
Pov Ajay
Aku benar-benar marah saat wanita itu terus mengatakan jika dia adalah anakku. Padahal jelas-jelas aku sudah mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupinya. Kesal karena tidak bisa melampiaskan amarahku, akhirnya aku pun pergi meninggalkan mereka.
Aku segera menuju tempat parkir dan mengeluarkan mobilku dengan terburu-buru. Jujur, saat itu aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Namun satu yang pasti, aku harus segera menemui Kyara dan mengatakan semua kebenaran ini.
Aku tidak tahu, apa Kyara telah menikah atau belum. Tapi aku tidak peduli. Satu-satunya yang ku inginkan adalah segera bertemu dengannya dan berlutut untuk memohon maafnya.
Sepanjang perjalanan aku merutuki kebodohanku. Aku meninggalkan Kyara yang seperti bidadari demi wanita berhati busuk itu. Dan parahnya lagi, aku merawat dan mencintai anak yang bukan darah dagingku. Sedangkan dulu, dengan kejamnya aku membunuh darah dagingku sendiri.
Aaargghhh....!! Aku benar-benar marah pada diriku sendiri. Aku mengutuk hidupku yang hanya memberikan kemalangan pada anakku, keturunanku...!
Rasa bersalah terus menghantuiku. Aku semakin mempercepat laju mobilku untuk segera tiba di kabupaten T. Tempat di mana Kyara tinggal. Aku ingin segera bertemu dengannya. Aku terus menginjak pedal gas tanpa menghiraukan kendaraan di samping kiri dan kananku.
Namun saat aku semakin menambah kecepatan mobilku, tiba-tiba sebuah truk pengangkut barang melintas di hadapanku. Aku tidak bisa mengendalikan mobilku. Akhirnya....
BRAKKK... !
Hanya suara itu yang terakhir kali aku dengar. Samar-samar aku melihat orang-orang berkerumun di kanan kiri mobilku. Sayup-sayup aku masih mendengar suara seseorang yang berteriak, 'Cepat panggil ambulance !' Setelah itu, aku benar-benar kehilangan kesadaranku....
***
"Bagaimana para saksi, sah ?" tanya penghulu yang telah berusia hampir setengah abad itu.
"Sah...!" ucap dokter yang menjadi saksi.
"Sah...!" ucap pamannya Kyara.
"Sah...!" ucap wali hakim yang menikahkan Kyara.
"Sah...!"
"Sah...!"
"Sah...!"
Ujar beberapa orang perawat yang menyaksikan pernikahan dadakan itu.
Beberapa jam sebelum pernikahan Kyara dan Bagas...
Bu Ratna segera memanggil dokter Imron untuk memindahkannya ke kamar rawat dan meminta izin untuk menyelenggarakan pernikahan putrinya di sana. Meski pada awalnya, dokter Imron menolak, namun melihat kondisi bu Ratna yang semakin buruk, dokter Imron pun mengizinkannya.
__ADS_1
Dokter Imron adalah dokter yang selama 2 tahun ini menangani bu Ratna. Karena itu beliau sangat memahami keinginan bu Ratna.
Setelah mendapatkan izin, bu Ratna pun segera dipindahkan ke ruang rawat yang cukup luas. Setelah itu bu Ratna menyuruh adiknya untuk mempersiapkan pernikahan putrinya.
Tak perlu susah-susah mencari kebaya untuk pengantin, karena bu Ratna masih menyimpan kebayanya waktu dia menikah dulu. Jajang meminta istrinya untuk datang membawa kebaya dan seperangkat alat salat yang memang telah disiapkan oleh bu Ratna saat beliau memimpikan sebuah pernikahan untuk putrinya.
Setelah istrinya datang, Jajang segera pergi untuk menjemput sesepuh desa yang akan menjadi wali hakim bagi Kyara. Mengingat ayahnya Kyara telah meninggal dan tak memiliki saudara laki-laki. Setelah menjemput sesepuh desa, Jajang pun segera menjemput penghulu yang akan menikahkan Kyara dan Bagas. Beruntungnya sang penghulu mau berbaik hati untuk memenuhi permintaan Jajang.
Sembari menunggu penghulu datang, bibinya Kyara pun merias Kyara ala kadarnya, agar tidak terlalu pucat.
Bagaimana dengan Bagas. Hmm..., jangan tanyakan lagi. Jabatannya sebagai seorang CEO, menuntut Bagas untuk selalu tampil rapi. Dia terlihat tampan dengan menggunakan setelan kerjanya. Karena memang siang tadi Bagas telah melakukan meeting dengan kliennya. Cukup dengan cuci muka dan merapikan rambutnya, Bagas pun terlihat tampan sekali.
Dokter Imron meminjamkan kopiah yang selalu dipakainya untuk salat. Bagas tersenyum lucu melihat bayangan dirinya di cermin yang tengah mengenakan kopiah.
"Kekecilan ya nak, kopiahnya ?" ujar dokter Imron.
"He...he..he...! Tidak apa-apa, dok ! Terima kasih sudah mau meminjamkan kopiah ini !"
Dokter Imron menepuk pelan pundaknya Bagas. "Tidak perlu sungkan !" ujarnya.
Setelah dirasa cukup siap. Dokter Imron yang dimintai menjadi saksi nikah untuk Bagas, segera mengantar Bagas ke ruang rawat bu Ratna.
Ceklek...!
Deg...!
Jantung Bagas seakan berhenti berdetak melihat Kyara tengah duduk di kursi akad di dampingi oleh bibinya. Sedangkan bu Ratna tidur bersandar di ranjangnya.
Kyara tampak cantik mengenakan kebaya brokat dengan warna putih tulang yang sepanjang bagian lehernya dipenuhi oleh mutiara kecil yang berkilauan. Rambut berkepang dari atas hingga ujungnya yang di beri aksen bunga melati, menyampir ke arah belakang telinga kanan Kyara. Riasan wajahnya yang terlihat natural, menambah kesan anggun Kyara.
Subhanallah...., sungguh sempurna sekali Engkau ciptakan perempuan ini...! batin Bagas.
"Mangga atuh cep Bagas teh, geura duduk !" ujar mang Jajang seraya menggeser kursi di samping Kyara.
Bagas tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih, mang !" ujarnya seraya duduk berhadapan dengan wali hakim yang akan menikahkan Kyara.
"Semuanya sudah siap !" tanya bapak penghulu.
"Siap...!"
__ADS_1
Semua orang yang berada di kamar itu menjawab dengan serempak.
Bagas terlihat sangat gugup. Malam ini akan mengubah segalanya dalam hidup Bagas. Entah akan memberikan perubahan yang lebih baik atau buruk, namun Bagas telah siap untuk melaluinya. Begitu juga dengan Kyara.
Tatapan Kyara terlihat kosong memandang rok kebayanya. Jari-jemarinya terlihat memainkan ujung kebayanya.
Aku menikah...! Malam ini aku menikah...! Ya Tuhan, apa aku mampu menjadi seorang istri yang sesungguhnya ? batin Kyara
"Bagas Anggara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau kepada Kyara Adistya binti Ahmad Hidayat dengan maskawin seperangkat alat salat di bayar tunai !"
"Saya terima nikah dan kawinnya Kyara Adistya binti Ahmad Hidayat dengan maskawin seperangkat alat salat dibayar tunai !"
Dalam satu tarikan napas, Bagas mengucapkan ijab qobul itu dengan lantang.
"Alhamdulillah...! “Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” ucap penghulu itu bermunajat.
"mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. Aamiin" lanjutnya yang langsung diaminkan oleh para tamu yang berada di ruangan itu.
"Silakan, nak Bagas ! Sematkan cincinnya di jari manis tangan kanan nak Kyara !" ujar sang penghulu.
Deg... deg...deg...!
Astaghfirullah..., aku sama sekali tidak membawa cincin kawin, ini sudah malam, mau beli di mana ? Lagian, mana aku tahu kalau aku mau nikah malam ini...
Bagas diam sejenak, namun sejurus kemudian dia merogoh saku di balik jas nya. Dia pun mengeluarkan sepasang cincin giok pemberian kak Indah yang selalu dibawanya kemana-mana.
"Istriku yang cantik. Sebelumnya mohon maaf atas kebodohan suamimu ini. Dikarenakan waktu sudah sangat malam, dan suamimu yang tampan ini belum sempat membeli cincin pernikahan kita. Jadi untuk sementara waktu, cincinnya aku ganti dengan cincin giok ya ? Cincin ini pemberian kakakku. Dia bilang, dia sengaja membelikan cincin ini untuk aku persembahkan pada orang yang akan menjadi pendamping hidupku. Dia juga bilang, bahwa cincin ini tidak pernah diberikan kepada sembarang orang, karena cincin ini melambangkan cinta, ketulusan dan kesetiaan, jadi hanya akan diberikan kepada pasangan yang telah menikah atau yang akan dijadikan pilihannya sebagai pasangan hidupnya. Mohon kiranya istriku yang cantik ini sudi untuk menerima cincin giok ini." ujar Bagas tanpa malu dan penuh gombalan.
Hey tuan...! Kemana hilangnya gelar tuan si minim kosakata...🤭🤭
Kyara menatap tajam cincin ini.
Cincin giok ini ? Bukankah cincin ini yang pernah di beli oleh pasangan muda waktu itu ? Apa mungkin wanita itu kakaknya kak Bagas ? Ah tidak...! Tidak...! Cincin ini kan banyak di pasaran..., batin Kyara mencoba menepis kenyataan.
Semua orang yang berada di ruangan itu tergelak melihat aksi Bagas. Namun mereka juga terharu dengan kata-kata Bagas. Pun dengan bu Ratna yang terlihat menitikkan air mata kebahagiaan menyaksikan pernikahan putri tunggalnya.
***
Ambulance tiba setengah jam setelah kecelakaan itu terjadi. Ajay pun segera di evakuasi. Butuh waktu hampir 2 jam untuk mengeluarkan Ajay dari himpitan kursinya. Benturan yang terjadi cukup keras. Sehingga safety belt yang digunakannya pun tak berfungsi banyak. Melihat kondisi mobil yang rusak parah. Sudah bisa dipastikan jika pengemudinya tidak akan selamat.
Bersambung...
__ADS_1
Lanjut besok yaaa....
Jangan lupa untuk selalu mendukung karya ini...🙏