
"Apa kau yakin akan melepas rumah itu, Rat ?" tanya kang Subro saat bu Ratna menemuinya.
"Iya kang ! Hanya ini yang bisa Ratna lakukan untuk kesuksesan Aneng. Lagipula terlalu banyak kenangan yang tidak bisa Ratna lewati sendirian di rumah itu." jawab bu Ratna penuh keyakinan.
"Baiklah...! Sebenarnya, semalam setelah kamu menghubungi akang, akang coba menawarkan rumah itu pada adik akang. Ternyata dia sangat berminat dengan rumah itu. Jika kamu sudah yakin, kamu bisa menerima 30 persen DP yang dia berikan, sisanya akan dia lunasi seminggu lagi. Bagaimana, Rat ?"
"Alhamdulillah...! Iya kang, Ratna terima. Ratna yakin ini jalan yang terbaik. Karena itu, Allah memudahkan Ratna mendapatkan pembeli untuk rumah itu."
Kang Subro tersenyum.
"Ya sudah, akang ambil uangnya dulu, ya...!"
Kang Subro pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian dia kembali dan menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Bu Ratna.
Dengan penuh sukacita, bu Ratna menerima amplop dari teman almarhum suaminya. Dia pun mengambil sebagian uang itu, jumlahnya kira-kira 3 juta. Bu Ratna menyerahkan uang tersebut kepada kang Subro.
"Apa ini Rat ?"
"Mohon diterima, kang ? Ini sebagai ucapan rasa syukur Ratna atas bantuan akang."
"Tidak usah seperti ini, Rat ! Akang ikhlas bantu kamu."
"Tidak apa-apa kang, Ratna juga ikhlas memberikan ini untuk akang."
"Baiklah, akang terima pemberian kamu !"
Kang Subro menerima uang itu dari tangan bu Ratna, namun sedetik kemudian,
"Nah, sekarang akang titip uang ini untuk Aneng, ya !" ujarnya seraya menyerahkan kembali uang tersebut ke telapak tangannya bu Ratna.
"Tapi kang...!"
"Sudahlah, Rat ! Ini untuk anakmu, katakan padanya jika dia harus rajin belajar !"
Bu Ratna tersenyum, "Iya kang, Ratna pasti sampaikan pada Aneng. Terima kasih kang atas bantuannya ! Kalau begitu, Ratna permisi dulu !"
"Ya sudah, hati-hati di jalan Rat !"
Setelah pamit pada kang Subro, bu Ratna pun pergi untuk melanjutkan perjalanannya.
***
Tiga minggu telah berlalu. Rumah megah yang dulu dipersembahkan sebagai hadiah untuk Kyara, kini ditempati oleh Ajay dan Cecilia. Sedikit demi sedikit Ajay telah membuka hatinya untuk sang istri. Terlebih lagi, Cecilia menjalani kehamilannya dengan sangat sulit. Setiap pagi, Cecilia mengalami morning sickness. Setiap makanan yang masuk ke mulutnya, pasti akan kembali dimuntahkannya. Lambat laun, Ajay pun merasa iba akan penderitaan Cecilia dalam mengandung anaknya.
Hampir setiap sore, Cecilia meminta Ajay untuk menemaninya di taman belakang. Entahlah, ada kenyamanan tersendiri bagi Cecilia saat menikmati waktu senja bersama suaminya. Terkadang sikap Cecilia sangatlah manja di waktu itu. Dia meminta Ajay menyuapinya, terkadang dia tertidur di dada bidang suaminya. Dan Bagas yang setiap kali tanpa sengaja melihat semua itu, hanya bisa mengepalkan tangannya.
Bagas selalu mengecam perbuatan Ajay yang tega menyakiti Kyara. Dia benar-benar marah melihat sikap Ajay, namun dia tidak mampu berbuat apa-apa. Setiap kali melihat mereka, Bagas teringat Kyara. Tatapan sendunya membuat hati Bagas semakin sakit. Sempat Bagas berpikir untuk mencarinya, namun Bagas merasa bingung, apa yang akan dilakukannya nanti setelah dia menemukan Kyara. Akankah Kyara percaya jika dia bilang dia mencintainya ? Lalu, bagaimana jika Kyara kembali menolaknya ? Akankah dia sanggup menghadapi penolakannya ? Sepertinya tidak, Bagas belum siap dan tidak akan pernah siap jika harus mendapatkan penolakan Kyara lagi. Pada akhirnya, Bagas hanya mampu merutuki sikap pengecutnya.
Drrt....drrt...
Getaran telpon di atas nakas, seketika membuyarkan lamunan Bagas.
"Assalamualaikum, kak !" ( Bagas )
"Waalaikumsalam...! Bagas, Kakak minta maaf ya ! Sepertinya kakak tidak bisa hadir di acara wisudamu minggu depan. Kakak harus menemani kakak iparmu ke Taiwan. Ada beberapa proyek yang sedang bermasalah di sana. Kemungkinan kami akan tinggal untuk waktu yang lama. Kamu nggak apa-apa, kan ?" ( Kak Indah )
Sejenak Bagas diam, mencerna apa yang baru saja didengarnya.
"Hallo Bagas ! Kamu masih di sana kan ?" ( Kak Indah )
__ADS_1
"Eh, iya kak ! Nggak apa-apa kak ! Kakak temani kak Gunawan saja. Bagas nggak apa-apa kok !" ( Bagas )
"Maaf ya Gas...! Kakak janji, begitu kakak pulang, kakak pasti langsung kunjungi kamu, ya !" ( Kak Indah )
"Iya kak, Bagas ngerti kok ! Ya sudah, semoga urusan di sana lancar dan cepat selesai ya, kak !" ( Bagas )
"Aamiin...! Selamat ya atas wisudamu, nanti ! Kakak bangga sama kamu, Gas ! Ya sudah, kakak tutup telponnya ya ! Assalamualaikum.. !"
"Iya kak, makasih. Kakak hati-hati di sana ya ! Waalaikumsalam !" ( Bagas )
Bagas kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia kemudian turun untuk mengambil air minum. Tiba di dapur, Bagas mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Bergegas Bagas pergi ke depan untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum, kak Bagas !"
Tiba-tiba Bima masuk begitu saja saat Bagas membuka pintunya.
"Waalaikumsalam...! Eh, ngapain kamu ke sini bawa ransel gitu !" ujar Bagas yang merasa heran melihat Bima main ke rumahnya dengan menenteng ransel di pundaknya.
"Kak Bagas temani Bima ke rumah kak Kyara, yuk !" rengek Bima.
Bagas terhenyak, ada angin apa nih bocah minta gue nemani dia ke kampung halamannya Kyara..., batinnya.
"Duduk dulu Bim !" ajak Bagas.
Bima mengangguk dan mengikuti Bagas ke ruang tengah.
"Ayo cerita ! Kamu kenapa, tiba-tiba minta diantar ke rumah kak Kya ?" tanya Bagas.
"Bima kangen sama kak Kya ! Ayo kak, temani Bima cari kak Kya !" kembali Bima merengek.
"Emang kamu tahu rumahnya ?"
"Ya sudah, tapi besok ya...? Sekarang sudah terlalu sore, nanti bisa kemalaman tiba di sana."
Bima mengangguk.
"Tapi Bima nginep sini ya kak ! Bima udah bilang sama papih kalau Bima mau nginep di rumah teman. Besok subuh kita berangkat ya kak..!"
"Hiss...! Kenapa adek kecil kakak sudah pintar berbohong ya...!" ujar Bagas kesal mendengar kebohongan Bima.
"Hmmm...bohong dikit nggak apa-apa kali...!"
"He...he...he...
Bagas terkekeh sambil mengacak-acak rambut Bima.
***
Keesokan harinya, Bagas dan Bima pergi ke kabupaten T untuk menemui Kyara. Bagas berharap dia bisa mengajak Kyara ke acara wisudanya dia.
Setelah melewati perjalanan selama 5 jam, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang memiliki halaman yang sangat asri. Udara segar pedesaan mulai terasa begitu mereka membuka pintu mobilnya.
"Kamu yakin ini rumahnya ?" tanya Bagas.
Bima mengangguk cepat. Dia pun segera memasuki halaman rumah itu dan mengetuk pintunya.
"Permisi...! Assalamualaikum...! Kak Kya, ini Bima...! Assalamualaikum...!" teriak Bima antusias mengetuk pintu rumah Kyara.
"Waalaikumsalam...!"
__ADS_1
Tiba-tiba seorang wanita yang berkisar 40 tahunan membukakan pintunya.
"Maaf, cari siapa ya dek ?" tanyanya.
"Kak Kya ada, bu ?" tanya Bima.
"Kak Kya, siapa ya ?"
Wanita itu malah balik bertanya.
Bima menatap Bagas. Cukup lama mereka saling bertatapan.
"Maaf, sebentar bu...!" ujar Bagas seraya menarik tangan Bima untuk menjauhi wanita itu.
"Kamu yakin ini rumahnya kak Kya ?" tanya Bagas kesal.
"Bima yakin kak ! Noh, cat rumahnya masih tetap sama, bunga-bunga di pekarangannya juga masih sama kayak dulu." jawab Bima.
"Ya sudah, biar kakak yang bicara !" ujar Bagas.
Bagas kembali menghampiri wanita tadi.
"Maaf bu, apa benar ini rumahnya Kyara ? Maksud saya Kyara Adistya ?" tanya Bagas sopan.
"Maaf ya dek, ini rumah saya dan di sini tidak ada yang bernama Kyara ! Mungkin adek salah alamat !" jawab wanita yang ternyata pemilik rumah baru Kyara.
Bagas kembali menatap Bima yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mmm, apa ibu tahu rumah pak Ahmad ?" tanya Bima menghampiri wanita itu.
"Maaf dek, saya tidak tahu. Kebetulan saya warga baru di desa ini." jawab wanita itu.
Warga baru ? Itu artinya, mungkin memang benar jika rumah ini milik Kyara.
"Maksud ibu ?" tanya Bagas.
"Dua minggu yang lalu, saya baru membeli rumah ini dari kakak saya. Kebetulan rumah ini dulunya milik teman kakak saya." jawab wanita itu.
"Oh, apa saya boleh tahu di mana rumah kakaknya ibu ? Karena setahu saya, dulu rumah ini milik teman saya, bu."
"Sebentar...!"
Wanita itu masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian, dia menyerahkan secarik kertas yang berisikan sebuah alamat.
"Ini alamat rumah kakak saya, namanya kang Subro. Kamu bisa mencarinya ke sana. Tapi, biasanya jam segini dia berada di pangkalan angkot. Kamu tanyakan saja pangkalan angkot bypass di pangkalan ojek depan !"
Bagas menerima kertas yang berisikan alamat tersebut.
"Terima kasih bu !" ujarnya.
"Sama-sama !"
Setelah mengucapkan salam, Bagas dan Bima pun pergi untuk mencari alamat rumah kang Subro.
Bersambung...
Jangan lupa klik 💛 untuk mendapatkan notifikasi up nya...
Semoga masih suka dengan ceritanya...
__ADS_1
Like vote n komennya ditunggu ya...