Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Bintang Kita


__ADS_3

"Haahh...!"


Mulut Sisil terbuka lebar mendengar ucapan Kyara.


"Sil, semua orang menganggapku berhalusinasi ! Semua orang menganggapku gila ! Tapi aku masih bisa merasakan kehadirannya ! Aku masih yakin jika yang meninggal itu bukan suamiku." ujar Kyara.


"Ja... jangan bercanda lo Ra !" jawab Sisil, terbata karena merasa shock dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Sil, please.. ! Aku nggak bercanda ! Aku benar-benar yakin jika suamiku masih hidup !" Kyara tetap kukuh pada pendiriannya.


"Ta...tapi, bagaimana bisa ? Gue pernah membaca berita tentang kematian suami lo. Di sana sudah jelas-jelas dikatakan jika dia meninggal dalam kecelakaan. Meskipun wajahnya sudah tidak bisa dikenali, tapi semua bukti yang ditemukan, semuanya mengarah pada identitas suami lo, Ra ! Bahkan asisten pribadinya pun mengakui jika barang-barang itu milik suami lo." elak Sisil mencoba menyadarkan sahabatnya.


"Ish, jadi kamu lebih percaya sama asisten kang Bagas dibandingkan aku yang sahabatmu sendiri !" Kyara merengut kesal.


"Aish..., bukan seperti itu Ra ! Gue cuman berpikir logis saja ! Emang lo punya bukti kalau suami lo masih hidup ?" tanya Sisil.


"Sebenarnya aku nggak punya bukti konkret, tapi aku yakin itu bukan dia. Pada saat aku cek kondisinya, di jari manisnya sama sekali tak ada cincin nikah kami. Bahkan di plastik yang berisi barang-barang bukti pun, aku tidak menemukannya. Karena itu aku yakin jika suamiku masih hidup." jawab Kyara.


"Ah Ra, jika suami lo masih hidup, terus kenapa sampai sekarang dia belum balik juga. Ini sudah satu bulan lebih sejak kecelakaan itu terjadi." ujar Sisil.


Tiba-tiba, wajah Kyara berubah sendu.


"Mungkin dia masih marah padaku, Sil !" ucap Kyara.


"Ini apa lagi maksudnya, gue makin nggak ngerti !" Sisil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Kyara menatap kosong bunga-bunga yang berada di depan gazebo.


"Kakang Bagas pergi setelah mengetahui jika aku menjenguk Ajay tanpa sepengetahuannya. Malam itu kami bertengkar hebat, hingga akhirnya dia pergi dan belum kembali sampai sekarang." Kyara mulai menceritakan kejadian di malam itu.


"Ya Tuhan, Kya...!" pekik Sisil.


Sisil meraih tubuh Kyara dan mendekapnya erat.


"Sabar ya Kya ! Dengar, jika memang lo yakin jika jenazah itu bukan Bagas, kenapa lo nggak minta tes DNA aja ?" saran Sisil


"Ya Tuhan..., aku sampai nggak kepikiran ke sana, Sil ! Ya, kamu benar ! Aku harus minta bantuan kak Gun untuk melakukan tes DNA pada jenazah itu. Makasih ya Sil, kamu emang sahabat terbaikku." ujar Kyara seraya memeluk erat sahabatnya.


"Sama-sama ! Gue senang bisa bantu lo ! Masuk yuk ! Udah malam nih, anginnya nggak baik buat bumil kayak kita." ajak Sisil.


"Kamu duluan aja, Sil ! Lagian Aaron kayaknya udah selesai tuh ngobrolnya sama mas Gun ! Aku mau si sini dulu bentar lagi." jawab Kyara.


"Ya sudah, kalau gitu gue masuk dulu, ya ! Bye Kya ! Met malam..!" Sisil pergi seraya melambaikan tangannya.


"Malam juga, Sil !" jawab Kyara membalas lambaian sahabatnya itu.


Setelah Sisil pergi, Kyara berjalan ke arah ayunan yang berada di tengah taman. Dia mendaratkan bokongnya dengan pelan di atas ayunan itu. Dia menengadahkan wajahnya menatap langit yang tampak bersinar di penuhi bintang-bintang. Kyara memejamkan matanya memutar memori pada saat dia sedang berada di balkon bersama suaminya. Telinga Kyara dapat menangkap suara dengan jelas.


"Lihatlah langit itu ! Indah bukan ?"


Kyara menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jika kau merindukanku, tataplah langit yang penuh bintang itu !"


"Kenapa ?" tanya Kyara.


"Karena di antara bintang-bintang itu, ada bintangku, bintangmu dan bintang kita !"


Kyara tersenyum mendengar suaminya yang sudah pintar menggombal.


Kyara kembali membuka matanya. Di saat yang bersamaan, dia melihat salah satu bintang yang bersinar dengan terangnya.


"Itu bintang kita, kakang ! Bintang kita !" ucap Kyara lirih.


***


Waktu terus berlalu. Hari ini, kak Indah menggelar tasyakuran 4 bulan kehamilan Kyara. Semua keluarga tampak sangat bersemangat dengan acara yang sudah menjadi adat istiadat orang sunda. Tak terkecuali dengan mang Jajang dan bi Irah.


Menurut orang di jamannya. Usia kandungan yang menginjak 4 bulan adalah usia yang sangat penting, karena itu diadakannya syukuran. Di usia inilah, Allah SWT meniupkan ruh untuk sang janin. Di usia ini pula untuk pertama kalinya dialog tercipta antara Sang Maha Kuasa dengan sang janin. Di usia ini pula, anak untuk pertama kalinya mengucap 2 kalimah syahadat. Ayshadu An-la ilaha illallah yang artinya saya bersaksi tiada tuhan selain Allah, Wa Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah yang artinya dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dan di usia inilah Allah menentukan garis takdir anak tersebut, entah itu jodohnya, rezekinya, nasibnya dan juga usianya. Karena itu masyarakat di daerah Kyara mempercayai jika kita pandai bertasyakur atas nikmat Tuhan, maka kebaikan akan selalu menyertai kehidupan kita.


Kyara sangat senang sekali mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dikumandangkan oleh seorang gadis yatim piatu dari panti asuhan yang sering dikunjungi oleh kak Indah. Begitu merdu dan syahdu, membuat hati Kyara terasa damai.


Wejangan dan tausiyah yang keluar dari mulut seorang ustadzah muda nan cantik, terasa sangat ringan dan mudah dipahami. Sehingga para Mustamin pun tampak senang mendengarnya.


Menjelang sore hari, acara pun selesai. Kyara mendapatkan energi baru untuk tetap tersenyum menghadapi kesendiriannya. Dia pun semakin memantapkan hatinya untuk mengungkapkan keraguannya atas jasad yang selama 4 bulan terkubur di TPU itu.


Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum, kak Gun ! Boleh Kya, masuk !" tanya Kyara sambil mengetuk pintunya.


Ceklek...


Kyara membuka pintunya. Dia sedikit terkejut mendapati pamannya sedang berada di ruang kerja kakak iparnya.


"Aneng ! Yap, sini duduk sama mamang !" ujar mang Jajang memanggil keponakannya dan menyuruhnya duduk di sampingnya.


"Ada perlu apa, Aneng teh ketemu sama den Gunawan ?" kembali pamannya bertanya.


"Itu..., emm..anu..! Aneng.., Aneng mau minta sesuatu sama kak Gun. Boleh, kak ?" tanya Kyara sambil menengok ke arah kakak iparnya.


"Boleh saja, memangnya Kya mau minta apa ?" tanya Gunawan.


"Kya..., Kya mau minta bantuan kakak untuk membongkar makam kang Bagas. Kya..., Kya mau melakukan tes DNA, kak !" ujar Kyara pelan


Gunawan dan mang Jajang terkejut mendengar permintaan Kyara yang menurut mereka tak masuk akal.


"Astaghfirullah hal adzim ! Tong sok aya-aya waen, neng ! (Jangan mengada-ada, neng !) Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal harus digali lagi kuburannya ?" seru mang Jajang.


Mang Jajang mulai merasa geram dengan sikap keponakannya yang tidak masuk akal.


"Tapi, mang ! Aneng yakin jika kang Bagas masih hidup." ucap Kyara.


"Cukup Aneng ! Sekarang juga, kamu kemasi barang-barang kamu ! Besok, kamu ikut mamang pulang ! Sudah cukup kamu mempermalukan mamangmu ini di depan keluarga almarhum nak Bagas !"

__ADS_1


Mang Jajang semakin emosi dengan sikap Kyara yang semakin ngeyel.


"Sudah mang, sudah ! Tenang dulu, jangan mengambil keputusan ketika sedang emosi."


Gunawan berusaha menenangkan mang Jajang. Meskipun dia sendiri merasa kesal dengan keinginan Kyara, tapi Gunawan mencoba untuk bersabar.


"Sudah, den Gunawan ! Tidak usah membela Aneng lagi ! Mamang memang harus segera membawanya pulang kampung. Biar Aneng bisa diobati sama ajengan di sana, agar pikirannya tidak terus mengingat almarhum den Bagas ! Ish, dosa apa atuh neng, mamang teh ? Sampai-sampai kamu tega mempermalukan keluarga kita seperti ini !"


Mang Jajang memukul dadanya yang terasa sesak.


"Ma...maaf mang ! Bu...bukan begitu ! Aneng tidak bermaksud mempermalukan mamang, ta... tapi Aneng hanya....


"Cukup ! Keluar kamu dari sini ! Kamu teh hanya bikin mamang emosi saja ! Jangan sampai mamang memukulmu biar kamu sadar ! Ayo keluar !"


Gunawan segera mendekati adik iparnya.


"Kamu keluar dulu ya, Kya ! Nanti kita bicarakan lagi !"


Kyara mengangguk, dia pun kembali ke kamarnya. Tiba di sana, Kyara menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ya Tuhan, aku hanya ingin membuktikan kebenaran, apa aku salah ? batinnya.


***


Waktu terus berlalu. Sedikit demi sedikit, Ajay mulai bisa berjalan kembali, walaupun masih menggunakan tongkat.


Senyum selalu mengembang di kedua sudut bibirnya saat Ajay membayangkan wajah Kyara. Ajay ingin memantaskan kembali dirinya untuk merebut cinta Kyara. Meskipun Ajay tahu semuanya tidak akan sama seperti dulu. Ajay sadar, mungkin saat ini akan terasa sulit untuknya meraih kembali cinta yang pernah hilang di hati Kyara.


Sementara itu di lain tempat. Gerald ternyata telah selangkah lebih maju dari Ajay. Cinta yang pernah dirasakannya terhadap Kyara dulu di bangku kuliah, kini telah bersemi kembali. Meskipun umur Gerald terpaut 2 tahun lebih muda dari Kyara, tapi itu tak menyurutkan semangatnya untuk meraih simpati Kyara.


Setiap hari, di jam makan siang, Gerald selalu berusaha untuk meluangkan waktunya demi Kyara. Terkadang dia mengunjungi Kyara hanya sekedar untuk mengobrol. Atau dia menjemput Kyara pulang, meskipun jemputannya hanya sebuah kesia-siaan. Kyara tetap memilih untuk pulang bersama jemputan Arumi.


***


"Masuklah, Adi ! Udaranya sudah semakin dingin. Sangat tidak baik untuk kesehatanmu !" ujar seorang pemuda bertubuh tegap. Kulitnya tampak semakin legam karena sering terbakar matahari.


"Iya, kak ! Sebentar lagi !" jawab sang adik.


"Kamu kenapa senang sekali duduk sendirian di luar ? Apa tidak kedinginan ?"


"Tidak kak ! Malam ini, cuacanya sangat cerah ! Lihatlah, kak ! Langitnya begitu indah dengan cahaya bintang !" ujar Adi dengan mata berbinar-binar melihat kerlap-kerlip bintang di langit."


Pemuda itu menatap langit yang ditunjukkan oleh adiknya. Memang benar jika langit benar-benar indah dengan hamparan ribuan bintang yang bercahaya.


"Kakak heran, Adi ! Kenapa kamu suka sekali melihat bintang-bintang itu ?" tanyanya.


"Karena di antara bintang-bintang itu, ada bintang aku, bintang kamu dan bintang kita !"


Pemuda itu hanya melongo mendengar jawaban puitis sang adik.


Bersambung....


Jangan lupa like vote n komennya...🙏

__ADS_1


Tinggal beberapa episode lagi nih gaisss....


__ADS_2