
Assalamualaikum readers.... terima kasih masih setia menunggu kelanjutan ceritanya...π
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Kembali Bagas memejamkan matanya, dan mulai menyusun rencana untuk melakukan pencarian terhadap Kyara esok hari. Tiba-tiba dia teringat dengan nomor kontak Kyara yang ditulis Sisil di ponselnya. Bagas merogoh ponselnya di saku jaketnya, kemudian menekan id name Kyara di ponselnya.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."
"Tidak aktif." gumam Bagas.
Sekali lagi Bagas mencoba menghubungi nomor Kyara, tapi jawabannya masih tetap sama. Mungkin ponselnya lowbat, batinnya. Bagas pun meletakkan ponselnya di atas meja. Besok saja aku hubungi lagi... batinnya
***
Di rumah Kyara.
Setelah membersihkan dirinya, Kyara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Suasana kamar yang sangat dirindukannya. Dua tahun aku tidak pulang, tapi isi dari kamar ini masih tetap sama seperti saat sebelum aku meninggalkannya.
Kyara memejamkan matanya. Terlintas kembali kejadian pahit yang menimpa dirinya beberapa hari yang lalu. Maafkan aku bu Rena, Sisil..., aku tidak sanggup bertemu kalian. Aku terlalu malu, bukan hanya terhadap kalian, tapi juga terhadap diriku sendiri. Mungkin ini jalan yang terbaik. Aku tidak bermaksud melupakan kalian. Tapi, dengan aku pergi, aku harap aku bisa melupakan semua kejadian pahit yang menimpaku.
Kyara menyeka air mata yang mulai mengalir di pipinya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada jaket yang dia sampirkan di kursi meja riasnya.
"Jaket kak Bagas !" gumamnya. Ya Tuhan..., entah kapan aku bisa mengembalikan jaket itu. Bahkan aku berharap aku tidak akan pernah kembali lagi ke kota B. Semoga saja kak Bagas tidak marah setelah mengetahui jaketnya aku ambil. Maafkan aku kak.... batin Kyara
Karena lelah yang teramat sangat, Kyara pun mulai memejamkan matanya dan terlelap. Berharap bisa melupakan masa lalu, dan menyambut hari esok dengan senyuman.
***
Mentari pagi mulai memancarkan sinarnya. Bagas mengerjapkan matanya ketika mendengar suara rolling door bengkel yang dibuka Wawan.
"Astaghfirullah hal adzim ! Jam berapa ini ?" gumamnya seraya melirik jam dinding. "Masya Allah ! Sudah pukul 05.30, aku belum solat ! Ish, kenapa Wawan tidak membangunkanku ?"
Buru-buru Bagas pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, Ya Tuhan, baru kali ini aku kesiangan solat subuh. Ampuni aku Tuhan... batinnya.
"Allahu Akbar..." Bagas pun solat, meski waktu telah menunjukkan pukul setengah enam lewat. Tapi Bagas yakin, Tuhan Maha Mengetahui segalanya.
Tok...tok... tok...
"Bang, Wawan boleh masuk ?" seru Wawan dari luar pintu.
"Masuk, Wan !" perintah Bagas.
Wawan membuka pintu. Agak sedikit terkejut ketika melihat Bagas sedang melipat sejadahnya.
"Abang telat solat ?" tanya Wawan.
"Kamu kenapa nggak bangunin abang ?" Bagas malah balik bertanya.
"Maaf bang..., Wawan kira, abang nggak bakalan kesiangan. Abang kan paling rajin urusan solat." ujar Wawan, membela diri.
"Namanya juga manusia, Wan. Pasti ada khilafnya . Mungkin abang kecapean kali, sampai nggak dengar suara azan subuh. Tahu gini, abang pasang alarm deh..!" jawab Bagas.
__ADS_1
"Ya sudahlah bang, toh Tuhan Maha Pengampun. Sekarang, abang sarapan dulu ya ! Biar punya tenaga untuk petualangan kita hari ini."
Bagas mengernyitkan dahinya, "Petualangan ?"
"Ish, abang pasti lupa ya..? Kan kita mau cari kak Kyara."
"Hmm...abang nggak lupa, Wan. Tapi, bukan petualangan juga kali..." ujar Bagas seraya mengambil bubur ayam di atas meja.
"Ya, petualangan dong ! Kan kita nggak tahu harus nyari kak Kyara kemana. Satu-satunya petunjuk, cuma sopir taksi itu. Gimana mau nyari sopir taksi, lah wong abang aja nggak tahu nomor plat mobilnya. Terus, kita musti ke rumah sakit dulu, buat cari tahu nomor plat taksinya. Setelah itu, baru kita keliling cari sopir taksi, kalau sudah ketemu, kita...."
"Cukup, Wan ! Telinga abang sudah mau pecah dengar ocehan kamu. Makan !" perintah Bagas, menghentikan ocehan Wawan.
"Ish, abang kok gitu sih !" gerutu Wawan sambil meraih bubur ayam dan memakannya.
Bagas tersenyum melihat Wawan yang makan sambil cemberut.
"Wan, hari ini bengkel tutup saja !" ujar Bagas.
"Kenapa bang ?" tanya Wawan.
"Bukannya kamu mau temani abang ke rumah sakit ?" tanya Bagas.
"Oh, iya bang. Oke !" jawab Wawan
"Ya sudah, lanjutkan makannya ! Abang mau mandi dulu." Bagas pergi ke kamar mandi.
"Siap bang boss !!" jawab Wawan seraya memberi hormat.
***
"Wan, sudah siap ?" tanya Bagas ketika melihat Wawan yang sedang membereskan bekas sarapan mereka.
"Siap bang ! Sebentar, Wawan mau simpan ini dulu ke belakang." jawab Wawan.
"Oke ! Abang tunggu di luar ya ? Jangan lupa, kunci rolling doornya !" perintah Bagas.
"Siap bang !" jawab Wawan sambil ngeloyor pergi ke dapur
Bagas pergi keluar untuk memanaskan mobilnya. Sebuah mobil Jeep Jimny Katana 2WD berwarna hitam, peninggalan almarhum ayahnya.
"Wah..., kita berpetualang sama si Bleki nih bang !" seru Wawan begitu tiba di depan bengkel.
"Ya." jawab Bagas.
"Wawan yang nyetir ya bang ?" pinta Wawan.
"Tidak ! Belum cukup umur !" tolak Bagas, tegas.
"Dua bulan lagi, Wawan 17 tahun, kok !" rengeknya.
"Ya sudah, tunggu dua bulan lagi, baru nyetir !" ujar Bagas.
__ADS_1
"Kan Wawan bisa nyetir, bang ! Please...?!" Wawan memasang puppy eyes nya.
"Sekali tidak, tetap tidak !" tegas Bagas. "Ayo, naik !"
"Huh... pelit !" Wawan naik ke mobil sambil memonyongkan bibirnya ke arah Bagas.
Mobil pun melaju menuju rumah sakit.
Satu jam kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Bagas langsung pergi ke ruangan manager. Semalam Bagas sudah membuat janji temu dengan manager rumah sakit.
Tok....tok.... tok...
"Masuk !" perintah manager dari dalam ruangan.
Bagas membuka pintu.
"Ah..., pak Bagas, mari silakan duduk !" ujar manager begitu mengetahui bahwa tamu yang ditunggunya telah tiba
"Maaf pak, apa kita bisa langsung melihat kembali isi rekaman CCTV itu ?" pinta Bagas.
"Oke, baiklah pak. Mari ikut saya !" ajak manager itu.
Bagas, Wawan dan manager itu langsung pergi ke ruang kontrol CCTV. Tiba di sana, manager kembali menyuruh petugas pengawas untuk membuka file rekaman CCTV kemarin.
"Ya ! Stop pak !" ujar Bagas, saat di monitor dia melihat taksi mulai melaju.
Petugas mempause rekamannya.
"Tolong diperbesar, pak !"
Kembali petugas melakukan perintah Bagas.
"Ya ! Cukup pak ! Wan, catat..!" perintah Bagas.
Wawan mencatat plat nomor taksi itu, "Sudah bang." jawab Wawan.
"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya, pak !" ucap Bagas kepada manager rumah sakit dan petugas pengawas CCTV.
"Sama-sama pak. Kami senang bisa membantu. Semoga istri bapak bisa segera ditemukan." kata manager rumah sakit.
"Aamiin..." jawab Bagas. "Terima kasih pak. Saya permisi dulu !" pamit Bagas seraya menjabat tangan kedua orang itu.
Bagas dan Wawan kembali ke mobilnya.
Bersambung....
Terima kasih readers...
Ditunggu boomlike nya yaaa...
πππ
__ADS_1