Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Nasihat Bagas


__ADS_3

Alhamdulillah...., satu urusan telah selesai, tinggal satu lagi. Aku harus segera menemui Wawan dan Agus untuk menyerahkan semua urusan bengkel pada mereka. Semoga Engkau ridho dengan jalan yang kutempuh, Ya Rabb....


Bagas melajukan mobilnya menuju bengkel miliknya. Karena ini jam kantor, maka jalanan terlihat sangat lengang. Tak membutuhkan waktu lama, Bagas pun tiba di bengkel miliknya. Sebuah bengkel yang dia rintis sejak awal menapaki masa kuliahnya. Bengkel yang dia dirikan dengan modal pinjaman dari Aaron sahabatnya.


Tiba di bengkel, Bagas melihat Wawan dan Agus sedang bahu membahu memperbaiki sebuah mobil. Bagas tersenyum melihat kerjasama mereka yang begitu kompak.


"Sudah selesai, Gus ?" tanya Bagas menepuk bahu Agus yang sedang membungkuk memperbaiki mesin mobil di bagian depan.


Agus menoleh, "Eh abang...! Alhamdulillah, sedikit lagi bang !" jawab Agus.


Bagas mengangguk. "Jika sudah selesai, tolong temui abang di ruang kerja abang, ya ! Sekalian kasih tahu Wawan !" ujar Bagas kepada Agus.


"Siap bang..!!" jawab Agus.


Bagas tersenyum, dia pun menuju ruang kerjanya. Bagas mulai mengumpulkan barang-barang pribadi yang akan dibawanya pulang. Dia membuka laci meja kerjanya untuk melihat apakah ada dokumen penting yang harus dibawanya. Namun netranya menatap sebuah kotak kecil berwarna rose gold. Bagas tersenyum mengingat awal mula kenapa kotak itu bisa berada di tangannya.


Tanpa sadar, tangannya mulai meraih kotak kecil tersebut, kemudian membukanya. Senyum Bagas kembali mengembang tat kala melihat benda kecil itu. Sebuah jam tangan berbentuk oval kecil dihiasi kilauan permata di sekeliling bentuknya. Bagas terus mengamati jam tersebut, jam tangan yang dibelinya pada awal-awal pertemuannya dengan Kyara.


Aku tidak pernah tahu alasanku membeli benda ini, dulu. Tapi sekarang, benda ini menjadi penawar rinduku untuk gadis itu. Tuhan, apa mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi...?


Tok...tok... tok...


Ketukan pintu di ruang kerjanya, seketika membuyarkan lamunan Bagas tentang Kyara.


"Ya, masuk !" titahnya


Ceklek...!


Pintu terbuka, tampak Wawan dan Agus tengah berdiri di ambang pintu.


"Kemarilah !"


Kembali Bagas memberikan perintah yang langsung diikuti oleh kedua adik angkatnya. Wawan dan Agus segera duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja abangnya.


"Sebenarnya, ada apa abang memanggil kami ? Apa kami membuat kesalahan ?" tanya Wawan.


"Ah tidak...! Kalian tidak memiliki kesalahan. Kinerja kalian sangat bagus, alhamdulilah para pelanggan pun merasa senang dengan pelayanan kalian. Abang memanggil kalian karena ada hal penting yang harus abang bicarakan." jawab Bagas panjang lebar.


Wawan dan Agus saling berpandangan. Mereka belum bisa mengerti apa yang akan dibicarakan abang angkatnya.

__ADS_1


"Soal apa ya bang ?" kembali Wawan bertanya.


"Hhhh...."


Sejenak Bagas menghela napasnya, kemudian menatap lekat kedua adik angkatnya. Sungguh, sebenarnya Bagas berat melakukan semua ini. Namun, jika dia tetap bertahan di kota ini, hidupnya pun tidak tenang. Selalu ada bayangan Kyara yang melintas setiap kali Bagas melihat rumah itu. Terlebih lagi, di kota ini Bagas tidak mampu berbuat banyak dengan ilmu yang telah dimilikinya.


"Bang...! Kok malah ngelamun !"


Teguran Wawan mengakhiri semua lamunan Bagas.


"Maaf...!" jawab Bagas yang segera tersadar dari lamunannya.


"Tadi pagi, abang sudah menemui om Ali untuk membicarakan tentang penjualan aset keluarga abang. Alhamdulillah, om Ali bersedia membeli perusahaan dan rumah abang. Hei.. ! Kenapa kamu nangis, Wan..?"


Kalimat Bagas terhenti saat melihat Wawan mulai berkaca-kaca mendengar penuturan Bagas tentang penjualan aset keluarganya.


Wawan menyeka genangan air mata di kedua sudut matanya.


"Wa... Wawan ngerti dengan sikap abang. Tapi bisakah penjualan bengkel ini ditunda sebentar ? Soalnya ada beberapa mobil langganan yang belum kita perbaiki. Wawan sama Agus janji, insyaallah dalam waktu 2 minggu kita akan selesaikan semuanya. Benar kan, Gus ?"


Agus mengangguk untuk mengiyakan ucapan Wawan.


Bagas terkekeh mendengar penuturan Wawan yang salah sangka padanya.


"Makanya, kalau orang lagi ngomong tuh dengerin dulu sampai selesai ! Maksud abang, untuk urusan bengkel, abang serahkan sepenuhnya pada kalian berdua. Hanya saja, abang minta maaf jika kalian tidak bisa tinggal lagi di rumah abang. Rumah itu telah terjual, tapi kalian nggak usah khawatir, abang akan cari kontrakan buat kalian tinggali."


"Maaf bang, kalau boleh Wawan usul, abang nggak usah cari kontrakan buat kita. Kita nggak apa-apa kok, nginep di bengkel. Sekalian kita bisa lembur kalau lagi banyak kerjaan, iya kan Gus ?"


Kembali Agus mengangguk untuk membenarkan perkataan Wawan.


"Iya bang, jadi abang nggak harus keluar uang banyak buat ngurusin kita. Selama ini, kita sudah banyak nyusahin abang." timpal Agus.


Bagas tersenyum, "Baiklah, kalian atur saja. Ruangan ini juga bisa kalian pakai nantinya."


"Apa abang nggak bakalan balik lagi ke sini ?" tanya Wawan.


"Ish..., tentu sesekali abang akan jenguk kalian kemari." jawab Bagas.


"Kalau gitu, ruangannya biarkan saja tetap seperti ini. Wawan bisa berbagi kamar kok sama Agus !" ucap Wawan.

__ADS_1


"Baiklah..., suka-suka kalian saja ! Yang penting kalian nyaman tinggal di sini. Untuk penghasilan bengkel, silakan kalian kelola dengan baik. Jika ada keuntungan, bagi rata, ya ! Dan jangan lupa sedekah untuk anak-anak yatim ataupun orang-orang yang kurang mampu !"


Wawan dan Agus mengangguk mendengar nasihat Bagas.


"Ya sudah, abang pulang dulu ! Abang mau beres-beres rumah, supaya nanti tidak keteteran jika pemilik barunya hendak menempati."


"Kalau gitu, kita bantu ya bang, biar cepat selesai !" ujar Wawan.


"Nggak usah, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian !" jawab Bagas.


"Beneran bang, nggak butuh tenaga kita ?" tanya Wawan lagi.


"Iya, abang bisa sendiri, kok ! Ya, sudah, abang pulang dulu. Ingat baik-baik pesan abang ya ! Kalian yang akur, jika ada masalah, bicarakan baik-baik ! Selain kak Indah dan kak Gun, hanya kalian saudara abang. Jadi kalian harus tetap rukun satu sama lain."


Kembali Bagas menasihati kedua adik angkatnya.


"Siap bang !"


Jawab Wawan dan Agus serempak.


Setelah berpamitan, Bagas pun kembali melajukan mobilnya. Tujuan kali ini adalah rumahnya. Bagas merasa semua urusannya sudah selesai, hanya tinggal penandatanganan berkas-berkas jual beli. Dan Tuan Ali yang akan mengurus semuanya.


Begitu tiba di rumahnya, Bagas segera mengemas barang-barang yang akan dibawanya ke rumah kak Indah, terutama barang-barang kenangan peninggalan orang tuanya. Atas permintaan kakak dan kakak iparnya,ntuk sementara waktu Bagas akan tinggal di rumah kak Indah.


Karena asyiknya berkemas, Bagas tidak menyadari jika matahari mulai terbenam di ufuk barat. Suara azan magrib segera menghentikan Bagas dari kegiatan berbenahnya.


"Alhamdulillah, sudah magrib ! Hmm, saking asyiknya mengemas sambil mengkhayal, aku sampai tidak menyadari jika hari mulai menjelang malam." gumam Bagas.


Bagas menggeliat, meregangkan otot-ototnya. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah mengambil air wudhu, Bagas segera menunaikan kewajibannya.


Tak lupa dia berdoa selepas salatnya. Bagas mengangkat kedua tangannya.


"Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Berilah hamba jalan yang lurus, jalan orang-orang yang engkau ridhoi. Jadikanlah apa yang hamba lakukan, menjadi sebuah amalan yang bisa mendampingi hamba ketika menghadapMu. Bimbing hamba untuk selalu berada di jalanMu..., aamiin allohumma aamiin..."


Bersambung...


Mudah-mudahan masih berkenan untuk membaca karya ini...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2