Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kencan Pertama


__ADS_3

Hari terus berlalu. Libur semester pun telah berakhir. Meski Kyara melewati liburannya tanpa pergi ke mana-mana, tapi dia begitu menikmati liburan kali ini.


Selama 2 minggu ini, Kyara selalu menyempatkan waktu untuk menemani suaminya makan siang di kantornya. Jadwalnya yang padat terkadang membuat Bagas sering mengabaikan makan siangnya. Namun semenjak ada Kyara, semua itu tidak pernah terjadi lagi. Kyara memang seorang istri yang sangat bawel untuk urusan kesehatan suaminya.


"Bagaimana hubunganmu dengan suamimu ?" tanya Rani saat mereka sedang makan siang di ruangan Kyara.


"Masih sama, belum ada perubahan yang lebih baik !" ujar Kyara.


"Maksudmu ?" Rani bertanya dengan nada heran.


Kyara menghentikan makannya. Dia menatap Rani. Rasanya dia ingin sekali mengungkapkan semua fakta yang ada tentang dirinya, namun dia teringat akan pesan Bagas untuk tidak mengungkit masa lalu.


"Hei, kenapa malah menatapku seperti itu ? Apa ada yang salah denganku ?" tanya Rani.


"Entahlah Ran ! Aku bingung harus memulai ceritanya dari mana ?" ujar Kyara seraya menyandarkan punggungnya di kursi.


Rani menggenggam tangan Kyara.


"Mulai dari yang mudah untuk kau katakan Kya ! Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak ingin bercerita. Tapi aku juga tidak bisa membantumu jika aku tidak tahu permasalahannya." ujar Rani mencoba bersikap bijak.


Kyara menarik napasnya panjang.


"Berjanjilah kau tidak akan menghakimiku ?" ujar Kyara menatap penuh harap.


Rani mengangguk.


"Sebenarnya, aku tidak sebaik yang kamu kira. Aku memiliki masa lalu yang kelam. Dulu, demi cinta aku telah kehilangan harga diriku. Alasanku menjadi dingin terhadap lelaki, itu karena buruknya masa laluku. Dan suamiku mengetahui semua itu."


Kyara diam sejenak. Cairan bening itu mulai jatuh tanpa permisi.


"Lalu ?" tanya Rani.


"Masa lalu itu terus membayangiku Ran. Karena masa lalu itu juga aku belum bisa menjalani kewajibanku sebagai seorang istri."


"Apa....!"


Rani menatap tajam ke arah Kyara.


"Jadi selama 3 bulan ini, kau belum pernah ML...?"


Kyara menggeleng lemah.


"Ish, kenapa Kya...? Aku tahu setiap orang memiliki masa lalu. Tapi cobalah untuk selalu menatap masa depanmu !" ujar Rani.


"Aku tahu Ran, aku tahu...! Aku sudah berusaha untuk selalu meyakinkan hatiku jika aku akan menjalani masa depanku dengannya. Tapi saat dia menyentuhku, aku selalu ingat jika aku tidak pernah bisa memberikan kesucianku untuk dirinya. Dan aku takut Ran, aku takut dia kecewa."


"Maaf Kya, apa suamimu tahu jika kau sudah tidak virgin lagi ?" tanya Rani hati-hati takut menyinggung perasaannya.


Kyara mengangguk.


"Dia tahu, Ran. Dia tahu segalanya tentang hidupku. Bahkan dia selalu ada di setiap semua penderitaanku saat itu. Dia selalu membelaku di saat mantan tunanganku melecehkanku. Dia yang merawatku di saat aku hampir gila karena kehilangan janinku, dia..."


Kyara sudah tidak tahan lagi. Dia pun mulai menutup wajahnya dan kembali terisak. Kyara menangis bukan karena teringat masa lalunya, namun dia menangis karena dia merasa menyesal tak pernah bisa menghilangkan traumanya sehingga tidak pernah bisa menjadi istri yang sempurna untuk suaminya.


"Astaghfirullah hal adzim, jujur kya, aku tidak tahu harus bilang apa ? Namun satu yang pasti jangan terlalu larut dengan semua trauma ini. Dengar, sesabar-sabarnya lelaki, dia akan merasa kecewa jika istrinya tidak mau melayaninya. Dia juga butuh kehangatan di atas ranjang. Jangan biarkan rasa trauma mu akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Jika dia mengetahui semua keburukanmu dan bisa menerima semua masa lalumu, itu artinya dia mencintaimu dengan tulus Kya. Cobalah untuk mempercayai itu !" ujar Rani sambil mengusap punggung Kyara.


"Aku sarankan, Cobalah berkonsultasi dengan ahlinya untuk bisa melupakan masa lalumu !" ujar Rani.


Kyara mendongakkan wajahnya, "Aku sudah melakukan itu Ran ? Selama ini aku selalu melakukan terapi untuk kesembuhanku."


"Hasilnya ?"


"Aku hanya mampu membiarkan dia menciumku ? Aku mulai bisa menikmati kebersamaanku dengannya ? Tapi aku belum siap untuk melakukan kewajibanku. Dokterku bilang aku harus menjalani hypnotheraphy agar aku bisa menghapus anggapanku tentang semua kekotoran yang ada dalam tubuhku. Tapi aku takut Ran !"


"Itu artinya, kau belum melakukan terapi mu ?"


Kyara kembali menggeleng lemah.


"Ya Tuhan...., kenapa aku harus memiliki sahabat bodoh seperti dia...? Berilah dia hidayahMu Tuhan...!!" ujar Rani seraya menengadahkan kedua tangannya ke atas.


"Dengar Kya, kau harus melakukan terapi itu untuk menyelamatkan rumah tanggamu. Lama-lama kakang Bagas mu itu akan bosan dengan semua keegoisanmu ! Dia bukan hanya butuh ciumanmu, tapi dia juga membutuhkan tubuhmu, dan kau...! Apa kau mau setiap malam malaikat melaknatmu karena tidak bisa melakukan kewajibanmu ! Lakukan atau tidak sama sekali ! Jika kau tidak bisa melakukan kewajibanmu, sebaiknya kalian berpisah ! Jika kalian terus bersama, kalian hanya akan menumpuk dosa karena tidak bisa menjalankan pernikahan sesuai syariat Islam ! Camkan itu !"


Brakk....


Karena sudah merasa kesal, Rani pun pergi dari ruangan Kyara dengan membanting pintu.


***


"Kenapa kau melamun ? Apa kau sedang memikirkan sesuatu ?" tanya Bagas saat mereka sedang meluangkan waktu menonton TV.


"Tidak, aku sedang tidak memikirkan apa pun ?" jawab Kyara.


"Kenapa, tidak biasanya kau tidak fokus saat menonton acara favoritmu ?" ujar Bagas seraya mengusap lembut pucuk kepala Kyara.


Kyara menatap Bagas.


"Kakang..., a...apa kau punya waktu hari Sabtu nanti ?" tanya Kyara ragu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa ?"


"Bisakah kau menemaniku keluar ?"


"Apakah ini sebuah ajakan kencan ?"


"Anggap saja seperti itu. Sejak kita menikah, kau tidak pernah meluangkan waktumu untuk menemaniku keluar. Aku keluar hanya bersama Rani, aku bosan kang...! Aku juga ingin jalan-jalan seperti pasangan yang lainnya."


Bagas diam. Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Ambisinya untuk mengembangkan perusahaanya membuat dia menerima tender tanpa jeda. Karena itu dia tidak pernah punya waktu luang. Selama ini dia tidak menyadarinya karena Kyara tidak pernah protes akan kesibukannya. Tapi sekarang...? Rasa bersalah pun mulai menyelimuti hatinya.


Bagas meraih pundak Kyara, dan membenamkan kepalanya di dada bidangnya. Dia pun mencium pucuk kepala istrinya.


"Maafkan aku nona, aku memang terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku janji, hari Sabtu nanti, semua waktuku hanya untukmu." ujar Bagas.


Kyara mendongakkan kepalanya ke arah Bagas, "Benarkah ?" tanya Kyara dengan mata berbinar.


Bagas mengangguk. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Kyara. Kyara mengerti dengan apa yang diinginkan suaminya saat ini. Dia pun memejamkan matanya. Bagas mulai mengulum bibir istrinya yang mungil itu. Entahlah, bibir itu seperti candu baginya. Setiap kali menatapnya, Bagas selalu menginginkannya. Meski dia sadar jika semua perbuatannya hanya akan berakhir di kamar mandi, karena juniornya belum diizinkan untuk memasuki kawasan terlarang istrinya.


Setelah dirasa junior mulai menegang, Bagas pun mengakhiri aktivitasnya. Dia pamit pergi ke kamar mandi untuk menjalankan ritualnya. Hanya dengan mengguyur kepalanya dengan air dingin, maka sang junior pun akan kembali tertidur.


Kyara hanya bisa menatap punggung suaminya yang sedang berjalan ke kamar mandi. Ada rasa sesak di dadanya. Bukan Kyara tidak mengetahuinya, hanya saja Kyara masih terlalu takut untuk melakukannya.


Maaf kakang....! Maafkan semua keegoisanku...! Tapi aku sedang berusaha..., tolong beri aku waktu lagi....


Dan akhirnya Kyara pun hanya bisa menangis seorang diri di kamarnya.


"Rani benar, jika aku tidak berani melakukannya. Maka pernikahan ini hanya akan saling menyakiti. Aku harus mencobanya, aku harus sembuh...!" gumam Kyara.


***


Waktu yang dijanjikan telah tiba. Sabtu itu sekitar pukul 08.00 mereka pun pergi untuk berkencan. Namun entah kenapa Kyara malah meminta Bagas untuk naik motor.


"Sayang, akan jauh lebih baik jika kita menggunakan mobil saja !" ujar Bagas protes saat Kyara menginginkan Bagas untuk memboncengnya menggunakan motor.


"Tuan muda ! Aku hanya ingin berkencan dengan Bagas yang aku kenal 7 tahun yang lalu. Apa kau ingat, saat itu kau berjanji akan membawaku nonton dan pergi ke pasar malam menggunakan motormu, kau pernah berjanji untuk mengelilingi kota B dan mampir di warung kaki lima dekat taman kota. Hari ini, aku ingin menagih semua janjimu, tuan Bagas yang terhormat. Aku mohon, jadilah Bagas yang dulu, seperti saat pertama kali aku mengenalmu." pinta Kyara sambil mengatupkan kedua tangannya.


Bagas tersenyum lebar. Dia tidak pernah menyangka jika istrinya masih mengingat semua janjinya dulu. Janji yang tidak pernah bisa terlaksana karena tragedi yang membuat Kyara kembali menghilang.


"Sebentar !"


Bagas mengeluarkan ponselnya, dia pun menghubungi seseorang. Setelah menunggu sekitar 10 menit. Asisten Bagas menemuinya sambil menyerahkan kunci motor.


"Baiklah nona Kyara Adistya, maukah kau berkencan denganku ?" ujar Bagas seraya berlutut dan mengulurkan tangannya.


"Dengan senang hati tuan Bagas Anggara." ujarnya meraih tangan suaminya.


"Kita pergi ke mana dulu ?"


"Terserah kakang saja !"


"Baiklah, kita pergi ke TMI dulu ya, apa kau pernah ke sana selama tinggal di kota ini ?"


"Belum ! Aku tidak punya waktu untuk pergi ke mana-mana. Lagipula, tidak pernah ada yang mengajakku bermain selama aku tinggal di sini."'


"Ah aku lupa, kau kan Ratu Es, jadi tidak mungkin ada orang yang berani mengajakmu berkencan, he...he...!


"Ka...kang ...!"


Rengek Kyara seraya mencubit pinggang suaminya.


Bagas bahagia mendengar rengekan manja istrinya. Dia pun segera menangkap tangan Kyara dan melingkarkannya di pinggangnya.


Kyara memberanikan diri untuk menyandarkan tubuhnya di punggung suaminya. Dia melakukan saran dari dokter yang menangani terapinya. Hangat...., hanya kehangatan yang Kyara rasakan. Sepertinya tidak ada penolakan dalam hati Kyara saat tanpa sengaja bagian tubuh depannya menyentuh punggung suaminya.


Kyara menopangkan dagunya di pundak kanan suaminya. Untuk sejenak tatapan mata mereka beradu dari kaca spion depan. Bagas tersenyum lembut ke arahnya. Blush....!! Entah kenapa senyum itu seketika membuat rona kemerahan di kedua pipi Kyara.


Setelah tiba di TMI, Kyara benar-benar dibuat takjub oleh wahana-wahana permainan yang berada di sana. Kyara mencoba memacu adrenalin nya dengan cara menaiki roller coaster. Awalnya Kyara merasa takut, namun saat Bagas merangkul pundaknya, sedikit demi sedikit ketakutan itu pun hilang. Dia berteriak dan tertawa lepas pada saat roller coaster itu mulai meluncur.


Puas bermain di sana, Kyara dan Bagas mencoba permainan bianglala. Ketakjuban Kyara semakin bertambah saat dia berada di atas. Dari sini, Kyara bisa melihat luasnya kota J.


Kyara tampak seperti anak kecil. Setiap wahana dia naiki dengan penuh kegembiraan. Wajah imutnya kembali terpancar saat dia meminta uang untuk membeli permen kapas. Bagas tak henti-hentinya mengukir senyuman di bibirnya karena merasa lucu dengan tingkah istrinya.


Menjelang dzuhur, mereka pun keluar dari TMI. Setelah melaksanakan solat dzuhur, Bagas pergi ke mall untuk nonton di bioskop. Namun sebelumnya mereka pergi ke food court untuk makan siang.


Perdebatan kecil kembali terjadi di depan bioskop. Bagas ingin menonton film bergenre romantis, namun Kyara menolaknya. Dia lebih menyukai film action.


"Maaf mas, kalau mau bertengkar jangan di sini dong ! Lihat antriannya terhenti karena kalian tidak maju-maju !" tegur seorang pemuda yang mengantri di belakang Bagas.


Bagas menyerah dengan sifat istrinya yang keras kepala. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menonton film action. Di dalam bioskop, Kyara antusias sekali menyaksikan film kesukaannya. Sedangkan Bagas, mungkin karena kelelahan, dia pun hanya tertidur pulas dan melewatkan alur film begitu saja.


Menjelang ashar mereka keluar dari gedung bioskop. Perjalanan kencan dilanjutkan kembali menuju sebuah taman kota yang terdapat wisata kuliner di sekelilingnya. Namun karena masih merasa kenyang, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan saja di sepanjang taman.


Sayup-sayup mereka mendengar suara azan magrib. Bagas dan Kyara pun memutuskan untuk solat maghrib di masjid dekat taman kota. Selepas solat maghrib, mereka kembali ke taman untuk mencicipi kuliner yang ada di sana.


Kyara mengajak Bagas untuk makan nasi goreng di salah satu kedai kuliner yang ada di sana. Saat mereka memasuki kedai itu, tampak seorang pemuda yang sedang mengamen. Kyara memesan nasi gorengnya dan duduk di salah satu kursi pengunjung. Namun Bagas malah mendekati pemuda pengamen itu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Tampak pemuda itu mengangguk sambil menyerahkan gitarnya.


"Ehm...... ehm....! Mohon perhatian semuanya !" ujar Bagas seraya mulai memetik gitarnya.

__ADS_1


"Selamat malam semuanya ! Mohon maaf mengganggu aktivitas makan malamnya. Malam ini saya akan menyanyikan sebuah lagu yang khusus saya persembahkan untuk istri saya..."


🎵🎵🎵


Kuharap semua ini bukan sekedar harapan


Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan


Biarkan kumenjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya


Jadi saksi cintaku padanya


'Tak main-main hatiku


Apapun rintangannya kuingin bersama dia


Kumau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Biarkan kumenjaganya sampai berkerut


Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya


'Tak main-main hatiku


Apa pun rintangannya 'ku ingin bersama dia


Kumau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Bukan kumemaksa oh Tuhan


Tapi kucinta dia (yang kucinta hanya dia)


Kumau dia (yang kumau hanya dia)


Kumau dia


Dan hanyalah dia


Aku mau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Bukan kumemaksa oh Tuhan


Tapi kucinta dia (Kucinta dirinya)


Kumau dia (Kumau dirinya)


Hanyalah dia


Tuhan, Kucinta dia.....


🎵🎵🎵


"Yeayyy....swit...swit...!"


Prok.... prok....prok...


"Uuh....so sweet...!


"Apa dia suamimu ?" tanya seorang ibu-ibu paruh baya yang duduk di samping Kyara.


Kyara tersenyum dan mengangguk.


"Aah.... beruntung sekali kamu anak cantik. Dia pasti sangat mencintaimu. Terlihat sekali dari caranya dia memandangmu saat bernyanyi untukmu. Semoga pernikahan kalian langgeng, nak !"


"Aamiin...."


Bersambung...


Semoga masih suka ceritanya yaaa...

__ADS_1


__ADS_2