
"Apa lukamu sudah sembuh, nak ?" tanya tuan Mahesa.
Kyara meraba ujung pelipisnya, "Iya, eyang..! Ini sudah tidak sakit lagi kok..!" jawab Kyara.
"Baguslah kalau begitu..! Lain kali, biarkan Nah yang mengerjakan pekerjaan rumah." ujar tuan Mahesa.
"Tidak apa-apa, eyang..! Badan Kya rasanya pegal, kalau harus diam terus di kamar..!" ujar Kyara sambil menggeliat meregangkan otot-ototnya.
"Kamu, ini..! Selalu saja ada alasan menyahuti omongan eyang..!" tukas tuan Mahesa. "Oh iya, nak..! Sisa barang yang kita beli waktu itu, katanya akan dikirim hari ini. Eyang sudah minta Bagas untuk membantumu menata ruangannya nanti. Sebaiknya, sekarang kamu pergi ke rumahmu ! Mungkin saja barangnya sudah datang." lanjut tuan Mahesa.
"Baiklah eyang, kalau begitu, Kya berangkat sekarang ya...!" pamitnya.
Tak butuh waktu lama, Kyara akhirnya sampai di rumah barunya. Ya..! Tampak beberapa unit mobil box yang mengantarkan barang-barang yang dibelinya seminggu yang lalu.
Tiba di pintu utama, Kyara melihat Bagas yang sedang memberikan perintah untuk memasukkan barang-barang tersebut ke rumah.
Seorang pegawai furniture yang turut serta mengantarkan barang, mendekati Bagas. "Tolong ditandatangani di sini, pak !" tunjuknya kepada Bagas sambil menyerahkan bukti pengambilan barang.
Bagas melirik ke arah Kyara yang baru saja tiba. "Sebaiknya, anda berbicara dengan orang itu...!" tunjuk Bagas kepada Kyara.
Pegawai itu melirik ke arah Kyara, "Baiklah..!" jawabnya. Aneh...! Suami istri kok masing-masing, sih..! Padahal apa susahnya ditandatangani, biar urusannya cepat selesai...! Huh.., dasar orang kaya...,, batin pegawai itu.
"Permisi, mbak..! Mohon tandatangani di sini..!" ujarnya seraya menyerahkan bukti penerimaan barang.
Kyara pun mengambil kertasnya dan menandatanganinya. Satu jam kemudian, barang-barang tersebut telah selesai dimasukkan ke rumah.
Kyara bersama Bagas mulai menata ruangan yang masih kosong. Berjam-jam mereka lakukan itu dibantu oleh beberapa tukang, suruhan eyang Mahesa.
Senja mulai tiba, tapi masih ada beberapa ruangan yang belum tertata dengan rapi, di antaranya dapur, ruang makan dan kamar di lantai dua.
"Kak, apa tidak sebaiknya kita lanjutkan besok saja ?" tanya Kyara.
Bagas yang sedang memasang sekrup ranjang, langsung menoleh, "Kenapa ?" tanyanya, heran.
"Ini sudah sore, kasihan para tukang itu. Sepertinya mereka sudah kecapean...!" ujar Kyara.
"Suruh mereka pulang ! Dan kamu.., pulanglah..!" perintah Bagas.
"Kakak sendiri...?" tanya Kyara.
"Tanggung..! Nanti kuncinya aku antar ke rumah..!" jawab Bagas.
"Tidak usah diantar...! Besok kan kita harus bereskan beberapa ruangan lagi.." ujar Kyara.
"Hmmm..." hanya itu yang keluar dari mulut Bagas, sebagai jawaban.
Benar kata Sisil..., pria dingin yang minim kosa kata..! batin Kyara sambil tersenyum.
Kyara kembali ke ruang tamu kemudian menyuruh para tukang untuk menyudahi pekerjaannya. Setelah itu, dia kembali ke rumah tuan Ali.
***
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Dengan tergesa-gesa, Kyara berlari kecil menuju rumah barunya. Tiba di sana, dia sudah mendapati pintu rumah terbuka lebar.
Aah..., pasti kak Bagas sudah tiba duluan... batinnya.
__ADS_1
Kyara memasuki rumahnya. Dia berkeliling untuk mencari keberadaan Bagas. Tiba di ruang keluarga, dia mendengar suara gaduh dari arah belakang. Ternyata suara itu berasal dari dapur. Kyara pun pergi ke dapur, tampak di sana, Bagas sedang memasangkan penyangga kitchen set.
"Assalamualaikum...! Maaf kak..., Kya terlambat..!" ujarnya seraya membungkukkan badannya begitu tiba di dapur.
"Hmm.." jawab Bagas tanpa menoleh.
Rencananya, hari ini, mereka hendak menata barang-barang di ruang makan, dapur dan juga kamar utama di lantai dua.
"Apa yang bisa Kya bantu, kak...!" tanyanya.
Bagas diam. Dia masih fokus memasang kitchen set. Kyara pun berinisiatif untuk membantu Bagas. Dia meraih palu yang terletak di meja kecil, setelah itu dia mengambil beberapa buah paku berukuran sedang. Kyara hendak memasang paku di dinding dekat wastafel, sebagai pengait untuk lap tangan nanti. Tetapi...
Tuk...!
"Aww...!" Kyara sedikit menjerit. Palu yang seharusnya menimpa paku, ternyata malah menimpa telunjuknya.
Bagas terkejut, segera dia menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Kyara yang sedang memegang telunjuknya.
"Apa kau memang terlahir untuk menjadi seorang gadis yang bodoh..!" ujar Bagas ketus seraya menarik telunjuk Kyara yang terkena pukulan palu.
Ujung telunjuk itu tampak bengkak. Kuku jarinya pun terlihat membiru. Bagas terus meniupi telunjuk Kyara.
"Ehem...!!"
Dehaman seseorang yang tak lain adalah nyonya Diana mengagetkan Bagas dan Kyara. Segera Bagas melepaskan tangan Kyara.
"Tangan kamu kenapa, Kya..?" ujar nyonya Diana, lembut.
Kyara bengong. Merasa aneh mendengar tutur kata nyonya Diana yang berbeda dari biasanya.
"I... ini...tante...! Kena palu tadi..!" jawab Kyara.
Bagas hanya mengangguk.
"I...iya tante...!" jawab Kyara sambil terus memegangi telunjuknya yang mulai terasa nyut-nyutan. "Ada apa tante datang ke sini..? Ada yang bisa Kya bantu..?" tanyanya lagi.
"Ah iya..., tante lagi cari Ajay..? Apa dia ada di sini ?" ujar nyonya Diana, memainkan sandiwaranya.
Kyara menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, tante..!" jawab Kyara, lirih.
"Ish...! Kemana lagi tuh anak..!" ujar nyonya Diana merasa kesal.
"Tadi, Kya lihat Ajay sudah pergi, tante..!" jawab Kyara yang memang sempat melihat Ajay mengeluarkan mobil sportnya.
"Apa kamu tahu, dia pergi kemana..?" tanyanya lagi.
Kembali Kyara menggelengkan kepalanya.
Bagas menatap sinis ke arah Kyara. Calon istri macam apa kamu, nona..? Sampai tidak tahu keberadaan calon suami sendiri...! gerutu Bagas dalam hati.
Drrtt...drrt...
Ponsel nyonya Diana bergetar. Ya..! Lima menit sebelum nyonya Diana tiba di ruang dapur. Dia telah mengirimkan pesan kepada Andin untuk menghubunginya sepuluh menit setelah pesan itu terkirim.
Nyonya Diana mengangkat telponnya.
__ADS_1
"Hallo...! Andin...!"
Sengaja nyonya Diana menyebut nama Andin supaya terdengar oleh Kyara jika orang yang menghubunginya adalah Andin.
"Ya...! Kenapa...?"
Nyonya Diana berkata agak keras.
"Danau Tirta...?"
Nyonya Diana memperlihatkan raut muka keheranan di depan Kyara, hingga membuat Kyara merasa penasaran.
"Apa...!!"
Nyonya Diana berteriak keras, membuat Bagas pun melirik ke arahnya.
"Bunuh diri..." Jangan nekat kamu Andin !"
Nyonya Diana terlihat histeris. Bagas dan Kyara terkejut mendengar kata bunuh diri keluar dari mulut nyonya Diana.
"Sayang..., tante mohon..., istighfar nak...! Jangan seperti ini...! Kita bisa bicarakan semua ini secara baik-baik..! Hallo...hallo...! Andin...! Hallo...!"
Tut...tut...tut...
Nyonya Diana terduduk lemas.
Kyara dan Bagas menghampiri nyonya Diana.
"Andin kenapa, tan...?" tanya Bagas terlihat cemas. Begitu juga dengan Kyara yang merasa khawatir jika Andin memang hendak berbuat nekad.
"An... Andin...mau bunuh diri...!" ujar nyonya Diana seraya menahan isak tangisnya. "Tolong tante...! Cegah dia, Gas...! Jangan biarkan dia berbuat nekad..!" kembali nyonya Diana melakukan perannya dengan sangat baik.
"Di mana dia..?" tanya Bagas lagi.
"Da... Danau Tirta...!" ujar nyonya Diana.
Bagas segera berlari keluar. Dia pergi ke rumahnya untuk mengambil mobilnya.
"Tunggu...!" teriak Kyara. "Aku ikut...!" lanjutnya.
"Tapi, nak...! Jangan...!" nyonya Diana berpura-pura mencegah Kyara.
Kyara memegang punggung tangan calon mertuanya. "Tidak apa-apa, tante..!" ujarnya mengusap tangan nyonya Diana sambil tersenyum tulus.
"Ba... baiklah...! Hati-hati..!" ujar nyonya Diana dengan wajah penuh kekhawatiran.
Kyara segera pergi menyusul Bagas ke rumahnya.
Nyonya Diana menatap punggung Kyara dengan senyum kemenangan yang terpancar dari bibirnya. Dia segera menyeka air mata palsunya...
"Kena kamu gadis kampung..!" gumamnya lirih.
Bersambung...
Happy weekend ya readers...
__ADS_1
Semoga masih menikmati cerita ini...
Ditunggu like vote n komennya...🙏🙏