
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Namun tak ada satu pun dari kedua pemuda itu yang mampu meluluhkan hati Kyara. Jika dulu Kyara merasa terenyuh dengan perjuangan Ajay, tapi tidak untuk saat ini. Luka yang telah ditorehkan laki-laki itu sudah melebihi batasnya. Tak akan ada lagi kesempatan untuk orang yang telah membuat dia menjalani trauma bertahun-tahun. Bukan simpati yang dia miliki untuk laki-laki itu dengan semua usaha yang tengah dilakukannya, yang ada hanya kebencian karena telah kembali hadir di tengah-tengah kebahagiaannya menjalani rumah tangga.
Tapi Kyara sadar, semuanya bukan salah Ajay. Dia pun punya kesalahan yang sama, begitu juga suaminya. Seandainya waktu itu mereka semua bisa berbesar hati untuk bersikap saling jujur dan terbuka, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
"Hhhh .."
Kyara menarik napasnya panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Rasanya sudah semakin sesak kehidupan yang dia jalani di kota ini. Dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran dua pemuda yang selalu mengganggunya. Tidak di sekolah, tidak di rumah, kedua pemuda itu selalu mencari alasan dan kesempatan untuk menemuinya.
Terlebih lagi Gerald, dengan alasan pekerjaan, dia pun mulai berani mendekati Kyara secara terang-terangan. Dan yang lebih parah lagi, kak Indah mendukung usaha Gerald untuk mendekati adik iparnya itu. Masih teringat ucapan kak Indah sore tadi, sesaat setelah Gerald pergi selepas memberikan laporan perusahaan kepada Gunawan.
"Kya, kakak harap, kamu bisa mengerti dengan keputusan kakak. Setelah anakmu lahir, kakak ingin kamu segera menikah dengan Gerald. Jangan salah paham dulu Kya, semua ini demi kebaikanmu, kebaikan anakmu. Setelah dia lahir, dia akan membutuhkan sosok seorang ayah. Kakak mohon, mengertilah !"
"Tapi ayahnya masih hidup, kak ! Kya nggak mungkin menikah lagi, dan Kya nggak mau !"
"Cukup Kya ! Jangan mulai lagi ! Selama ini kakak sudah berusaha menahan diri dengan semua pikiran konyolmu ! Sudah kakak bilang berkali-kali, Bagas sudah meninggal, dan kamu tidak bisa mengingkari semua itu ! Dengar, jika kamu masih bersikap seperti ini, jangan salahkan jika suatu hari nanti, kakak akan memisahkanmu dengan anakmu ! Kakak tidak mau anak Bagas diasuh oleh seorang ibu yang labil ! Camkan itu !"
Sepertinya emosi kak Indah telah sampai pada puncaknya, hingga akhirnya dia sanggup berkata kasar kepada adik iparnya.
Kyara hanya mampu menangis. Dia benar-benar sudah tidak tahan hidup di tengah-tengah orang yang tidak mendukungnya, tidak mempercayainya.
Kyara duduk di tepi ranjangnya, dia memejamkan matanya untuk mengumpulkan serpihan kenangan tentang suaminya. Bantu Kya, kakang ! Bawa Kya pergi dari sini, Kya sudah tidak sanggup lagi...! batin Kyara.
"Aargghh...!"
Kyara menjerit pelan saat dia merasakan kram di perutnya. Sepertinya, sang jabang bayi bisa merasakan semua kegundahan ibunya. Tendangan-tendangan kecil Kyara rasakan di sekitar perutnya. Usia kandungan Kyara sudah menginjak 7 bulan, karena itulah baby nya sangat aktif bergerak.
Kyara segera tersadar, dia tidak boleh stress demi anaknya. Perlahan, dia pun bershalawat seraya mengusap-usap perutnya untuk menenangkan pergerakan bayinya.
"Tenanglah sayang, kita pasti kuat ! Kita akan melewati semua ujian ini bersama-sama. Bunda yakin, kamu tidak membutuhkan ayah manapun selain ayah kandungmu. Jika memang takdir telah memisahkan kita dari abap, maka bunda yakin bunda bisa menjadi ibu dan ayah untukmu !" ujar Kyara lirih.
***
Di tempat lain.
Ajay menemui dokter Nita di tempat prakteknya. "Hai, Nit ! Boleh masuk ?" tanya Ajay seraya membuka pintunya.
"Ah, masuklah !" perintah dokter Nita.
"Apa kau sibuk ?" tanya Ajay.
"Ah tidak, kebetulan aku sedang istirahat untuk makan siang. Kau mau ikut gabung ?" tawar dokter Nita
Dokter Nita membuka rantang susunnya dan mulai menatanya di meja tamu.
"Waah, mantap nih ! Beneran nggak apa-apa ikut gabung, takut ganggu !" ujar Ajay.
"Ish, apaan sih kamu !" jawab dokter Nita seraya tersenyum.
"Ya, kali aja kamu mau makan sama orang yang spesial, abisnya makanannya banyak banget !"
"Iya, aku memang hendak makan siang dengan satu-satunya orang spesial dalam hidupku."
"Benarkah ? Ah jadi nggak enak, nih ! Kalau gitu, aku balik lagi deh.
Tiba-tiba...
"Mommy....!" teriak seorang anak kecil dengan rambut di kuncir 2 yang tengah berlari ke arah dokter Nita.
Dokter Nita segera berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut gadis kecil itu ke dalam pelukannya.
"Mommy, Aleah lindu mommy !" ujar gadis kecil itu dengan suara cadelnya.
"Mommy juga rindu Aleah !" ujar Nita seraya melepaskan pelukannya.
Tiba-tiba mata gadis cilik itu menangkap sosok pria yang sedang duduk di hadapannya.
"Holle...., daddy pulang...! Daddy cudah pulang !" teriaknya seraya menghambur memeluk Ajay.
"Aleah sayang, ja..."
__ADS_1
Ucapan dokter Nita terhenti melihat tangan Ajay terangkat sebagai isyarat agar dokter Nita tidak melanjutkan perkataannya. Ajay pun memeluk gadis kecil itu. Tak lama kemudian, Aleah melepaskan pelukannya.
"Daddy, kenapa daddy telbangnya lama cekali, padahal Aleah cudah jadi anak baik. Apa pecawat daddy lucak telus ?" tanya Aleah.
"Ah, ya..! Pesawat daddy rusak, tapi Aleah nggak usah khawatir, pesawatnya udah daddy perbaiki, kok !"
Meskipun tidak mengerti, namun Ajay berusaha untuk mengikuti arah pembicaraan gadis kecil itu.
"Yeaaayyy...! Belalti daddy nggak bakalan telbang lagi kan..! Daddy bakalan temenin Aleah tidul kan, bacain Aleah dongeng, kayak papanya Vita. Bica kan, dad ?" pinta Aleah menatap penuh harap kepada laki-laki yang berada di hadapannya.
Ajay mengusap lembut pucuk kepala gadis kecil itu. Hatinya terasa hangat berada di dekat gadis mungil itu.
Dokter Nita merasa terharu dengan interaksi Ajay dan putrinya.Tanpa terasa, buliran air mata keluar tanpa permisi dari kedua sudut mata dokter Nita.
"Sekarang, Aleah makan dulu, ya ?" ujar dokter Nita hendak memangku putrinya.
"No, mommy ! Jangan gendong Aleah ! Aleah mau makan dicuapin cama daddy, bukan cama mommy !" tolak Aleah.
"Tapi...,"
"Sudah, tidak apa-apa mommy ! Hari ini kan harinya Aleah, jadi biar daddy yang suapin Aleah, ya..!" ujar Ajay tanpa merasa canggung.
Gadis kecil itu mengangguk senang. Mereka pun makan bersama dengan cerianya. Setelah makan, Aleah kembali pulang bersama susternya. Sedangkan Ajay menemani dokter Nita berkeliling menemui pasiennya. Setelah selesai, mereka menyempatkan waktu untuk mengobrol di taman klinik.
"So ! Ada yang ingin kamu ceritakan ?" tanya Ajay.
"Tentang ?" dokter Nita balik bertanya.
"Ayahnya Aleah, mungkin ?"
Sejenak dokter Nita memejamkan matanya, mengumpulkan kembali serpihan kenangan tentang suaminya. Setelah itu, dia kembali membuka matanya dan menatap lurus ke depan.
"Suamiku seorang pilot ! Dia meninggal saat dia sedang bertugas. Pesawat yang diterbangkannya mengalami masalah, hingga terjadi kecelakaan beberapa menit sebelum pesawat itu mendarat. Saat itu, aku sedang mengandung Aleah. Setelah Aleah lahir dan mulai mengerti tentang keberadaan seorang ayah, ibuku selalu bilang pada Aleah jika ayahnya sedang terbang, dan suatu hari nanti dia pasti akan pulang. Ibu mengatakan seperti itu dengan harapan jika suatu hari nanti, aku menemukan seorang pria yang tepat untuk menjadi ayah bagi Aleah. Lelaki yang bisa menerima kami sepenuh hati. Tapi aku tidak tahu entah sampai kapan kebohongan ini akan terus bertahan." ujar dokter Nita seraya menundukkan kepalanya.
"Kenapa tidak kita akhiri kebohonganmu, Nit ?" tanya Ajay.
"Ma... maksudnya ?" ujar dokter Nita tak mengerti.
"Jangan main-main kamu, Jay ! Aku tahu di hatimu hanya ada Kyara ! Dan aku tidak mau menjadi pelarianmu !" bentak dokter Nita.
"Aku tahu aku begitu bodoh tentang cinta, Nit ! Hingga dari awal sampai akhir, aku tidak pernah mengetahui mana orang yang tulus mencintaiku. Tentang perasaanku terhadap Kyara, mungkin aku masih mengaguminya dan masih memiliki perasaan bersalah padanya. Tapi aku sudah tidak mengharapkannya. Aku tahu jika hubunganku hanyalah sebuah serpihan kenangan di masa lalu. Dan sekarang, aku ingin memulai cinta yang baru yang bisa mengubah keburukanku ! Aku mohon, ajari aku untuk melupakan masa laluku ! Ajari aku untuk memandang kalian sebagai masa depanku." ujar Ajay seraya memegang tangan dokter Nita.
Hening...
Hanya itu yang terjadi saat ini.
***
🎵🎵🎵
Aku masih ada di sini
Masih dengan perasaanku yang dahulu
Tak berubah dan tak pernah berbeda
Aku masih yakin nanti milikmu
Aku masih di tempat ini
Masih dengan setia menunggu kabarmu
Masih ingin mendengar suaramu
Cinta membuatku kuat begini
Aku merindu, ku yakin kau tau
Tanpa batas waktu, ku terpaku
__ADS_1
Aku meminta walau tanpa kata
Cinta berupaya
Engkau jauh di mata tapi dekat di doa
Aku merindukanmu
Aku masih di dunia ini
Melihatmu dari jauh bersama dia
Walau pasti ku terbakar cemburu
Tapi janganlah kau ke mana-mana
Aku merindu, ku yakin kau tau
Tanpa batas waktu, ku terpaku
Aku meminta walau tanpa kata
Cinta berupaya, ooh
Aku merindu, ku yakin kau tau
Tanpa batas waktu, aku terpaku
Aku meminta walau tanpa kata
Cinta berupaya
Engkau jauh di mata tapi dekat di doa
Aku merindukanmu
Aku merindukanmu
Aku merindukanmu
🎵🎵🎵
"Sepertinya kau sangat menghayati lagumu, Di !"
"Ah, kakak bisa saja ! Apa kakak mau bernyanyi denganku ?"
"Boleh ? Coba tolong kau cari kunci yang tepat untuk lagu Kumau Dia by Andmesh !"
DEG....
Seketika jantung Adi berdegup kencang. Dia kemudian menyerahkan gitarnya kepada sang kakak.
"Loh, kenapa ?"
"Kakak aja deh, yang main gitarnya !" ujar Adi sendu.
"Kenapa ?"
"Maaf, kak ! Kepalaku tiba-tiba saja sakit !"
"Astaghfirullah.. ! Ya sudah, masuk dan beristirahatlah !"
Adi menuruti perintah kakaknya. Dia pun masuk ke kamarnya dan mulai merebahkan dirinya di atas ranjang. Sejurus kemudian, terdengar kakaknya bermain gitar dan menyanyikan lagu favoritnya.
Adi memejamkan matanya seraya memegang kepalanya. Serpihan kenangan masa lalu mulai melintas dalam ingatannya. Dadanya terasa sesak, dia kemudian berbalik dan menelungkupkan badannya. Bahunya mulai terlihat naik turun.
"Maafkan aku...!" ucapnya lirih.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗