Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Rumah Masa Tua


__ADS_3

Tidak...! Anda bohong ! Anda pasti bohong ! Ini tidak mungkin ! Ini tidak boleh terjadi !"


Terdengar Ajay berteriak histeris dari dalam ruangan kamarnya. Bima dan kedua orang tuanya segera berlari menuju kamar Ajay. Tiba di sana, tampak Ajay menjatuhkan semua barang yang bisa digapainya. Dua orang perawat pria muncul dan segera memegang tangan Ajay. Dokter pun memberikan suntikan penenang di tangannya Ajay. Perlahan kemudian Ajay mulai melemah. Kedua perawat tadi segera menidurkan Ajay dan kembali memasang infus di tangannya.


"Apa yang terjadi dengan anak saya, dok ?" tanya tuan Ali.


"Tuan bisa ikut saya, kita bicara di ruangan saya !" jawab sang dokter.


Tuan Ali mengikuti dokter yang menangani Ajay. Tiba di ruangan mereka duduk saling berhadapan. Dokter itu mengeluarkan rekam medis milik Ajay.


"Begini tuan, benturan keras yang terjadi menyebabkan bagian tubuh bawah tuan Ajay terjepit di antara jok mobil dan setir, menyebabkan adanya keretakan pada tulang ekor tuan Ajay. Dan itu mengakibatkan kaki tuan Ajay tidak bisa digerakkan. Sepertinya, dia mengalami kelumpuhan permanen, tuan."


"Astaghfirullah....!!"


Tuan Ali benar-benar terluka melihat musibah yang terjadi pada anaknya. Setelah pembicaraannya selesai, dia pun segera kembali ke ruang perawatan anaknya.


"Apa kata dokter, pih ?" tanya nyonya Diana penuh kecemasan.


"Kecelakaan itu mengakibatkan tulang ekor Ajay mengalami gangguan. Kemungkinan..., kemungkinan dia tidak akan pernah bisa berjalan lagi, mih !" jawab tuan Ali.


"Tidak...!!"


Brugh....!


Nyonya Diana berteriak, namun sejurus kemudian dia terjatuh ke lantai tak sadarkan diri.


***


"Mumpung kita sedang di luar, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat." ujar Bagas.


"Kemana ?" tanya Kyara.


"Ada deh...!" jawab Bagas.


"Ish, kakang...!!" rengek Kyara manja.


Bagas membelai lembut rambut istrinya.


"Sudah ikuti saja, kau pasti suka !"


Kyara mengangguk. Bagas kembali melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota. Mobil terus melaju memasuki kawasan puncak. Bagas dan Kyara mampir di sebuah distro untuk membeli jaket, karena udara pegunungan mulai terasa dingin menyentuh kulit tubuh mereka.


Setelah melalui jalanan yang cukup terjal, mobil mereka pun tiba di tempat tujuan.


Tin....tin...!


Bagas membunyikan klakson mobilnya. Pintu gerbang pun terbuka otomatis. Bagas memasukkan mobilnya ke halaman depan rumah yang tampak luas. Dia memarkirkan mobilnya tepat di depan kolam ikan di sudut halaman.


Bagas menekan tombol pintu otomatis mobilnya hingga terbuka. Kyara pun turun dan berjalan mendekati rumah tersebut. Kyara tampak takjub melihat rumah dengan nuansa etnik Jepang kuno.


Seorang pria berusia lebih dari setengah abad datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

__ADS_1


"Selamat siang Den !" sapanya.


Bagas tersenyum, "Ah pak Usman, apa kabar ?" tanya Bagas.


"Alhamdulillah baik den ! Jadi ini istrinya Aden ?" ujar pak Usman.


"Iya, perkenalkan pak, namanya Kyara ! Kya, ini pak Usman. Beliau bersama istrinya telah mengabdi puluhan tahun di rumah ini." ujar Bagas.


"Puluhan tahun ?" Kyara mengulang kalimat Bagas.


"Ah nanti aku ceritakan di dalam. Ayo, kenalan dulu !" perintah Bagas.


"Eh, iya..! Saya Kyara pak, senang bertemu bapak !" ujar Kyara sambil menjabat tangan pak Usman.


"Iya non, saya Usman ! Semoga non bisa betah tinggal di sini !" ujar pak Usman.


"Aamiin...!" jawab Kyara dan Bagas berbarengan.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Kyara tampak takjub melihat isi rumah yang bernuansa Jepang itu.


"Apa pemilik yang dulu berkebangsaan Jepang ?" tanya Kyara.


Bagas mengangguk.


"Duduklah !" ujar Bagas seraya menarik pelan tangan Kyara untuk duduk.


Kyara duduk di samping suaminya.


"Gerald orang kepercayaan kamu ?" ujar Kyara memotong kalimat Bagas.


"Ish, jangan pernah menyelak orang yang sedang berbicara, tak baik !"


"Maaf kakang...!" ujar Kyara seraya mengelus lembut pipi suaminya.


Alhasil, wajah Bagas pun berubah bak kepiting rebus, karena baru kali ini Kyara berinisiatif menyentuh Bagas duluan.


"Lanjutkan !"


"Gerald merasa kasihan melihat tuan Billy. Dia merasa jika tuan Billy masih memiliki semangat untuk membangun kembali usahanya. Karena itu dia meminta izinku untuk meminjamkan uang perusahaan sebagai modal awal bagi tuan Billy untuk membuka usahanya kembali. Namun tuan Billy menolaknya, dia merasa dia sudah tidak punya alasan lagi untuk bertahan hidup di negara ini. Akhirnya tuan Billy meminta Gerald untuk membeli rumah ini."


"Dan akhirnya, kakang membelinya ?"


"Iya, kau benar !"


"Saat itu kakang masih tinggal di Jerman, lalu kenapa kakang membeli rumah ini ? Apalagi rumah ini letaknya jauh sekali dari kota di mana kakang bekerja."


"Entahlah, aku tidak tahu ! Yang aku pikirkan saat itu hanyalah menolong beliau. Lagipula di rumah ini ada pak Usman dan istrinya yang tidak memiliki tempat tinggal lain. Aku berpikir, jika rumah ini sampai jatuh ke orang lain, lalu di mana lagi mereka akan tinggal. Ya sudah, aku beli saja meski aku tidak tahu ke depannya untuk apa ?" ujar Bagas seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Kenapa tidak kita jadikan sebagai rumah hari tua kita ?" usul Kyara.


Seketika wajah Bagas terlihat sumringah mendengar ucapan Kyara.

__ADS_1


"Benarkah ? Maukah kau menua bersamaku ?" tanya Bagas


"Akan aku pikirkan jika aku siap !" ujar Kyara seraya berdiri untuk menghindari suaminya karena merasa malu dengan usulannya sendiri.


"Ish, kau ini !" ucap Bagas.


Tiba-tiba...


"Aduh maaf den, bibik nggak tahu kalau Aden mau datang. Jadi bibik belum masak ! Eh siapa wanita cantik ini ?"


Seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya lengkap dengan sarungnya datang menghampiri Bagas dan Kyara.


"Enggak apa-apa bik Mar, lagian Bagas juga dadakan datang kemari. Oh iya, kenalkan, ini istri Bagas, namanya Kyara. Nah Kya, beliau ini bik Mar, istrinya pak Usman." ujar Bagas.


"Salam bik, nama saya Kyara !"


"Oh iya neng, nama bibik bik Marsinah, tapi neng cukup panggil bik Mar saja, biar nggak kepanjangan, he...he...! Ya sudah atuh, kalau begitu bibik mau masak dulu ya !"


"Kya bantu ya bik ?"


"Ish tidak usah atuh neng ! Masak cantik-cantik harus ke dapur atuh nanti kulitnya burik kena asap, he..he..."


"Ah bibik, bisa aja...! Nggak apa-apa, meskipun kulit Kya burik, tapi kakang tetap cinta kan...??"


Kyara mengerlingkan matanya menggoda suaminya.


Bagas hanya tersenyum melihat keusilan istrinya terhadap dirinya.


"Sudah biarkan saja bik, lagipula aku tidak bisa makan jika bukan istriku yang memasaknya !" ujar Bagas.


"Aduuuh...., aden sama eneng teh mani romantis pisan nya..., ah bibik jadi teringat waktu masih muda..., tuh si abah gen cuma bisa makan masakan bibik, bahkan sebelum bibik nikah, bibik mah sudah masak buat dia kalau pergi ke sawah teh. Makana dia mau menikah sama bibik, karena masakan bibik lebih enak daripada masakan mantan-mantan kabogohna cenah."


"Mantan-mantan ? Berarti banyak ya mantan pacarnya pak Usman ?" goda Kyara.


"Euuh.. jangan salah atuh neng, kitu-kitu gen mantan playboy kampung eta si abah teh...!"


"Aduh sudah atuh bu ! Si ambu mah sok ghibah waen ari lagi masak teh...!"


"Eh, ini mah bukan ghibah abah, tapi kenyataan. Sok pan abah teh jatuh cinta ka ambu gara-gara semur jengkol buatan ambu, bener kan...?"


Kyara hanya tergelak melihat interaksi suami istri itu. Kemesraan yang ditampakkan unik oleh pasangan suami istri itu mengingatkan Kyara kepada kedua orang tuanya.


Sejenak Kyara melirik ke arah Bagas yang sedang tersenyum melihatnya.


"Thank you, kakang..., i love you...!"


Kalimat yang terucap melalui gerakan bibirnya.


Bersambung...


Lanjut nanti malam ya gaisss...

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2