Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Impian Bagas


__ADS_3

"KEJUTAN...!!"


Tiba-tiba seorang perempuan yang menggendong anak kecil berusia sekitar 5 bulanan, menepuk pundak Bagas dari belakang.


"Kak Indah...!" ujar Bagas terkejut.


Perempuan itu namanya Indah Larasati, satu-satunya kakak perempuan yang sangat dicintai Bagas. Bagi Bagas, kak Indah adalah segalanya, karena hanya kak Indah lah satu-satunya keluarga yang Bagas miliki.


"Katanya kak Indah nggak bisa datang, tapi kok...!" ujar Bagas.


"He...he...he..., kenapa...? Kaget ya...??" kak Indah malah balik bertanya.


Bagas mengangguk.


"Tadinya kakak kira, urusan kakak iparmu bakalan lama, tapi syukur alhamdulilah, ada orang yang membantu sehingga semuanya bisa segera selesai." jawab kak indah.


"Terus, kak Gun...!" tanya Bagas heran yang melihat kakaknya datang sendirian.


"Kakak iparmu sedang ada urusan dulu, nanti malam dia pasti datang !"


"Gitu ya kak...!"


"Eh, mumpung masih di sini, foto dulu yuk !" ajak kak Indah.


"Oke ! Tapi Arum, Bagas yang gendong ya, kak...!" pinta Bagas.


"Oke, dengan senang hati ! Arum sama om Bagas dulu, ya...!" ujar kak Indah seraya menyerahkan anaknya yang bernama Arumi.


Bocah kecil itu tergelak ketika Bagas menggendong seraya menciumi pipi tembemnya.


Kak Indah meminta salah satu mahasiswa di sana untuk mengambil beberapa fotonya dengan Bagas. Berbagai pose mereka lakukan hingga merasa puas.


"Ya udah yuk, kita pulang ! Udah siang nih...!" ajak kak Indah.


"Tapi kita makan siang dulu ya, kak !"


"Kita masak aja, Gas ! Kakak udah lama nggak masak buat kamu !"


"Oke ! Tapi kita ke supermarket dulu ya, kak ! Soalnya nggak ada stok bahan makanan di rumah !"


"Makanya, segera cari istri ! Biar ada yang ngurus tuh rumah ! Ajay saja udah nikah, kamu kapan Gas ?"


"Ish...! Kok jadi bahas itu sih, kak ! Ayo ah, entar keburu tambah siang !"


Tangan kanan Bagas menarik tangan kakaknya, sedangkan tangan kirinya masih setia menggendong keponakannya.


Setelah semua keperluan telah selesai dibelinya. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang dan memulai aksinya memasak bersama.


Tiba di rumah, kak Indah segera menidurkan Arumi di kamarnya. Karena kelelahan, bocah kecil itu akhirnya terlelap sepanjang perjalanan pulang dari supermarket. Lepas itu, kak Indah segera pergi ke dapur untuk memasak.


Tiba di dapur, dia telah melihat Bagas yang dengan sigapnya menyiapkan bahan-bahan yang hendak mereka masak.


"Kamu udah salat Gas ?" tanya kak Indah.

__ADS_1


"Belum kak !" jawab Bagas.


"Ish...! Kebiasaan...! Salat dulu sana !" perintah kak Indah.


"Oke...!"


Bagas pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya dan menunaikan salat dzuhurnya. Selepas salat, tiba-tiba Bagas teringat akan Kyara. Seandainya bisa dihubungi, dia pasti akan mengajak Kyara untuk menyaksikan acara wisudanya.


Seandainya kamu ada di sini, aku pasti mengenalkanmu pada kakakku. Kita pasti bisa makan siang bersama. Senangnya jika itu bisa terjadi...! Ah Kya..., di mana kamu ? Aku sangat merindukanmu...


Selesai salat, Bagas kembali ke dapur untuk membantu kakaknya. Tiba di sana, terlihat beberapa masakan yang telah matang. Ah, kak Indah memang sangat pandai dan lihai dalam urusan masak-memasak.


"Cepet banget, kak !" jawab Bagas.


"He..he...! Udah kebiasaan, Gas ! Ayo duduk ! Kakak siapin nasinya dulu !"


"Oke !"


Bagas mengambil salah satu kursi, kemudian duduk manis seraya terus memperhatikan kakaknya yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


"Ayo makan, Gas !" perintah kak Indah seraya menyodorkan sepiring nasi.


Bagas menerimanya kemudian dia mengambil beberapa lauk pauknya. Mereka pun memulai makan siang bersama.


"Oh iya, Gas ! Beberapa hari yang lalu, om Ali telpon kakak." kak Indah memulai pembicaraannya.


"Oh ya...!"


"Terus...?"


"Dia nyuruh kakak untuk membujuk kamu agar segera menerima peralihan usaha almarhum ayah."


Bagas hanya diam.


"Gas...!"


"Eh, kenapa kak ?"


"Kenapa kamu belum mengambil alih perusahaan ayah ? Apa ada masalah ?"


"Hhhh...."


Bagas menghela napasnya. Dia kemudian menghentikan suapannya sejenak.


"Bagas hanya merasa, semua itu tidak sesuai dengan keinginan Bagas."


"Maksud kamu ?"


"Kak, apa kakak marah jika Bagas punya keinginan lain ?"


Kak Indah menyimpan sendok yang sedang dipegangnya. Dia kemudian menghampiri Bagas, menarik kursi yang berada di sebelah Bagas. Kak Indah membelai lembut rambut adik yang sangat dicintainya.


"Memangnya, apa keinginanmu ?" tanya kak Indah.

__ADS_1


"Bolehkah Bagas melepaskan perusahaan itu ?" tanyanya hati-hati, takut menyinggung perasaan kakaknya.


Kak Indah sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Bagas. Namun dia mencoba mengatasi keterkejutannya agar Bagas tidak sungkan untuk mengutarakan keinginannya.


"Memangnya kenapa ?" tanya kak Indah lembut.


"Bagas hanya merasa, itu bukan impian Bagas, kak !"


Kak Indah tersenyum.


"Memangnya, apa yang dimimpikan adik ganteng kakak ini...?" tanya kak Indah sambil memijit pelan hidung mancungnya Bagas.


Bagas segera meraih tangan kakaknya.


"Kak Indah tahu, sejak kecil Bagas sangat suka dengan mainan mobil-mobilan. Sejak SMU Bagas punya impian, kelak, Bagas akan menciptakan mobil yang ramah lingkungan. Bagas ingin merintis usaha Bagas sendiri dari bawah, bukan hanya melanjutkan, kak ! Dan Bagas juga mempunyai impian untuk memiliki perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, sama seperti tuan Alvaro, temannya kak Gunawan. Dan juga, Bagas ingin merantau ke kota J. Bagas tidak mau tinggal di sini terus. Di kota ini, tidak cukup memberikan ruang untuk Bagas mengembangkan ilmu dan kemampuan Bagas."


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak jual saja perusahaan dan rumah kita ini !" ujar kak Indah ringan.


"Maksud kakak...?"


Kak Indah menatap lekat Bagas.


"Kamu tahu kan, kakak ini bukan wanita karir. Kakak hanyalah seorang ibu rumah tangga. Jadi sudah bisa dipastikan, jika kakak tidak akan mampu mengelola perusahaan peninggalan almarhum ayah. Sedang kak Gunawan, kamu sendiri tahu, jika dia sama sekali tidak ingin ikut campur tentang harta peninggalan orang tua kita. Dan kakak juga tahu, untuk merintis sebuah usaha, pasti butuh modal yang sangat besar. Jadi kenapa kamu tidak jual saja perusahaan peninggalan ayah ? Nanti, uang hasil penjualannya, bisa kamu jadikan modal awal untuk mewujudkan impianmu. Dan urusan kamu ingin tinggal di kota J. kakak tidak akan melarangnya. Bahkan kakak sangat senang jika kamu pindah ke sana. Jadi, daripada rumah kita terbengkalai, kita jual saja ! Nanti uangnya kita belikan lagi sebuah rumah di sana !"


"Apa tidak sayang, kak ! Bukankah di sini, banyak sekali kenangan kita tentang ayah dan ibu ?"


"Gas..., kenangan itu akan selalu tersimpan di sini !" ujar kak Indah seraya menyentuh dada adiknya.


"Ada ataupun tidak adanya rumah ini, kenangan ayah dan ibu akan tetap di hati kita." lanjut kak Indah.


Bagas menitikkan air matanya karena merasa terharu dengan ucapan kakaknya.


"Terima kasih, kak...! Terima kasih karena sudah mau mengerti akan impian Bagas !" ujar Bagas menggenggam erat tangan kakaknya.


"Sama-sama.. ! Sudah menjadi kewajiban kakak untuk mewujudkan semua impianmu ! Semoga berhasil ya, adik kecilku...!"


"Kak Indah...! Sebentar lagi usia Bagas 23 tahun, ya...!'


"Iya....iya...! Uduh...uduh..., adik kecil kakak, sekarang udah gede ya...! Kayaknya udah punya pacar nih..." goda kak Indah.


Blush....!


Wajah Bagas memerah, seketika bayangan Kyara melintas di benaknya, membuat senyum kecil di kedua sudut bibirnya.


Kak Indah hanya tersenyum melihat tingkah Bagas.


Do'ain Indah, yah..., bu...! Semoga keputusan Indah untuk mewujudkan impian Bagas ini kalian ridhoi...!


Bersambung...


Semoga masih suka ceritanya yaaa


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2