
Brakk....!!!
Tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya, menjatuhkan barang dagangan yang sedang ditatanya. Wajahnya seketika terlihat pucat saat mendengar Bagas menanyakan orang yang bernama Aneng di kios depan.
"Kenapa ceu ?"
Tanya seorang pemilik kios pakaian.
"Tidak apa-apa, ini hanya kurang fokus saja." jawab ibu paruh baya tersebut sambil terus memperhatikan Bagas.
"Mohon maaf, kang...! Saya tidak tahu sama yang namanya Aneng."
Jawab seorang lelaki pemilik kios pakaian yang tadi ditanya oleh Bagas.
"Benarkah ? Apa di sini tidak ada gadis penjual perhiasan manik-manik yang bernama Aneng ?" tanya Bagas lagi.
"Setahu saya, di sini tidak ada penjual manik-manik yang bernama Aneng. Kios manik-manik hanya ada tiga toko, kang. Yang satu, itu di depan saya !" pedagang pakaian itu menunjuk kios seorang wanita paruh baya tadi.
"Yang dua lagi, berada di ujung pasar. Akang bisa pergi ke ujung untuk mengecek kiosnya !" lanjut pedagang pakaian itu.
Bagas melirik kios yang ditunjukkan oleh pedagang pakaian. Di sana tampak seorang wanita paruh baya sedang mengumpulkan barang dagangannya.
Hmm..., penjaganya seorang ibu-ibu tua, tidak mungkin kios itu milik Kyara. Mungkin ada baiknya aku mencari lagi ke ujung kios. Siapa tahu salah satu kios di ujung sana, milik Kyara.
"Terima kasih, pak ! Kalau begitu, saya permisi dulu !" pamit Bagas.
Melihat kepergian Bagas. Ibu paruh baya pemilik kios yang tak lain adalah bu Ratna, segera membereskan barang dagangannya.
"Loh..., bu Minar mau kemana ?" tanya rekan pedagang di sebelahnya.
"Sa... saya merasa pusing..., ceu ? Saya mau tutup saja supaya bisa istirahat di rumah." jawab bu Ratna.
"Oh, begitu ! Anaknya kemana, bu ?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Anak saya sedang ke mushola untuk salat dzuhur."
"Oh, ya sudah...! Mari, saya bantu untuk membereskan dagangannya !" tawar wanita pemilik kios pakaian itu.
"Iya, terima kasih ceu !" ujar bu Ratna yang kini telah merubah namanya menjadi Minar, agar tidak diketahui banyak orang.
Setelah selesai membereskan dagangannya dan menutup kiosnya, bu Ratna pun segera pergi ke mushola untuk menemui Kyara dan mengajaknya pulang. Bu Ratna takut jika Kyara bertemu dengan pemuda yang menanyakannya tadi.
Meskipun bu Ratna tidak mengenalnya, tapi bu Ratna yakin jika melihat gayanya, pemuda itu pastilah pemuda kota. Dan bu Ratna tidak mau jika anaknya berhubungan lagi dengan pemuda kota.
Hampir 2 jam Bagas berkeliling mencari sosok Kyara di pasar wisata itu. Namun, pencariannya tidak membuahkan hasil. Pada akhirnya, sebuah pesan dari kakaknya yang mengajaknya kembali ke kota B, memaksa Bagas menghentikan pencariannya.
Dengan perasaan tak menentu, akhirnya Bagas kembali ke hotel. Sikap Bagas yang kembali diam sepanjang perjalanan, membuat kakak dan kakak iparnya heran. Bahkan kali ini, Bagas meminta izin untuik membawa mobil kakak iparnya.
Mungkin dengan gue nyetir, gue bisa fokus dan melupakan Aneng yang dibicarakan kak Indah tadi. Ah Kya..., apa kita bisa bertemu kembali.. ? Sekali saja kita bisa bertemu, maka aku yakin kamu adalah takdirku. Dan aku pasti akan memperjuangkanmu untuk menjadi pendampingku...
***
Di kediaman Ajay.
Cecilia yang mendapatkan perhatian lebih dari Ajay yang kini telah menjadi suaminya, tentulah sangat senang. Harapan Cecilia menjadi istri dari seorang pewaris utama keluarga Sanjaya, kini telah tercapai gara-gara bayi yang sedang dikandungnya. Karena itu, Cecilia berusaha dengan baik untuk selalu menjaga kandungannya. Agar kelak, bayinya lahir dengan sehat dan sempurna.
***
Bagas tidak ingin membuang waktu lagi. Terlebih lagi saat melihat kebersamaan tetangganya yang penuh keromantisan. Entahlah, hati Bagas selalu merasa sakit saat melihat kemesraan Ajay dan istrinya. Bukan karena merasa cemburu atas pernikahan mereka, namun Bagas selalu teringat wajah sendu Kyara setiap kali melihat pasangan itu. Karena itu, hari ini Bagas pergi ke kantor tuan Ali untuk membahas penjualan aset keluarganya.
"Apa kau sudah pikirkan dengan baik niatmu itu, nak ?" tanya tuan Ali yang merasa heran dengan maksud Bagas menemuinya.
Awalnya tuan Ali menyangka jika Bagas menemuinya, untuk membicarakan peralihan perusahaan milik almarhum ayah Bagas. Tapi dia sangat terkejut ketika Bagas mengutarakan maksudnya untuk menjual seluruh aset yang dimiliki oleh keluarganya.
"Sudah om..! Bagas sudah memikirkan semua ini dengan matang. Bagas pula sudah meminta izin kak Indah dan kak Gunawan, alhamdulilah mereka menyetujui rencana Bagas untuk menjual perusahaan peninggalan ayah dan juga rumah kami. Karena itu, Bagas mohon bantuan om untuk mencarikan pembelinya, barangkali rekan-rekan om ada yang berminat, atau mungkin om sendiri berminat untuk membeli semua aset keluarga Bagas" jawab Bagas.
"Hhhh....!"
__ADS_1
Tuan Ali menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Baiklah Gas ! Biar om yang membeli seluruh aset keluarga milik kalian. Bukannya apa-apa, perusahaan ini adalah perusahaan yang dirintis dari nol, oleh almarhum ayahmu. Om sangat menghormati beliau. Karena itu, om tidak rela jika perusahaan ini jatuh ke tangan orang lain. Urusan rumah, biar om juga yang beli. Om butuh rumah untuk Bima. Kelak, Bima pasti berumah tangga. Dan om mau, jika kedua anak om, selalu berada dekat dengan om.
Mata Bagas berkaca-kaca saat tuan Ali berniat membeli keseluruhan aset keluarganya. Untuk yang kesekian kalinya, Bagas mendapatkan bantuan dari keluarga sahabat almarhum ayahnya. Dan Bagas bersyukur akan hal itu.
Akhirnya, kesepakatan pun telah terjadi di antara mereka. Tuan Ali membeli seluruh aset Bagas dengan harga yang cukup fantastis. Dia ingin, Bagas bisa hidup lebih baik di kota yang akan ditempatinya nanti.
"Terima kasih atas bantuannya, om !" jawab Bagas.
"Tidak perlu sungkan, Gas. Kamu sudah seperti anak om sendiri. Sudah kewajiban om untuk membantu dan mengikuti semua keinginan kamu. Dan jika suatu hari nanti kamu menginginkan semua ini kembali, bicaralah nak ! Om janji, om tidak akan menjual aset keluargamu kepada orang lain, sekalipun perusahaan om sedang tidak stabil." lanjut tuan Ali.
"Iya om, Bagas percaya sama om ! Insyaallah, Bagas akan gunakan hasil penjualan aset ini sebaik mungkin."
Tuan Ali berdiri. Dia mendekati Bagas dan menepuk pelan pundak anak sahabatnya itu.
"Om percaya, dan om sangat yakin, kelak kamu akan menjadi pengusaha yang sukses seperti almarhum ayahmu."
"Aamiin...! Kalau begitu, Bagas permisi dulu om ! Bagas mau membereskan barang-barang yang ada di rumah, biar om bisa segera mengatur semuanya."
"Tidak perlu terburu-buru, Gas ! Lagipula, Bima sudah memutuskan untuk tinggal di rumah utinya."
"Baiklah om ! Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya ! Assalamualaikum..."
"Sama-sama, nak ! Waalaikumsalam...!"
Setelah mengucap salam, Bagas pun segera pergi dari kantornya tuan Ali.
Alhamdulillah...., satu urusan telah selesai, tinggal satu lagi. Aku harus segera menemui Wawan dan Agus untuk menyerahkan semua urusan bengkel pada mereka. Semoga Engkau ridho dengan jalan yang kutempuh, Ya Rabb....
Bersambung...
Terima kasih atas kunjungannya ke novel ini...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini...
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗