Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Aku Tahu Kebenarannya !


__ADS_3

Sementara itu di salah satu kamar apartemen Alexandria. Seorang gadis tampak berjalan mondar-mandir di balkon depan kamarnya. Sesekali matanya melirik ke arah pintu gerbang hanya untuk melihat mobil suaminya datang.


"Sudah hampir magrib, tapi kenapa kakang belum juga pulang ? Dia pasti kasih kabar jika akan pulang terlambat, tapi kenapa sekarang tidak...? Ish.., pergi kemana dia ? Kenapa tidak mengabariku ?" gumam Kyara cemas.


Sayup-sayup, bunyi azan magrib pun mulai terdengar. Kyara akhirnya kembali ke kamarnya dan segera menutup tirai jendelanya.


Selepas solat magrib, Kyara pergi ke ruang tengah untuk menunggu kepulangan suaminya. Kyara mencoba menyibukkan dirinya dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dilaksanakan esok hari. Kyara mulai asyik berkutat dengan rangkuman materi yang hendak disampaikan esok hari kepada murid-muridnya. Setelah itu, Kyara membuka laptopnya dan mulai menyusun kisi-kisi soal sebagai acuan dalam membuat evaluasi hasil belajar.


"Alhamdulillah..., selesai juga !" ujar Kyara seraya melirik jam dinding. "Sudah jam 8 malam, tapi kenapa kakang belum pulang juga...!" gumamnya.


Kyara segera meraih ponselnya yang terletak di meja tamu. Kembali dia menghubungi nomor suaminya, namun hasilnya masih tetap sama. Nomor telepon Bagas tidak aktif. Kyara merengut kesal. Dia membereskan pekerjaannya kemudian menunaikan solat isya. Selepas itu, Kyara langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan melewatkan makan malamnya karena masih merasa kesal dengan suaminya.


***


Di rumah sakit Insan Medika.


"Sebenarnya apa yang terjadi om ? Kenapa Ajay bisa sampai seperti ini ?" tanya Aaron penasaran.


Kemarin memang Aaron sempat bertanya kepada Bima. Namun Bima hanya mengatakan alasannya secara garis besarnya saja.


Tuan Ali menarik napasnya panjang, dan membuangnya dengan perlahan.


"Semua ini bermula dari kebohongan tentang Danisa ?"


"Danisa ?" tanya Aaron mengernyitkan dahinya.


"Ya, Danisa.., putri yang sangat dicintainya yang ternyata bukan darah dagingnya Ajay."


Deg....deg...deg...


Jantung Bagas berdetak semakin cepat saat mendengar kebenaran tentang anak yang telah menjadi alasan Kyara menyerah dengan pertunangannya. Bagas mengepalkan tangannya, entah berapa banyak perasaan yang Kyara korbankan untuk anak itu.


"Ajay benar-benar murka. Tanpa banyak bicara dia pun pergi untuk mencari Kyara karena ingin mengatakan semua kebenaran itu. Namun naasnya, karena dia berkendaraan dalam keadaan labil, dia pun menabrak truk pengangkut barang."


Tuan Ali membuka kacamatanya karena ingin mengusap air mata yang tergenang di kedua sudut matanya.


"Pasca operasi, dia mengalami koma selama sebulan. Namun saat dia sadar, dia pun harus mendapati kenyataan jika dia mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Dia tidak bisa menerima semua itu, dan dia selalu mengurung dirinya di kamar. Sejak saat itu, dia selalu berteriak memanggil Kyara, dan puncaknya, hari itu....


"Di mana Ajay, bik ?" tanya tuan Ali kepada asisten rumah tangganya Ajay.


"Den Ajay masih berada di kamarnya, tuan !"


Tuan Ali pergi ke kamarnya Ajay untuk melihat kondisi putranya. Saat dia membuka pintu, tampak Ajay sedang memainkan gitarnya sembari menyanyi. Sungguh sebuah lagu yang amat sangat menyayat hati. Hingga tuan Ali melihat air mata jatuh dari kedua sudut mata anaknya. Karena tak kuasa menahan kesedihannya, tuan Ali pun kembali menutup pintu kamar Ajay. Tiba-tiba...


Brakkk.....!


Ajay melemparkan gitarnya. Setelah itu dia menengadahkan wajahnya sambil berteriak memanggil Kyara.


"Kya....! Maafkan aku...! Aargghh..., aku benar-benar bodoh ! Aargghh....!"


Ajay kembali melemparkan barang-barang yang mampu di raihnya dari atas nakas.


Nyonya Diana berlari tergopoh-gopoh mendengar keributan dari kamar Ajay. Saat itu, nyonya Diana dan bik Surti tengah membereskan kamar Danisa di sebelah kamarnya Ajay. Karena terburu-buru, tanpa sadar nyonya Diana menghampiri Ajay dengan membawa beberapa boneka yang sedang dibereskannya tadi.


"Kau kenapa, Jay ?"


Ajay melirik tajam ke arah ibunya. Namun, sejurus kemudian tatapan itu berubah menjadi tatapan yang penuh kesedihan.


"Anakku...!" gumamnya. "Kembalikan anakku ! Jangan sakiti dia ! Kembalikan anakku !" teriak Ajay kepada nyonya Diana.


Nyonya Diana sangat terkejut mendapati Ajay berteriak kepadanya, tiba-tiba saja,


Brugh...!


Tubuh Ajay terjatuh karena berusaha menggapai sebuah boneka yang sedang dipegang ibunya.


"Astaga, Ajay ! Pih...! Papih..., tolong....!" nyonya Diana berteriak panik dan memanggil suaminya.


Tuan Ali datang, dan segera mengembalikan Ajay ke atas kasur.


"Tolong aku pih...! Jangan biarkan mereka mengambil anakku...! Tolong pih....!" ujar Ajay menghiba.


Tuan Ali mengernyitkan dahinya. Dia mengikuti arah tatapan Ajay yang ternyata tertuju pada sebuah boneka baby. Tuan Ali meraih boneka yang tengah diapit di antara ketiak istrinya.


Dengan cepat, Ajay merebut boneka itu. Dia pun mulai meninabobokan boneka tersebut. Namun sejurus kemudian, dia menangis memeluk bonekanya.


"Maafin papa nak ! Maafin papa yang telah merenggut kehidupanmu...!"


Kembali air mata tuan Ali lolos begitu saja. Tiba-tiba....


"Jangan tinggalkan papa sayang....! Kembalilah ! Maafkan papa, nak ! Papa menyesal ! Hukum papa ! Bawa papa pergi bersamamu....! Maafkan papa...!"


Ajay kembali mengigau membuat semua orang terenyuh melihat dia menghiba seperti itu.


"Sst..., tenang sayang ! Tenanglah...!" ujar nyonya Diana seraya membelai lembut rambut anaknya.


Hening....

__ADS_1


Untuk sejenak hanya keheningan yang menyertai mereka di ruangan itu.


"Kya....! Maafkan aku...! Aku mohon, kembalilah...! Aku mencintaimu Kya...! Aku sangat mencintaimu...!" racau Ajay dalam tidurnya.


Mata Bagas menatap tajam ke arah sahabatnya itu. Tangannya mengepal, Kedua rahangnya mengeras menahan amarahnya saat dia mendengar pengakuan cinta Ajay atas istrinya.


"Permisi om, Bagas mau ke toilet dulu !" ujar Bagas karena takut tak bisa mengontrol emosinya.


"Kenapa harus ke toilet, di sini ada kamar mandi nak. Kamu bisa menggunakan kamar mandi itu !" ujar om Ali.


Bagas tersenyum kecut. "Maaf om, Bagas lebih nyaman di toilet." ujar Bagas.


Tuan Ali pun mengerti dan membiarkan Bagas pergi.


BUGH....!


Bagas memukul tembok begitu dia sampai di toilet. Hatinya benar-benar kacau saat ini. Sakit..., ya ! Sangat sakit mendengar pengakuan Ajay yang masih sangat mencintai Kyara. Suami mana yang rela jika istrinya masih sangat dicintai oleh pria lain.


"Aaargghhh....!"


Bagas menjambak rambutnya dengan kasar.


Bugh....


Bugh...


bugh...


Kembali dia memukuli tembok yang tak berdosa itu untuk melampiaskan amarahnya. Setelah merasa puas, Bagas pun berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya yang terluka.


Dia menatap bayangannya di cermin. Ah, berantakan banget gue...., batinnya. Dia pun segera membasuh mukanya, setelah itu dia kembali ke ruang rawatnya Ajay.


"Om sendiri tidak tahu, Ar ! Apa maksud Ajay yang terus mengatakan dirinya pembunuh ! Om dan semuanya benar-benar dibuat tak mengerti dengan sikap Ajay. Om bisa mengerti jika Ajay merasa bersalah pada Kyara karena telah berkhianat. Tapi perkataannya tentang penyesalan karena tidak bisa memberikan kehidupan, om dan semuanya benar-benar tidak tahu apa maksud ucapan Ajay." ujar om Ali.


"Aku tahu kebenarannya om !"


Tiba-tiba suara berat Bagas mengagetkan mereka.


Aaron, tuan Ali, nyonya Diana, nyonya Aini, dan Bima, seketika menatap Bagas.


Bagas berjalan mendekati Ajay yang masih tertidur karena pengaruh obat.


"Bagas tahu alasan Ajay mengatakan semua penyesalan itu !" ujar Bagas seraya menatap tajam ke arah sahabatnya.


"Apa maksud lo, Gas ?" tanya Aaron.


Bagas menengadahkan wajahnya. Hatinya benar-benar sakit mengingat masa lalu yang telah dialami Kyara. Terlebih lagi, saat ini Kyara telah menjadi istrinya. Bagas sebenarnya tidak ingin membuka aib Kyara. Namun semua kebenaran harus diungkapkan Bagas agar keluarga Ajay tidak berharap lebih terhadap Kyara yang tidak pernah pantas untuk memaafkan semua perbuatan Ajay.


"Karena dia memang seorang pembunuh eyang !"


Deg....


Deg...


Semua orang tampak terkejut mendengar ucapan dingin Bagas.


Dengan mata memerah, nyonya Diana menghampiri Bagas.


Plakk....!


Mamih...!


Diana...!


Tuan Ali dan nyonya Aini berteriak saat melihat nyonya Diana menampar keras pipi Bagas.


"A... apa maksudmu, mengatai Ajay seperti itu ? Tega kamu Bagas ! Dia sahabatmu, kenapa kau tega memfitnahnya seperti itu !"


Bagas menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan telunjuknya. Tamparan Diana memang cukup kuat, sehingga membuat luka di sudut bibir Bagas.


"Maafkan Bagas tante, tapi itu memang kenyataannya. Ajay pernah membunuh anaknya sendiri. Dia bahkan tega melenyapkan nyawa anaknya sebelum bayi mungil itu terlahir ke dunia ini." ujar Bagas, merasa sesak saat ingatannya memaksa dia untuk kembali melintasi masa sulit istrinya dulu.


Tubuh lemah tak berdaya, darah yang berceceran sepanjang lantai, teriakan histeris istrinya, tatapan kosong istrinya, semuanya kembali melintas dan membuat dadanya semakin sesak.


"Bagas, lo sadar dengan yang lo ucapin ? Hei bro ! Ada apa denganmu ?" tanya Aaron menghampiri Bagas.


Bagas tersenyum sinis.


"Lo ingat malam itu Ar ? Malam di mana kita melihat Kyara tergeletak bersimbah darah ?"


Syeerrr....


Darah Aaron berdesir hebat saat Bagas mengatakan peristiwa itu. Bagaimana mungkin Aaron lupa kejadian itu, kejadian yang membuat dirinya merasa menyesal karena tidak bisa menjaga Kyara.


Sedangkan semua orang hanya diam dalam keterkejutannya mendengar kebenaran yang akan dikatakan Bagas.


"Ada apa dengan malam itu Gas ?" tanya Aaron mencengkram kuat tangan sahabatnya.

__ADS_1


"Malam itu, dia datang ke tempat kost Kyara dan memaksa Kyara meminum obat penggugur kandungan ! Dia Ar, dia pelakunya ! Dia dalang di balik meninggalnya janin Kyara ! Dia juga penyebab Kyara seperti mayat hidup karena mengalami depresi setelah mengetahui janinnya tak bisa bertahan." jawab Bagas lirih.


Sakit....! Sangat sakit dan hancur perasaan Bagas saat ini.


Deg ....


Semua orang semakin terkejut dengan apa yang telah dikatakan Bagas.


"Cukup kak ! Aku tahu kakak ku memang brengsek, tapi aku mohon jangan fitnah dia lagi ! Apa kakak tidak kasihan kepadanya ! Kakakku sedang berjuang melawan mautnya, Bima mohon, jangan bicara yang buruk lagi tentang kak Ajay. Bagaimanapun juga, dia kakak Bima !" ujar Bima seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Maaf Bim, bukan tanpa bukti aku sanggup berbicara seperti ini. Jika Bima tidak percaya, Bima bisa tanya kak Andin. Karena mereka sekongkol untuk melenyapkan anaknya Kyara. Bahkan Andin sudah mengakui semuanya dihadapan kakak dan kak Kyara. Dan kamu Ar, jika kamu masih tak percaya sama omongan gue, lo bisa tanya mbak Risa. Dia juga tahu tentang semua ini."


Bagaimana dengan perasaan Aaron ? Hmmm..., jangan pernah tanya bagaimana perasaannya saat ini. Sungguh, apa yang dia dengar saat ini, membuat dia merasa tak pernah berguna sebagai seorang laki-laki. Dia merasa dia terlalu pengecut karena pernah menyerah sebelum berjuang. Seandainya Ajay tidak seperti ini, rasanya Aaron ingin menghabisinya.


"Kenapa nak ? Kenapa kamu tutupi semua ini dari om ? Sekarang, apa om masih punya muka untuk menghadapi gadis malang itu ?" ujar tuan Ali lirih.


Hatinya benar-benar hancur mendengar kenyataan masa muda anaknya. Perasaan bersalah pun semakin menyeruak di dadanya mendengar kenyataan tentang masa lalu mantan calon menantunya.


Kya...., maafin om nak...! Om benar-benar merasa malu padamu. Om sudah bersikap tidak adil. Seandainya waktu itu om bisa sedikit tegas dan membela pertunanganmu, mungkin semua ini nggak akan terjadi. Dan om bisa menebus semua dosa-dosa Ajay terhadapmu. Sekarang..., apa yang bisa om harapkan dari pencarian ini ? Setelah mendengar semua kebenaran ini, rasanya om sudah tidak punya muka lagi untuk memohon dan memintamu membantu om menyembuhkan Ajay.


Diam ....


Semuanya tampak diam dengan pemikirannya masing-masing.


"Sebaiknya kita tidak hentikan pencarian terhadap Kyara !" ujar tuan Ali tegas.


"Tapi, pih ! Bagaimana dengan Ajay ? Kesembuhan Ajay tergantung pada gadis itu. Apa papih tega melihat Ajay seperti ini terus, seperti mayat hidup !" seru nyonya Diana.


"Kenapa mih ? Bukankah Ajay juga pernah membuat Kyara seperti mayat hidup karena depresinya kehilangan seorang anak ! Biarkan saja seperti itu ! Anggap saja dia sedang menjalani karmanya !" ujar tuan Ali geram dan berlalu pergi meninggalkan ruang perawatan Ajay


Setelah melihat tuan Ali pergi, Bagas pun pamit untuk kembali pulang ke kota J. Saat ini, dia ingin segera sampai di apartemennya dan memeluk istrinya erat. Dia sangat merindukan istrinya. Setelah semua ini, perasaan cintanya semakin kuat. Dia merasa dia harus selalu menjaga istrinya. Dia tidak ingin seorang pun dari masa lalu istrinya kembali datang dalam kehidupan istrinya.


Bagas melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia ingin segera bertemu dengan istrinya. Terlebih lagi dia merasa sangat bersalah karena pergi tanpa memberi kabar.


"Aku harus segera menjauhkan Kyara dari orang-orang di masa lalunya. Apa aku kembali saja ke Jerman dan memulai hidupku bersama Kyara di sana ? Aaargghhh...!"


Bagas memukul setirnya. Merasa frustasi ketika membayangkan jika suatu hari nanti mereka menemukan Kyara.


Tuhan..., bolehkan aku sedikit egois ? Hatiku memang sakit melihat kondisi Ajay seperti itu, tapi hatiku akan jauh lebih sakit jika membiarkan Kyara bertemu kembali dengan Ajay. Dia istriku Tuhan...., tolong jadikanlah dia istriku untuk selamanya... ! Pinta Bagas dalam hati.


Tengah malam, Bagas sampai di apartemennya. Dia segera membersihkan dirinya. Dilihatnya Kyara tengah terlelap. Bagas mendekati istrinya. Perlahan dia memeluk istrinya dari belakang. Dia mulai menyusupkan wajahnya di ceruk leher Kyara. Tanpa terasa bening hangat mulai membasahi pipinya.


Kyara mengerjapkan matanya saat lehernya terasa basah.


"Ka...kang ...!" ucap Kyara. "Kenapa ?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu sayang !"


Meski merasa kesal karena suaminya pergi tanpa memberi kabar, tapi Kyara pun tak bisa marah saat suaminya seperti ini.


"Sayang, maukah kau berjanji padaku ?"


"Janji apa ?"


"Apa pun yang terjadi, aku mohon jangan tinggalkan aku !"


"Aku janji kakang, aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku yang tampan ini meskipun dia selalu menghilang tanpa kabar."


"Aah...maaf sayang, tadi aku ada sedikit urusan. Ponselku lowbat jadi aku tidak sempat memberitahumu."


Kyara membalikkan badannya. "Tidak apa-apa, tapi aku mohon, jangan diulangi lagi. Aku benar-benar cemas karena tak mendapat kabar darimu."


"Maaf !"


Bagas meraih dagu Kyara. Dia pun mulai menyesap manisnya Cherry Kyara. Kembali mata Kyara terpejam. merasakan kehangatan menjalari tubuhnya.


"Sa...sayang...aku menginginkanmu...! ujar Bagas serak karena sudah tidak kuat menahan hasratnya.


Kyara tersenyum. "Apa kau tidak lelah ? Kau baru saja pulang, kakang !"


Bagas mendekap erat tubuh Kyara. Dia sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Bagas tidak pernah memaksa jika memang istrinya tidak menghendaki.


Perlahan Kyara membuka kancing Bagas satu persatu. Dia tidak punya alasan untuk menolak suaminya. Bagaimanapun juga, dia menginginkannya. Kyara mulai memainkan jari jemarinya di sekitar dada bidangnya Bagas. Bagas terpejam merasakan halusnya sentuhan istrinya. Kyara mengecup dada bidangnya Ajay, menyusuri nya hingga ke wajahnya. Bagas sudah tidak tahan lagi, akhirnya dia pun mulai melakukan aksinya untuk mengecap manisnya kenikmatan surga dunia.


Tenaga mereka terkuras habis dengan kegiatan panas malam ini.


"Kemarilah sayang, aku akan memelukmu !"


"Sayang, aku mau pakai baju dulu !"


"Tidak usah, nanti sebelum subuh juga aku lepas lagi bajumu, he...he...!


"Ish, kau ini....!


Kyara pun mulai menyusupkan kepalanya di dada bidang suaminya. Hal yang selalu membuat dia merasa nyaman adalah tertidur dalam pelukan kekar tangan suaminya.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


Bantal ternyamanku adalah lengan kekar suamiku


__ADS_2