Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Persiapan Lamaran


__ADS_3

Assalamualaikum readers...


Jumpa lagi dengan author ya...


Seperti biasa, insyaallah 2 episode di weekend ini...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Siang harinya, nyonya Aini tampak bersemangat sekali mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara lamaran hari Minggu nanti. Nyonya Aini sangat antusias dengan keputusan Ajay, berbeda sekali dengan nyonya Diana yang terlihat masa bodoh dengan acara putra sulungnya.


"Bagaimana Aini, apa sudah siap, semua kebutuhan untuk acara lamaran Ajay nanti ?" tanya tuan Mahesa.


"Ya, semuanya sudah siap. Tinggal menunggu saja. Katanya, nanti malam hantarannya akan diantar kemari." jawab nyonya Aini.


"Jangan terlalu lelah, Aini ! Kamu harus jaga kesehatanmu ! Ingat, kita ini sudah tua. Jika nanti kau jatuh sakit, siapa yang akan merawatmu ?"


"He...he...he..., tenanglah suamiku. Aku masih kuat untuk mengurus sebuah pernikahan, terlebih lagi ini acara cucuku sendiri. Lagipula, jika aku sakit, bukankah masih ada kamu yang akan merawatku ? Atau..., jangan-jangan, suamiku yang tampan ini, sudah tidak mau merawatku lagi, ya...?" ujar nyonya Aini seraya mengelus dagu tuan Mahesa. Ya...! Meskipun usia mereka bukan ABG lagi, tapi keharmonisan keduanya tak pernah kalah dengan anak muda.


"Ah, Aini..., mana mungkin aku tidak mau merawatmu. Hanya saja, saat ini tenagaku sudah tidak cukup kuat untuk menggendongmu jika kau pingsan karena kelelahan..." gurau tuan Mahesa sambil mengelus pipi istrinya.


"Cie...cie...cie..., eyang akung sama eyang uti, romantis terus nih sampai tua...!" tiba-tiba Bima datang dan mengagetkan kakek neneknya.


"Kamu ini...! Bikin jantung eyang uti mau copot saja..!" tegur nyonya Aini sambil memukul pelan bahu Bima.


"Maaf eyang..." ucap Bima seraya memeluk nyonya Aini dari belakang. "Yang...!" ujarnya.


"Hmm..." jawab nyonya Aini, mengelus pipi cucunya.


"Apa eyang nggak curiga sama keputusan kak Ajay ?" tanya Bima, pelan.


"Maksud kamu ?" tuan Mahesa penasaran dengan pertanyaan yang dilontarkan cucunya.


Bima mendekati tuan Mahesa, "Ya..., aneh saja. Kok tiba-tiba, kak Ajay langsung menyetujui keputusan eyang akung, padahal kemarin-kemarin dia kan menolak keras perintah eyang. Ini pasti karena kak Ajay nggak mau jatuh miskin nih... !" ujar Bima.


"Huss...!! Jangan suudzon !" seru nyonya Aini. "Bersyukur, kakakmu sudah berubah pikiran. Kita do'akan yang terbaik saja untuk mereka !" lanjutnya.


"Benar kata eyang uti, nak. Kita do'akan saja, semoga memang benar, kakakmu beritikad baik dengan pertunangan ini." timpal tuan Mahesa. "Oh iya Aini, apa kau sudah menghubungi Kyara tentang rencana lamaran ini ?" tanya tuan Mahesa.


"Belum." jawab nyonya Aini.


"Sebaiknya, segera kau hubungi dia, Aini !" perintah tuan Mahesa.


"Baiklah. Kalau begitu, eyang uti tinggal dulu ya nak ! Kamu, temani eyang akungmu dulu !" perintah nyonya Aini kepada Bima.


"Siap, eyang...!" jawab Bima.


Nyonya Aini pergi ke kamarnya.


***


Drrt... drrt... drrt...

__ADS_1


Ponsel Kyara terus bergetar di atas meja makan.


"Neng, ponselmu bergetar terus tuh...!" ujar bu Ratna. "Coba diambil dulu, nak ! Siapa tahu, penting...!"


"Iya, bu." Kyara pun mematikan kompornya, kemudian mengambil ponselnya. "Eyang uti..?" gumamnya.


"Siapa nak ?" tanya bu Ratna, mendekatinya.


"Ini bu, telpon dari eyang uti." jawab Kyara


"Diangkat saja atuh neng...!" perintah bu Ratna.


Kyara mengangguk.


"Assalamualaikum..!" ( Kyara )


"Waalaikumsalam...! Apa kabarmu, nak ?" ( nyonya Aini )


"Kabar Kya, baik eyang. Eyang sendiri apa kabar ?" ( Kyara )


"Alhamdulillah, kabar eyang baik juga. Oh iya nak, eyang menelponmu untuk memberitahukan kabar baik." ( nyonya Aini )


"Kabar baik ? Kabar baik apa, eyang ?" ( Kyara )


"Hari Minggu nanti, kami sekeluarga hendak bersilaturahmi ke rumah kamu. Sekalian melamarmu, nak." ( nyonya Aini )


"Me... melamar...?" ( Kyara )


"Iya sayang, malamarmu ! Memintamu untuk menjadi istrinya ajay...!" ( nyonya Aini )


"Iya sayang, Ajay bersedia untuk bertanggungjawab. Hanya saja..." ( nyonya Aini menghentikan kalimatnya )


Hanya..., ke... kenapa eyang...?" ( Kyara )


"Untuk saat ini, Ajay akan melamarmu nak, kalian akan bertunangan terlebih dahulu. Sedangkan untuk menikah, Ajay meminta pernikahannya dilaksanakan nanti, setelah dia lulus kuliah. Dia bilang, dia ingin fokus dulu kuliah, demi masa depan kalian nanti. Bagaimana nak ?" ( nyonya Aini )


"Iya, Kya mengerti eyang. Nanti, Kya akan sampaikan niat baik Ajay kepada orang tua Kya !" ( Kyara )


"Ya sudah, eyang tutup dulu telponnya, ya ! Sampaikan salam eyang untuk kedua orang tuamu, nak ! Assalamualaikum...! ( nyonya Aini )


"Waalaikumsalam..." ( Kyara )


Kyara menutup telponnya.


"Ada apa, neng ?" tanya bu Ratna.


"Eyang bilang, hari Minggu keluarga Ajay akan datang kemari untuk melamar Aneng, bu." jawab Kyara.


"Alhamdulillah...! Itu artinya, lusa mereka akan datang. Ya Allah..., kita harus segera siap-siap neng...!" bu Ratna senang, sekaligus panik mendengar berita ini.


"Ibu...! Tenanglah dulu...!" ujar Kyara.

__ADS_1


"Ish, kamu nih...! Bagaimana mungkin ibu bisa tenang..! Ini acara yang sakral, mendadak pula...! Mereka itu keluarga terpandang, kita harus menyambutnya dengan baik, nak..! Belum lagi, keluarga besar kita...! Tetangga kita..."


"Ibu... ibu..., tenanglah ! Aneng mohon, tenanglah..! Tidak usah terlalu panik, bu. Ini hanya acara silaturahmi dua keluarga, jadi jangan terlalu dibesar-besarkan. Tidak usah mengundang siapapun, cukup keluarga kita saja, bu ! Lagipula, ini cuma lamaran, bukan pernikahan !" tukas Kyara.


"Tapi, neng...!"


"Sudahlah bu, Aneng mohon, ya...!" Kyara memelas dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, kita bicarakan nanti dengan ayahmu !" jawab bu Ratna.


***


Malam pun tiba. Kyara dan kedua orang tuanya tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


"Apa benar yang ibumu katakan neng, jika lusa keluarga Ajay akan datang melamarmu ?" tanya pak Ahmad.


Kyara menoleh ke arah ibunya. Bu Ratna mengangguk memberi tanda agar Kyara segera berbicara langsung dengan ayahnya.


"I... iya, yah.."


"Kenapa mendadak sekali ? Kita hanya punya waktu sehari untuk mempersiapkan segalanya. Apa itu cukup ?" tanya pak Ahmad.


"Cukup, yah...! Lagipula, yang datang hanya keluarga Ajay saja."


"Tapi neng, Mereka keluarga berada...! Kita harus memberikan sambutan yang pantas untuk mereka !" timpal bu Ratna.


"Ibu, Aneng sudah bilang, ini hanya sekedar silaturahmi dan lamaran saja, bukan menikah !" ujar Kyara, merasa kesal atas rasa antusias ibunya.


"Kenapa kamu seolah ragu akan kedatangan mereka, neng ? Apa ada yang kamu sembunyikan ?" tanya pak Ahmad, curiga.


"Ti... tidak ayah...! Aneng...Aneng hanya tidak mau semuanya terlalu dibesar-besarkan. Ini hanya acara pertunangan saja. Tidak perlu mewah dan sampai mengundang tetangga segala !" ujar Kyara, beralasan. "Dan untuk penyambutannya, sekaya apapun mereka, janganlah terlalu diagungkan ! Kita sambut saja sesuai dengan kemampuan kita sendiri !" lanjutnya.


Pak Ahmad manggut-manggut, "Terserah apa katamu nak, ayah ikut saja. Ayah bersyukur, pemuda itu mau bertanggungjawab. Semoga saja, ini menjadi awal kebahagiaanmu, nak !" ujar pak Ahmad seraya mengelus rambut Kyara.


Kyara tersenyum dan mengangguk.


"Besok, kamu telpon nyonya Aini ! Katakan pada beliau jika kita siap menerima itikad baik dari keluarga mereka. Ayo bu, kita tidur ! Esok pagi, kita harus pergi ke pasar, membeli semua keperluan untuk menyambut mereka." ajak pak Ahmad seraya berdiri, pergi ke kamarnya.


"Baik, pak." jawab bu Ratna. "Neng, istirahatlah yang cukup ! Agar terlihat lebih segar di acara lamaranmu nanti." perintah bu Ratna sambil berlalu pergi ke kamar mengikuti suaminya.


"Iya, bu." jawab Kyara.


Kyara mematikan televisinya dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Bersambung....


Terima kasih untuk para readers yang sudah berkunjung ke novel pertama author...


Jika berkenan, ditunggu like vote n komennya...


Makasih...

__ADS_1


Makasih...


lope yu pull ....πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2