
Kyara mengerjapkan matanya. Sekilas dia melirik jam dinding, jam satu siang...! Ya Tuhan..., aku belum solat..! gumamnya dalam hati. Kyara segera turun dari ranjang. Dia kemudian membuka pintu kamar dan mencari keberadaan Bagas.
Tiba di ruang keluarga, Kyara mencium aroma yang sangat sedap dari arah dapur. Membuat perutnya tiba-tiba keroncongan, meminta jatah makan siang. Kyara pergi ke arah dapur. Tiba di sana, dia mendapati Bagas yang dengan lihainya memainkan spatula di atas wajan.
Kyara tertegun melihat tubuh tegap yang sedang membelakanginya. Dia pun tersenyum melihat kelincahan Bagas dalam memainkan peralatan dapur.
Bagas hendak mengambil bumbu penyedap untuk masakannya, tanpa sengaja dia melihat Kyara yang sedang berdiri melamun di ambang pintu dapur.
"Sudah bangun...?" tanya Bagas.
"Eh...i..iya kak..! Su... sudah siang..., Kya..., Kya mau pulang...!" jawab Kyara terbata-bata.
"Solatlah dulu...! Setelah itu, kita makan siang..!" perintah Bagas.
"Tapi, kak...?"
"Jangan sampai aku mengulang perintahku..!"
"Ish..! Kakak ini...! Kalau begitu Kya pulang dulu, nanti ke sini lagi...!"
Bagas mengernyitkan dahinya, "Untuk apa ?"
"Kya mau solat dulu, kak..!"
"Di kamar kak Indah ada mukena, pakailah..!" jawab Bagas seraya membalikkan badannya untuk melanjutkan kembali aktivitas memasaknya.
Kyara kembali ke kamar untuk solat. Selesai solat dia pun ke dapur. Tiba di sana, tampak Bagas sedang menata meja makan.
"Aku bantu, kak...!" ujar Kyara.
"Tidak usah, ini sudah hampir selesai..! Duduklah..!" perintahnya.
Kyara menarik salah satu kursi, kemudian duduk. Begitu juga dengan Bagas. Mereka pun duduk saling berhadapan.
"Aku ambilkan nasinya ya, kak..!" ujar Kyara.
"Boleh..." jawab Bagas.
Kyara mengambil nasi lengkap dengan lauk pauknya untuk Bagas. Setelah itu, dia mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka pun mulai menyantap makanannya.
Hening...
Hanya bunyi sendok dan garpu saling beradu di piring mereka.
Selesai makan, Kyara mengumpulkan piring kotornya, kemudian mencucinya. Sedangkan Bagas, dia membereskan meja makan. Kemudian dia kembali ke dapur untuk membuat jus dan membawanya ke sebuah gazebo yang berada di halaman belakang.
Selesai mencuci piring, Kyara menghampiri Bagas.
"Jus...?" ujar Bagas menawarkan segelas jus jambu yang tadi dibuatnya.
Kyara mengambilnya.
"Duduklah...!" perintah Bagas.
Kyara pun duduk.
"Jadi, apa rencanamu..?" tanya Bagas lagi.
"Besok aku akan pulang kampung, kak !" jawab Kyara seraya mereguk jusnya.
"Lalu, pertunanganmu...?"
__ADS_1
Kyara menarik napasnya, panjang. "Akan tetap aku jalani..?"
"Setelah semua ini, kau masih akan tetap bertahan ?" tanya Bagas, heran.
Kyara mengangguk.
"Ah, nona..., kenapa kau senang sekali mempersulit dirimu...? Seandainya dulu kau mau menerima cinta Aaron. Mungkin hidupmu tidak akan semenderita ini..!" ujar Bagas.
Kyara tersenyum, "Aaron berhak mendapatkan gadis yang lebih baik daripada aku, kak...!" jawab Kyara.
"Tapi dia sangat mencintaimu...!" ujar Bagas.
"Dia hanya merasa kasihan padaku, kak ! Bukan cinta !" ujar Kyara berusaha untuk menyangkal semua kebenarannya.
Bagas menghela napasnya. "Memang benar apa yang dikatakan Aaron..." ujar Bagas, lirih.
"Tentang...?" tanya Kyara.
"Tentang watakmu yang keras kepala...!" jawab Bagas, ketus
Kyara tersenyum, "Apa saja yang dia katakan..?" tanya Kyara penasaran.
"Semua pujian tentangmu yang keluar dari mulutnya. Sampai terkadang, aku bosan mendengarnya...!" jawab Bagas.
"Apa...!" Kyara membelalakkan matanya.
"Hey..., nggak usah ge er ya...!"
"Bukan... bukan..., aku tidak ge er, aku tahu Aaron kadang suka bersikap berlebihan terhadapku. Yang membuat aku tidak percaya, tentang kebosananmu mendengar cerita Aaron tentangku. Jika kamu merasa bosan terhadapku.., lalu kenapa dulu kamu selalu menemani Aaron untuk menemuiku..?" ujar Kyara.
"Itu karena dia yang selalu memaksaku...! Dia selalu merasa khawatir jika menemuimu tanpa ada orang ketiga, takut teman-teman kost mu salah paham !" jawab Bagas.
Kyara diam. Teman-teman kost..., Sisil..., bu Rena..., apa kabar mereka...? Ah, aku sangat merindukannya...!!
Kyara menggelengkan kepalanya, "Tempat itu memang banyak menyimpan kenangan manis. Namun tempat itu juga menyimpan kenangan terburukku...!" ujar Kyara, dingin.
"Sudahlah...! Lupakan saja...!" ujar Bagas. "Lalu, apa yang akan kau lakukan di kampung ?" tanya Bagas mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku kerja di sebuah panti asuhan." jawab Kyara.
"Kenapa kau tidak bekerja lagi di kota ini ? Bukankah di sini jaraknya lebih dekat dengan rumah tunanganmu ?" tanya Bagas lagi.
"Hmmm.... tunangan...!" ujar Kyara tersenyum sinis, "Pertunangan di atas kesepakatan...!" ucapnya lirih.
"Apa kau tidak takut, dia akan berpaling...? Dua tahun bukan waktu yang sangat singkat, nona !" ujar Bagas.
"Aku sudah tidak memiliki ketakutan apapun." ujar Kyara.
"Oh,iya..., ngomong-ngomong, ternyata ucapan Sisil dulu, tidak benar sama sekali..!"lanjut Kyara.
"Sisil, sahabatmu yang cerewet itu...!" ujar Bagas.
"Ha...ha...ha..."
Kyara tergelak mendengar Bagas mengatai temannya cerewet.
Bagas melirik ke arah Kyara. Pancaran matanya terlihat semakin indah di saat dia tertawa seperti ini. Seandainya dia bisa terus seperti ini....aah.. sungguh gadis yang sangat cantik... batin Bagas.
"Kenapa kau tertawa...?" tanya Bagas, heran.
"Habisnya kamu lucu...! Masak Sisil di bilang cerewet..!" jawab Kyara.
__ADS_1
"Tapi memang kenyataannya seperti itu, kan...?" jawab Bagas. "Ngomong-ngomong, tadi kamu mau bilang apa..?" lanjutnya.
"Yang mana ?" tanya Kyara lagi.
"Itu yang di bilang sahabatmu..?" jawab Bagas.
"Oh iya, dulu waktu aku masih di rumah sakit, Sisil pernah cerita bahwa kamu orangnya pendiam dan tidak banyak bicara. Bahkan Sisil punya julukan buat kamu..!" ujar Kyara.
"Julukan ?" tanya Bagas mengernyitkan dahinya.
"Iya...! Dia memberimu julukan Tuan Si Minim Kosakata. Ha..ha..ha..." Kyara kembali tergelak.
Bagas menatapnya dengan senyum tipis terukir di wajahnya, "Sepertinya kau senang sekali, nona..!" tegur Bagas.
"Ma...maaf...he..he...a..aku...aku hanya...he..he.." Kyara tidak melanjutkan kata-katanya karena tak bisa menahan tawa.
"Ya...ya...ya...tertawalah nona...! Aku lebih senang melihatmu tertawa seperti ini...!" ujar Bagas tanpa sadar mengutarakan isi hatinya.
"Kau tahu, nona...? Apa yang dikatakan temanmu itu, mungkin ada benarnya juga. Kalau boleh jujur, aku bukan orang yang pintar bergaul. Temanku hanyalah Aaron dan Ajay. Bahkan, satu-satunya teman wanita yang ku miliki, hanya Andin. Jadi aku bukan orang yang suka banyak bicara, karena itu aku tidak memiliki teman selain mereka." jawab Bagas sambil mereguk sisa jus jambu miliknya.
"Apa kau menyukai mbak Andin...?" tanya Kyara.
"Uhuk...uhuk...uhuk..."
Bagas langsung tersedak mendengar pertanyaan Kyara.
"Apa kau sedang cemburu padaku...?" tanya Bagas menggoda Kyara.
Blush...
Rona merah di pipi Kyara semakin nampak.
"Ish..., kamu ini..., ditanya kok malah balik nanya..!" ujar Kyara. "Aku bertanya seperti ini, karena aku lihat kamu tampak cemas sekali saat tahu mbak Andin hendak bu..nuh..diri..." ujar Kyara, tiba-tiba nada suaranya terdengar pelan karena harus mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu.
"Aku, Andin dan Ajay adalah teman sedari kecil. Ayah kami bersahabat dan mempunyai bisnis yang sama, karena intensitas pertemuan yang cukup sering, pada akhirnya membuat kami bersahabat sejak kecil." jawab Bagas.
"Sudah sore, ayo aku antar kamu pulang..!" kata Bagas.
Kyara diam tak mau beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa ?" tanya Bagas.
"Aku...aku takut, kak...!" jawab Kyara.
"Kamu takut sama Ajay ?" kembali Bagas bertanya.
Kyara menjawab dengan anggukan.
"Sebentar...! Aku rapihkan dulu rumahku..! Ayo...! Malam ini aku akan menginap di rumah Ajay untuk mengawasinya. Supaya dia nggak berbuat macam-macam lagi terhadapmu...!"
Kyara pun mengangguk dan ikut membantu Bagas untuk merapikan dan mengunci rumahnya.
Mungkin memang benar jika aku orang yang tidak pernah pandai merangkai kata-kata, sehingga orang lebih mengenalku sebagai pria yang dingin. Namun entah kenapa, saat bersamamu, aku merasa berbeda. Aku bahkan tidak sungkan untuk menceritakan keadaanku padamu... Seandainya aku lebih dulu mengenalmu, aku tidak akan membiarkan kau terjebak dalam cerita cinta yang penuh muslihat. Tapi tenanglah nona..., aku akan selalu menjagamu...! Karena aku pernah berjanji kepada Aaron untuk selalu menjagamu...
Bersambung...
Alhamdulillah masih bisa up ya...
Semoga masih suka ceritanya.
Terima kasih untuk yang sudah like, vote n komen cerita ini...
__ADS_1
🙏🙏🤗🤗