Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kita Hadapi Bersama


__ADS_3

"Mari saya obati lukanya, pak...!" tiba-tiba suara perawat pria tadi membuyarkan lamunan Bagas.


Bagas mengangguk.


Perawat itu segera memberikan cairan antiseptik untuk luka di tangan Bagas. Untungnya luka itu tak terlalu dalam, sehingga tidak membutuhkan jahitan. Bagas sedikit meringis merasakan perih saat perawat itu membersihkan lukanya. Setelah dirasa cukup bersih, perawat itu pun memberinya Betadine dan membalut lukanya.


"Kamu nggak apa-apa, Gas ?" tanya dokter Risa dengan napas yang masih tersengal.


Dokter Risa baru saja tiba di rumah sakit. Begitu sampai di lobi, seorang perawat memberi tahu dokter Risa tentang Kyara yang kembali histeris hingga melukai tangan Bagas. Secepat kilat dokter Risa berlari untuk melihat keadaan keduanya.


"Tidak apa-apa, mbak. Hanya luka kecil saja." jawab Bagas.


"Sudah selesai pak, saya permisi dulu !" ujar perawat yang mengobati Bagas.


"Terima kasih." ucap Bagas.


"Sama-sama, pak."


Kemudian perawat itu pergi meninggalkan Bagas dan dokter Risa.


"Kenapa Kyara bisa kembali histeris, Gas ?" tanya dokter Risa.


"Aku tidak tahu, mbak. Tiba-tiba saja dia menyerangku dan terus mengatakan pembunuh." jawab Bagas.


Dokter Risa terkejut, "Pembunuh...?" ulangnya.


"Iya." jawab Bagas.


"Apa..., sebelumnya terjadi sesuatu, Gas ?" kembali dokter Risa bertanya.


"Maksud mbak ?" Bagas balik bertanya, heran.


"Ya...! Sebelum terjadi penyerangan itu...! Apa ada sesuatu yang memicu Kyara sehingga bertindak seperti itu ?"


"Entahlah mbak, hanya saja aku menemukan ini di tangan Kyara." Bagas menunjukkan botol yang berisi cairan hitam pekat itu kepada dokter Risa.


Dokter Risa membelalakkan matanya, "Da... darimana kamu mendapatkan benda ini, Gas ?" tanyanya seraya mengambil botol kecil itu dari tangan Bagas.


"Teman Kyara menemukannya di tempat kost Kyara." jawab Bagas. "Apa obat diet berpengaruh untuk ibu hamil, mbak ?" tanya Bagas.


"Obat diet ?" dokter Risa mengulang pertanyaan Bagas seraya mengerutkan keningnya.


"Iya, temannya bilang, itu mungkin saja obat dietnya Kyara." jawab Bagas


Lama dokter Risa termenung. Jelas sekali dokter Risa tahu botol apa ini. Namun entah kenapa Bagas mengatakan bahwa itu obat diet ? Kenapa juga botol ini bisa berada di tangan Kyara, padahal dokter Risa tahu betul kalau dia tidak pernah memberikan obat herbal itu kepada siapapun, kecuali pasien khususnya.


"Mbak...! Mbak kok melamun...?" tanya Bagas.


"Eh...! Ti... tidak, Gas...! Tadi kamu tanya apa, Gas ?"


"Itu, obat diet, mbak. Apa berpengaruh untuk ibu hamil ?"


"Tentu sangat berpengaruh, Gas."


"Ish..., kenapa Kyara ceroboh sekali ?!" gerutu Bagas, kesal.


"Gas.., mm... sebenarnya..., ini bukan obat diet." ujar dokter Risa.

__ADS_1


"Lalu, itu obat apa mbak...?" tanya Bagas.


"Mmm.... sebenarnya, ini obat herbal untuk memperlancar siklus menstruasi seseorang. Jika dikonsumsi oleh ibu hamil, meskipun hanya sedikit saja, tapi resikonya sangat besar. Kemungkinan bisa memicu kontraksi yang bisa menyebabkan pendarahan." dokter Risa memberi penjelasan tentang benda itu.


Bagas terkejut, "Astaghfirullah...!" dia pun mengeluarkan dua buah botol yang sama, yang telah kosong. "Jangan-jangan, ini yang dikonsumsi Kyara, mbak..!"


"Astaghfirullah...!" dokter Risa pun tak kalah terkejutnya, kemudian mengambil botol-botol itu. Bagaimana mungkin ramuan ini bisa berada di tangan Kyara. Darimana Kyara mendapatkannya ?"


"Mbak...! Mbak, kenapa melamun lagi ?" tanya Bagas.


"Eh..., itu Gas...! Anu...mmm... mbak hanya bingung saja, darimana Kyara mendapatkan obat-obat ini ?" tanya dokter Risa, mencari alasan untuk menutupi kegugupannya.


"Entahlah, mungkin dia membelinya di apotek, mbak.." jawab Bagas.


"Tidak mungkin !!" ujar dokter Risa, sedikit berteriak.


"Mbak kenapa ?" tanya Bagas merasa heran dengan reaksi dokter Risa.


"Ma... maksud mbak, tidak mungkin Kyara dengan sengaja membeli obat ini. Mbak tahu, Kyara sangat menyayangi calon anaknya. Tidak mungkin dia sengaja membeli obat ini untuk menggugurkan kandungannya."


"Ya, aku juga berpikir seperti itu mbak. Lagipula, melihat reaksi Kyara tadi, aku semakin yakin, sepertinya ada orang yang sengaja memberikan obat ini agar Kyara kehilangan janinnya. Karena itu Kyara berteriak-teriak menyebutkan pembunuh."


"Ya ! Kamu benar, sepertinya ada orang yang tidak menginginkan anak itu. Kita harus menyelidiki hal ini, Gas !"


"Iya mbak. Aku juga penasaran, siapa yang tega melakukan perbuatan sekeji ini !" ujar Bagas sambil mengepalkan tangannya.


"Apa mungkin mantan pacarnya, Gas ?" tanya dokter Risa.


Bagas terhenyak, benarkah Ajay yang melakukan semua ini ? Jika memang benar, darimana dia tahu kalau Kyara hamil, bukankah selama ini Kyara menyembunyikan kehamilannya dari Ajay?


"Aku ke ruanganku dulu, Gas. Hubungi aku jika Kyara sudah sadar !" ujar dokter Risa, membuyarkan lamunan Bagas.


Dokter Risa pun pergi. Pikirannya masih melayang pada botol-botol kecil tadi. Bagaimana mungkin...? Darimana Kyara mendapatkan ramuan herbal itu ? batinnya.


Di kamar Kyara, Bagas menyandarkan tubuhnya ke sofa. Matanya terpejam, mencoba menarik kesimpulan dari kejadian tadi. Ada banyak kejanggalan dibalik tragedi ini. Tiba-tiba dia teringat pada jam tangan Ajay yang ditemukan Sisil di kamar kost Kyara. Apa mungkin Ajay yang melakukan semua ini ? Apa mungkin Ajay yang sudah memaksa Kyara ? Arrgh..., kepalaku rasanya mau pecah memikirkan semua ini....


****


Waktu terus bergulir. Namun sepertinya, tidak ada tanda-tanda jika Kyara akan segera sadar. Hingga menjelang sore pun, Kyara masih tetap terpejam.


"Assalamualaikum...!" seperti biasa, sepulang kerja Sisil menyempatkan diri untuk menjenguk Kyara.


"Waalaikumsalam." jawab Bagas.


"Hay Ra...! Apa kabar...? Kok tumben jam segini masih tidur...! Ini sudah mau magrib loh Ra...!" ujar Sisil.


"Sudah ! Jangan diganggu !" seru Bagas.


"Ish..., kau ini...! Terserah aku dong, mau...." kalimat Sisil menggantung begitu melihat tangan Bagas yang dibalut perban. "Ya Tuhan...! Kau kenapa ?" tanya Sisil, mendekati Bagas.


Bagas beranjak mengambil sejadah dan pecinya. "Tunggulah di sini ! Aku ke mesjid dulu, jangan tinggalkan dia !" perintah Bagas.


"Ish, tuan...! Kau belum jawab pertanyaanku ! Kau kenapa ? Kenapa tanganmu memakai perban ?" tanya Sisil kembali.


"Tidak apa-apa !" jawab Bagas sambil berlalu pergi meninggalkan Sisil.


Sebenarnya, Kyara telah sadar saat Sisil datang. Tapi dia enggan untuk membuka matanya, akhirnya dia terus berpura-pura tidur.

__ADS_1


"Lo tahu Ra...? Gue heran sama tuan si minim kosa kata. Kadang dia baik, kadang dia galak. Dia suka seenaknya kalau memberi perintah." Sisil mulai berbicara sendiri, mencoba mendeskripsikan sosok Bagas.


"Eh, lo pasti nanya, kenapa gue panggil dia si minim kosa kata...? Hmm...lucu ya Ra...!" ujar Sisil sambil tersenyum membayangkan wajah Bagas. "Ya..., itu karena dia pelit banget kalau ngomong, Ra...! Kalau ditanya, jawabannya cuman, ya, tidak, hmm..., ish, nggak ada kata lain, apa..? Gue rasa nih Ra, tuh cowok nggak lulus mata pelajaran Bahasa Indonesia kali, pas waktu sekolahnya, he...he..he..." kembali Sisil bercerita tentang Bagas.


"Tapi..., meskipun dingin dan jarang ngomong, sebenarnya dia baik juga, Ra... Dia selalu jagain lo 24 jam, sampai rela ketinggalan mata kuliahnya demi jaga elo. Ah... Ra, stok cowok kayak gitu kan dikit ya...! Limited edition tuh cowok...hi...hi..hi.." gurau Sisil.


Ting... sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk di ponsel Sisil.


"Kalau mau solat, suruh perawat jaga Kyara !" (Bagas)


"Kamu nggak balik lagi ke sini ?" (Sisil)


"Nunggu isya." (Bagas)


"Oh iya, tenang saja tuan, saya lagi PMS kok ! Saya jagain Kyara sampai tuan balik lagi." (Sisil)


"Hmm..." (Bagas)


"Tuh kan, Ra... Dia cuma bilang hmm..., padahal dia nitipin elo ke gue. Bukannya bilang makasih kek." gerutu Sisil sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Tangannya kenapa ya, Ra...? Apa dia jatuh...? Ih.., jadi kepo nih...he...he...


Sisil terus bercerita, tentang sosok Bagas, tentang bagaimana cara Bagas menjaga Kyara, tentang Bagas yang mendonorkan darah untuk Kyara, tentang kekhawatiran Bagas akan kondisi Kyara, tentang bu Rena yang selalu menanyakan keberadaan Kyara, tentang Aaron yang harus ke Singapore untuk jagain papanya, bahkan tentang pekerjaannya.


Dengan matanya yang masih terpejam, Kyara mendengarkan cerita Sisil. Sampai akhirnya, rasa kantuk menyerangnya kembali.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam ketika Bagas kembali.


"Kenapa tuan lama sekali...? Apa tuan tahu, aku sampai kelaparan gara-gara nungguin tuan datang...!" gerutu Sisil.


Bagas hanya menyerahkan bungkusan plastik ke arah Sisil.


"Ini buatku...?" tanya Sisil.


"Hmm..." jawab Bagas.


Sisil tersenyum, sumringah, "Terima kasih tuan, boleh aku bawa pulang ? Soalnya ini sudah malam ?" kembali Sisil bertanya.


"Hmm..."


"Ish, tuan...! Tak adakah jawaban yang lain selain kata hmmm..." ujar Sisil, kesal.


"Pulanglah !" kembali Bagas memberi perintah.


Sisil hanya menggelengkan kepala, melihat sikap cueknya Bagas. "Oke ! Aku pulang..., tapi besok aku ke sini lagi..!"


Setelah Sisil pulang, Bagas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak berapa lama, dia keluar dan menghampiri Kyara. Bagas memegang tangan Kyara yang semakin kurus.


Kyara terjaga, merasakan sentuhan yang dingin di kulit tangannya. Tapi dia tidak berani untuk membuka mata. Dia pun membiarkan Bagas menggenggam tangannya.


"Nona, kenapa jadi seperti ini...? Sadarlah...! Ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi padamu ? Apa ada orang yang telah menyakitimu ? Bicaralah nona ! Nona bisa berbagi beban denganku, apa yang sebenarnya nona rasakan saat ini ? Aku berjanji akan selalu mendampingimu, katakanlah nona...! Aku mohon, ringankanlah tanggungjawabku terhadap Aaron. Sadarlah...! Kita hadapi semua ini bersama...!"


Bagas meraih tangan kurus itu, kemudian mengecupnya. Ah..., entah apa yang mendorongnya sehingga Bagas berani melakukan hal itu. Satu yang ada dalam pikirannya, dia harus melindungi gadis itu sebelum Aaron kembali.


Malam pun semakin larut, hingga Bagas tertidur di samping Kyara.


Bersambung....


Jangan lupa like, vote n komennya....

__ADS_1


Makasih...


__ADS_2