Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Pukul 23.02. Kyara tiba di rumahnya.


Klek....!


Kyara membuka kunci pintu rumahnya dengan perlahan. Dengan mengendap-endap dia pun memasuki rumahnya. Suasana di ruang tamunya sudah sangat gelap. Hmm, pasti semua orang telah tertidur.., gumam Kyara dalam hati. Namun saat dia hendak menaiki tangga,


"Sudah pulang ?"


Kyara terhenyak kaget mendapati suaminya tengah berdiri di dekat sofa ruang keluarga. Kyara pun menghampiri suaminya.


"Ka..kang...be.. belum tidur ?" tanya Kyara tergagap.


"Menurutmu ?" jawab Bagas datar.


"Kakang, aku...aku bisa jelaskan, tadi.. aku....."


"Pergilah ! Bersihkan dirimu !" ujar Bagas seraya pergi menuju ruang kerjanya.


"Kakang, aku mohon jangan seperti ini, aku...."


"Aku tidak suka mengulang pembicaraanku !" bentak Bagas


BRAKK....


Bagas membanting pintu ruang kerjanya, membuat Kyara terhenyak dan diam mematung di depan pintu ruang kerja Bagas.


Tanpa terasa, air mata pun mulai meleleh di kedua pipi Kyara. Sejurus kemudian, Kyara berlari menuju kamarnya.


Bagas duduk di kursi kebesarannya. Dia menyandarkan punggungnya dan menengadahkan kepalanya. Matanya terpejam. Sakit...! Tentu saja sakit hatinya ketika harus memperlakukan istrinya seperti itu. Tapi Bagas tidak punya pilihan lain. Dia terlalu takut untuk mendengarkan alasan istrinya kenapa menjenguk Ajay tanpa sepengetahuannya.


Beberapa menit kemudian.


Ceklek....


Kyara membuka pintu kamar kerja Bagas yang memang tidak di kunci. Dia kemudian mendekati suaminya.


"Kakang, sudah malam, kita tidur di kamar, yuk !" ajak Kyara pelan.


"Tidurlah ! Aku masih banyak pekerjaan !" jawab Bagas tanpa menoleh kepada Kyara.


"Kakang..., Kya mohon..! Ini sudah malam, besok kan kakang masih punya waktu untuk mengerjakannya !" rengek manja Kyara.


"Pergilah ! Aku benar-benar sibuk !" usir Bagas.


"Cukup kakang ! Jangan kekanak-kanakan seperti ini ! Kamu tidak bisa mendiamkanku tanpa alasan !" Kyara mulai meninggikan nada bicaranya.


Bagas mulai tersulut emosi melihat istrinya menuduhnya bersikap kekanak-kanakan.


"Tanpa alasan katamu ? Kamu pergi ke tempat mantan tunanganmu tanpa izin dariku, masih berani kamu bilang tanpa alasan ? Apa kamu lupa kalau kamu memiliki suami ?" bentak Bagas


"Oh, jadi kamu marah hanya karena aku pergi menjenguk Ajay ? Dengar kakang, dia sedang sakit dan Nita membutuhkan bantuanku untuk menyadarkan dia, supaya Nita bisa mengobatinya. Dan asal kamu tahu kakang, semua ini juga terjadi karena kesalahanmu !" Kyara balas membentak Bagas.


"Salahku ? Semuanya salahku ? Katakan apa salahku ? Di mana letak kesalahanku ?" teriak Bagas seraya mencengkeram tangan Kyara.


"Lepaskan kakang ! Kau menyakitiku !" Kyara menghempaskan tangan suaminya


Bagas tersenyum sinis. "Lalu, katakan apa salahku ?"


"Kamu egois kakang ! Kamu yang membuat Ajay sampai masuk rumah sakit jiwa ! Kalau saja kakang bisa sedikit lebih terbuka sama Kya, dia... dia tidak akan mungkin sampai dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Apa ini yang namanya persahabatan ? Kenapa kakang lakukan semua itu ? Apa karena cinta ? Apa karena kakang takut kehilangan Kya ? Lalu kakang anggap apa Kya ? Apa kakang pikir Kya masih orang yang lemah, sehingga Kya akan kembali jatuh cinta pada orang itu ? Kya bener-bener nggak nyangka jika cinta bisa membuat kakang berubah seperti itu ? Di mana kakang Bagas yang Kya kenal dulu, yang selalu menghargai persahabatan, meski kakang tahu Ajay memperlakukan Kya dengan buruk, tapi kakang masih bisa menghargai Ajay sebagai sahabat kakang. Di mana Bagas itu ?"


Dengan berurai air mata, Kyara mencoba mengungkapkan isi hatinya.


Bagas terkejut mendengar semua perkataan Kyara yang penuh emosi. Dia mundur beberapa langkah. Hatinya semakin sakit karena Kyara menyalahkan dirinya atas kejadian Ajay yang dibawa ke rumah sakit jiwa.


"Aku hanya menjaga perasaan istriku, apa itu salah ? Aku hanya menjaga cintaku, apa itu salah ?" tanya Bagas lirih.


"Ya ! Itu salah kakang ! Semua itu salah ! Kakang bukan menjaga perasaan Kya, tapi kakang menganggap Kya lemah ! Kakang bukan menjaga cinta, tapi kakang hanya menjaga gengsi kakang, keegoisan kakang !"


"CUKUP KYARA ADISTYA...!! CUKUP !"


Bagas sudah tidak bisa menerima lagi tuduhan istrinya. Ternyata, apa yang selama ini dia lakukan, itu tidak pernah cukup berharga di mata istrinya.


BRAKK....


Bagas keluar dari ruang kerjanya dan kembali membanting pintunya. Dia meraih kunci mobilnya di atas meja televisi, kemudian pergi menuju garasi. Bagas mengeluarkan mobilnya, secepat kilat dia melajukan mobilnya entah kemana.


Sementara itu di ruang kerja. Tampak Kyara duduk mendekap erat kedua lututnya. Dia kembali menggoyangkan badannya untuk mencari ketenangan. Pikirannya benar-benar kacau. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia sanggup mengatakan semua itu.


"Bukan..., bukan ini yang aku mau...! Aku mohon..., kembali kakang....! Jangan tinggalin Kya...! Kya takut...,hu...hu...hu..., jangan pergi..., jangan...!" racau Kyara dalam tangisnya.


Malam pun sudah semakin larut. Kyara pun mulai bangkit dan pergi ke kamarnya. Tiba di kamar, Kyara pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya yang terasa lengket karena air mata. Setelah itu dia kembali dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pertengkaran hebatnya dengan suaminya telah menguras seluruh energinya.


Kyara meraih ponselnya di atas nakas, Pukul 01.25. Kyara mencoba menghubungi nomor suaminya, namun tidak tersambung. Sepertinya Bagas sengaja mematikan ponselnya. Tiba-tiba Kyara teringat akan foto hasil USG-nya, dia pun segera meraih tasnya dan mengambil foto itu dari dalam tasnya.


Air mata Kyara kembali membasahi pipinya saat menatap foto itu. Kyara mengusap-usap perutnya yang masih datar.


"Assalamualaikum sayang..., baby bunda..., terima kasih karena sudah hadir di rahim bunda. Bunda janji, bunda akan selalu menjagamu, nak ! Maafkan bunda, karena bunda belum sempat memberitahu kehadiranmu kepada abap. Insyaallah, secepatnya ya nak ! Bantu do'a, semoga semua permasalahan bunda sama abap bisa segera terselesaikan.." gumam Kyara.


Karena merasa lelah, akhirnya Kyara pun mulai terlelap sambil memeluk foto hasil USG tersebut.


Di waktu yang sama, di apartemen Alexandria.

__ADS_1


Bagas segera memasuki kamar mandinya.


Brugh...!


Kembali dia memukul dinding kamar mandi untuk melampiaskan semua amarahnya.


"Kenapa Kya...? Kenapa...? Apa aku memang tidak cukup pantas untuk menjadi suamimu ? Apa jauh di lubuk hatimu, kamu masih mencintai Ajay ? Katakan padaku, jujurlah padaku ! Jangan buat aku gila dengan semua keraguan ini...!"


"Aargghh....!"


Bagas menelungkupkan wajahnya di atas kedua lututnya. Dia pun mulai terisak, ada rasa sesal karena sikapnya yang telah membentak Kyara. Entah apa yang akan dia lakukan jika dia masih berhadapan dengan Kyara. Bagas merasa beruntung karena di saat yang tepat, tiba-tiba dia teringat akan dokumen yang harus dibawanya esok hari ke Samarinda.


Setelah merasa lelah, Bagas pun segera membersihkan dirinya. Kemudian dia kembali ke atas ranjang dan mulai terlelap. Untuk pertama kalinya mereka tidur terpisah.


***


Keesokan harinya...


Bagas mengerjapkan matanya saat sinar mentari mulai menyeruak melalui celah jendela kamarnya. Dia kemudian melihat jam tangan yang diletakkannya di atas nakas.


"Astaghfirullah hal adzim..., sudah jam 6 pagi ! Ya Allah, aku benar-benar kesiangan."


Bagas segera pergi ke kamar mandi. Dia mengutamakan berwudhu dulu, karena waktu subuh sudah benar-benar habis. Tapi Bagas yakin, Tuhan Maha Mengetahui segalanya. Setelah selesai solat, dia kembali ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara itu di Perumahan Elite Taman Sari.


Kyara turun dengan wajah sayunya. Dia melihat asisten rumah tangganya sedang memasak. Ah, ternyata bik Lilis sudah kembali bekerja, batinnya.


Kyara melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja suaminya. Dia kemudian membuka pintu ruang kerja, berharap bisa menemukan suaminya di sana. Namun harapan Kyara sirna saat melihat ruangan itu kosong tak berpenghuni. Akhirnya Kyara pun menutup pintu ruangan itu, dan kembali melangkahkan kakinya menuju dapur.


Hanya tinggal beberapa langkah menuju dapur, tiba-tiba Kyara merasa perutnya bergejolak.


"Huummpppp..."


Kyara membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Dia kemudian berlari menuju kamar mandi.


"Hooeekk... hooeekk..."


Kyara menunduk ke arah wastafel kemudian memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening saja. Kyara terus saja muntah, hingga tubuhnya terasa lemas. Ya Allah..., apa aku akan mengalami morning sick seperti dulu..., batinnya.


"Bu...! Ibu kenapa...! Ibu baik-baik saja...!"


Tok...tok...tok...


Bik Lilis terus mengetuk pintu kamar mandi karena merasa khawatir dengan keadaan majikannya.


"Iya, bik ! Kya baik-baik saja..!" jawab Kyara dari dalam kamar mandi.


"Apa ibu sakit ? Mau bibik kerokin ?" tawar bik Lilis.


"Nggak usah bik, Kya baik-baik aja kok ! Bibik masak apa ?" tanya Kyara mengalihkan pembicaraan.


"Bibik masak sayur asam sama goreng ikan, bu. Apa ibu mau makan sekarang ?" tanya bik Lilis


"Tolong di masukin kotak makan saja ya, bik ! Hari ini, Kya berangkat pagi !" jawab Kyara.


"Baik bu !"


"Ya udah, Kya ke atas dulu ya bik. Mau siap-siap !"


"Iya, mangga bu !


Kyara pun kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat sekolah.


***


Apartemen Alexandria.


Bagas terlihat terburu-buru memasukkan pakaiannya ke dalam kopernya. Dia benar-benar sudah sangat terlambat. Penerbangannya pukul 09.00, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 Bagas hanya punya waktu sekitar satu jam untuk tiba di bandara. Sedangkan dia masih harus ke rumahnya untuk bertemu Doni di sana.


"Bos, apa kau sudah siap ?" tanya asistennya di ujung telpon.


"Ya, sebentar lagi aku berangkat Don ! Kamu tunggu aku di rumah !" jawab Bagas


"Oke bos !"


Setelah semuanya siap, Bagas pun kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Tiba di rumahnya, Doni sudah menunggunya di depan pintu utama. Bagas segera berlari menghampirinya.


"Mana berkasnya, Don !" tanya Bagas


"ini bos ! Semuanya sudah lengkap di dalam map ini." jawab Doni seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.


"Oke, thanks !"


"Bos, apa bos yakin mau berangkat sendirian ?" tanya Doni ragu.


Entah kenapa tiba-tiba saja Doni merasa cemas akan keselamatan bos nya.


"Jangan khawatir, Don ! Aku pergi hanya 2 hari kok. Meeting dengan tuan Lee, lebih penting jadi kau harus bisa menanganinya. Aku percayakan perusahaanku padamu !"


"Siap bos !"

__ADS_1


"Oh iya, apa surat-surat yang kupinta sudah kau buatkan ?"


"Insyaallah, masih dalam proses bos, mungkin dalam 3 atau 4 hari bisa selesai.


"Baiklah, aku percaya padamu ! Kau memang selalu bisa kuandalkan. Satu lagi, tolong titip istriku selama aku pergi, katakan padanya aku mencintainya."


Untuk sejenak Doni terpaku karena merasa aneh dengan semua ucapan bos nya.


"Ya sudah, aku pergi dulu !" pamit Bagas.


Baru saja Bagas hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba bik Lilis keluar dari dalam rumah.


"Tunggu sebentar pak !" teriak bik Lilis.


Bik Lilis menghampiri majikannya.


"Ini ada titipan dari ibu !"


Bik Lilis pun menyerahkan sebuah amplop putih kepada tuannya. Bagas menerimanya dan memasukkan amplop tersebut ke dalam saku jas nya.


"Terima kasih ya, bik ! Titip rumah sama Kyara ya, bik !" pinta Bagas.


"Baik pak !" jawab bik Lilis yang merasa heran dengan sikap majikannya.


***


"Apa dia sudah berangkat ?"


"Ya, bos ! Dia sudah berangkat."


"Baguslah ! Sekarang kau telpon anak buahmu ! Pantau terus pergerakannya di sana !"


"Siap bos !"


Seringai menyeramkan terukir di bibirnya.


Sementara itu di rumah sakit jiwa Sumber Harapan. Ajay tampak gelisah menunggu kabar dari seseorang yang sangat dinantikannya. Berulang kali dia melihat ponselnya, tapi sama sekali tak ada notifikasi yang masuk. Tiba-tiba saja, dia teringat dengan dokter Nita yang kemarin memberikan nomor telponnya.


Hmm, bukankah dokter perempuan itu temannya Kyara dan dia bilang, dia juga temanku. Baiklah akan aku hubungi dia untuk menanyakan kabar Kyara.


Ajay pun mulai mencari nama dr Nita di ponselnya.


"Assalamualaikum...!" (dokter Nita)


"Waalaikumsalam.., apa kabar dok ! Saya Ajay tunangannya Kyara, apa dokter masih ingat ?" (Ajay)


"Ah ya, tentu saja saya ingat ? Apa ada yang bisa saya bantu, pak ?" (dokter Nita)


"Saya ingin menghubungi Kyara, tapi saya tidak tahu nomornya, apa dokter bisa membantu saya ?" (Ajay)


"Waduh, mohon maaf pak ! Itu di luar wewenang saya. Kebetulan saya dan Kyara mempunyai komitmen untuk tidak memberitahukan nomor telpon kepada orang lain tanpa izinnya. Kalau bapak mau, nanti saya akan meminta Kyara untuk menghubungi bapak." (dokter Nita)


"Begitu ya ! Kyara janji akan menghubungi saya, tapi sampai sekarang, dia tidak ada menghubungi saya. Apa Kyara lupa sama janjinya." (Ajay, terdengar lesu )


"Jangan terlalu suudzon pak ! Setahu saya, kalau jam segini, Kyara memang sedang mengajar di kelasnya. Bapak tunggu saja sebentar lagi. Mungkin di jam istirahat kedua, Kyara akan menghubungi bapak." (dokter Nita)


"Dok, bisakah anda tidak memanggilku bapak ? Kesannya seperti saya sudah tua saja, he..he...!" (Ajay)


"Ah anda bisa saja.. he...he..! Baiklah, tapi dengan satu syarat." (dokter Nita)


"Apa itu, dok ?" (Ajay)


"Anda juga jangan memanggil saya dokter, bisa kan ?" (dokter Nita)


"Baiklah, anda temannya Kya, dan teman Kya adalah temanku juga. Oke Nita, mulai hari ini kita berteman, deal !" (Ajay)


"Oke, deal ! Untuk urusan Kyara, nanti saya akan coba hubungi. Kamu tidak usah terlalu banyak pikiran, ya ! Itu sangat tidak baik untuk kesehatan kamu !" (dokter Nita)


"Baiklah ! Sampai jumpa lagi, Nit ! Bye...!"


Ajay pun menutup telponnya sambil senyum-senyum sendiri.


"Ah, Kya...., aku merindukanmu...!"


***


"Apa kau sudah melihatnya ?"


"Ya bos ! Dia baru saja keluar dari bandara."


"Oke, tetap awasi pergerakannya. Cari tahu di mana dia menginap. Sebentar lagi anak buahku akan segera tiba di sana."


"Oke bos !"


Kembali seringai sinis terukir di bibirnya.


Bersambung....


Semoga masih suka dengan ceritanya yaaa...


Jangan lupa untuk selalu like vote n komen cerita ini 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2