
Lepas asar, akhirnya Kyara tiba di rumahnya.
"Assalamualaikum...!" sapa Kyara.
"Waalaikumsalam...!" bu Ratna datang untuk membukakan pintu. "Alhamdulillah..., kamu sudah datang, neng..! Ayo, masuk...! Sini, ibu bantu bawa kopernya..!" ujar bu Ratna.
"Nggak usah bu, berat..!" tolak Kyara. "Ibu, sehat..?" tanyanya lagi.
"Alhamdulillah, ibu sehat nak. Kamu sendiri, bagaimana ? Kok, ibu lihat, kamu agak kurusan neng..?" tanya bu Ratna sambil mengamati wajah Kyara yang sedikit tirus.
"Mungkin cuma kecapean saja, bu. Tapi Aneng sehat kok, bu..! Ayah, mana ?" tanya Kyara mengalihkan pembicaraan.
"Ayahmu masih narik, nak...! Ya, sudah kamu istirahat dulu, pasti capek..!" perintah bu Ratna.
"Iya, bu..!" jawab Kyara seraya pergi ke kamarnya.
***
Selepas solat magrib. Kyara dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang keluarga.
"Bagaimana keadaan di sana, neng ? Apa semuanya sehat ?" tanya pak Ahmad memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah, semuanya sehat yah..? Oh iya, Aneng mau tunjukkan sesuatu pada kalian. Sebentar ya...!"
Kyara pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian dia kembali lagi ke ruang keluarga.
"Lihatlah..!"
Kyara menunjukkan beberapa foto rumah yang tadi dikirim Bagas, kepada orang tuanya.
Bu Ratna membelalakkan matanya, "Subhanallah...! Rumah siapa ini, neng...?" tanyanya. "Cobi tingali, pak..! Ni agreng kieu..!" ( coba lihat, pak ! Megah sekali..! ) ujar bu Ratna sambil menyerahkan ponsel Kyara kepada suaminya.
Pak Ahmad mengambil ponsel itu. Dia memang terkejut, tapi dia terkejut karena tingkat kekhawatirannya terhadap anak gadisnya semakin lebih tinggi. Pak Ahmad takut jika suatu hari nanti, Kyara justru akan dikecewakan oleh Ajay. Sudah banyak sejarah yang berbicara tentang tingkah laku semena-mena seorang suami yang kaya raya terhadap istrinya yang miskin.
"Ini rumah pemberian eyang akung buat Ajay sama Aneng." jawab Kyara.
"Neng, boleh ayah tanya sesuatu ?" ujar pak Ahmad sambil mengembalikan ponselnya kepada istrinya.
Kyara mengangguk.
"Apa kamu yakin akan menikah dengannya ? Maksud ayah, apa dia mencintaimu, nak..? Entahlah.., kok hati ayah seperti tidak rela memberikan kamu kepada laki-laki itu. Ini kedua kalinya, dia membiarkan kamu pulang seorang diri. Ayah takut, neng. Ayah takut dia hanya akan menyia-nyiakan kamu, nak..!" ujar pak Ahmad, lirih.
Kyara menghampiri ayahnya, kemudian bersimpuh di hadapan ayahnya. Dia memegang tangan pak Ahmad, menatap wajah ayahnya, "Tidak usah khawatir, yah. Aneng yakin dengan keputusan Aneng." jawab Kyara.
"Iya, bapak tidak usah terlalu khawatir. Ibu kenal nak Ajay, dia orang yang sangat baik dan sopan. Dia tidak bisa mengantar Aneng pulang, mungkin karena memang dia sedang sibuk, pak. Bukan begitu, neng.. ?" ujar bu Ratna mencoba menenangkan hati suaminya.
Kyara mengangguk. Dia sudah berubah, bu...! Dia bukan Ajay yang dulu...! Dia sudah sangat berubah... batin Kyara.
"Sudah malam, yah..! Aneng mau istirahat..! Besok Aneng mau kembali ke panti." ujar Kyara.
"Ya, sudah..! Istirahatlah...!" perintah pak Ahmad.
Kyara pun masuk ke kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih bersantai di ruang keluarga.
***
__ADS_1
Kyara tiba di panti sekitar pukul 7 pagi.
"Bunaaaa.....!"
Teriakan seorang gadis kecil yang berlari ke arahnya, membuat senyum Kyara semakin mengembang. Hatinya selalu terasa hangat ketika memeluk gadis cilik itu. Bagi Kyara, selain kedua orang tuanya, Kiki juga sumber kekuatannya untuk menjalani kehidupannya.
"Apa kabar putri bunda yang cantik ini..?" sapa Kyara sambil memeluk Kiki.
Kiki melepaskan pelukannya, "Baik, buna..., tenapa buna pelgi lama...?" tanya Kiki dengan suara cadelnya.
"Uuh...sayang...! Maafin bunda ya...! Bunda ada urusan dulu..! Tapi sekarang, bunda nggak akan pergi lagi...!" ujar Kyara merasa bersalah karena telah meninggalkan Kiki terlalu lama.
"Janji...?" tanya Kiki.
"Janji...!" ujar Kyara sambil mengacungkan kelingkingnya.
"Holle.. !" Kiki tersenyum seraya mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Kyara.
Tiba-tiba, Anti menghampiri Kyara. "Sudah pulang, Kya.?"
"Eh iya, mbak...!" jawab Kyara, berdiri.
"Aku dapat amanat dari bu Hana, katanya kalau kamu pulang, kamu disuruh menghadap bu Hana, tuh..!" ujar Anti, ketus.
Kyara merasa heran, "Ada apa ya, mbak..?" tanyanya.
Anti menggedikkan bahunya, "Mana kutahu..? Sudah, temui dulu sana..!" ujarnya.
Kyara mengangguk, "Aku pergi dulu ya, mbak ! Titip Kiki !"
Tok...tok... tok...
"Assalamualaikum...!" sapa Kyara.
"Waalaikumsalam..! Masuk...!" perintah bu Hana.
Kyara membuka pintunya. "Permisi, bu...!"
"Ah, Kyara...! Sudah pulang kamu, nak..! Mari...! Duduklah..!' perintah bu Hana.
Kyara menarik salah satu kursi tamu yang berada di depan meja kerja bu Hana. Dia kemudian duduk.
"Kata mbak Anti, ibu mencari saya, kalau boleh tahu, ada apa ya, bu ? Apa saya melakukan kesalahan ?" tanya Kyara agak ketakutan jika dirinya dipanggil karena memiliki kesalahan.
"Aaah...tidak, nak...! Kamu tidak melakukan kesalahan. Ibu hanya ingin berbicara saja sama kamu." jawab bu Hana.
"Alhamdulillah...!" Kyara menarik napasnya, lega. "Kalau boleh tahu, soal apa ya, bu..?" tanya Kyara lagi.
"Begini Kya.., seminggu yang lalu, tanpa sengaja ibu bertemu dengan ibumu di pasar. Beliau menceritakan tentang hubunganmu dengan tunanganmu. Ibumu bilang, calon suamimu meminta waktu 2 tahun untuk menyelesaikan kuliahnya dulu. Setelah itu baru kalian menikah. Apa itu benar, nak ?"
Kyara mengangguk.
"Apa tidak terlalu lama, nak..?" tanya bu Hana lagi.
"Memang lama, bu. Tapi..., insyaallah.., Kya akan menunggunya, bu." jawab Kyara.
__ADS_1
"Baiklah..! Ibu punya penawaran yang bagus untuk kamu, nak..! Bagaimana, sambil menunggu, kamu lanjutkan pendidikan kamu, nak..!" ujar bu Hana.
"Maksud ibu...?" tanya Kyara, heran.
"Begini sayang, ibu lihat, kamu anak yang cerdas. Usia kamu juga masih sangat muda. Panti ini membutuhkan orang-orang yang berpotensi seperti kamu untuk bisa terus bertahan. Namun sayangnya, potensi saja tidaklah cukup untuk meyakinkan para donatur untuk menitipkan sebagian hartanya di panti ini. Mereka juga butuh legalitas dan pengakuan yang sah bagi seorang staf administrasi panti. Karena itu, ibu ingin kamu kuliah nak, setidaknya untuk mendapatkan gelar sarjana. Ibu sudah tua, dan butuh orang yang bisa membantu ibu dalam mengurus panti ini. Ibu sudah tawarkan pada Anti, tapi dia menolaknya, hanya kamu satu-satunya harapan ibu. Lagipula 2 tahun bukan waktu yang singkat, nak. Kamu bisa menunggu pernikahan kamu, sambil kuliah. Bagaimana, nak...?"
Kyara termenung mendengar perkataan bu Hana. Kuliah..? Sungguh kata-kata itu sudah Kyara kubur dalam-dalam dari ingatannya. Bukan karena tidak ingin, tapi Kyara tidak punya uang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan sekarang, gajinya saja hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup kedua orang tuanya, apa dia mampu untuk berkuliah...? batinnya.
"Kya..., sayang...! Bagaimana...?" tanya bu Hana membuyarkan lamunan Kyara.
"Ma... maafkan Kya, bu..! Bukannya Kya menolak tawaran ibu, tapi jujur saja..., Kya tidak punya uang untuk melanjutkan pendidikan Kya, bu..!" jawab Kyara perlahan.
Bu Hana menghela napasnya, "Tapi, kamu minat kan...?" tanya bu Hana lagi.
Kyara diam, tidak tahu harus bilang apa...
"Ya, sudah ! Kamu pikir-pikirlah dulu, jika sudah ada keputusan, kamu hubungi ibu..! Untuk urusan biaya, biar nanti ibu bicarakan dengan pihak pengawas panti." ujar bu Hana.
Kyara mengangguk.
"Baiklah, sekarang kamu boleh kembali bekerja, Kya !" ujar bu Hana.
"Baik, bu. Kya permisi dulu. Assalamualaikum..!" pamitnya.
"Waalaikumsalam..."
***
"Aku antar kamu pulang !" tawar Cecilia yang melihat Ajay sedang bersiap diri untuk pulang.
Kondisi Ajay sudah semakin membaik. Bahkan jahitan di pelipisnya pun sudah dibuka. Dan hari ini, dokter sudah mengizinkan Ajay untuk pulang.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri !" jawab Ajay, datar.
Menarik...! Pria yang cukup menarik..! batin Cecilia.
"Tapi, tuan..! Anda seperti ini, gara-gara aku ! Setidaknya beri aku kesempatan untuk membantumu, anggap saja ini hanya untuk menebus kesalahanku." ujar Cecilia dengan wajahnya yang memelas.
"Ajay ! Namaku Ajay ! Dan jika kau ingin menebus kesalahanmu, tolong panggilkan aku taksi, sekarang juga !" jawab Ajay ketus.
Cecilia diam. Dia menatap Ajay lebih dalam lagi, seolah sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di balik sikap dinginnya Ajay.
Ajay yang mendapati tatapan tajam dari Cecilia, langsung mengalihkan pandangannya. Dia benar-benar kikuk dengan tatapan Cecilia yang seolah menantangnya.
"Baiklah, jika kau tidak bisa melakukannya. Biar aku lakukan sendiri !"
Ajay pun pergi meninggalkan Cecilia yang masih terpaku atas sikap dingin Ajay.
Tiba-tiba, senyum tipis tersungging di bibir Cecilia. Pergilah wahai lelakiku...,aku yakin suatu hari nanti aku pasti akan menemukanmu kembali. Karena engkau adalah jodohku !
Bersambung....
Alhamdulillah..., bisa up untuk hari ini. Semoga masih suka ceritanya yaaa
Jangan lupa kritik, saran dan komentarnya..
__ADS_1
Ditunggu boomlike nya yaaa...🙏🙏