
Akhirnya hari yang ditentukan telah tiba. Diantar Ajay, Andin dan kedua orang tuanya pergi ke bandara. Rencananya Andin akan tinggal di L.A selama 2 bulan.
"Apa tidak bisa dikurangi liburannya, sayang...?" tanya Ajay seraya terus mengecup bibir Andin.
"Dua bulan bukan waktu yang sangat lama, sayang..! Bersabarlah...!" Andin menjawab sambil membalas ciuman Ajay.
"Tapi sayang, aku akan sangat merindukanmu..., humh..!" Ajay terus ******* bibir Andin semakin dalam.
"Ehm...ehm...!" suara dehaman nyonya Mira, mengakhiri kegiatan mereka.
"Eh..., tante...!" sapa Ajay sambil menggaruk tengkuknya.
"Kalian ini, apa tidak malu, bermesraan di tempat umum..!" tegur nyonya Mira.
"Aahh..., mama...! Kayak yang nggak pernah muda aja..!" seru Andin mendengus kesal mendengar teguran ibunya.
Sedang Ajay, dia hanya tersenyum mesem.
"Sudah.. ! Pesawatnya sebentar lagi take off, kita harus segera masuk, ayo...!" ajak nyonya Mira sambil menarik tangan Andin.
"Bye sayang...! Awas...! Jangan kelayapan ya, selama aku pergi..!" teriak Andin melambaikan tangannya.
"Siap, tuan putri...!" jawab Ajay membalas lambaian tangan Andin.
Tanpa dia sadari, seseorang berkacamata hitam sedang intens memperhatikan pergerakannya.
"Sempurna...!" gumam Cecilia yang sedari tadi mengintai pergerakan Ajay di salah satu kursi tunggu.
Cecilia segera bangkit, dia pergi ke toilet. Tiba di sana, segera dia meneteskan beberapa tetes obat tetes mata di kedua matanya. Dia pun mengedip-ngedipkan matanya, sehingga matanya tampak merah dan berair.
Setelah dirasa semuanya cukup sempurna, dia segera keluar dari toilet. Cecilia pergi ke arah pintu keluar bandara. Sejenak dia menunggu kedatangan lelaki pujaannya.
Cecilia berdiri kira-kira 5 meter dari samping pintu keluar bandara. Sekilas dia melihat Ajay hendak keluar, dia pun segera mengambil ancang-ancang untuk berlari kecil.
Semakin mendekat, Cecilia semakin mempercepat gerakannya. Tiba-tiba...
Bugh.....
Tabrakan antara Cecilia dan Ajay tak terelakkan lagi.
"Ma... maaf..., tu...tuan...!" ujar Cecilia tertunduk.
Ternyata Cecilia berpura-pura tak sengaja menabrak Ajay. Sehingga pertemuan tak terduga pun akan kembali terjadi.
"Tidak apa-apa...! Bangunlah, nona...!" jawab Ajay seraya mengulurkan tangannya, membantu Cecilia untuk berdiri.
Cecilia menyambut uluran tangan Ajay, dia mendongakkan kepalanya. "Ka..kau...!" ucapnya seolah-olah merasa kaget karena bertemu kembali dengan Ajay.
"Kau...!" Ajay pun tak kalah kagetnya mendapati orang yang menabraknya adalah Cecilia.
__ADS_1
Ajay segera membantu Cecilia untuk berdiri. Dia sedikit terkejut saat melihat mata Cecilia yang sembab.
"Kamu habis menangis ?" tanya Ajay
"Ti... tidak, tuan..!" jawab Cecilia terbatas.
"Jangan bohong...! Matamu tidak bisa berbohong, nona..!"
"Aku...aku hiks... hiks...!"
Cecilia mulai terisak, tiba-tiba dia menyusupkan wajahnya di dada bidangnya Ajay.
Ajay kaget dan tak mengerti akan sikap Cecilia. Tapi dia juga tidak berniat untuk menolaknya. Perlahan tangan Ajay terangkat dan memegang punggung Cecilia. Spontan dia pun mengusap-usap punggung Cecilia untuk menenangkannya.
Tangisan Cecilia mulai mereda, dia segera melepaskan diri dari pelukan Ajay.
"Ma....maaf...!" gumamnya.
Ajay tersenyum, "It's oke...!" jawabnya.
Cecilia menyeka air matanya. "Aku..., aku pergi dulu..!" ujarnya seraya memasang wajah yang amat memelas.
Ajay melihat wajah menyedihkan itu. Dia merasa jika Cecilia sedang mempunyai masalah. Ajay merasa iba, dia pun memegang tangan Cecilia.
"Ikut aku...!" ajaknya.
"Aku tidak akan berbuat sesuatu yang buruk denganmu. Aku hanya butuh teman minum kopi. Siapa tahu secangkir kopi hangat di pagi hari bisa mengembalikan senyummu...!" ujar Ajay mulai menggombal.
Cecilia mengangguk. Akhirnya dia membiarkan tangan Ajay terus menggandengnya menuju tempat parkiran. Ajay membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Cecilia masuk. Setelah itu, dia berjalan memutar dan memasuki mobilnya. Dengan kecepatan sedang, mobil itu melaju, kembali ke kota B.
Tiba di coffee shop. Mereka segera memesan kopi kesukaan masing-masing.
"Aku tidak menyangka kita bisa kembali bertemu tanpa terduga." ujar Ajay memulai pembicaraan.
"Mungkin kita jodoh." jawab Cecilia tanpa canggung.
Ajay terhenyak mendengar jawaban Cecilia. Kenapa gadis ini masih berkata demikian ? Padahal dia tahu kalau aku kekasih sahabatnya...batin Ajay.
"Aku hanya bercanda tuan..., jangan di ambil hati ! Mana mungkin aku merebut kekasih temanku sendiri..! Aku tahu sakitnya seperti apa, tuan...?" ujar Cecilia kembali memasang muka sedihnya.
"Maksudmu ?" tanya Ajay tak mengerti.
"Sudahlah, lupakan saja !" Cecilia menyeruput kopinya.
"Kalau boleh tahu, apa yang sedang kamu lakukan di bandara ? Apakah kamu akan pergi atau baru kembali ?" tanya Ajay seraya meletakkan cangkir kopi yang tadi diseruputnya.
"Aku...aku baru kembali dari kampung halamanku. Nenekku sakit, aku menjenguknya. Tapi situasi di rumahku benar-benar kacau, sehingga membuat aku tidak betah untuk berlama-lama di sana.
"Oh...!" hanya itu yang keluar dari mulut Ajay.
__ADS_1
"Terus, kenapa kamu menangis...!" tanya Ajay.
"Saat aku tiba di bandara, aku baru dapat kabar jika nenekku meninggalkan, hu..hu..hu..." kembali Cecilia menangis.
"Sssttt...ssstt...! Sudahlah...! Nenekmu sudah tenang di alam sana...!" ujar Ajay mengusap-usap tangan Cecilia.
Cecilia menatap netra Ajay, dia pun mengangguk membenarkan ucapan Ajay.
"Kenapa kamu tidak kembali ke rumahmu ? Jika kau tidak keberatan, aku bisa mengantarmu kembali ke rumah !" tawar Ajay.
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Aku...., aku..., sebenarnya..., aku kabur dari rumah..."
"Apa...!" Ajay memotong kalimat Cecilia.
Cecilia menundukkan kepalanya.
"Tapi, kenapa ?" tanya Ajay.
"Aku tidak betah tinggal di rumah. Setiap hari hanya pertengkaran orang tuaku yang ku lihat di sana. Akhirnya aku pun memutuskan pergi dari rumah dan hidup mandiri. Setidaknya, dengan cara seperti ini, aku tidak harus melihat pertengkaran mereka."
Cecilia menghela napasnya, "Tiga hari yang lalu, aku mendapat telpon yang mengatakan jika nenekku sakit dan memintaku untuk pulang. Tapi ternyata, kepulanganku disalahartikan oleh orang tuaku. Mereka malah memaksaku menikah dengan rekan bisnis papa yang usianya hampir sama dengan papaku. Nenek menentang keinginan orang tuaku, namun karena kondisinya sedang sakit, dia tidak bisa membelaku. Dia hanya menyuruhku untuk kembali pergi meninggalkan rumah itu."
Aahh.... tidak kusangka..., aku ternyata memiliki bakat akting yang sempurna...! Aku lihat Ajay mulai bersimpati padaku....gumam Cecilia dalam hati.
"Aku turut berduka atas kepergian nenekmu. Dan aku juga sangat prihatin dengan masalah yang menimpamu. Semoga ada jalan keluarnya." ucap Ajay tulus sambil terus menggenggam tangan Cecilia.
Cecilia balas menyentuh tangan Ajay, "Terima kasih !" jawab Cecilia. "Andin beruntung ya..! Selain baik, kamu juga perhatian, bahkan terhadap orang yang baru kamu kenal...!" ujar Cecilia.
"Kamu temannya Andin. Teman Andin adalah temanku juga...! Tidak usah sungkan-sungkan untuk menceritakan tentang permasalahanmu ! Siapa tahu aku bisa membantumu..!" tawar Ajay.
Cecilia tersenyum, "Baiklah..!"
"Sudah siang, ayo aku antar kamu pulang !" kembali Ajay menawarkan tumpangan untuk Cecilia.
Cecilia mengangguk.
Tidak sia-sia aku mengintaimu selama dua hari ini. Aahh semuanya sempurna seperti apa yang kuharapkan...batin Cecilia bersorak gembira.
Selangkah demi selangkah, akan kupastikan laki-laki ini menjadi milikku ! Tunggulah pembalasanku, Andin...
Bersambung...
Akhirnya hari ini bisa up ya...
Terima kasih untuk readers yang masih setia menunggu karya ini..
Jangan lupa like vote n komennya...
🙏🤗🤗
__ADS_1