Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Imut...


__ADS_3

Selepas isya, Kyara mulai sadar. Kembali dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Bagas. Meski tubuhnya terasa lemas, namun dia berusaha untuk bangun dan menyandarkan punggungnya di bagian tepi ranjang. Kyara memejamkan matanya, merasai pusing di kepalanya.


"Kau sudah bangun, nona ?"


Suara Bagas mengejutkan Kyara hingga memaksa matanya kembali terbuka.


Bagas datang dengan membawa nampan berisi bubur ayam dan segelas air putih.


"Minumlah dulu !" perintahnya seraya memberikan gelas itu kepada Kyara.


Kyara hanya bisa diam, menatapnya dengan pandangan kosong.


"Jangan mempersulit keadaan, nona ! Dokter Risa menyuruhku untuk segera memberimu minum setelah kau sadar. Supaya kau tidak dehidrasi. Sekarang, minumlah !"


Kyara mengambil gelas tersebut, kemudian mereguknya.


"Aku tahu kau lapar. Aku suapi ya ?" tanya Bagas meraih bubur ayam yang tadi diletakkannya di atas nakas.


"Kya nggak lapar, kak ?" jawab Kyara.


"Kamu harus makan Kya ! Jika tidak, kamu bisa sakit nanti. Kalau sudah sakit, aku juga yang akan kerepotan. He..he..he.." canda Bagas.


"Kakak tenang saja, Kya janji tidak akan merepotkan kakak lagi !" jawabnya datar.


Bagas yang mendapatkan jawaban sinis Kyara, merasa bersalah. Dia pun segera meletakkan mangkuk bubur ayam tersebut. Kemudian meraih Kyara ke dalam pelukannya.


"Hei..., tenanglah...! Aku hanya bercanda, aku tidak akan pernah merasa direpotkan oleh calon adik iparku ini..!" ujarnya.


"Apa kau ingin menangis ? Akan kupinjamkan dadaku lagi, jika kau ingin menangis !" lanjutnya.


Kyara menggelengkan kepalanya di dadanya Bagas. Tapi guncangan tubuhnya yang dirasai Bagas, tidak dapat berbohong. Bagas tahu jika saat ini Kyara mencoba menahan diri untuk tidak menangis.


"Menangislah, nona...!"


"A...aku tidak akan menangis lagi, kak !" jawab Kyara.


Bagas tersenyum seraya mengusap-usap punggung Kyara.


"Baiklah, jika kau tidak ingin menangis, kau harus makan, ya ! Mbak Risa telah memberimu beberapa obat dan vitamin agar kau bisa segera pulih."


Kyara mengangguk. Dia kemudian melepaskan pelukannya.


"Aku suapi ?" tawar Bagas.


Kyara menggelengkan kepalanya, "Aku bisa sendiri, kak !" jawabnya.


Bagas tersenyum, kemudian mengambil kembali bubur ayam tersebut dan menyerahkannya kepada Kyara.


"Makanlah !" perintahnya.


Kyara pun mulai memakan bubur itu sesuap demi sesuap. Sedangkan Bagas menyiapkan beberapa jenis obat dan vitamin yang harus Kyara makan.


"Sudah, kak !" ujar Kyara sambil menyerahkan mangkuk bubur yang masih tersisa.


"Ish, kenapa tidak dihabiskan ?" tanya Bagas yang melihat masih terdapat sisa bubur di mangkuk itu.


"Kya sudah kenyang." jawab Kyara.


Bagas menerima mangkuk itu dan meletakkannya kembali di atas nakas. Dia kemudian menyerahkan obat yang harus dimakan Kyara beserta air minumnya.


"Minumlah obat ini, dan beristirahatlah !" ujar Bagas.


Kyara mengambil obat-obatan tersebut dari tangan Bagas, kemudian meminumnya.


Bagas kembali tersenyum melihat Kyara menjadi seorang penurut.

__ADS_1


"Tidurlah !" ujarnya seraya menyelimuti Kyara yang kini tengah terbaring karena merasa pusing.


"Kak, bagaimana dengan eyang ?" tanya Kyara.


"Maaf, tadi aku sedikit membohongi beliau. Aku bilang jika kau akan menginap di rumah temanmu. Aku tahu, mungkin untuk saat ini, kau ingin menenangkan hatimu dulu." jawab Bagas.


Kyara memegang tangan Bagas.


"Terima kasih, kak !" ujarnya.


"Sama-sama, sekarang kau harus tidur supaya lekas sembuh. Jika kau butuh sesuatu, aku ada di luar. Kau bisa memanggilku kapan saja, mengerti !"


Kyara mengangguk dan tersenyum.


Aah...., senyum yang teramat manis. Senyum yang membuat hati Bagas terasa hangat.


Seandainya di pagi dan malamku, aku bisa melihat senyum itu, tentunya aku akan menjadi pria yang paling bersemangat dalam menjalani semua aktivitasku.... gumam Bagas dalam hati.


Ish..., mengkhayal apa aku ini...?? Jangan Bagas, dia adalah adikmu..., calon adik iparmu...!


Bagas menggelengkan kepalanya pelan, untuk menyadarkan hatinya agar tidak terlalu berharap lebih.


Setelah melihat mata Kyara terpejam, Bagas pun keluar dari kamarnya.


***


Malam harinya, Kyara terbangun karena merasakan konser di perutnya. Dia pun segera keluar kamar, dan mendapati Bagas sedang tertidur di sofa. Kyara hendak membangunkannya, namun dengkuran halus Bagas, membuat Kyara mengurungkan niatnya. Dia akhirnya pergi keluar ruangan Bagas dan mencari dapurnya.


Setelah hampir 10 menit mengelilingi bengkel Bagas, akhirnya Kyara menemukan dapurnya. Dia memasuki ruangan tersebut, dan mulai membuka kulkas yang terletak di ruangan itu. Ada telur dan beberapa jenis sayuran di dalamnya. Kyara kemudian mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang kira-kira bisa untuk diolahnya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera. Netranya kemudian menangkap beberapa bungkus mie yang terletak di meja makan.


Aaah, aku akan bikin mie goreng saja..., batinnya.


Dia pun segera mengeluarkan peralatan memasak beserta bahan-bahannya, dan mulai asyik meracik bumbunya.


"Wangi apa ini ?" gumamnya.


Bagas menajamkan pendengarannya. Dia menangkap suara spatula yang beradu dengan wajan dari arah dapur. Segera dia bangkit dan pergi ke dapur untuk memastikannya.


Tiba di sana, Bagas tertegun melihat Kyara sedang asyik memasak. Dia kemudian menghampirinya.


"Apa yang kau masak ?" tanyanya.


"Astaghfirullah hal adzim...! Ish...!"


Kyara terkejut mendengar suara Bagas. Tanpa sengaja, ujung telunjuknya mengenai wajan, dia pun segera mengangkat tangannya dan meringis.


"Astaghfirullah...!"


Bagas terkejut, dia segera meraih tangan Kyara dan meniupinya.


"Hati-hati kalau sedang masak !" ujar Bagas.


Untuk sejenak pandangan mereka kembali beradu. Bagas menatap tajam ke arah Kyara. Mendapatkan tatapan seperti itu, Kyara segera menundukkan kepalanya dan menarik tangannya. Kecanggungan kembali menyertai mereka.


"A... apa kak Bagas mau ?" ujar Kyara mencoba mencairkan suasana.


"Boleh !" jawab Bagas.


Kyara pun segera menyelesaikan acara memasaknya. Dia meletakkan mie goreng tersebut ke dalam piringnya dan membawanya ke meja makan.


"Hmm..., sepertinya lezat." ujar Bagas.


"Cobalah !" jawab Kyara.


Mereka pun mulai menikmati mie gorengnya masing-masing.

__ADS_1


"Oh iya, kak. Apa kau punya mukena ?" tanya Kyara.


Bagas menjawabnya dengan anggukan.


"Milik pacar kakak, ya ?"


Tiba-tiba pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Kyara.


Bagas mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kyara. Sedangkan Kyara langsung menutup mulutnya ketika menyadari pertanyaan konyol keluar dari mulutnya.


"Kau pikir aku laki-laki yang suka menyembunyikan perempuan di tempat kerjaku ?" ujar Bagas ketus.


"Maaf...!" ujar Kyara lirih. "Aku pasti sudah menyinggung perasaan kak Bagas, ya..? Aku.., aku hanya merasa heran saja, kenapa ada mukena di bengkel ini ? Aku pikir, kakak mungkin suka mengajak pacar kakak singgah kemari, sehingga ada mukena tersedia di sini untuk solatnya." jawab Kyara.


"Asal kau tahu nona, satu-satunya wanita yang pernah tidur di bengkelku ini, hanyalah kamu ! Sekarang dan saat ini..!!" jawab Bagas.


Karena merasa kesal dengan tuduhan Kyara, Bagas pun segera berdiri dan meninggalkan Kyara di meja makan sendirian.


Kau pikir aku lelaki bajingan, sampai harus membawa tidur perempuan di tempat kerjaku..., gerutu Bagas kesal.


Kyara yang melihat kekesalan di raut wajah Bagas, segera menyudahi makannya. Setelah mencuci piring kotornya, dia segera kembali ke ruang kerja Bagas.


Di ruang kerja, tampak Bagas yang sedang makan dengan wajahnya yang dingin. Persis saat pertama kali Kyara mengenalnya. Kyara kembali ke dapur untuk mengambil minum, karena dia melihat di meja Bagas belum terdapat air minumnya. Perlahan, dia pun menyimpan gelas itu di hadapan Bagas.


Bagas meliriknya, wajah imut Kyara membuat Bagas luluh.


"Terima kasih...!" ucapnya.


Haisss...., kenapa aku berbicara padanya ? Bukankah aku sedang merasa kesal pada gadis imut itu ? gerutu Bagas dalam hati.


Kyara kembali tersenyum.


"Kakak masih marah ?" tanyanya.


"Hmmm..."


Aaah...., bagaimana mungkin aku bisa marah jika kau pasang wajah seimut itu....!! Batin Bagas.


Kyara yang hanya mendengar kata "hmm", keluar dari mulut Bagas, langsung menjewer telinganya sendiri.


"Maafkan aku, kak...! Aku tahu, aku telah kelewatan karena berpikir yang tidak-tidak tentang kak Bagas. Aku minta maaf ya kak ?" ujarnya memelas.


Ah, nona...! Bagaimana mungkin aku tidak memaafkanmu jika kau pasang raut mukamu yang imut ini...!


Bagas menghela napasnya.


"Baiklah, karena kau telah memberiku sepiring mie goreng yang mengenyangkanku dan juga telah bersikap baik padaku, maka aku akan memaafkanmu, asalkan kau janji, kau tidak akan kembali mengulangi perbuatan suudzonmu...!" jawab Bagas.


"Yeayyy....! Makasih kak...! Oke, Kya janji, Kya nggak bakalan mengulangi perbuatan itu lagi !" teriaknya kegirangan karena berhasil mendapatkan maaf dari Bagas.


"Tapi, ngomong-ngomong...., itu mukena siapa kak...??" bisiknya di telinga Bagas.


"Kamu....!!"


Kembali Bagas memasang muka galaknya.


"He...he...he..., becanda kak..., becanda...! Kya tahu kakak orang baik kok...! He...he...he...! Piss kak...! Jangan marah yaaa...!" ujarnya seraya kembali menuju kamarnya.


Aaahhh...., bagaimana mungkin aku bisa marah pada gadis seimut kamu, Kya....


Bersambung....


Terima kasih atas dukungannya...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2