
"Bu Rani, suami bu Rani seorang direktur kan ?" tanya Kyara saat sedang mengikuti rapat akhir tahun selepas pembagian raport.
"Eh iya, kenapa bu ?" bu Rani balik bertanya.
"Emh, nanti sepulang sekolah, aku boleh tidak ngobrol sedikit dengan bu Rani." jawab Kyara.
"Boleh kok bu !" ujar bu Rani.
"Oke makasih ya...!" ujar Kyara sambil tersenyum.
"Ehm...ehm...! Tolong perhatikan sebentar bu Kyara, jangan sampai nanti anda bertanya lagi apa yang harus anda lakukan pada saat awal tahun pembelajaran baru !" tegur pak kepala sekolah saat melihat anak buahnya saling berbisik-bisik.
"Baik pak !" ujar Kyara tersenyum mesem.
Rapat pun berlanjut...
Pukul 12.30 rapat berakhir. Kyara dan temannya melaksanakan solat dzuhur dulu di masjid sekolah, setelah itu mereka pergi ke kafe di dekat sekolah.
Tiba di sana, seperti biasa Kyara memesan kopi latte kesukaannya, begitu juga dengan bu Rani yang hanya memesan jus mangga, karena dia tidak terlalu menyukai kopi.
"Mau bicara apa, bu Kya ?" tanya Rani.
"Ini di luar, bisakah kita tidak usah berbicara secara formal ? Cukup panggil aku Kyara saja !" ujar Kyara.
"Ah, aku juga sependapat denganmu. Apalagi usia kita tidak jauh berbeda." jawab Rani.
"He...he..he..., kau benar !"
"Baiklah, apa yang bisa kubantu ? Tadi kau bertanya apa suamiku seorang direktur ? Begitu kan ?"
Kyara mengangguk.
"Iya, suamiku seorang direktur. Tapi dia bukan direktur perusahaan terkenal. Dia hanya seorang direktur di media percetakan saja." jawab Rani.
"Tapi beliau memiliki sekretaris kan ?"
"Tentu saja, kalau tidak ada sekretaris, agenda suamiku pasti acak-acakan, maklum dia itu orangnya pelupa !"
"Bagaimana penampilan sekretarisnya ?"
"Yaaa, yang namanya sekretaris, dia harus berpenampilan cantik, menarik, modis ramah dan tentunya harus pandai bergaul."
"Kamu nggak cemburu, Ran ?"
"Ish, kamu kenapa sih ? Kok pertanyaannya aneh gitu !"
"Ah tidak ....! Mmm.., sebenarnya ada wali muridku yang memiliki masalah. Suaminya seorang direktur muda. Sekretaris suaminya adalah seorang wanita yang selalu mengejarnya sejak dia belum menikah sampai sekarang. Perbedaan istrinya dan sekretarisnya ibarat langit dan bumi. Jadi dia meminta saran saya bagaimana caranya supaya suaminya tidak pernah tergoda sama sekretarisnya. Apalagi pernikahan mereka belum diketahui publik." ujar Kyara. "Kau kan tahu, aku bukanlah psikologi umum, aku hanya seorang psikolog anak, jadi mana aku mengerti urusan rumah tangga, he...he.." Kyara mencoba menutupi kecemasannya.
Entah kenapa Rani merasa jika ini bukanlah cerita dari wali muridnya Kyara. Rani kemudian memegang tangan teman seprofesinya itu.
"Katakan yang sebenarnya Kya ! Mungkin saja aku bisa membantumu ! Aku sahabatmu, kau bisa mempercayaiku ! Entah kenapa, aku merasa ini bukanlah masalah wali muridmu.."
"Hhhh...." Kyara menghela napasnya. "Kau benar Ran, sebenarnya ini masalahku...!" ujar Kyara lirih.
"A...apa...! Jadi kau telah menikah...?" tanya Rani terkejut.
"De... dengan siapa ? Dan kenapa kau tidak mengundang kami ?" tanya Rani.
"Aku menikah karena menjalankan permintaan terakhir almarhum ibuku. Karena itu, pernikahan kami terkesan terburu-buru dan hanya dilaksanakan di rumah sakit. Setelah kami menikah, keesokan harinya ibuku meninggal."
"Ya Allah Kya..., hidupmu sudah seperti sinetron saja ! Jadi kalian menikah karena terpaksa ? Tidak ada cinta di antara kalian ?"
"Aku tidak tahu Ran ? Mungkin pernikahan ini atas desakan ibuku, tapi suamiku selalu bilang jika dia sangat mencintaiku."
"Kamu sendiri ?"
"Aku menolaknya...? Sejak dulu aku selalu menolak perasaanku padanya !"
"Sejak dulu ? Maksudnya ?"
"Aku sudah mengenalnya sekitar 7 tahun yang lalu. Saat itu statusku masih sebagai tunangan sahabatnya. Namun saat pertunanganku putus di tengah jalan, dia memintaku untuk menikah dengannya. Kau tahu Ran, semua itu begitu cepat. Dan aku hanya menganggapnya jika dia hanya merasa kasian atas nasibku. Setelah aku menolak dan meninggalkannya, kami pun terpisah selama 6 tahun. Beberapa bulan yang lalu kami dipertemukan kembali. Dan saat ibuku masuk rumah sakit, semuanya terbongkar. Ternyata selama ini dia selalu mencariku, bahkan dia sempat bertemu dengan ibuku. Karena itulah ibu semakin yakin jika dia suami yang tepat untukku."
"Lalu kau sendiri bagaimana ? Apa kau mencintainya ?"
"Entahlah...! Yang aku tahu, sejak sekretarisnya muncul di hadapanku, aku mulai merasa gelisah. Aku takut suamiku tergoda. Apalagi melihat bodynya yang seperti gitar spanyol dan juga dandanannya yang seperti seorang model, aku semakin cemas, Ran ! Saat bekerja pun aku tidak bisa berkonsentrasi karena terbayang jika suamiku setiap harinya harus berhadapan dengan paha mulus dan dada montok si gitar spanyol itu."
Kyara mendeskripsikan sekretaris suaminya dengan penuh emosi, membuat Rani tersenyum gemas melihatnya.
__ADS_1
"Aha..ha..ha..., rupanya sang Ratu Es mulai cemburu ya..!"
"Ish, kamu ini Ran...!" rengut Kyara.
"He...he...he..., maaf ! Memangnya siapa yang bisa membuat Ratu Es Mutiara Bangsa ini mencair ?"
"Sudah Ran, jangan bercanda lagi ! Itu sama sekali tidak membantuku !" Kyara mulai geram.
"Ah ya...ya...! Tapi tunggu, sebelum aku memberimu saran, aku harus tahu dulu siapa suamimu ?"
"Dia uncle nya Arumi."
"APA....!!"
Saking kagetnya, Rani berdiri menatap Kyara tak percaya.
"Kenapa ? Kau tidak percaya padaku ?"
"Ah... tentu saja aku tidak percaya ! Aku bukannya tidak percaya dia suamimu, aku hanya tidak percaya ternyata kau mengenal seorang CEO muda itu sejak lama...! Ah Kya, beruntung sekali kau menjadi gadis yang terpilih di hidupnya ! Apa kau tahu, suamiku pernah membuat artikel tentangnya dan di sana dikatakan jika dia sangat digilai oleh para gadis mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas, mulai dari foto model, artis dan wanita karir. Tapi siapa sangka jika orang yang ada di hatinya hanya seorang guru culun yang judes sepertimu."
"Sudah puas menghinaku !"
"Ah maaf Kya... , tapi kenyataannya kau memang sangat judes dan terkesan cuek dengan penampilanmu sendiri. Lihatlah ! Kau seorang istri CEO, tapi penampilanmu benar-benar tidak menggambarkan jika kau layak menjadi istri CEO."
"Ah Rani..., benar-benar pedas ya mulut kamu itu ! Sebenarnya kamu sarapan apa sih ? Seblak ceker mang Diman level 10 ya...!" ujar Kyara sewot sambil melipat dadanya.
"Aish Kyara...! Dengar, besok kau minta izinlah pada suamimu. Aku akan make over dirimu hingga menjadi seorang istri CEO yang sempurna. Sudah terlalu siang, ayo kita pulang ! Anakku pasti sudah pulang sekolah !"
"Rani hampir 2 jam aku bersamamu, tapi kau tidak memberiku solusi apa pun. Kalau gitu, kamu bayar sendiri jajanan mu !" gerutu Kyara.
"Aish Kya, kau sudah menjadi istri CEO, tapi kenapa kau masih saja sangat pelit !" gerutu Rani sambil berjalan ke arah kasir
Kyara hanya tersenyum melihat punggung temannya.
***
Setelah mendapatkan izin dari suaminya, akhirnya Kyara pergi ke sebuah mall terbesar di kota J. Bagas mengantarnya hingga di depan lobi mall.
"Kamu tidak apa-apa jalan-jalan sendirian ?" tanya Bagas.
"Ah ya, bu Rani ! Aku ingat dia !"
Bagas mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celananya, dia kemudian mengambil salah satu black card-nya.
"Gunakan ini untuk membeli semua kebutuhanmu !" ujar Bagas sambil menyerahkan kartu tersebut.
"Tidak usah kang ! Kya masih punya uang kok untuk memenuhi kebutuhan Kya sendiri !" tolak Kyara.
"Nona, kau istriku ! Semua kebutuhanmu adalah tanggung jawabku. Untuk uangmu, simpanlah ! Aku tidak akan mengizinkan kau menggunakan uangmu sepeserpun untuk memenuhi kebutuhan hidupmu." jawab Bagas.
Kyara menatap suaminya lembut.
"Makasih kang...!" ujarnya lirih.
"Sama-sama. Bersenang-senanglah, aku akan ke pabrik dulu untuk memantau pembuatan kerangka mobil yang diminta perusahaan taksi online. Telpon aku jika urusanmu sudah selesai !"
"Baiklah ! Kya pamit dulu, kang ! Assalamualaikum !"
Kyara menundukkan kepalanya untuk mencium tangan suaminya. Tak lupa Bagas pun mengusap lembut pucuk kepala Kyara sebagai tanda kasihnya terhadap gadis itu.
Bagas mulai senang karena Kyara mulai menjalani harinya tanpa beban. Sedikit demi sedikit, Kyara mulai menerima pemberian Bagas sebagai nafkah suami untuk istrinya.
Setelah istrinya memasuki mall itu, dia pun kembali melajukan mobilnya menuju pabrik.
Benar-benar quality time nya seorang emak-emak. Kyara dan Rani mulai memanjakan matanya dengan berbelanja semua urusan dan pernak pernik perempuan.
"Tidak...! Tidak...! Kau tidak cocok mengenakan pakaian itu, ganti !"
"Ayolah Ran...! Ini sudah yang ke-9 kalinya aku bolak balik ruang ganti. Mau model seperti apa lagi yang pas di badanku ini !" ujar Kyara merasa lelah.
"Coba yang ini, aku rasa yang terakhir pasti cocok di bodymu yang tak karuan !"
"Ish kau ini !" gerutu Kyara sambil melempar pakaiannya ke arah Rani.
"Lagian, kamu punya body aneh banget. kurus nggak, bohay nggak !" sungut Rani.
"Bagus ! Itu artinya body ku ideal..., ha...ha...ha..!" ujar Kyara sambil berjalan berlenggak-lenggok ke arah bilik ganti.
__ADS_1
Rani hanya mengerucutkan bibirnya melihat tingkah Kyara.
Aah selama ini aku salah menduganya. Ternyata Kyara orang yang periang dan menyenangkan. Tidak sedingin seperti saat pertama kali masuk sekolah...
Beberapa menit berlalu. Kyara membuka bilik ruang ganti. Dia pun berjalan ke arah sahabatnya.
Rani terpana begitu melihat Kyara. Pakaian yang dipilihnya tadi terlihat pas dengan ukuran badan Kyara. Dress lengan panjang, selutut yang berwarna peach dengan aksen belt pita di pinggangnya membuat Kyara tampak semakin cantik berdiri di hadapannya.
"Sempurna...! Sekarang tinggal menata rambutmu !" ujar Rani.
Setelah membayar semua pakaiannya, dia pun mengajak Kyara pergi ke sebuah salon. Rani meminta karyawan salon langganannya untuk merapikan rambut Kyara yang lurus lepek karena hanya dikuncir dan di gulung saja.
"Noni ! Buat dia tampil beda ya.. ! Aku percaya padamu !" ujar Rani pada salah seorang pria kemayu yang sedang membersihkan rambut pelanggannya.
"Siap bu boss.. !"
Kyara pun di suruh duduk. Setelah itu pria yang bernama Noni itu segera mengeksekusi rambut Kyara. Dua jam berlalu, Kyara menatap tak percaya pada cermin di hadapannya. Rambutnya telah benar-benar berubah. Sedikit pendek dari sebelumnya dan agak sedikit bergelombang.
"Bagaimana penampilan ku, Ran ?" tanya Kyara.
Rani tampak berpikir, "Mmm, belum terlalu sempurna...! Ayo ikut aku !"
Setelah membayar semuanya, Rani menarik tangan Kyara ke lantai 2. Di lantai ini memang khusus untuk perawatan. Rani dan Kyara pun melakukan perawatan di mulai dari facial, luluran, massage dan sauna.
Ini pertama kalinya bagi Kyara melakukan semua ini. Dia benar-benar merasa nyaman. Selama ini dia telah lupa untuk memanjakan dirinya sendiri.
"Sekarang, kau sudah bersuami Kya. Setidaknya kau harus melakukan perawatan ini minimal sebulan sekali, biar suamimu betah di rumah. Niatkan semua ini ibadah dan hanya untuk membahagiakan suamimu." ujar Rani saat mereka sedang melakukan massage dalam satu ruangan.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau mengenalkanku dengan semua ini. Jadi ini kiatmu untuk aku menjaga rumah tanggaku. Dan ini juga yang kau lakukan untuk mempertahankan suamimu dari para penggoda di luar sana, benar kan ?"
"Aha...ha...ha, kau memang sangat cerdas bu guru Kya ! Suami kita sangat berpengaruh di luar sana, lengah sedikit, pasti banyak lalat yang akan menghinggapinya. Jadi kita harus lebih pintar menjaganya tanpa harus mengekangnya. Satu lagi, Untuk 2 minggu ke depan, kau kan libur. Cobalah kau memperkenalkan dirimu di hadapan para karyawan suamimu tanpa harus terkesan mencolok."
"Maksudnya ?"
"Ish kau ini...! Baru saja aku memujimu pintar, tapi sekarang..., hadeuh..!" Rani menepuk jidatnya.
"Maaf Ran, tapi aku benar-benar tidak mengerti." jawab Kyara.
"Maksudku, selama kamu libur sekolah. Pergilah ke kantor suamimu untuk mengantarkan makan siangnya, kalian bisa makan siang bersama di sana ! Dengan begitu, secara tidak langsung, para karyawan suamimu akan mengetahui jika kamu istrinya tanpa kamu harus memproklamirkan diri kalau kau istri dari bos mereka. Paham kan..??"
"Iya, aku mengerti !"
"Baguslah !"
***
"Sudah hampir jam 2 bos ! Bagaimana kalau kita makan siang di kafe Lexi saja ?" usul Doni.
"Baiklah, ayo !"
Doni dan Bagas pun pergi ke kafe Lexi untuk makan siangnya. Tiba di sana, Bagas segera memilih meja di sudut ruangan, sedangkan Doni pergi ke toilet.
"Kya, bukankah itu suamimu ?" tanya Rani sambil menunjuk ke meja sudut.
Pada saat Bagas dan asistennya masuk, tanpa sengaja Rani yang memang sedang makan siang bersama Kyara di sana melihatnya.
"Hei Kya, aku punya rencana ! Bagaimana jika kau goda suamimu ! Aku ingin tahu apa dia mengenalimu atau tidak !"
"Nggak ah..! Aku malu, sudah biarkan saja !"
"Ish kamu ini...! Sekalian menguji kesetiaan suamimu saja !"
"Tapi Ran...!"
"Sudah, ayo sana !"
Rani menarik tangan Kyara dan mendorongnya, sehingga Kyara tak punya kesempatan lagi untuk mengelak.
Brakk...
"Apa kau tidak apa-apa...!"
Bersambung....
Insyaallah lanjut sore ya gaiss....
Jangan lupa like vote n komennya...
__ADS_1