
"Ceu Ratna...!!"
"Aneng....!!"
Teriakkan seorang lelaki dari luar rumahnya membuat bu Ratna dan Aneng seketika kaget.
"Assalamualaikum...!"
"Tok...tok...tok...!!"
"Ceu...! Ceu Ratna...!"
"Dug...dug...dug...!"
Orang itu masih terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu rumah bu Ratna.
Bu Ratna segera berdiri, melangkahkan kakinya ke depan untuk membuka pintu rumahnya. Setelah pintu terbuka, tampak seorang lelaki berkisar umur 40 tahunan, sedang terengah-engah mengatur napasnya.
"Tatang...??" tanya bu Ratna. "Aya naon...? Kunaon gogorowokan ?" lanjutnya. ( Ada apa ? Kenapa berteriak-teriak ? )
"Hosh...anu..hosh...ituh...itu...hosh...anu ceu...!"
Orang yang bernama Tatang itu berbicara dengan napas yang tersengal.
"Sakedap, Tang...!" ( Sebentar, Tang ! ) ujar bu Ratna. "Neng...! Aneng...! Cobi pangnyandakeun cai kango mang Tatang !" perintahnya. ( Neng...! Aneng...! coba ambilkan air minum buat mang Tatang ! )
Kyara segera pergi ke dapur. Tak lama kemudian, dia kembali dengan segelas air minum di tangannya. Dia lalu menyerahkan gelas tersebut ke arah orang yang bernama Tatang.
Hatur nuhun, neng !" ucap mang Tatang. ( Terima kasih, neng )
"Sami-sami, mang..!" jawab Kyara. ( Sama-sama, mang )
"Sok, cobi ayeuna nyarios, aya naon, Tang ? Mani rurusuhan kitu...!" tanya bu Ratna. ( Coba sekarang katakan, ada apa, Tang ? Kok terburu-buru seperti itu ! )
"Itu ceu..! Kang Ahmad..! Kang Ahmad teu ****-**** ! Ayeuna nuju dicandak ka puskesmas kota !" jawab mang Tatang. ( Itu kak..! kang Ahmad..! Kang Ahmad tidak sadarkan diri ! Sekarang lagi dibawa ke puskesmas kota ! )
"Astaghfirullah hal adzim...! Neng...! Aneng...! Bawakan tas ibu...! Kita harus ke puskesmas sekarang..!"
Kyara yang tadi sudah masuk ke rumahnya, kembali berlari ke depan ketika mendengar ibunya berteriak.
"Kenapa bu ?" tanya Kyara.
"Itu...! Ayahmu pingsan...! Sekarang sedang dibawa ke puskesmas kota. Ayo kita ke sana !" ajak bu Ratna.
Kyara segera kembali ke dalam. Dia mengambil tasnya di kamarnya, setelah itu dia mengambil tas ibunya. Tak lama berselang...
"Ayo bu...!"
"Hayu atuh...! Mari saya antar ceu...!" ujar mang Tatang.
__ADS_1
Mereka pun segera naik ke mobil angkotnya mang Tatang. Sedetik kemudian, angkot itu melaju dengan kencangnya menuju puskesmas kota.
Sepanjang jalan, terlihat bu Ratna telah berurai air mata. Kekhawatiran tampak jelas tergambar di raut wajahnya. Begitu juga dengan Kyara. Meski ada banyak tanya di benaknya tentang kenapa ayahnya bisa sampai dilarikan ke Puskesmas, namun dia tidak berani mengganggu konsentrasi mang Tatang menyetir. Pada akhirnya, hanya keheningan yang mengiringi perjalanan mereka.
Setengah jam kemudian, mobil angkot yang dibawa mang Tatang telah tiba di tempat parkiran puskesmas. Setelah mobil terparkir dengan rapi, mang Tatang segera menghampiri bagian pendaftaran dan menanyakan keberadaan pasien yang bernama pak Ahmad.
Mengikuti arahan dari perawat jaga, mang Tatang segera menyusuri koridor untuk bisa segera sampai ke ruang IGD. Sedangkan bu Ratna dan Kyara, mengikutinya dari belakang.
Tiba di ruang IGD, tampak beberapa orang pria yang usianya hampir sebaya dengan pak Ahmad, sedang menunggu di ruang tunggu IGD. sebagian ada yang sedang duduk di kursi tunggu. Sebagian lagi sedang berdiri menatap kosong ke depan pintu ruang IGD, dan sebagian lagi, bolak-balik sambil berkomat-kamit membacakan do'a untuk keselamatan pak Ahmad, temannya.
Bu Ratna dan Kyara menghampiri mereka.
"Se.. sebenarnya, apa yang terjadi dengan suami saya ?" tanya bu Ratna.
Kelima temannya pak Ahmad saling pandang, merasa ragu hendak menyampaikan penyebab pingsannya rekan kerja mereka.
"Tang...?!" tanya bu Ratna.
"Anu..., anu ceu...! Jujur Tatang tidak tahu, Tatang hanya di suruh kang Subro untuk memanggil eceu !"
Bu Ratna mengalihkan pandangannya kepada orang yang dipanggil kang Subro.
Pak Subro menghela napasnya, berat.
"Duduk dulu, Rat..!" ajaknya.
Dibantu Kyara, bu Ratna pun duduk di kursi tunggu.
"Saat itu, kami sedang ngopi bareng di warung dekat pangkalan. Tiba-tiba saja, Ahmad terkejut mendengar berita di televisi. Dia hanya memegang dadanya dan menyebutkan nama Ajay." pak Subro memberikan penjelasan.
Deg...!!
Jantung Kyara seakan berhenti berdetak saat pak Subro menyebutkan nama Ajay.
Ajay....?? Televisi...?? Apa..., apa mungkin ayah..., ayah melihat tayangan infotainment tadi...?? Batin Kyara.
Pun dengan pemikiran bu Ratna yang tak jauh beda dengan Kyara. Bu Ratna sudah pasrah, karena dia sudah bisa menarik kesimpulan dari cerita pak Subro.
"Dugaan akang, mungkin penyakit Ahmad kembali kambuh, Rat...!" lanjut pak Subro.
Bu Ratna mulai terisak. "Ya Gusti Allah..., mohon selamatkan suami hamba...!!" pintanya seraya menengadahkan tangannya untuk memohon pada Illahi Robbi.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani pak Ahmad di ruang IGD, keluar.
Pak Subro menghampirinya.
"Bagaimana keadaan kawan kami, dok..!" tanya pak Subro.
Sejenak dokter itu diam, kemudian dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf, pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun sepertinya, pasien telah meninggal saat dalam perjalanan menuju kemari." ujar sang dokter.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un..!" ucap kawan-kawan pak Ahmad serentak.
"Se... Sebenarnya..., a.. apa yang terjadi pada suami saya, dok ?" tanya bu Ratna.
"Pak Ahmad terkena serangan jantung, bu." jawab dokter.
"Tidak...! Tidak..!"
Kyara berteriak seraya berlari ke ruang IGD. Tiba di ruang IGD, dia melihat seorang perawat hendak menutupi wajah jenazah ayahnya.
"Jangan lakukan itu !" teriak Kyara.
Sang perawat seketika diam dan merasa ketakutan melihat pancaran kemarahan dari tatapan Kyara.
"Ayahku hanya sedang tidur, dia tidak meninggal ! Jangan tutupi wajahnya !" Kembali Kyara berteriak seraya menarik kain putih yang hendak dipakai untuk menutupi jenazah pak Ahmad.
Bu Ratna bersama pak Subro dan yang lainnya masuk ke ruang IGD. Segera bu Ratna merangkul pundak anaknya.
"Sabar, neng...! Ini.., ini sudah takdir dari Gusti Allah..., kamu harus sabar, nak..!"
"Tidak ibu...! Ayah tidak boleh meninggal..! Tidak boleh ibu...! Aneng tidak mau kehilangan ayah..., hu...hu..hu..!"
Kyara masih berteriak histeris seraya memeluk jenazah ayahnya. Sedangkan bu Ratna terisak pilu, melihat jenazah suaminya dan juga teriakan Kyara yang menyayat hatinya.
Pak Subro mendekati Kyara.
"Sudah neng...! Kita harus segera mengurus kepulangan jenazah ayahmu..! Sudah, jangan ditangisi lagi ! Kasihan ayahmu, nak...!" ujar pak Subro seraya menyentuh bahu Kyara.
Kyara mengangguk sambil terus terisak.
"Tang ! Tolong jaga dulu ceu Ratna dan anaknya ! Akang mau ke bagian administrasi dulu, untuk mengurus kepulangan jenazah Ahmad." ujar pak Subro.
Tatang mengangguk, kemudian menghampiri bu Ratna dan Kyara yang masih terisak di samping jenazah pak Ahmad.
Setengah jam berlalu. Setelah prosedur pengambilan jenazah selesai, akhirnya jenazah almarhum pak Ahmad dibawa ke rumahnya untuk segera dimakamkan.
Beruntungnya, kawan-kawan seprofesinya sangatlah baik. Sehingga proses pemakaman pak Ahmad berjalan lancar.
Sepulang dari pemakaman, Kyara mengurung diri di kamarnya. Keberadaan para kerabatnya pun tak dihiraukannya.
Kyara meraih foto yang terletak di meja riasnya. Foto Kyara dan kedua orang tuanya saat acara kelulusan sekolahnya. Kyara memandangi foto ayahnya dengan berurai air mata. Sekali lagi, duka menyelimuti hidupnya. Ya..., dalam jarak waktu yang kurang dari sebulan, Kyara kembali berduka setelah ditinggalkan pergi oleh kedua orang tua yang sangat disayanginya.
Eyang akung..., ayah..., semoga kalian mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT....
Kyara kembali menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya. Dia mulai terisak memanggil pelan ayahnya...
Bersambung...
__ADS_1
Alhamdulillah masih bisa up...
Terima kasih atas dukungannya....🙏🙏