Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Duka Kyara


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya, Jo ?" tanya nyonya Diana begitu mereka tiba di depan ruang operasi.


"Saya tidak tahu nyonya, sejak tadi operasinya belum selesai." jawab Johan.


"Apa yang terjadi ? Kenapa Ajay bisa kecelakaan ?" tanya tuan Ali.


"Maaf tuan, saya tidak tahu pasti kronologisnya. Tapi, sepertinya tuan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menabrak truk pengangkut barang. Itu bisa dilihat dari kondisi mobilnya yang rusak parah.


Tuan Ali hanya mampu menghela napasnya berat.


Lima jam telah berlalu. Lampu di atas pintu ruangan pun telah padam. Tuan Ali segera menghampiri tim dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaan putra saya, dok ?" tanya tuan Ali.


"Untuk operasinya sudah dilakukan, pak ! Benturan yang dialami putra bapak, sangat keras, dan itu menyebabkan kerangka otak bagian depan mengalami keretakan. Tulang di sekitar hidung atas juga mengalami benturan dan hancur, begitu juga dengan tulang bagian bawah matanya."


"Astaghfirullah...!" gumam tuan Ali yang benar-benar terkejut mendengar akibat dari kecelakaan yang menimpa putranya. "Lalu, kapan dia bisa sadar ?" tanyanya lagi.


"Kami tidak bisa memastikan, pak. Saat ini pasien akan dibawa ke ruang ICU untuk pemantauan. Jika dalam 1 x 24 jam pasien bisa sadar, maka masa kritisnya bisa dia lewati. Tapi jika tidak, maka kita harus bersiap untuk kemungkinan yang terburuk." jawab dokter itu.


"Ke... kemungkinan yang terburuk..? Maksud dokter ?" tanya tuan Ali tak mengerti.


"Jika dalam 1 x 24 jam pasien tidak sadar juga, maka pasien akan mengalami koma. Dan kita tidak pernah tahu untuk berapa lama dia berada dalam kondisi tersebut."


"Ya Tuhan...!"


Tuan Ali mulai limbung. Dia pun segera mencari pegangan untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Sementara nyonya Diana semakin kencang menangis memanggil anaknya.


"Maaf pak ! Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Berdo'a saja, mudah-mudahan putra bapak bisa melewati masa kritisnya.


Hingga subuh mulai menjelang, Ajay masih tetap tak sadarkan diri di ruang ICU.


***

__ADS_1


"Ibu bangunlah...! Aneng mohon..., jangan tinggalin Aneng...! Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama...! Bangunlah ibu...!" ratap Kyara sembari terus memeluk jenazah ibunya yang telah terbujur kaku.


Bagas segera merangkul istrinya dari belakang.


"Sudahlah Kya...! Kuatkan hatimu...!" ujar Bagas.


Kyara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bagaimana aku bisa hidup tanpa ibu ?" rintih Kyara.


Brakkk....!!


Tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat kasar. Seorang pria yang berusia sekitar 40 tahunan lebih, berdiri terpaku menatap ke arah Bagas dan Kyara. Dengan langkah gemetar, dia mendekati mereka.


"Eceu....!" hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Kyara melepaskan pelukannya, dia menoleh ke arah suara berat seorang lelaki.


"Mamang...., ibu...., ibu sudah ninggalin Aneng...hu...hu...hu...!"


Mang Jajang segera memeluk Kyara.


"Sabar geulis..., sabar anaking...! Ibumu ahli surga, mamang percaya itu ! Di sepertiga malamnya, beliau selalu bangun, tahajud dan bermunajat pada Gusti Allah. Hanya satu yang dia pinta dalam munajatnya. Semoga Gusti Allah memberikan kamu jodoh yang terbaik. Dan alhamdulilah, dia sempat menyaksikan kamu menikah, neng. Karena itu, mamang mohon. Jaga pernikahan kalian hingga maut memisahkan kalian. Setidaknya dengan begitu, kamu akan selalu mengenang impian ibumu nak."


Kyara semakin tergugu di dalam pelukan pamannya.


"Sudah-sudah sayang, kita harus segera mengurus pemakaman ibumu. Kau tunggulah di sini. Mamang akan mengurus prosedur pengambilan jenazah. Yang sabar ya nak !" ujar mang Jajang seraya mengusap-usap punggung Kyara.


Kyara melepaskan pelukannya. Dia mengangguk dan kembali duduk di samping jenazah ibunya.


Kyara menatap senyum kedamaian terukir di bibir ibunya.


"Masya Allah..., sungguh ibu telah melewati masa sakitmu dengan kepayahan. Sekarang ibu tidak akan merasakan sakit apa pun lagi. Maafkan Aneng yang belum bisa membalas semua jasa ibu. Hiks...hiks..."

__ADS_1


Kyara kembali terisak sambil menata rambut ibunya ke sebelah kiri dan kanan telinganya.


Bagas mendekati Kyara. Dia tahu jika saat ini Kyara tengah berusaha untuk tetap tegar. Dia kemudian meraih kepala Kyara dan menyandarkannya ke dada bidang miliknya.


Kyara sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi. Tubuhnya mulai berguncang, menandakan jika dia tengah menangis kembali.


Bagas diam. Tak mampu lagi memberikan kalimat yang bisa menenangkan, karena saat ini pun Bagas terluka. Baru kemarin dia merasa bahagia mendapatkan kembali kasih sayang dan perhatian seorang ibu. Baru kemarin Bagas bahagia saat mendengar nasihat seorang ibu. Tapi sekarang, beliau sudah pergi untuk selamanya. Bagas kembali teringat akan ibunya yang telah tiada.


Jika boleh jujur, Bagas pun tak kuasa menerima cobaan kehilangan sosok ibu untuk yang kedua kalinya. Namun Bagas harus terlihat kuat, demi istri yang dicintainya.


Sekarang, dia hanya memiliki aku dalam hidupnya. Aku harus kuat menghadapi kenyataan pahit ini. Aku harus bisa menjadi sandaran untuk gadis itu, gadis yang telah menjadi istriku. Bersabarlah nona, aku akan selalu menjagamu....


Bagas mengusap punggung Kyara untuk menenangkannya.


30 menit kemudian. Dua orang perawat datang membawa keranda jenazah. Mereka segera memindahkan jenazah itu dan membawanya ke dalam ambulance.Bagas dan Kyara mengikutinya dari belakang.


Semua pakaian bu Ratna telah dimasukkan ke dalam tas. Bagas memapah Kyara dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang tas yang berisi pakaian ibu mertuanya.


Tiba di tempat parkiran. Bagas menekan tombol merah pada kunci mobil yang dipegangnya. Pintu mobil Bagas terbuka ke atas. Membuat para pengunjung rumah sakit yang berada di sekitar tempat parkir, berdecak kagum melihat mobil sport milik Bagas. Maklum, ini pertama kalinya mereka melihat mobil canggih seperti itu di kota ini...


Setelah pintu terbuka, Kyara dan Bagas memasuki mobil tersebut. Pintu tertutup kembali, dan Bagas mulai menyalakan mesin mobilnya. Perlahan mobil itu mulai keluar dari area parkir dan mengikuti ambulance yang membawa jenazah bu Ratna.


Kabar tentang meninggalnya bu Ratna telah sampai ke kampung halamannya. Di rumah, istrinya mang Jajang tampak sibuk menggelar tikar di ruang tamu rumahnya Kyara. Ada banyak tetangga yang ikut membantu mengangkat kursi dan lain sebagainya. Bahkan ada juga para pemilik kios di pasar wisata yang sudah tiba untuk melayat bu Ratna. Bu Ratna memang orang baik, karena itu banyak orang yang melayatnya.


Pukul 07.15 ambulance pun tiba. Keranda segera diturunkan dan dibawa ke ruang tamu. Tiba di ruang tamu, bu ratna dipindahkan di atas lantai beralaskan tikar. Diatasnya ditutupi kain. Sengaja mang Jajang melakukan itu, selain memberikan kesempatan kepada pelayat yang ingin mengaji di depan jenazah, juga untuk menunggu para warga yang sedang menyiapkan pemandian jenazah.


Mobil sport mewah berwarna hitam itu memasuki halaman rumah Kyara bertepatan dengan ambulance yang hendak kembali ke rumah sakit. Decak kagum para tetangga Kyara terdengar riuh. Mereka memang tahu jika Kyara semalam sudah menikah, karena tadi pagi sambil membereskan rumah, istrinya mang Jajang juga cerita soal pernikahan Kyara. Tapi mereka tidak pernah menyangka jika suaminya Kyara akan setampan dan sekaya ini. Biasa di kampung, ibu-ibu kang gosip emang nggak pernah kenal waktu dan tempat untuk berghibah.


Setelah pemandian telah siap, jenazah bu Ratna pun segera di gotong untuk dimandikan. Kyara ikut memandikan, meskipun telah dilarang oleh pamannya. Akhirnya dengan di papah bibinya, Kyara mengguyurkan air segayung demi segayung ke atas tubuh ibunya. Air mata tak pernah berhenti mengalir di pipinya...


Duka, kembali menyelimuti perjalanan hidup Kyara....


Bersambung...

__ADS_1


Mohon maaf telat up...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏


__ADS_2