Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Hari Baru, Kota Baru...


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, penandatanganan berkas-berkas peralihan kepemilikan semua aset keluarga Bagas pun telah selesai dilakukan. Barang-barang peninggalan almarhum kedua orang tuanya telah Bagas kirimkan melalui cargo. Dan hari ini, Bagas memutuskan untuk pergi ke kota di mana kakaknya tinggal.


Sebelum berangkat, Bagas berdiri memandangi rumah yang berdiri kokoh di hadapannya. Hampir 23 tahun Bagas tinggal di sini. Terlalu banyak kenangan manis yang telah Bagas ukir bersama kedua orang tuanya, meskipun hanya sampai usianya menginjak 12 tahun. Selebihnya, Bagas menghabiskan waktunya bersama sang kakak.


Bagas berjalan menuju taman depan. Di taman itu terdapat sebuah ayunan. Bagas berjalan mendekati ayunan tersebut. Dia meraba tiang ayunan itu. Bayangan masa kecilnya dengan sang kakak, kembali melintas di benaknya.


Kak Indah, satu-satunya keluarga yang dimilikinya setelah kedua orang tuanya tiada. Kak Indah yang menjadi kakak sekaligus orang tua tunggal bagi Bagas. Kak Indah, satu-satunya wanita yang dicintainya setelah almarhumah ibunya. Kak Indah jugalah yang membuat Bagas tidak pernah bisa memikirkan wanita lain dalam hidupnya. Bagas terlalu menyayangi kak Indah, hingga dia takut jika kehadiran wanita lain akan membuat hubungan kedua kakak beradik itu renggang.


Kebersamaan Bagas dengan sang kakak berjalan kurang lebih 7 tahun. Setelah Bagas lulus SMA, atas desakan Bagas, sang kakak pun menerima lamaran kekasihnya.


Awalnya kak Indah menolak lamaran Gunawan karena merasa tanggung jawabnya terhadap Bagas belumlah usai. Namun setelah Bagas masuk kuliah, Bagas pun menyuruh kak Indah untuk menikah. Umur kak Indah sudah terbilang cukup untuk berkeluarga, dan Bagas pun sudah merasa cukup dewasa untuk bisa mengurus dirinya sendiri.


"Hmm..., aku tidak menyangka jika aku akan kembali lagi hidup bersama dengan kak Indah..." gumam Bagas.


Tapi ini hanya untuk sementara waktu. Aku harus bisa membuktikan pada kak Indah, kak Gun dan almarhum ayah dan ibu, jika aku juga mampu untuk menjadi orang sukses. Tekad Bagas dalam hati.


Bagas kembali mengitari rumahnya. Dia berjalan menuju taman belakang. Sejenak, dia tertegun menatap gazebo yang berada di sudut taman.


Netranya menatap bayangan sosok gadis berambut panjang sedang duduk bersama seorang laki-laki. Gadis itu memegang gelas berisi jus berwarna merah jambu. Tampak gadis itu menempelkan gelasnya ke bibirnya, dan sedikit menengadah untuk mereguk isi gelasnya.


Tiba-tiba tangan laki-laki itu bergerak, mengusap ujung bibir sang gadis saat sang gadis telah selesai minum. Sang gadis tampak terkejut dan segera menoleh ke arah laki-laki itu, hingga membuat sang laki-laki terlihat kikuk.


Senyum Bagas mengembang melihat pemandangan itu. Hingga...


Drrtt.... drrtt...drrt...


Getaran ponsel di saku jaketnya, membuat kedua bayangan dalam imajinasi Bagas, berlari entah kemana.


"Kak Indah..." gumam Bagas.


"Hallo...! Assalamualaikum, kak !" (Bagas)


"Waalaikumsalam ! Kamu sudah sampai mana ?" (kak Indah)

__ADS_1


"Masih di rumah, kak." (Bagas)


"Hish, kamu ini...! Cepatlah berangkat, keburu jalanan macet !" (kak Indah)


"Tenang saja kak, jarak antara kota ini dengan kota J kan tidak terlalu jauh. Satu jam juga sampai !" (Bagas)


"Itu kalau tidak macet ! Kamu tahu sendiri kota metropolitan rupanya seperti apa di jam-jam begini..! Cepatlah berangkat...!" (kak Indah)


"Iya, kakakku sayang..., ini juga udah di dalam mobil. Sediakan makanan yang enak ya, untuk menyambut adekmu yang paling ganteng ini ! He...he..he..." (Bagas)


"Iya...iya.., ini udah siap ! Udah dari subuh kakak masak buat kamu. Makanya, kamu cepatlah berangkat !" (kak Indah)


"Iya...iya...! Ini udah mau jalan. Ya sudah, Bagas tutup telponnya ya, kak ! Assalamualaikum...! (Bagas)


"Ya. Hati-hati di jalan ! Jangan lupa, baca do'a ! Waalaikumsalam..! (kak Indah)


Tut...tut...tut...


Sambungan telpon pun terputus. Bagas hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar kecerewetan sang kakak. Meski kebawelan kak Indah menyebalkan, tapi Bagas selalu merindukan suaranya kak Indah yang cempreng itu.


Benarlah apa yang dikatakan kak Indah. Semakin siang, kendaraan semakin bertambah banyak. Mobil Bagas pun masih berjalan merayap di jalan tol yang seharusnya dalam waktu 20 menit ditempuhnya.


"Hups...! Macet sekali...!" gumam Bagas.


Bagas mulai menyalakan audio mobilnya. Tiba-tiba lagu Pura-Pura Lupa dari Maher melantun dengan merdunya. Lagu itu mengingatkan Bagas pada Kyara yang dulu pernah berlinang air mata saat mendengar lagu ini.


Bagas menghela napasnya, berat. Ada rasa sesak di dalam dadanya saat ini. Kenangannya bersama Kyara kembali menyergapnya, dan Bagas tak mampu mengelaknya. Dia merasa rindu. Dia rindu wajah sendunya Kyara, dia rindu tatapan hangatnya Kyara, dia rindu suara lembutnya Kyara, dia rindu tawa renyahnya Kyara. Bagas mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir wajah Kyara dari penglihatannya.


Setelah melewati perjalanan selama 2 jam akibat macet, Bagas pun tiba di sebuah rumah mewah. Rumah kediaman CEO perusahaan industri terbesar di kota J, siapa lagi kalau bukan Gunawan yang tak lain adalah kakak iparnya.


Tin....tin...


Bagas membunyikan klakson mobilnya. Fazar, penjaga keamanan di kediaman Gunawan, segera membukakan pintu gerbang. Dia pun membungkukkan badannya tat kala melihat tamu yang datang adalah adik ipar tuannya.

__ADS_1


Bagas memarkirkan mobilnya, kemudian dia turun dari mobilnya. Dia melempar senyum dan melambaikan tangan kanannya kepada Fazar, yang dibalas anggukan dan lambaian tangan pula oleh Fazar. Setelah itu Bagas segera berlari kecil menuju pintu utama.


Tiba di depan pintu, Bagas sudah disambut oleh celotehan Arumi yang sedang berada dalam gendongan ibunya.


"Accalamualaikum, baby Alum ponakan uncle yang cantik...! Uduh...uduh...gemesss banget cih...! Cinih.., om gendong ya...!" sapa Bagas sambil mengambil Arumi dari tangan kak Indah.


"Hna..na...na...!" celoteh baby Arum sambil meraba-raba wajah pamannya.


"Haiss...! Kamu ini, baru datang kok main gendong-gendong saja ! Sana, bersihkan dirimu dulu ! Bau keringat...!!" tegur kak Indah seraya mengambil kembali anaknya dari gendongan adiknya.


Bagas terlihat cemberut, namun dia tidak berani membantah perintah kakaknya. Dia kemudian masuk dan segera menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Satu jam berselang, Bagas kembali turun. Kak Indah telah menunggunya di meja makan. Mereka pun akhirnya makan siang bersama.


Waktu terus bergulir. Sore hari, Gunawan kembali dari kantornya.


"Ya Khumaira ! Kemana Bagas ?" tanyanya kepada istrinya.


"Mungkin dia sedang beristirahat di kamarnya, mas." jawab kak Indah.


"Oh, biarkan dia istirahat ! Aku bersih-bersih dulu Khumaira, tolong siapkan pakaian santaiku !" pinta Gunawan pada istrinya.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju kamarnya. Tiba di kamar, Gunawan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan kak Indah segera membuka lemari pakaian untuk mengambil baju suaminya.


***


Keesokan harinya, Bagas telah bersiap dengan berpakaian rapi. Hari ini dia hendak melakukan wawancara di sebuah perusahaan otomotif terbesar di kota J. Perusahaan yang dipimpin oleh Alvaro Adinata, teman kakak iparnya. Dengan nilai yang sangat memuaskan, mudah sekali bagi Bagas untuk mendapatkan rekomendasi memasuki perusahaan itu. Meskipun hubungan sang kakak ipar dengan sang empunya perusahaan terbilang sangat dekat, namun Bagas tetap harus menggunakan skill nya untuk bisa menjadi bagian dari perusahaan besar itu.


"Hari yang baru, kota yang baru...! Ayo semangat Bagas ! Kamu pasti bisa...!" ujar Bagas menyemangati dirinya sendiri.


Bersambung


Terima kasih karena telah mampir di karya ini...🙏

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like, vote n komen cerita ini...


🙏🤭


__ADS_2