Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Kecanggungan pun kembali terjadi.


"Apa kau mau melihat ke dalam ?" tawar Bagas, berusaha untuk mencairkan suasana.


"I...iya, boleh kak...!" Kyara menyerahkan kuncinya kepada Bagas.


Bagas menerima kunci rumah itu, kemudian dia berjalan menuju pintu utama rumah megah itu. Kyara mengikutinya dari belakang. Tatapannya tak pernah teralihkan dari rumah itu.


Ceklek...


Pintu utama rumah megah itu terbuka. Bagas mempersilakan Kyara masuk. Dengan langkah gemetar, Kyara memasuki rumah itu. Kyara semakin merasa takjub dengan isi rumah yang berlantaikan marmer mengkilap. Bak cermin, pantulan bayangan Kyara pun tampak terlihat jelas di lantai itu.


"Kau mau lihat kamar utamanya ?" tanya Bagas lagi.


Kyara mengangguk.


Bagas mengajak Kyara ke lantai dua. Di sana terdapat beberapa ruangan, yang Kyara sendiri tidak tahu untuk apa saja ruangan tersebut.


Bagas membuka salah satu ruangan. Kembali Bagas mempersilakan Kyara untuk masuk.


Kyara memasuki kamar mewah itu. Kamar yang seumur hidupnya baru dia lihat dari dekat. Biasanya, Kyara melihat kamar-kamar mewah itu lewat film-film Drakor yang sering ditontonnya.


Sebuah kamar yang ukurannya sangat besar. Terdapat kamar mandi di dalamnya. Sebagian dinding kamar berbahan kaca, yang berfungsi sebagai jendela sekaligus pintu yang mengarah ke balkon.


Bagas membuka tirai dinding kaca tersebut, kemudian menggeser pintu kacanya, dia mengajak Kyara ke balkon. Di sana terdapat sepasang kursi santai yang langsung menghadap ke arah kolam renang di belakang rumah. Sungguh Kyara tidak bisa berkata apa-apa melihat kemewahan dan kemegahan rumah ini.


***


Di Singapore.


"Ma, boleh Aaron bicara sebentar ?" tanya Aaron pada ibunya.


"Kondisi papa saat ini sudah semakin membaik. Apa Aaron boleh kembali ke Indonesia ?" tanya Aaron hati-hati karena takut ibunya merasa tersinggung dengan niat Aaron.


"Apa kamu sangat ingin sekali untuk kembali ke Indonesia ?" tanya ibunya.


"Banyak hal yang harus Aaron urus, ma...! Masa cuti Aaron juga sudah hampir selesai. Aaron tidak ingin membuang waktu lagi. Aaron ingin segera menyelesaikan kuliah Aaron." jawab Aaron.


"Kenapa kamu nggak pindah saja kemari, nak ?" tanya ibunya lagi.


"Apa mama mau pindah kemari ?" Aaron malah balik bertanya.


Bu Silvi menghela napasnya, "Kami sudah semakin tua Ar. Kondisi papa memang sudah mulai membaik. Tapi, penyakit papa bisa kambuh kapan saja. Karena itu, semalam kakakmu dan kakak iparmu berbicara sama mama dan papa. Mereka minta kami untuk tinggal di sini. Supaya papa lebih mudah untuk berobat." ujarnya.


"Aaron janji ma, setelah kuliah Aaron selesai, Aaron pasti akan kembali lagi kemari." jawab Aaron berusaha meyakinkan ibunya.


"Baiklah..! Mama tidak akan menghalangimu..! Kapan kamu berangkat ?" tanya mama Aaron.


"Besok siang, ma.." jawab Aaron.


"Pergilah, nak...! Minta nak Bagas untuk menemanimu di rumah, nanti. Mama khawatir kalau kamu harus tinggal sendirian !" perintah bu Silvi.


"Tapi kan ada bik Sum sama mang Darma, yang bisa temani Ar." kilah Aaron.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu mama nggak kasih izin kamu pulang !" jawab bu Silvi sambil berdiri dari kursinya.


"Eh, jangan dong ma...! Iya...iya..., nanti Aaron hubungi Bagas ya...!" jawab Aaron.


"Nah..., gitu dong..! Nurut sama orang tua ! Ya sudah ! Pulanglah untuk berkemas !" perintah bu Silvi.


"Tapi mama...? Siapa yang temani mama buat jaga papa ?" tanya Aaron.


"Tadi kakakmu telpon, katanya Ardi sedang dalam perjalanan kemari. Sudah, jangan pikirkan mama ! Lagipula di sini banyak suster kok...!" jawab bu Silvi.


Aaron mengangguk, dia pun segera memeluk ibunya erat.


***


Kyara sudah diantarkan kembali oleh Bagas ke rumah tuan Mahesa. Bima merasa senang dengan kedatangan Kyara. Banyak hal yang Bima dapatkan dari Kyara, terutama perhatian seorang kakak. Belum ada sehari Kyara berada di rumah. Namun Bima telah akrab dengannya.


Makan malam telah tersaji di meja makan. Semua orang telah berkumpul, kecuali Ajay dan nyonya Diana yang belum terlihat sama sekali di ruang makan.


"Istrimu dan anak sulungmu kemana, Al ?" tanya tuan Mahesa.


"Diana sedang kurang enak badan, yah. Dia minta bik Nah untuk mengantarkan makanannya ke kamar. Ajay..? Ali tidak tahu dia dimana ? Sepertinya dia belum pulang." jawab tuan Ali.


"Kemana lagi anak itu ?" gumam tuan Mahesa.


Kyara diam, berpura-pura untuk tidak mendengar percakapan mereka. Padahal hatinya merasa kacau mendengar Ajay tidak pulang. Apa mungkin karena keberadaanku di sini, sehingga Ajay belum pulang sampai jam segini ? Apa mungkin dia menghindariku ? batin Kyara.


Sementara itu di rumah Bagas.


Ting...


Sebuah notifikasi pesan WhatsApp, masuk di ponsel Bagas. Segera Bagas mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Bagas membukanya.


"Besok, tolong jemput gue di Soeta" ( Aaron )


Bagas membalas pesan Aaron


"Jam berapa ?" ( Bagas )


Sejenak Bagas menunggu jawaban pesannya.


Ting...


"Sekitar jam 11 siang gue sampai di Soeta." ( Aaron )


"Oke." ( Bagas )


Bagas kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia pun memejamkan matanya. Aaron akan kembali ke Indonesia. Ya Tuhan..., aku tidak bisa membayangkan reaksi dia nanti, jika dia tahu Kyara akan menikah dengan Ajay..., batinnya.


Keesokan harinya.


Tuan Mahesa, nyonya Aini dan Kyara tampak sudah rapi. Rencananya hari ini mereka akan pergi berbelanja barang-barang furniture untuk mengisi rumah baru.


"Bima boleh ikut, kak...?" tanya Bima.

__ADS_1


"Boleh dong...! Masak adik kakak satu-satunya ini nggak diajak.." jawab Kyara seraya memijit hidung Bima dengan gemasnya.


"Yess...! Ka..., rumahnya kan gede tuh, Bima boleh minta kamar satu yaaa...?" pintanya.


"Boleh.., makanya bima sekarang ikut juga ya ? Biar bisa pilih sendiri barang-barang yang akan digunakan untuk mengisi kamar Bima." jawab Kyara.


"Emang harus ya, minta izin dulu sama dia ? Itu kan rumah kita juga...!" ujar nyonya Diana, ketus.


"Sudah... sudah...! Ayo kita berangkat ! Kamu yang nyetir ya, Bim...! Rahmat sedang eyang suruh ke hotel dulu..!" kata tuan Mahesa.


"Siap eyang...!"


***


Pukul 10.50, Bagas sudah sampai di bandara. Bagas segera menuju tempat kedatangan para penumpang pesawat. 20 menit berlalu, akhirnya pesawat yang ditumpangi Aaron tiba juga.


Setelah melelaui berbagai macam prosedur kedatangan. Aaron pun keluar dan bertemu Bagas.


"Wellcome to Indonesian, bro..!" ujar Bagas seraya memeluk sahabatnya itu.


Aaron membalas pelukan Bagas. "Thanks, bro..!.


Tunggu di sini, gue ambil mobil dulu !" kata Bagas.


"Oke." jawab Aaron.


Tak lama kemudian, mobil pun tiba tepat di hadapan Aaron. Aaron membuka pintu mobil kemudian masuk.


"Kita ke rumah sakit dulu, Gas ! Gue sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kyara." ujar Aaron.


Bagas langsung diam mendengar perkataan Aaron. Bagas yakin jika suatu hari nanti, Aaron pasti akan menanyakan perihal Kyara. Tapi Bagas tidak pernah menyangka akan secepat ini.


"Gas..! Kok diam.., ayo...!" ajak Aaron.


Kita ke coffee shop dulu, Ar. Ada yang harus kita bicarakan." ujar Bagas.


"Bicaranya nanti saja, Gas..! Kita temui Kya dulu ! Dia pasti terkejut lihat gue..! Yuk...!" kembali Aaron mengajak Bagas.


"Tapi ini tentang Kyara !!" jawab Bagas penuh penekanan.


Aaron diam tak mengerti, tapi dia pun tidak ingin menyanggah Bagas. Dari nada suara Bagas, Aaron pun menyadari bahwa sesuatu yang kurang baik, sedang terjadi.


"Baiklah, terserah lo..!" ujar Aaron pasrah.


Bagas pun melajukan mobilnya menuju coffee shop langganan mereka.


Bersambung....


Happy weekend readers...


Mohon maaf telat up yaaa...,


Jangan lupa like vote n komennya...makasih...

__ADS_1


__ADS_2