
Utrecht - Belanda, 03.00 waktu setempat.
Ting tong....
Ting tong...
Ting tong...
Seorang gadis berulang kali memencet bel rumah, namun tak ada satu pun yang membukakan pintunya. Karena kepalanya yang semakin terasa berat, dia akhirnya mulai menjatuhkan tubuhnya di depan pintu. Tak berapa lama, dengkuran halus pun mulai terdengar. Sang gadis mulai terlelap di depan pintu.
Byurrr....
Seketika matanya mengerjap saat dinginnya air menyentuh sekujur tubuhnya.
"Shitt...!" umpatan kasar terlontar dari mulutnya.
"Kamu mabuk lagi, Cecil ?"
"Bukan urusanmu ?"
"Jelas ini urusanku ! Orang tuamu menitipkan dirimu, padaku. Jadi jelas, sekarang kau adalah tanggung jawabku !"
"Dengar, aku sudah dewasa dan aku tidak butuh ceramahmu !" teriak Cecilia kesal seraya berlari ke kamarnya.
"Jika kau merasa sudah dewasa, maka bersikaplah seperti orang dewasa !" tante Gea tak kalah keras berteriak.
Cecilia hanya bisa mendengus kesal.
BRAKK....!
Seperti biasa, dia hanya mampu membanting pintu untuk menumpahkan kekesalannya.
Sejak ayahnya mengirim dia ke negeri kincir angin ini, hidup Cecilia semakin kacau. Dipisahkan secara paksa dengan orang yang dicintainya, membuat dia berubah drastis. Hidupnya hanya untuk mabuk-mabukan. Siang dia jadikan malam, begitu pun sebaliknya.
Cecilia seolah telah kehilangan arah kehidupannya. Terlebih lagi saat dia mengingat kematian tragis putrinya. Rasa sesal dan marah bercampur menjadi satu. Dia menyesal karena tidak pernah berusaha untuk mencari ayah kandung anaknya, sehingga dia tidak pernah bisa menolong kehidupan anaknya. Dan dia juga merasa marah ketika mengingat kata-kata lelaki itu yang tak pernah menyukai sebuah ikatan.
"Brengsek...! Dasar laki-laki brengsek ! Semua laki-laki memang brengsek !" teriaknya.
PRANG....!!
Cecilia melemparkan asbak yang berada di kamarnya ke arah meja rias. Sehingga asbak itu mengenai cermin meja riasnya dan pecah seketika.
BRAAAKKK...
PYAARR....
Cecilia melemparkan semua barangnya yang berada di atas nakas hingga hancur dan berserakan di atas lantai. Cecilia menarik sprei, melemparkan bantal-bantal, menendang kuat nakas yang berada di dekat ranjangnya hingga terjungkal. Puas membuat kamarnya seperti kapal pecah, akhirnya Cecilia terduduk di sudut kamar dengan menekuk kedua kakinya. Dia menundukkan kepalanya dan mulai menangis sesenggukan. Tubuhnya mulai melemah, tenaganya telah terkuras habis karena amarah. Beberapa menit kemudian, Cecilia kembali terlelap dengan mata yang telah membengkak.
***
Cecilia mengerjapkan matanya ketika mentari mulai tenggelam di ufuk barat. Dia berdiri, dengan langkah yang terseok-seok, Cecilia pergi ke kamar mandinya untuk membersihkan dirinya. Tiba di kamar mandi, Cecilia pun mulai membuka pakaiannya dan mengisi bathtub nya dengan air hangat. Dia pun mulai berendam dan menikmati sensasi aroma lavender yang menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah air mulai dingin, Cecilia keluar dari bathtub. Dia melangkah menuju bilik yang berdindingkan kaca, menekan kran shower-nya dan mulai membilas tubuhnya hingga bersih. Selepas itu, Cecilia pun meraih bathrobe-nya dan mengenakannya.
Keluar dari kamar mandi, Cecilia melangkah menuju walk in closet. Dia mulai memilih-milih baju yang akan dikenakannya. Puas mengacak-acak pakaiannya, Cecilia pun menjatuhkan pilihannya kepada sebuah t-shirt berlengan pendek dan rok mini berwarna maroon. Cecilia mulai berdiri di depan cermin. Dia pun mengambil peralatan make up dan memoles dirinya senatural mungkin.
Cecilia menuruni tangga dan memasuki ruang makan. Perutnya mulai terasa lapar, dia pun meminta asisten rumah tangga tantenya untuk menyiapkan makanan. Beberapa menit kemudian, makanan telah tersaji di hadapannya. Cecilia menyantapnya dengan lahap, seperti orang yang berhari-hari tak menemukan makanan.
Selesai makan, Cecilia kembali ke kamarnya. Dia mulai memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas kecilnya. Setelah itu dia pun menuruni tangga menuju garasi. Cecilia mengeluarkan mobilnya kemudian melajukannya dengan kencang menuju pusat kota.
Satu-satunya yang dia tuju di setiap malamnya adalah sebuah lounge yang berada di hotel berbintang di pusat kota. Tiba di sana, Cecilia segera menyerahkan kunci mobilnya untuk diparkiran pihak keamanan. Sedangkan dia sendiri melangkahkan kakinya menuju tempat favoritnya.
"Tequilla !" pintanya pada seorang bartender. Tak lama kemudian sebotol tequilla telah berada di hadapannya lengkap beserta selokinya.
Cecilia mulai menuangkan tequilla-nya ke dalam gelas kecil tersebut, setelah itu dia pun menenggaknya. Berulang kali dia melakukannya, hingga wajahnya mulai memerah.
Cecilia menunduk, kemudian menempelkan pipi kanannya di atas meja bartender. Tiba-tiba, matanya yang mulai redup, menangkap bayangan seorang lelaki yang dikenalinya.
Cecilia mulai menegakkan kembali kepalanya. Dia segera bangkit dari kursinya dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri lelaki itu.
Prok....
Prok...
__ADS_1
Prok....
Cecilia bertepuk tangan keras, sehingga membuat pria yang sedang di kelilingi oleh para wanita itu menoleh ke arahnya.
Gadis itu....!! batin Alvaro.
Ya ! Bayangan yang dikenali Cecilia, dia adalah Alvaro yang memang sengaja melakukan rutinitasnya selepas meeting.
"Wah...wah...wah...! Lihatlah siapa laki-laki tampan yang sedang dikelilingi para wanita murahan ini...!" racau Cecilia seraya menunjuk-nunjuk keempat wanita yang sedang mengelilingi Alvaro.
"Hey ! Dasar j***ng tak tahu malu ! Berani-beraninya kau mendekati ayah anakku, heh !" teriak Cecilia.
Cecilia berjalan sempoyongan mendekati meja mereka. Dia meraih botol kosong yang berada di atas meja.
PRANG....!!
Cecilia memukulkan botol tersebut ke ujung meja hingga pecah.
"Pergi dari sini ! Jangan dekati ayah anakku lagi ! Aku akan membuat wajahmu cacat jika kalian masih berani menempel di tubuhnya !" racau Cecilia dengan kerasnya.
Para wanita itu bergidik ngeri melihat ancaman Cecilia. Sejurus kemudian, mereka membubarkan diri meninggalkan Alvaro yang masih berusaha mencerna ucapan Cecilia yang sedang mabuk berat.
"Ha...ha...ha...! Dasar wanita murahan ! Aku tahu, kalian hanya mengincar uang ayahnya anakku ! Kalian benar-benar kurang ajar ! Dan kamu !" ujar Cecilia seraya melemparkan pecahan botol itu ke arah Alvaro.
"Eits ! Calm down, girl !" ujar Alvaro seraya melompat dari kursinya untuk menghindari pecahan botol yang dilemparkan Cecilia.
Cecilia semakin meradang ketika melihat dia masih selamat dari pecahan botol yang dilemparnya. Dia pun segera menyerang Alvaro.
"Dasar laki-laki keparat ! Bajingan ! Pembunuh kamu ! Bersembunyi di mana kamu selama ini ! Apa kamu tidak pernah punya hati ! Apa kamu tidak pernah merasakan kehadiran anakmu selama ini, hah !" racau Cecilia seraya memukul, menendang dan menjambak rambut Alvaro.
Alvaro terkesima mendengar kata anak meluncur dari mulut gadis itu, sehingga dia tidak mampu mengelak dari serangan Cecilia yang semakin brutal.
Tiba-tiba, seorang sekuriti menarik tangan Cecilia.
"Hei ! Are you crazy !" ujarnya seraya menghempaskan tubuh Cecilia ke atas sofa.
Alvaro segera menghalangi petugas keamanan itu.
"It's ok ! She is my wife !" ujarnya mencegah petugas itu agar tidak menyakiti Cecilia.
Melihat wanita itu tak berdaya, akhirnya Alvaro segera memangkunya dan membawa Cecilia ke kamarnya. Tiba di kamar, Alvaro segera merebahkan gadis yang sudah kehabisan tenaganya itu.
"Kenapa tuan ! Kenapa kau tinggalkan aku sendirian ! Kenapa kau tidak pernah memberiku alamat rumahmu ! Apa kau tahu ? Anak kita sangat membutuhkan pertolonganmu. Kenapa kau tega membiarkan dia terbaring lemah hingga harus meregang nyawanya ? Danisa... hiks... hiks... Jangan tinggalin mamah, nak ! Mamah kangen sama Danisa... hiks...hiks...!" racau Cecilia seraya terisak.
Alvaro semakin terkejut mendengar semua omongan Cecilia. Ya Tuhan..., apa mungkin aku punya anak darinya ? Apa mungkin setelah malam itu, dia mengandung anakku ? batin Alvaro. Entah kenapa, tiba-tiba saja hati Alvaro terasa sakit memikirkan semua kemungkinannya.
"Hump...hump....hoekk....hoeekk ..uhuk...uhuk..."
Cecilia merasa perutnya mulai bergejolak, dia pun memuntahkan isi perutnya hingga mengenai baju Alvaro.
Alvaro hanya bisa memejamkan matanya, melihat hal itu. Tapi anehnya, dia tidak merasa jijik dengan muntahan Cecilia yang mengenai pakaiannya.
Alvaro segera menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu dia kembali dan mulai membersihkan muntahan Cecilia yang berada di atas kasur dan bajunya.
Satu persatu, Alvaro melucuti pakaian Cecilia. Alvaro menelan salivanya saat melihat tubuh mulus Cecilia. Naluri kelelakiannya mulai meronta. Alvaro mulai mendekati wajah Cecilia. Dia mulai mencium bibir kenyal milik Cecilia. Ciuman kali ini benar-benar ciuman lembut yang hanya ingin menyalurkan kerinduan.
Perlahan, Alvaro mulai mengulum bibir yang tampak pink alami. Memagutnya penuh kemesraan, menggigitnya perlahan hingga membuat Cecilia membuka matanya.
Melihat seorang lelaki sedang menjamah bibirnya, Cecilia terkejut dan segera mendorong tubuh Alvaro hingga terjengkang.
"Ka..kamu...!" ucap Cecilia.
Cecilia semakin terkejut mendapati tubuhnya yang tengah telanjang bulat. Dia segera menarik sprei dan membalutkannya ke seluruh tubuhnya.
"Apa yang akan kau lakukan padaku ? Apa kau ingin memperkosaku lagi ? Membuatku hamil lagi dan kembali meninggalkan aku lagi, hah ?" teriak Cecilia histeris.
"Te..., tenang, nona ! Tenanglah !" ujar Alvaro mendekat dan berusaha menenangkan Cecilia.
"Pergi ! Jangan dekati aku lagi ! Aku tidak ingin punya anak lagi dari laki-laki petualang sepertimu ! Pergi !"
Bukannya pergi, Alvaro semakin mendekati Cecilia. Dia mendekap erat tubuh Cecilia untuk menenangkannya. Entah kenapa hatinya terasa hancur ketika mendengar ucapan Cecilia yang tak pernah mengharapkan anak darinya.
"Tenanglah, sayang ! Tenanglah ! Aku mohon, tenanglah !" ujar Alvaro yang tanpa terasa air matanya mulai menetes. "Aku..., aku minta maaf atas semua perbuatanku ! Tapi aku benar-benar tidak tahu jika setelah itu, kau mengandung anakku ! Maafkan aku, sayang ! Maafkan aku !" ujar Alvaro masih mendekap Cecilia.
__ADS_1
Mendengar permintaan maaf yang terdengar tulus, hati Cecilia pun mulai luluh. Dia sendiri menyadari jika Alvaro tidak sepenuhnya bersalah. Dia juga memiliki kesalahan yang sama atas kehamilannya dulu. Tanpa terasa, Cecilia membalas pelukan Alvaro. Dia mulai menangis dalam pelukan laki-laki itu.
Beberapa menit berlalu. Alvaro melepaskan pelukannya, kedua tangan Alvaro menyeka air mata di pipi Cecilia.
"Bagaimana keadaan anak kita ?" tanya Alvaro serak.
Bukannya menjawab, Cecilia malah kembali meneteskan air mata. Dia mulai kembali terisak mengingat kematian Danisa karena keegoisan mereka sebagai orang tuanya.
"A...anak ki.. kita, di..dia telah meninggal. Di... dia mengalami kecelakaan, di... dia kehilangan ba.. banyak darah dan hiks...dan...aku...hiks...aku tidak bi..bisa me.. menemukanmu..., go... golongan darahku tidak sama. Di.. dia memiliki golongan darah mu, tapi aku...aku tidak tahu ha... hiks... harus kemana mencarimu...hu..hu..."
Sakit... ! Sangat sakit hati Alvaro mendengar kenyataan tentang anaknya. Anak yang tidak pernah diharapkan karena keegoisannya sebagai seorang Casanova. Ya Tuhan...., anakku...! Anakku yang malang, maafkan papa, nak....! hanya itu yang bisa dia ucapkan dalam hatinya.
Kembali Alvaro mendekap erat Cecilia. "Maafkan aku, sayang ! Maafkan aku !" ujarnya.
"Aku juga minta maaf ! Aku bukan ibu yang baik untuk anak kita. Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjaga anakmu !" ujar Cecilia kembali terisak.
Cukup lama mereka berpelukan seraya menangis. Saling memberikan kekuatan dalam kesedihan yang mereka rasakan atas kepergian anak mereka.
"Sa... sayang ! Maukah kau membawaku mengunjungi makam anak kita ?" tanya Alvaro.
DEG....
Cecilia terkejut mendengar permintaan Alvaro. Dia kemudian meronta meminta Alvaro melepaskan pelukannya.
"Untuk apa kau ingin mengunjungi makam anakku ?" tanya Cecilia dingin seraya menatap Alvaro.
"Aku ingin mengunjunginya sebagai ayahnya. Aku ingin meminta maaf karena selama ini aku tidak pernah bersama kalian. Aku ingin dia tahu, jika aku sangat mencintai kalian." jawab Alvaro.
"Ayahku akan membunuhmu jika sampai tahu kau datang ke makam cucunya !" ujar Cecilia seraya berdiri hendak meninggalkan Alvaro.
Brugh....!
Secepat kilat Alvaro menarik tangan Cecilia hingga terjerembab di atas kasur. Dengan sekali gerakan, Alvaro menindih tubuh Cecilia.
"Aku tidak peduli, sayang ! Sekalipun beliau menebas leherku, aku akan tetap mengunjungi makam anakku dan meminta restu ayahmu untuk menikahimu !" ucapnya penuh ketegasan.
Cecilia terhenyak mendengar ucapan sang Casanova. Dia menatap tajam mata Alvaro, mencoba mencari kebohongan di matanya. Percuma ! Sedikit pun, Cecilia tak menemukan celah kebohongan di mata indah berwarna biru itu.
Sesaat Cecilia memejamkan matanya. Mungkin sudah saatnya aku kembali ke negaraku..., batinnya.
"Jika aku memintamu pulang saat ini juga, apa kau sanggup ?" tanya Cecilia.
Alvaro bangun, dia pun berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil jas kotornya yang tengah tergantung. Dia mengambil ponselnya. Alvaro kembali berjalan ke arah Cecilia seraya mengotak-atik ponselnya.
"Cancel semua jadwalku dan segera siapkan jet-nya ! Satu jam lagi, aku tiba di bandara !" ujarnya.
Klik...!
Alvaro kembali fokus mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tak lama kemudian, terdengar bunyi ketukan pintu kamarnya. Alvaro pergi untuk membukakan pintu. Tak berapa lama, dia kembali dengan membawa goodie bag berwarna gold.
"Bersiaplah, nyonya Adinata ! Satu jam lagi, kita akan kembali ke negara kita !" ujarnya tersenyum manis seraya menyerahkan goodie bag tersebut kepada Cecilia.
Cecilia meraih goodie bag tersebut, dan pergi ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, kini Cecilia telah berdiri di hadapan Alvaro.
Alvaro meraih tangan Cecilia dan menggandengnya dengan erat. Mereka pun segera keluar kamar hotel untuk melakukan check out. Sambil menunggu lelakinya yang sedang berada di meja resepsionis, Cecilia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Dia mulai mengirimkan pesan untuk tante Gea.
"Maaf tante, Cecilia pulang bersama calon suami Cecilia" pesannya seraya mengirimkan foto Alvaro yang sedang berdiri di depan resepsionis.
Cecilia tersenyum tipis melihat Alvaro yang berjalan mendekatinya.
"Ayo kita pulang, sayang !" ujar Alvaro seraya mengecup hangat kening Cecilia.
Alvaro menggandeng tangan Cecilia sepanjang perjalanannya. Entah kenapa hatinya merasa hangat saat menggandeng tangan halus nan lembut itu.
Kau benar Gun ! Anak adalah kehidupan kita, napas kita dan tempat kita kembali di hari tua. Aku sudah menemukan rumahku, Gun ! Aku akan menetap di sana, di hatinya. Aku akan membuktikan jika aku pun bisa sepertimu, Gun ! Memiliki keluargaku sendiri !
Bersambung....
Aah... othor sempet nangis terbawa perasaan saat membuat dialog Cecilia tentang anaknya...🤭🤭
Kalian nangis, nggak sih....🤔
Satu episode lagi ya....🙏
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏