Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Keputusan Sepihak


__ADS_3

Semenjak pertemuannya dengan Bima. Bagas bisa merasakan perubahan dalam diri istrinya. Tak jarang Bagas mendapati istrinya sedang melamun di balkon depan kamarnya. Terkadang Kyara seperti tidak fokus saat melakukan pekerjaannya.


"Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu ?" tanya Bagas saat mereka sedang melewati waktu senjanya di taman.


"Tidak...! Kenapa kakang bisa berpikiran seperti itu ?"


"Entahlah, aku merasa akhir-akhir ini sikapmu sangat aneh. Aku sering mendapatimu sedang duduk melamun di balkon. Sebenarnya, apa yang sedang kau pikirkan ?"


"Tidak ada kang ! Kya tidak sedang memikirkan apa pun. Kya hanya merasa capek saja. Akhir-akhir ini, pekerjaan Kya sangat banyak. Entah kenapa, banyak sekali kasus yang terjadi di sekolah. Sampai-sampai Kya harus menitipkan kelas karena harus menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kelas 6." ujar Kyara.


"Sabar sayang !" ujar Bagas seraya menarik tubuh Kyara dan mendekapnya.


"Iya kang, ini memang sudah resiko dari pekerjaan Kya."


Maafkan aku kakang...! Maafkan aku yang telah membohongimu..! Aku melakukan ini karena aku tidak ingin membuatmu harus memilih.


Kyara pun memejamkan matanya dan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Ting....


Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk di ponselnya Kyara. Pesan itu adalah sebuah video yang berisi tentang histerisnya Ajay memanggil nama Kyara. Kyara tahu siapa pengirim video itu. Berita di bawahnya mengatakan dengan jelas maksud si pengirim.


"Maaf kak, Bima hanya ingin kakak mengetahui kalau kak Ajay telah mendapatkan karmanya."


Kyara menghela napasnya. Meskipun dia telah menghapus video tersebut, namun bayangan Ajay yang sedang memanggil-manggil namanya terekam jelas. Hatinya merasa iba, tak ada lagi dendam dan kebencian dalam hatinya untuk laki-laki itu.


"Sayang, kamu melamun lagi ?"


Pertanyaan suaminya membuyarkan lamunan Kyara.


"Eh, kenapa kang...?"


"Tuh...kan..., pasti ngelamun lagi....! Ya sudah, ayo kita masuk ! Bentar lagi maghrib..!" ajak Bagas.


Kyara pun mengikuti ajakan Bagas. Mereka saling menautkan jari jemarinya dan segera masuk ke rumah melalui pintu belakang.


***


Seminggu telah berlalu, pikiran Kyara semakin kacau. Pekerjaannya semakin acak-acakan, dan jika sedikit boleh jujur. Ada rasa hambar ketika dia melakukan hubungan suami istri dengan Bagas.


"Ya Tuhan..., aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Aku harus segera menemui Nita, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada rumah tanggaku." gumamnya.


Hari ini tanpa sepengetahuan suaminya, Kyara pergi menemui dokter Nita.


"Hai Kya...! Apa kabar...?" sapa Nita saat Kyara berkunjung ke tempat prakteknya.


"Kabar aku nggak baik, Nit !" ujar Kyara.


Nita mengernyitkan dahinya. Dia yakin, sesuatu pasti sedang terjadi pada sahabatnya.


"Ada apa, Kya ? Ada yang bisa saya bantu ?" kembali Nita bertanya.


Kyara mengangguk.


"Dia...dia kembali Nit ! Orang itu kembali...hu... hu...?"


Akhirnya, air mata Kyara tumpah juga saat mengingat kembali mantan tunangannya.


Nita segera mengambil segelas air putih. Dia kemudian menyerahkannya kepada sahabatnya itu.


"Minumlah ! Lalu ceritakan secara perlahan apa yang menjadi beban mu saat ini !" ujar Nita.


Kyara mengambil air minum yang disodorkan Nita, kemudian mereguknya.


"Mantan tunanganku, orang yang selama ini kubenci, kini telah kembali." ujar Kyara perlahan.


Dokter Nita terkejut mendengarnya. Namun dia segera menguasai diri, agar bisa tetap bersikap tenang.


"Apa dia mengganggumu ?"


Kyara menggelengkan kepalanya.


"Terus...?"


"Dia...dia mengalami depresi, dan sekarang dia berada di rumah sakit jiwa. Kau tahu Nit, aku memang membenci Ajay, tapi aku juga tidak ingin hidup Ajay berakhir di rumah sakit jiwa untuk selamanya." ujar Kyara meluapkan emosinya.


"Tunggu...! Ajay...? Apa maksudmu adalah Ajay Sanjaya, pengusaha properti yang dari kota B !"


"Kau....kau mengenalnya...?"


"Astaghfirullah hal adzim...! Ternyata dunia ini sempit Kya...!"

__ADS_1


"Jadi benar kau mengenalnya ?"


"Ya, aku mengenalnya. Dia salah satu pasien temanku. Dan temanku itu pernah meminta bantuanku untuk menyembuhkan mentalnya yang terganggu. Oh Tuhan, Kya...., aku tidak menyangka jika orang yang selama ini dibangun di dunianya itu, dia adalah kamu.."


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya ? Dan bagaimana kau bisa beranggapan seperti itu ?"


"Dokter yang menangani dia pasca koma, adalah...."


"Koma ?"


Kyara menyelak pembicaraan sahabatnya.


"Ya ! Koma ! Dengarkan aku dulu !"


Dokter Nita merasa kesal karena Kyara telah memotong pembicaraannya.


"Maaf...!"


"Dokter Firman mengatakan, Ajay mengalami kecelakaan yang menyebabkan dirinya terbaring koma selama sebulan. Setelah dia sadar, dia tidak bisa menerima kenyataan karena dirinya di vonis tidak bisa berjalan lagi. Kecelakaan yang dialaminya cukup fatal sehingga mengakibatkan keretakan pada tulang belakangnya. Ditambah kebohongan yang dilakukan oleh istrinya, membuat dia semakin merasa frustasi dan menyalahkan diri sendiri."


"Kebohongan...? Kebohongan apa ?"


"Aku dengar dari dokter Firman, jika sebelum kecelakaan itu terjadi, dia mengetahui sebuah kebenaran tentang anaknya yang ternyata bukan darah dagingnya. Setelah itu dia berniat untuk mencari mantan tunangannya karena ingin menceritakan semua kebenaran itu. Naasnya, dalam perjalanan, dia mengalami kecelakaan."


Kyara benar-benar terkejut mendengar cerita dari sahabatnya. Tubuhnya seketika menjadi lemas. Air matanya sudah tidak mampu dia bendung lagi.


"Lalu hubungannya denganmu ? Maksud.. maksudku, kenapa dokter Firman sampai meminta bantuanmu ?"


"Ajay mengalami depresi dan dia pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Aku sendiri tidak tahu alasan dibalik semua itu. Namun saat aku lihat dia selalu menggumamkan nama seseorang, aku menyarankan dokter Firman untuk mencari orang yang selama ini berada dalam dunianya."


"Aku..aku semakin tidak mengerti, Nit."


Dokter Nita menggenggam tangan Kyara.


"Kya, dugaanku, kemungkinan Ajay menikahi istrinya karena terpaksa, karena itulah saat dia mengetahui kebusukan istrinya, orang yang pertama kali ingin dia hubungi adalah mantan tunangannya, yaitu kamu. Dan pada saat kecelakaan itu terjadi, pikirannya sedang dipenuhi oleh rasa bersalahnya terhadapmu. Hingga setelah dia sadar dan menyadari keadaannya, dia mulai membangun dunianya sendiri. Dan satu-satunya orang yang ada dalam dunianya adalah kamu. Dia sudah tidak mengingat apa pun lagi selain dirimu. Jujur, aku tidak bisa mengetahui alasan dia ingin mengakhiri hidupnya, karena aku tidak bisa mendekatinya. Satu yang aku tahu, mungkin di masa lalu, dia pernah memiliki sebuah kesalahan yang menurut dia tidak akan pernah mungkin bisa dimaafkan."


"Apa kau bisa membantu menyembuhkannya, Nit ? Aku mohon !"


"Hhhh...." sejenak dokter Nita menghela napasnya.


"Kenapa Nit, aku yakin kau bisa menyembuhkannya. Bukankah kau seorang psikiater terhebat di kota ini ?"


"Berhenti memujiku seperti itu, Kya ! Aku tidak yakin aku bisa membantunya."


"Kya, untuk pasien yang memiliki gangguan psikis, dia bisa sembuh jika memang dia memiliki keinginan untuk sembuh. Untuk kasus Ajay Sanjaya, jangankan mempunyai keinginan sembuh, keinginan untuk keluar dari bayangan masa lalunya pun dia tidak memiliki. Bagaimana aku bisa membantunya jika dia sudah merasa nyaman dalam dunia yang dia bangun sendiri. Akan sangat sulit untuk mendekati pasien seperti itu."


"Apa tidak ada cara lain, Nit ?"


Dokter Nita diam sejenak, kemudian...


"Ada, tapi sangat beresiko. Aku membutuhkan bantuan seseorang untuk membawa dia kembali ke alam sadarnya."


"Maksudmu ?"


"Sudahlah Kya...! Tidak usah memaksaku. Pulanglah, aku masih banyak urusan !" perintah dokter Nita.


Maafkan aku Kya, aku tidak bisa mempertaruhkan hubunganmu dengan suamimu. Aku takut kau akan terjebak dengan keputusan yang akan kau buat nanti. Aku tahu seperti apa sifatmu...


Kyara menghampiri sahabatnya.


"Tolonglah Nit, jelaskan padaku apa maksudmu ? Aku hanya ingin membantunya untuk sembuh. Bagaimanapun juga, aku telah mengenalnya lama, Nit. Aku hanya ingin dia bisa kembali melanjutkan hidupnya !"


"Tapi bagaimana jika dia mengharapkanmu kembali ? Katakanlah dia sembuh. Tapi setelah dia sembuh dia memintamu untuk menjalin hubungan yang telah kandas, apa yang akan kamu lakukan ?"


"Jangan gila kamu ! Aku sudah bersuami, dan aku sangat mencintai suamiku !"


"Apa kau yakin ?"


"Ya, aku sangat yakin ! Bagiku, kakang Bagas adalah masa depanku. Aku tidak akan pernah menoleh lagi ke belakang."


"Tapi satu-satunya orang yang bisa membantuku adalah kamu Kya !" ujar dokter Nita, lirih.


Seketika Kyara melepaskan tangannya.


"Jangan bercanda kamu Nit !"


"Aku tidak bercanda ! Aku lah yang menyarankan agar keluarganya mencarimu. Maafkan aku Kya, sungguh aku tidak pernah mengetahui jika Kya yang dimaksud Ajay adalah dirimu !"


Kyara diam.


"Apa tidak ada cara lain, Nit ?"

__ADS_1


Dokter Nita menggelengkan kepalanya lemah.


"Aku bisa membantu menyembuhkan Ajay setelah Ajay bisa keluar dari dunia khayalnya. Dan satu-satunya orang yang bisa mengeluarkan dia dari sana, itu kamu Kya !"


"A... apa yang harus aku lakukan, su.. supaya dia sa..sadar kembali dengan dunia nyatanya ?"


Akhirnya, pertanyaan itu keluar dari mulut Kyara.


"Sudahlah, kita akhiri pembicaraan ini. Dan aku minta, lupakan saja ucapanku barusan ! Aku tidak ingin rumah tanggamu hancur hanya karena permasalahan ini."


"Katakan, Nit ! Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membantumu !"


Nita menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan.


"Temui dia !"


Deg....!


Kyara sudah menduga jawaban dokter Nita. Tapi saat mendengarnya secara langsung, tetap saja dia merasa terkejut.


"Baiklah, ayo sekarang kita temui dia !" ajak Kyara.


"Jangan gila kamu Kya ! Kamu sudah menikah, kamu tidak bisa mengambil keputusan sepihak ! Aku sarankan, sebaiknya kamu bicarakan secara baik-baik dengan suamimu !"


"Dengar Nit, kamu hanya membutuhkan aku untuk membawa dia dari alam sadarnya. Itu artinya, aku hanya cukup sekali menemui dia. Bukankah setelah dia sadar, kau yang akan mengurusnya, dan kau juga yang akan membantu dia sembuh, benar kan ?"


"Aku tahu, tapi semuanya tidak sesederhana itu ! Apa kau pikir dia bisa langsung sadar setelah bertemu denganmu ? Apa kau pikir menarik dia dari alam sadarnya itu semudah membalikkan telapak tanganmu ? Tidak Kya, aku tidak mau mengambil resiko. Aku tidak ingin suamimu menyalahkan aku !"


"Nita...., Nita..., dengarlah ! Aku jamin suamiku tidak akan pernah menyalahkanmu ! Aku mohon, bantu aku ! Aku ingin semua ini segera berakhir, agar aku bisa hidup tenang bersama suamiku. Selama ini kami sudah sama-sama berjuang untuk menyatukan cinta kami. Aku tidak bisa membiarkan dia hidup dalam kegelisahan karena berpikir aku masih mencintai mantan tunanganku. Begitu juga aku, aku tidak ingin merasa gelisah karena melihat rasa bersalah dalam diri suamiku. Aku tahu, hubungan mereka sudah seperti saudara. Dan aku tahu jika suamiku selalu merasa bersalah melihat kondisi Ajay saat ini."


"Maaf Kya, aku tidak mengerti ! Bisa kau perjelas lagi ?"


"Hhhh...." Kyara menghela napasnya.


"Suamiku dan Ajay, mereka adalah sahabat sedari kecil. Hubungan mereka sudah seperti keluarga. Suamiku hidup yatim piatu sejak kecil. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, kedua orang tua Ajay lah yang mengurus suamiku. Aku mengenal suamiku melalui temanku. Satu yang pasti, satu-satunya orang yang selalu disampingku melewati semua penderitaanku adalah suamiku. Aku sendiri tidak sadar kapan kami mulai saling mencintai. Namun yang jelas, saat ini kami sudah bahagia dengan kehidupan kami. Sampai akhirnya kabar depresinya Ajay sampai ke telinga suamiku. Aku tahu, di satu sisi dia ingin menyembuhkan Ajay tapi di sisi lain, aku adalah istrinya. Aku yakin dalam hatinya, dia pun merasa bersalah dengan pernikahan ini, dia pasti merasa telah mengkhianati sahabatnya. Terlebih lagi saat dia tahu Ajay masih mencintaiku. Tapi kau sendiri tahu, jika cinta tidak pernah mengenal apa pun. Dia mencintaiku tanpa syarat, begitu juga aku. Aku mencintainya tanpa paksaan. Aku hanya ingin membuat Ajay sadar, bahwa Kyara nya telah hilang. Dan orang yang akan berdiri di hadapannya adalah nyonya Anggara bukan Kyara Adistya yang dulu.


Dokter Nita sangat terkejut mendengar penuturan Kyara.


"Ya Tuhan Kya..., cerita cinta kalian seperti sebuah sinetron saja...! Aku benar-benar pusing mendengarnya !"


"Apalagi aku...! Aku yang menjalaninya, rasanya kepalaku sudah mau pecah memikirkan semua ini !"


Kyara menelungkupkan wajahnya di atas meja sahabatnya.


"Baiklah Kya, jika kau memang yakin dengan keputusan sapihakmu, aku akan membantumu. Tapi aku mohon, jangan gegabah. Aku tidak ingin nantinya kau terjebak, Kya. Kau tidak tahu magnet cinta itu seperti apa." ujar dokter Nita mengingatkan.


"Tenang saja Nit. Aku yakin dengan cinta yang kami miliki. Kemana pun cinta itu pergi, dia akan kembali kepada pemilik hatinya. Ayo kita berangkat sekarang, Nit !" ajak Kyara.


"Kau yakin ?"


Sekali lagi dokter Nita bertanya.


Kyara mengangguk dengan pasti sebagai jawaban atas pertanyaan dokter Nita.


Dokter Nita segera memanggil asistennya untuk mengosongkan jadwal pertemuannya. Setelah itu dia menghubungi pengasuh anaknya dan memberitahukan jika dia akan terlambat pulang. Begitu juga dengan Kyara yang meminta izin kepada suaminya untuk keluar bersama dokter Nita, meskipun dia tidak memberitahukan kemana dia akan pergi.


Setelah melewati 2 jam perjalanan karena terjebak kemacetan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit Insan Medika untuk menemui dokter Firman.


Kaki Kyara bergetar ketika kembali melangkah menginjak lobi rumah sakit. Bayangan saat dia di rawat di rumah sakit ini, kembali melintas di ingatannya.


"Kya, kamu tunggu aku di sini ya ! Aku hendak ke ruangan dokter Firman dulu. Tadi dia bilang, dia sedang mengunjungi pasiennya. Aku ingin menemuinya dan mengajak dia untuk menjenguk Ajay." ujar dokter Nita.


"Baiklah, aku akan tunggu di kursi tunggu itu ya, Nit !" ujar Kyara seraya menunjuk kursi tunggu di lobi rumah sakit.


"Ok, hati-hati dan jangan kemana-mana !" pesan dokter Nita.


"Ish, aku bukan anak kecil, ya !"


"Ya sudah, aku berangkat dulu !"


Kyara mengangguk. Dia kemudian berjalan menuju kursi tunggu. Namun tiba-tiba, seorang wanita menabrak Kyara karena berjalan tergesa-gesa.


"Ma...maaf !"


"Ah tidak apa-apa, aku memang salah karena berjalan terburu-buru."


Kyara segera membantu wanita itu membereskan berkas-berkas yang tercecer, kemudian menyerahkannya.


Saat wanita itu mendongak untuk menerima berkas dari tangan Kyara. Dia pun terkejut.


"Kau....!!

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote n komennya..


__ADS_2