terhadap jenazah itu untuk dijadikan bukti jika jenazah itu bukanlah Bagas. Seminggu kemudian hasil tes yang mengatakan jika jenazah itu bukanlah Bagas telah keluar.


Mendapati benang yang semakin kusut, akhirnya Gunawan memutuskan hendak pergi ke Samarinda untuk meminta kepolisian melakukan tes DNA terhadap jenazah yang diambil keluarga Anwar. Gunawan sengaja tak melibatkan Bagas karena Gunawan tidak ingin mengganggu kebahagiaan Bagas yang baru saja berubah peran menjadi seorang ayah.


Keesokan harinya dengan ditemani asistennya, Gunawan pergi ke Samarinda. Tiba di sana, mereka segera menyerahkan bukti hasil tes DNA bahwa jenazah itu bukanlah Bagas. Bersama pihak kepolisian Samarinda, Gunawan dan asistennya menemui keluarga Anwar. Setelah diberikan bukti yang sangat akurat, keluarga Anwar pun sepakat untuk melakukan tes DNA terhadap jenazah yang telah dimakamkannya.


Mereka sepakat akan melakukan tes DNA keesokan harinya, mengingat hari ini waktu telah menunjukkan pukul 15.15. Akhirnya Gunawan dan asistennya kembali ke hotel untuk beristirahat. Mereka berencana menginap di Samarinda karena ingin menyaksikan langsung proses tes DNA tersebut terhadap jenazah yang lainnya. Tak lupa Gunawan pun menyerahkan sampel berupa kerangka jenazah yang telah diakuinya jenazah adiknya sebagai pembanding untuk keperluan proses tes DNA yang akan dilakukan esok hari.


***


"Hai baby El, bangun dong ! Pakai baju dulu yuk, sama abap !" ujar Bagas sambil mencuil pipi gembul putranya yang sedang terlelap dalam pangkuan sang bunda.



Seperti biasa setelah mandi sore, Elang langsung nagih mimi sama bundanya, hingga akhirnya dia terlelap tanpa mengenakan pakaiannya.


"Ish kakang ! Dia baru aja tidur, nggak usah digangguin !" ujar Kyara kembali memukul pelan jari Bagas yang sedang menusuk-nusuk pipi anaknya.


"Tapi sayang, dia bisa masuk angin kalau nggak segera pakai baju !" ujar Bagas.


"Aku tahu, tapi tunggu dulu sampai dia sedikit nyenyak. Memangnya kamu mau tanggung jawab kalau dia bangun lagi ? Kamu tahu sendiri kan tangisan baby El kayak gimana !" jawab Kyara.


"Sini-sini, biar kakang yang pakein dia baju !" ujarnya seraya mengambil anaknya dari pangkuan istrinya.


Benar saja, baru saja Bagas menidurkannya dan hendak memakaikan singletnya,


Oeeekk....oeekkk..oeeekkk...


Tangisan Elang sudah menggema di dalam kamarnya. Dengan sigap Bagas segera memakaikan singlet dan pampers nya. Setelah itu, dia pun memakaikan baju piyamanya kepada anaknya. Bagas kembali menggendong anaknya, menepuk-nepuk punggung anaknya seraya berjalan mondar-mandir di kamarnya. Tak membutuhkan waktu lama, baby Elang pun kembali terlelap.


Kyara tersenyum melihat suaminya yang telah berubah peran sebagai ayah. Bagas bukan hanya siaga sebagai suami, namun dia juga sangat cekatan dalam mengurusi anaknya yang masih berumur satu minggu. Tanpa canggung, Bagas sering belajar dari bik Mar tentang cara memakaikan pampers bahkan membersihkan pup anaknya.


CEO who becomes a perfect daddy. Masya Allah..., nikmat apalagi yang hendak engkau dustakan, Kya..., Di saat hidupmu telah hancur dalam keterpurukan, Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat tanpa sayap yang telah mengangkat kehormatanmu sebagai seorang wanita. Dia jadikan engkau istri dan juga ibu dari anaknya. Beruntunglah dirimu Kyara, jangan pernah kau sia-siakan nikmat yang telah Tuhan berikan untukmu.... Batin Kyara.

__ADS_1


Kyara meraih foto kedua orang tuanya yang selalu terpajang di meja riasnya. Ayah, ibu...., kalian bisa tenang di alam sana. Alhamdulillah, pilihan ibu memang sangat tepat untuk Aneng. Lelaki itu sangat sempurna bu, bukan hanya sebagai suami, tetapi juga sebagai ayah. Aneng bahagia bu, Aneng sangat bahagia dengan pilihan ibu...


Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏


__ADS_2