
Dengan diantar Bagas, Kyara kembali ke rumah tuan Ali.
"Ish..., kakak dari mana...? Bima cari kok tidak ada.. !" gerutu Bima yang merasa kesal karena tidak mendapati Kyara saat dia pulang sekolah.
"Maaf, Bim...! Tadi kakak habis dari rumah kak Bagas." jawab Kyara.
"Terus, kenapa ponsel kak Kya, nggak aktif..!" tanya Bima lagi.
"I...itu...! HP...kakak...itu.., tadi..."
"Permisi, den Bagas. Di luar ada orang yang ingin bertemu dengan den Bagas, katanya sih adenya aden."
Tiba-tiba mbok Nah datang. Kyara pun menghela napasnya, merasa terselamatkan oleh kedatangan mbok Nah.
"Oh iya, bik...! Makasih, nanti saya temui." jawab Bagas.
Kya, Bima.., kakak keluar dulu ya..!" pamit Bagas sambil berlalu ke ruang tamu.
"Kakak juga ke kamar dulu ya, Bim..! Mau solat asar..!" Kyara ikut-ikutan pamit.
"Tunggu...! Kak Kya belum jawab pertanyaan Bima...!" teriak Bima.
Namun Kyara hanya melambaikan tangannya.
"Ish...kakak ini...! Aku tahu, pasti ada yang kakak sembunyikan, biasanya kalau ditanya suka langsung jawab, tapi tadi kak Kya terlihat gelagapan waktu aku tanya soal ponselnya. Tapi apa ya, yang dia sembunyikan..?" gumam Bima
Di ruang tamu.
"Ini bang...! Tipe ponsel yang abang minta..!" ujar Wawan sambil menyerahkan paper bag kecil berwarna biru.
"Nomornya sudah sesuai dengan yang abang minta, kan..!" tanya Bagas mengambil paper bag tersebut.
"Beres bang...! Wawan sudah minta nomor yang sama ke kantor providernya."
"Oke, thanks ya Wan...! Oh iya, gimana kabar bengkel..? Maaf, akhir-akhir ini abang jarang ke sana, lagi banyak urusan..!"
Tidak apa-apa bang...! Wawan bisa handle kok..! Tapi dua hari yang lalu, Wawan rekrut pegawai baru, bang..! Soalnya, alhamdulilah.. pelanggannya sudah semakin banyak. Nggak apa-apa kan, bang...?"
"Nggak apa-apa..., alhamdulilah jika bengkel kita sudah ramai. Tapi orang yang kamu rekrut, rajin solat kan..?"
"Tenang bang, dia anak jalanan yang sudah insyaf..., temen Wawan...!!"
"Oh, ya sudah...! Abang percaya sama kamu."
"Kalau gitu, Wawan balik lagi ke bengkel ya, bang..! Assalamualaikum...!"
"Waalaikumsalam...! Hati-hati...! Jangan ngebut..!"
"Siap, bang...!"
Sepeninggal Wawan, Bagas segera naik ke atas untuk menemui Kyara di kamarnya.
Tok...tok...tok...
Bagas mengetuk pintu kamar Kyara. Tanpa dia sadari, Bima memperhatikannya dari pintu kamarnya.
"Sebentar...!"
Ceklek...
Pintu terbuka, tampak Kyara masih mengenakan mukenanya.
"Kak Bagas, ada apa ?" tanya Kyara.
"Ini..!" Bagas menyerahkan paper bag berwarna biru.
"Apa ini kak ?" tanya Kyara.
"Bukalah...!" jawab Bagas.
Kyara membuka paper bag itu. Dia mengeluarkan sebuah ponsel yang sama persis yang diberikan eyang uti, dulu.
"Ini, kan...!"
"Iya, itu ponsel kamu...!" ujar Bagas seraya berlalu pergi menuruni tangga.
"Tunggu...!"
Kyara berjalan mengikuti Bagas. Dengan terburu-buru dia menuruni tangga hendak mengejar Bagas yang memang berjalan dengan sangat cepat. Karena dia masih mengenakan mukenanya, tiba-tiba saja...
"Aaahhh...."
Tanpa sengaja, Kyara menginjak ujung mukena bagian bawah. Dia pun kehilangan keseimbangan.
Bagas berbalik mendengar teriakkan Kyara tadi, dia pun segera menaiki tangga untuk menangkap Kyara yang hendak jatuh.
Hup...
Bagas berhasil menangkap tubuh Kyara, hingga mereka terjerembab bersama di lantai tangga berikutnya. Bagas tidak ingin Kyara terluka, dia pun merelakan tubuhnya tertindih beban tubuh Kyara. Untuk sejenak, pandangan mereka beradu.
Mata yang sangat indah, bening... dengan bola mata yang berwarna kecoklatan, dan bulu matanya yang lentik, menambah kesempurnaan sepasang mata itu...batin Bagas.
Bagas memejamkan matanya. "Turunlah, kau mau aku mati, karena kehabisan napas..!" ujarnya, datar.
"Ma... maaf...!" jawab Kyara, kikuk.
Kyara merangkak ke samping Bagas. Dia kemudian duduk di anak tangga itu. Begitu juga dengan Bagas yang segera bangkit dan duduk di sebelah Kyara.
"Sakit, kak..!"
__ADS_1
"Hmmm..."
"Maaf...!"
"Sudahlah...! Sebaiknya kamu kembali ke kamar."
"Tunggu...! Aku tahu ini bukan HP punyaku !"
"Hmm...,itu punyamu..?"
"Tidak mungkin, HP ku pasti sudah rusak saat aku jatuh ke kolam tadi..! Apa kakak membeli lagi yang baru, yang sama persis dengan milikku..?"
Apa..! Kak Kya jatuh ke kolam...? Kapan..? Di mana..? batin Bima yang sedang mengawasi percakapan mereka dari pintu kamarnya.
"Hmm..., sekarang, itu punyamu ! Aku sudah memasukkan nomor yang sama. Kau tidak mau kan, orang-orang curiga karena HP mu rusak ?"
Kyara diam. Dia memang tidak mau orang-orang mengetahui kejadian buruk yang menimpanya, tapi dia juga tidak ingin terus-menerus membebani Bagas.
"Tapi, kak...!"
"Sudahlah...! Anggap saja itu hadiah ulang tahunmu..!" ujar Bagas seenaknya. Dia pun pergi meninggalkan Kyara.
"Ulang tahunku masih lama kak...!"
Bagas kembali membalikkan badannya, "Baiklah...! Aku cicil hadiahnya dari sekarang...!" ujar Bagas sambil tersenyum.
"Makasih kak...!"
Bagas menjawab Kyara dengan lambaian tangannya.
***
Apa kau sudah siap, nak...!" tanya tuan Mahesa yang melihat Kyara sedang mengeluarkan kopernya dari dalam kamar.
"Iya, eyang...! Kyara sudah siap..!" jawab Kyara.
"Tunggulah sebentar, Kya...! Biar Ajay yang mengantarmu pulang." ujar tuan Mahesa.
"Ti... tidak usah, eyang...! Kya...kya bisa sendiri, kok..!"
"Jangan seperti itu, nak...! Nanti apa tanggapan orang tuamu, jika kamu pulang sendirian." nyonya Aini ikut berbicara.
"Ayo, kita turun dulu...! Kita tunggu Ajay di bawah saja. Kopermu, biar nanti, Ujang yang bawakan ke bawah." ujar tuan Mahesa.
Mereka pun turun dan menunggu Ajay di ruang keluarga.
5 menit....
10 menit...
15 menit...
Hingga hampir setengah jam Kyara menunggu, namun Ajay tidak juga menampakkan batang hidungnya.
"Apa Ajay belum bangun ?" tanya tuan Mahesa kepada Kyara. Beliau merasa heran karena Kyara masih duduk di ruang keluarga dengan gelisah.
"Kya tidak tahu, eyang..!" jawab Kyara.
"Ada apa lagi nih anak..! Kenapa jam segini belum bangun juga..? Nah....Nah...!" teriak tuan Mahesa.
Mbok Nah lari tergopoh-gopoh, "Iya.., tuan..!"
"Tolong bangunkan Ajay..!" perintah tuan Mahesa.
"Emh...itu...anu tuan...anu...den... Ajay...anu...!" ujar mbok Nah gelagapan.
"Kamu kalau ngomong yang jelas, Nah !" ujar tuan Mahesa.
"Anu..., se.. sebenarnya.., semalam den Ajay.., ti. tidak pulang, tuan..!" kata mbok Nah, ketakutan.
"Apa...!!" tuan Mahesa kaget. "Kemana dia...? Benar-benar tidak bisa diandalkan..! Bagaimana dia mau menjadi penerus bisnis Sanjaya jika sikapnya seperti ini terus...?!" gerutu tuan Mahesa.
"Aini...! Aini...!" tuan Mahesa memanggil istrinya.
"Iya, suamiku...! Ada apa..? Teriakanmu keras sekali, sampai terdengar ke dapur...!" ujar nyonya Aini.
"Maaf.., mungkin karena terlalu emosi..!" ujar tuan Mahesa. "Sekarang, tolong kamu hubungi Bagas ! Suruh dia kemari..!" perintahnya.
"Baiklah suamiku...!" nyonya Aini pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Bagas.
Tak lama kemudian, Bagas tiba di rumah Ajay.
"Assalamualaikum...! Apa eyang memanggilku ?" tanya Bagas begitu tiba di ruang keluarga.
"Apa kamu tahu, kemana Ajay pergi, hingga sampai detik ini dia belum pulang ?" tanya tuan Mahesa.
Bagas melirik Kyara. Dia hanya melihat gadis itu menundukkan wajahnya.
"Bagas tidak tahu, eyang. Yang Bagas tahu, dari kemarin siang, Ajay memang pergi. Tapi dia tidak bilang mau pergi ke mana !" jawab Bagas.
"Anak itu...! Kenapa sikapnya masih seperti anak kecil saja !" ujar tuan Mahesa, geram. "Apa hari ini kamu sibuk, nak ?" tanyanya lagi.
"Hari ini, Bagas hanya akan mengecek bengkel saja." jawabnya.
"Oh, iya...! Eyang mau minta tolong, boleh ?" tanya tuan Mahesa.
Bagas mengangguk, "Boleh, eyang..., apa yang bisa Bagas bantu ?"
"Tolong antarkan Kyara sampai ke terminal !"
__ADS_1
"Tidak usah, eyang..! Nanti malah merepotkan kak Bagas, Kya bisa naik taksi, kok..!" tolak Kyara.
Kyara merasa sungkan jika harus merepotkan Bagas kembali.
"Tidak merepotkan kok, nona..! Lagipula, jalannya searah dengan bengkel saya." jawab Bagas.
"Kamu dengar, nak..! Bagas tidak merasa direpotkan ! Kamu jangan terlalu sungkan padanya. Dia juga sama, masih cucu eyang, kok...!" ujar tuan Mahesa. "Ngomong-ngomong jam berapa keberangkatan busnya ?" tanya eyang Mahesa.
"Jam 9, eyang." jawab Kyara.
"Sekarang hampir jam 8. Sebaiknya kalian segera berangkat ! Takut jalanan macet, nanti tidak bisa datang tepat waktu." ujar tuan Mahesa.
"Baiklah...! Kya pamit dulu eyang. Jaga diri eyang baik-baik !" ujarnya seraya memeluk kedua orang yang sangat dihormatinya.
"Iya, kamu juga, hati-hati di jalan ya, nak...! Salam buat kedua orang tuamu..! Jangan lupa kabari kami jika sudah sampai rumah !" ujar nyonya Aini.
Bagas mengambil koper Kyara dan menyimpannya di dalam bagasi mobil.
"Ayo...!" ajak Bagas kepada Kyara.
Kyara mengangguk dan mengikuti Bagas menuju mobilnya. Setelah dirasa semuanya telah rapi, Bagas melajukan mobilnya menuju terminal.
Di waktu yang sama. Di sebuah rumah sakit yang berada di pinggir kota.
"Assalamualaikum...!" sapa Cecilia sambil membuka pintu kamar rawat Ajay.
Ajay menoleh, "Waalaikumsalam..!" senyumnya mengembang melihat gadis itu.
"Kau sudah merasa baikan ?" tanya Cecilia sambil menyimpan tasnya di atas nakas. "Apa kau tahu ? Aku bawakan sesuatu untukmu ?" ujarnya.
"Apa itu ?" tanya Ajay.
Cecilia mendekatkan bibirnya ke telinga Ajay, "Rahasia..!" bisiknya, mesra.
Darah Ajay berdesir merasakan hembusan halus menyentuh tengkuknya. Naluri kelelakiannya kembali. Dia menatap Cecilia.
Gadis itu...! Apa dia gadis seperti Kyara ? Ataukah seperti Andin ? Kenapa aku merasa tertantang oleh sikapnya. Terkadang dia lembut seperti Kyara. Tapi terkadang, sikapnya penuh keberanian dan percaya diri seperti Andin.. Hmm...., kita lihat saja..., gadis seperti apa kau sebenarnya..? batin Ajay.
"Baiklah..! Aku suka bermain rahasia..!" jawab Ajay.
"Oke.. ! Jadi biarkanlah itu menjadi rahasia di antara kita..!" lanjut Cecilia.
Cecilia kemudian membuka cup yang dipegangnya sedari tadi.
"Aku bawakan bubur ayam untukmu. Aku tahu, makanan di rumah sakit tidak begitu enak. Dan aku yakin, kau tidak akan menyukainya. Benar kan...?" ujar Cecilia tersenyum tulus.
Ajay menatap Cecilia. Entah kenapa dia merasa mendapatkan kembali perhatian seorang Kyara.
"Aku suapin, ya...!" ujar Cecilia membuyarkan lamunan Ajay.
"Ti.. tidak usah ! Biar aku saja !" jawab Ajay, tergagap.
"Ish..! tanganmu masih di perban. Biar aku saja yang suapi. Ayo...! Buka mulutnya....! Aaa...." ujar Cecilia.
Ajay pun menuruti perintah Cecilia. Matanya terus menatap lekat gadis yang berada di hadapannya. Cantik... gadis yang sangat cantik..., gumamnya dalam hati.
***
Kyara tiba di terminal, 10 menit sebelum busnya berangkat. Setelah berpamitan dengan Bagas, Kyara pun pergi menuju busnya. Di tengah jalan, dia teringat akan jaket Bagas yang dulu dibawanya. Dia kembali lagi ke arah Bagas.
Bagas mengernyitkan dahinya melihat Kyara membalikkan badannya dan kembali menghampirinya.
"Ada apa ? Apa ada barang yang tertinggal di mobil ?" tanya Bagas.
Kyara menggelengkan kepalanya.
"Terus...?" tanya Bagas, heran.
"Itu..., anu...aku...aku mau minta ma..maaf ! Du..dulu..., aku pernah mengambil jaket kak Bagas. Tapi kak Bagas tidak usah khawatir, jaketnya masih ada, kok ! Nanti, kalau aku kemari lagi, aku pasti bawa dan aku kembalikan ke kakak !" ujar Kyara.
Bagas tersenyum, "Tidak usah dibawa ! Suatu hari nanti, aku sendiri yang akan mengambilnya ke rumahmu..!" ujar Bagas. "Pergilah ! Nanti kamu ketinggalan bus..!" perintahnya.
Kyara mengangguk, kemudian pergi untuk menaiki busnya.
Aaahh...., akhirnya aku kembali pulang...! Aku sudah sangat rindu dengan kedua orang tuaku. Ayah..., ibu..., tunggu Aneng...! Aneng kembali lagi pada kalian... batin Kyara seraya memejamkan matanya. Tiba-tiba...
Ting....
Ting...
Ting...
Beberapa notifikasi pesan WhatsApp masuk di ponselnya Kyara.
"Kak Bagas.." gumam Kyara.
Segera Kyara membuka pesan bergambar dari Bagas yang ternyata beberapa foto bagian-bagian rumah baru Kyara.
Kyara tersenyum melihat foto-foto itu, "Makasih, kak.." gumamnya seraya mendekap ponselnya.
Bersambung...
Mohon maaf, jika beberapa hari ke depan, author akan telat up episode selanjutnya, dikarenakan kegiatan author yang cukup banyak.
Tapi insyaallah, akan author usahakan untuk up tiap hari.
Semoga masih setia menunggu kelanjutan ceritanya.
Terima kasih atas dukungannya pada karya author yang recehan ini...
__ADS_1
Semoga suka...🙏🙏🤗