
"Cepat mandilah pakai air hangat, supaya tidak masuk angin !" perintah Bagas.
Kyara mengangguk. Setelah itu dia segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup. Pun begitu dengan Bagas yang menggunakan kamar mandi luar untuk membersihkan dirinya.
Kyara tampak tertegun di depan kaca wastafel. Dia menatap dirinya di cermin itu. Entah kenapa kata hatinya berbisik jika ini adalah waktu yang tepat untuk dia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Hatinya tak menolak saat bagian tubuhnya menyentuh punggung suaminya. Hangat...., hanya kehangatan yang Kyara rasakan.
Selepas membersihkan dirinya, Kyara segera keluar kamar mandi dan membuka lemari pakaiannya. Dia kemudian mengambil paper bag yang pernah diberikan oleh kakak iparnya. Setelah itu Kyara kembali lagi mengunci dirinya di kamar mandi.
Kyara membuka paper bag tersebut kemudian mengeluarkan isinya. Isi dari paper bag itu adalah baju tidur sexy atau yang biasa disebut lingerie yang hanya satu model namun dengan berbagai macam warna. Kyara memilih warna yang cocok dan terlihat pantas di tubuhnya. Akhirnya pilihannya jatuh pada warna soft pink yang terkesan lembut.
Kyara membentangkan pakaian tersebut. Sedikit bergidik ketika dia membayangkan dirinya harus memakai pakaian itu. Namun hatinya sudah bulat. Dia sudah mengikhlaskan dirinya untuk dimiliki Bagas seutuhnya. Dia akan mencobanya malam ini. Urusan berhasil atau tidaknya, biarlah Tuhan yang menentukan.
Akhirnya, Kyara pun memakai pakaian tersebut. Agak risih memang, tapi apalah daya, dia harus melakukan ini. Jika dia niatkan untuk membahagiakan suaminya, dia yakin Allah akan meridhoi dan menjadikan usaha ini sebagai bentuk ibadah.
"Bismillah....!"
Hanya kalimat itu yang Kyara gumamkan saat dia mengenakan pakaian tersebut. Setelah merasa puas memandangi dirinya. Kyara segera mengambil parfumnya dan mulai menyemprotkannya di kedua samping leher kiri kanannya. Kyara pun kembali mengenakan bathrobe nya. Namun saat dia hendak keluar kamar mandi, dia mendengar jika pintu kamarnya diketuk.
Tok...tok...tok...
"Nona, apa kau di dalam ? Maaf, aku hanya ingin mengambil pakaianku. Karena basah, aku jadi lupa untuk membawa pakaianku tadi sebelum mandi." teriak Bagas dari luar kamar.
Kyara yang hendak membuka pintu kamar mandi, hanya mampu terkesiap begitu mendengar suaminya.
Karena tak mendapat jawaban, akhirnya Bagas kembali memanggil Kyara.
"Nona, apa kau mendengarku ?" teriak Bagas lagi.
"Iya kang ! Masuk saja ! Pintunya tidak di kunci !" teriak Kyara.
"Apa kau tidak keberatan aku masuk ? Aku hanya memakai handuk loh !" kembali Bagas berteriak.
Hening....
"Nona...!"
"I... iya kang ! Masuk saja, aku sedang di kamar mandi kok !"
Setelah mendapatkan izin dari istrinya, akhirnya Bagas pun membuka pintu kamarnya. Dia segera membuka lemarinya dan mulai mencari baju yang bisa menghangatkannya. Jujur saja, setelah kehujanan tadi, tubuhnya terasa menggigil, apalagi hujan di luar belum reda, sudah dapat dipastikan jika dia akan sedikit kedinginan tidur di ruang kerjanya.
Saat Bagas asyik memilih pakaiannya, tiba-tiba.
"Ka...kang...!"
Terdengar panggilan lirih dari balik pintu lemari. Bagas pun segera menarik pintu yang tengah terbuka itu. Tampak Kyara tengah berdiri masih menggunakan bathrobe nya. Terlihat tetesan air segar menetes dari rambut basahnya yang terurai panjang.
"Ish, kenapa kau belum memakai pakaianmu. Cepatlah ganti, nanti kau bisa masuk angin !" perintah Bagas.
Bukannya berganti pakaian, Kyara malah membuka tali bathrobe nya dan membiarkan bathrobe itu jatuh luruh ke lantai.
Bagas sangat kaget melihat tingkah Kyara. Terlebih lagi dia semakin terkejut melihat Kyara yang hanya mengenakan kain tipis tanpa lengan dengan bagian depan yang terbuka lebar, sehingga menampakkan bagian atas bukit kembarnya.
Bagas mendekati Kyara sembari menelan salivanya.
"A... apa yang kau lakukan, nona ?" tanya Bagas setengah berbisik.
"A...aku si...siap kakang...! Aku siap menjadi istrimu yang seutuhnya.." ujar Kyara, suaranya terdengar bergetar.
Kyara mencoba mengatur ritme jantungnya. Dia tidak ingin terlihat kacau di hadapan suaminya. Dia pun memejamkan matanya dan menengadahkan wajahnya hanya sekedar untuk menambah rasa percaya dirinya.
Namun apa yang dilakukan Kyara justru disalahartikan oleh Bagas. Saat Bagas melihat Kyara memejamkan matanya sembari menengadahkan wajahnya, dia menyangka jika Kyara terpaksa ingin melakukan semua ini.
Bagas mendekati Kyara. Dia memegang kedua bahu Kyara.
"Jangan memaksakan dirimu, sayang ! Tidurlah !" ujar Bagas seraya mengecup kening Kyara.
Hangat dan butuh kehangatan, itu yang Kyara rasakan saat ini.
Dia pun memegang tangan Bagas saat Bagas berjalan melewatinya untuk kembali ke ruang kerjanya.
Brugh....!
Kyara memeluk erat tubuh Bagas dari belakang. Menyesapi aroma tubuh Bagas yang setengah telanjang karena Bagas memang belum memakai pakaiannya.
"Aku mohon, jangan runtuhkan keyakinanku, kakang !" ujar Kyara lirih.
Hangat dan butuh kehangatan, itu juga yang Bagas rasakan. Dan kehangatan itu mulai menjalari tubuhnya saat dada Kyara menyentuh punggungnya. Bagas segera membalikkan badannya. Dia meraih dagu Kyara dan menatap tajam kedua bola mata Kyara.
"Apa kau yakin, nona !"
Kyara mengangguk pasti.
Bagas mulai mendekatkan wajahnya, bibirnya mulai menyentuh bibir mungil istrinya. Kyara pun mulai memejamkan matanya, merasai bibirnya yang mulai basah akibat pagutan bibir suaminya. Bagas mulai menghisap bibir bawah Kyara, dan memberikan isyarat untuk Kyara memberikan celah agar lidahnya bisa mengeksplor rongga mulut istrinya.
Puas merasai manis Cherry istrinya, Bagas pun melepaskan ciumannya. Dia menyentuh kening istrinya dengan keningnya. Sekali lagi Bagas bertanya.
"Apa kau benar-benar yakin sayang ?"
Kembali Kyara menganggukkan kepalanya.
Bagas pun mengalihkan pandangannya ke arah bahu Kyara. Dia mulai menenggelamkan wajahnya di leher Kyara. Bagas mengecup kedua bahu Kyara bergantian.
Hangat dan masih terasa hangat yang bisa Kyara rasakan.
Bibir Bagas mulai menyusuri leher Kyara.
"Isshhh....!"
Kyara sedikit mendesah merasakan kehangatan di lehernya.
__ADS_1
Desahan yang berhasil membuat Bagas kehilangan logikanya. Perlahan dia mulai menurunkan baju Kyara yang tanpa lengan itu dari salah satu pundaknya. Sekilas matanya melihat salah satu bukit Kyara yang tampak putih nan kenyal. Kedua mata Bagas mulai terhalang kabut gairah. Tangan Bagas yang satunya lagi kembali menurunkan lengan baju yang satunya, hingga kini baju itu benar-benar luruh dari tubuh Kyara.
Bagas mengangkat kepalanya. Sejenak dia menatap tubuh polos istrinya. Bagas benar-benar terpana dengan silhout gadis yang selama ini dicintainya. Dia pun mulai mengangkat tubuh Kyara dan membaringkannya di atas ranjang.
Hasratnya benar-benar telah sampai pada puncaknya. Bagas kembali mengecup setiap inci wajah Kyara. Seolah istrinya adalah sebuah benda yang sangat berharga.
Lembut hanya kelembutan yang Kyara rasakan dari setiap sentuhan tangan suaminya.
Bagas membenamkan wajahnya di belahan kedua bukit kembarnya Kyara. Dia mulai mengecup dan menghisapnya perlahan. Jari jemarinya mulai bergerilya di bagian-bagian sensitif Kyara.
Hangat dan masih terasa hangat. Kembali hanya itu yang bisa Kyara rasakan. Hingga akhirnya keduanya pun sudah tak mampu membendung hasrat dan kerinduannya untuk bersama.
Bagas mulai memposisikan dirinya di atas Kyara. Kabut gairah sudah sangat terlihat jelas di matanya. Dan dia pun melihat hal itu di mata istrinya.
"Kya...!" ujar Bagas dengan nada yang sangat berat karena menahan hasratnya.
Kyara tersenyum dan mengangguk.
Bagas ikut tersenyum, kembali dia mengecup kening istrinya.
"Bismillahirrahmanirrahim..." gumamnya.
"Aku janji, aku tidak akan menyakitimu sayang...!" bisiknya di telinga Kyara seraya mengambil ancang-ancang untuk memulai penyatuannya.
Sulit...., sempit..., untuk sesaat Bagas masih berusaha, hingga...
"Aargghh....!"
Kyara menjerit kecil saat merasakan sesuatu yang mengganjal menerobos masuk daerah terlarang nya.
Kembali Bagas mengecup kening Kyara mencoba untuk membuat Kyara merasa nyaman dengan setiap gerakan yang dilakukan oleh tubuhnya.
Kyara mulai memeluk erat punggung suaminya saat Bagas mulai menambah ritme gerakannya.
"Ka... kang...., aaahhh..."
Bagas tersenyum mendengar Kyara memanggil namanya dalam setiap desahannya. Dia pun kembali memacu hasratnya lebih cepat.
"Aku mencintaimu Kya...., aaargghhh....!"
Tubuh Bagas menegang saat dia berhasil mengeluarkan pasukannya.
Bagas tersenyum puas menatap wajah istrinya yang tampak kelelahan. Dia pun mulai menggulingkan badannya dan berbaring di samping istrinya. Bagas meraih tangan istrinya dan menautkan jari jemarinya di jemari istrinya. Bagas meraih tangan itu dan menciumnya.
"Terima kasih sayang...!" ujarnya seraya melirik ke arah istrinya.
Bagas terkejut ketika dia melihat bening air mata terjatuh dari sudut mata istrinya. Dia pun mengangkat sedikit tubuhnya dan menatap Kyara. Ada sedikit penyesalan di hati Bagas karena merasa takut jika Kyara merasa terpaksa melayaninya.
"Hei..., kenapa kau menangis ? Apa kau menyesal melakukan semua ini ?" tanya Bagas hati-hati karena takut menyinggung perasaan Kyara.
Kyara melirik ke arah Bagas. Secepat kilat dia menggelengkan kepalanya karena tidak mau Bagas salah paham dengan tangisnya.
Bagas memeluk erat istrinya.
"Ssst...., sudahlah, jangan menangis sayang ! Apa kau masih ingat jika aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis lagi ?"
Kyara mengangguk.
"Baguslah ! Mulai sekarang, tidak ada lagi tangisan, karena ke depannya hanya ada kita dan kebahagiaan."
Kyara tersenyum dan mulai membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Nyaman..., dan hanya kenyamanan yang ia rasakan saat ini.
Setelah beberapa menit berlalu.
"Tunggulah sebentar sayang !"
Bagas melepaskan pelukannya. Dia membalikkan badannya untuk membuka laci nakas. Dia pun mengambil sesuatu dari laci itu.
"Ayo, pejamkan matamu !" perintahnya kepada istrinya.
"Ish kakang, ini sudah malam, jangan bermain-main !" ujar Kyara ketus.
"Eh, aku tidak sedang bermain-main ! Sudah cukup turuti saja perintahku ! Sekarang, pejamkan matamu !"
"Ish...!"
Meskipun dalam mode kesal, namun Kyara tetap mengikuti perintah suaminya. Dia pun memejamkan matanya.
Bagas membuka kotak jam tangannya yang dulu pernah dibelinya.
"Bukalah matamu !" perintah Bagas.
Kyara mulai mengerjapkan matanya. Sejurus kemudian, matanya membulat sempurna melihat benda yang berada di tangan Bagas. Kyara meraihnya.
"Jam ini ?" gumamnya.
Bagas mengangguk.
"Untukmu !" ujar Bagas.
"Tunggu ! Darimana kau dapatkan jam tangan ini ?" tanya Kyara menatap tak percaya pada jam tangan yang ada di hadapannya.
Ya ! Kyara ingat betul jika itu adalah jam yang dulu ditawarkan seorang gadis pada saat dia membeli jam karena jamnya telah rusak.
"Tentu saja aku membelinya."
"Jadi waktu itu yang membeli jamnya, kakang ?"
Bagas mengangguk.
__ADS_1
"Saat kamu memegang jam tangan itu dan tak jadi membelinya, entah kenapa aku pun tertarik membeli jam tangan ini untukmu. Tapi waktu itu aku tidak pernah punya keberanian untuk memberikannya padamu."
"Kakang....!"
Sontak Kyara kaget dan terbangun saat mendengar pengakuan Bagas. Namun saat dia bangun, tanpa sadar selimut yang menutupi tubuhnya tiba-tiba melorot hingga di perutnya. Mau tidak mau, junior Bagas kembali menegang menyaksikan semua itu.
"Ups...!" seru Kyara sambil menarik selimutnya lagi untuk menutupi dadanya. Namun,
Srett....!
Bagas menari selimut itu dan mulai mendekat ke arah Kyara.
"Mohon maaf, nona ! Anda belum beruntung. Junior ku mulai berdiri karena sempat melihatnya." bisik Bagas.
Tanpa permisi dia mulai kembali menyerang Kyara, menciumi wilayah yang baru saja di lihatnya. Dia mulai bermain-main di sekwilda Kyara, mengecup, menghisap nya lembut, sesekali memberikan gigitan kecil sebagai tanda kepemilikannya.
Kali ini Bagas bermain dengan nafsunya. Tapi entah kenapa Kyara tak menolaknya. Sekali lagi, tubuhnya mulai bisa menerima setiap sentuhan suaminya. Bahkan entah kenapa Kyara merasa senang saat tangan itu mulai bergerilya di area sensitifnya dengan lembut.
"Isshhh...., ka...kang ...!"
Kyara menggeliat merasakan kenikmatan yang tiada tara. Melihat hal itu, Bagas semakin bersemangat untuk mencari celah agar juniornya bisa segera mendapatkan kehangatan.
"Sakit ?" tanya Bagas yang melihat Kyara sedikit mengernyit saat juniornya mulai memasuki kawasan terlarang itu.
Kyara menggelengkan kepalanya.
"Tidak sesakit tadi, hanya sedikit perih." cicit Kyara.
Bagas sebenarnya merasa kasihan, tapi dia tidak bisa menghentikan permainannya di tengah jalan. Karena itu akan lebih memperburuk keadaan mereka.
"Haruskah kita.. hentikan...?" tanya Bagas.
"Aku masih.. bisa menahannya... kakang."
Bagas tersenyum. Dia mulai mengulum bibir mungil itu tanpa melepaskan gerakannya. Dia bergerak semakin cepat ketika dia merasakan sesuatu yang akan mencapai puncak kenikmatannya.
Begitu juga dengan Kyara. Tubuhnya mulai bisa mengimbangi gerakan sempurna yang diberikan oleh suaminya.
"Ka....kang....!"
Tubuh Kyara mulai bergetar hebat saat akan mencapai puncak klimaks nya.
"Bismillahirrahmanirrahim...!" kembali Bagas mengucap basmalah saat dia mulai mengeluarkan benih-benih cintanya di mulut rahim Kyara.
Semoga Engkau memberikan kami keturunan yang soleh solehah...., do'a Bagas dalam hati.
"Aargghh....!!"
Bagas mengerang saat tubuhnya mulai menegang. Dia mendekap erat Kyara. Sejurus kemudian, dia membenamkan wajahnya di sekitar bukit kembar milik istrinya.
Hangat...., tiba-tiba Kyara merasakan cairan hangat membasahi dadanya.
"Kakang ? Apa kau menangis ?" tanya Kyara.
Bagas diam, namun bahunya sedikit berguncang.
"Kau ..kau kenapa ?" Kyara mulai cemas.
"Pe....peluk aku... sayang !" ujar Bagas.
Kyara kembali memeluk tubuh suaminya. Membiarkan suaminya tersedu tanpa ingin menanyakan alasannya lagi. Kyara mencoba menahan beban tubuh suaminya. Namun lama-kelamaan, dia pun mulai merasa sesak.
"Sayang, jika kau seperti ini terus, aku bisa mati karena kehabisan napas." gurau Kyara.
Bagas tersentak kaget. Dia pun mulai berguling dan berbaring di sisi Kyara.
Kyara menarik selimutnya, dia kemudian memiringkan tubuhnya.
"Katakan ! Kenapa kau menangis ?" tanya Kyara sambil mengusap lembut pipi suaminya dengan jari telunjuknya.
Bagas menatap Kyara.
"Ini...ini rasanya seperti mimpi, dan aku tidak pernah ingin terbangun dari mimpi ini." ucap Bagas.
Kyara mendekatkan wajahnya. Dia kembali mengulum bibir suaminya untuk beberapa detik.
"Apa kau merasakannya ?" tanya Kyara sambil menyapu bibir suaminya dengan tangannya.
"Ya !" jawab Bagas seraya menggenggam tangan istrinya.
"Berarti ini bukan mimpi sayang ! Ini nyata, aku milikmu dan akan selalu menjadi milikmu." ujar Kyara sambil membaringkan kepalanya di dada suaminya.
Bagas membenarkan posisinya, meraih dan memeluk tubuh istrinya.
"Katakan ! Bagaimana perasaanmu sekarang ?" tanya Bagas seraya mencium pucuk kepala istrinya.
"Hangat..." ujar Kyara seraya membenamkan dan mengecup dada bidang suaminya.
"Dan sangat menghangatkan !" ujar Bagas mengeratkan pelukannya.
Cuaca di luar semakin dingin. Tapi pergulatan panas penuh cinta kedua insan itu telah saling memberikan kehangatan untuk diri masing-masing.
Rasa lelah dan kantuk mulai membawa keduanya ke alam mimpi masing-masing.
Bersambung....
Semoga tidak direvisi....🙈🙈
Masih lanjut ya...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dan jangan lupa like vote n komennya 🙏