Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Thanks for everything....


__ADS_3

"Ka...kang .. !"


Bagas menoleh. "Kya....?"


Kyara terhenyak melihat perubahan raut wajah suaminya. Baru kali ini dia melihat kemarahan di wajah suaminya. Tiba-tiba, sesuatu yang sedikit menempel di dinding dekat kaca wastafel, menarik perhatiannya. Kyara berjalan untuk mengamatinya. Setelah lebih dekat, Kyara baru mengetahui jika itu adalah noda darah.


Kyara melihat kedua tangan suaminya yang sedang memegang erat wastafel. Tampak buku-buku jari tangan kanan Bagas terlihat memerah. Kyara meraih tangan suaminya yang terluka. Dia mulai membuka kran air di wastafel dan mulai membasuh punggung tangan suaminya yang terluka. Setelah dirasa sudah bersih. Kyara mengusap lembut untuk menghilangkan sisa air di atas punggung tangan yang terluka itu. Kyara kembali meraihnya dan mulai mengecup lama punggung tangan suaminya yang tengah terluka.


Bagas memejamkan matanya. Hatinya perih melihat perlakuan Kyara. Matanya mulai terasa panas karena bening hangat mulai menggenang di sana.


Ya Allah...., hamba tidak mungkin kembali membuka luka lamanya ! Dia sangat baik, tidak mungkin hamba meminta sesuatu yang membuat dia kembali mengingat kepedihannya...


Bagas tak sanggup lagi menahan kekacauan yang ada di hatinya. Dia segera menarik Kyara ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat seolah tidak pernah ingin melepaskannya lagi.


Meskipun Kyara tak mengerti dengan sikap Bagas saat ini, tapi Kyara tahu jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya.


"Apa kau ingin mandi bersama ?" bisik Kyara lirih di telinga suaminya.


Bagas melepaskan pelukannya. Terlihat matanya merah karena menahan tangisnya.


"Bukankah tadi kau bilang kau sudah mandi." jawab Bagas serak.


"Aku memang sudah mandi, tapi aku baru selesai memasak untuk makan malam kita. Jadi badanku lengket lagi, dan aku kegerahan karena harus berdekatan dengan kompor." ujar Kyara tersenyum manis.


Senyum yang sangat teduh dan membuat hati Bagas menghangat. Amarah di dada Bagas mulai mereda. Dia menangkup kedua pipi Kyara, meraih wajah Kyara pelan, dan mulai memiringkan wajahnya untuk melahap Cherry itu dengan sempurna.


Bagas mendorong tubuh Kyara hingga punggung Kyara menempel di dinding kamar mandi. Tanpa melepaskan pagutannya, Bagas mulai membuka resleting baju Kyara. Tangannya semakin lincah menjatuhkan pakaian Kyara satu persatu. Dia kembali meraih Kyara untuk mengikutinya berjalan ke bilik kamar mandi yang berdinding kaca. Dia kemudian menyalakan kran shower, dan hujan lokal pun turun membasahi mereka yang tengah dibalut asmara.


Kyara mendesah ! Bagas mengerang ! Semuanya saling melengkapi untuk mencapai rasa yang sempurna. Bagas memeluk tubuh istrinya erat.


Terima kasih sayang... ! Terima kasih karena sudah menenangkan hatiku dari kegelisahan ini ! Kau memang istri sempurnaku....! Kau tahu bagaimana cara menghiburku di kala aku sedang gundah. Aku mencintaimu, aku akan selalu menjagamu, aku tidak akan membiarkanmu merasakan kembali kepedihan...


Air mata Bagas mengalir pelan seiring dengan tetesan air shower yang sedang mengguyur pasangan yang sedang memadu kasih.


***


Tiga hari setelah melihat kemarahan suaminya, Kyara mulai melihat perubahan dalam diri suaminya. Kyara sering memergoki Bagas yang sedang melamun. Kadang dia tidak fokus jika diajak bicara. Setiap kali Kyara bertanya, Bagas selalu berdalih jika dia sedang merasa pusing dengan semua pekerjaannya.


Kyara berusaha untuk mempercayai alasan Bagas. Tapi sebagai seorang istri, Kyara pun tahu jika suaminya sedang menyembunyikan sesuatu hal darinya. Tapi Kyara tidak tahu, apa hal itu.


Meskipun merasa penasaran, namun Kyara enggan untuk bertanya. Dia yakin jika suaminya sedang menunggu waktu yang tepat untuk bercerita padanya.


Kakang tidak akan mungkin membohongiku ! Mungkin dia masih mencari waktu untuk bisa jujur padaku.


"Kang, hari Sabtu nanti, Kya ada workshop di hotel Shangrila, apa kakang mengizinkan ?"


"Itu kan tugas dari sekolahmu, sayang. Mana mungkin aku tidak mengizinkan.


"Makasih ya kang !"


"Sama-sama. Oh iya Kya, boleh aku tanya sesuatu ?"


Kyara mengangguk sambil menyeruput kopinya.


"Apa setelah punya anak nanti, kau masih tetap akan bekerja ?"


Kyara menatap suaminya. Setelah itu dia meletakkan kembali cangkirnya di atas meja makan. Kyara berpindah kursi dan duduk di samping Bagas.


"Apa kakang tahu ? Dulu saat Kyara tidak pernah memikirkan untuk menikah, Kyara pernah bertekad untuk mengabdikan hidup Kyara di panti. Mengurus dan mengasuh anak, karena Kyara tahu, saat Kyara memutuskan untuk hidup sendiri, Kyara pun sadar bahwa Kyara tidak akan pernah punya kesempatan untuk memiliki anak. Tapi Tuhan sangat baik pada Kya. Tuhan mengirimkan malaikat pelindung untuk Kya. Dan ketika malaikat itu meminta sesuatu demi kebaikan Kya, apa Kya bisa menolaknya ? Kya yakin, malaikat pelindung Kya akan selalu bertanggungjawab atas diri Kya dunia dan akhirat. Karena itu, Kya akan mengikuti apa yang dia kehendaki."


"Aku tidak ingin kau merasa terpaksa jika harus resign dari pekerjaanmu. Aku tahu profesimu itu sangat mulia Kya. Sudahlah, kita bicarakan ini nanti. Lagipula, Tuhan belum menganugerahkan malaikat kecil untuk kita."


Kyara tersenyum. "Bukankah mengurus anak dan suami adalah pekerjaan mulia juga, kang ? Insyaallah, setelah malaikat itu hadir di sini (Kyara menunjuk perutnya), Kya pasti resign dari pekerjaan Kya, kang."


"Makasih sayang, aku mencintaimu !" ujar Bagas seraya mencium punggung tangan istrinya.


"Sudah pukul 07.00, kang. Kita berangkat sekarang ?"


Bagas mengangguk. Dia pun segera menyelesaikan sarapannya.


***


Ting...!


Pesan notifikasi WhatsApp masuk di ponselnya Bagas. Dia segera mengusap layar ponselnya.


Assalamualaikum kak ! Apa sudah ada kabar dari anak buah kakak tentang kak Kyara ?


-Bima


"Hhhh...."


Bagas menghela napasnya. Dia menengadahkan wajahnya sejenak. Setelah itu, dia pun mulai mengetikan sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


-To Bima


maaf Bim, belum ada kabar apa pun dari mereka. Sepertinya mereka belum menemukan keberadaan Kyara.


-Kak Bagas !


Ting....


Kembali Bagas membuka pesan dari Bima.


Ya sudah tidak apa-apa. Bima tunggu kabarnya ya, kak ! makasih


-Bima


Ya


-Bagas


Bagas kemudian menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Dia merasa bersalah karena telah membohongi Bima yang sudah dianggapnya sebagai adik. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan perasaan Kyara.


Maafkan kakak , Bim ? gumamnya dalam hati.


***


"Kenapa sih lo, masih ngurusin terus sobat lo yang kejam itu ?" ujar Sisil.


Sore itu mereka sedang duduk di beranda rumah untuk menikmati waktu senjanya.


"Udah deh Sil, bagaimanapun juga, persahabatan kita tuh udah lama. Dan aku nggak enak nolak mamihnya Ajay."


"Ish lo ini ! Biarin aja dia kayak gitu, ini sudah hukum alam, Ar...! Selalu ada karma dalam setiap perbuatan buruk !" ujar Sisil menggebu-gebu.


"Ish kamu ini. Sudahlah, anggap aja kita lagi berbuat kebaikan. Lagipula gue udah lama nggak ketemu Kyara."


"Ar, apa lo cinta ma Kyara ?"


Untuk sejenak Aaron diam mendengar pertanyaan Sisil. Tidak bisa dia pungkiri jika hatinya merasa senang ketika Ajay tidak jadi menikah dengan Kyara. Namun dia harus sadar diri. Sekarang sudah ada Sisil yang menjadi istri sahnya. Ada juga calon bayinya yang beberapa bulan lagi akan hadir di tengah-tengah mereka. Aaron harus bisa melupakan semua perasaannya. Lagipula dia tidak tahu keadaan Kyara saat ini. Mungkin saja Kyara sudah menikah dengan laki-laki lain ! pikir Aaron.


"Sudahlah, tidak perlu membahas dia lagi. Yang terpenting sekarang, aku minta izin mu jika aku akan sering pulang terlambat untuk membantu om Ali mencari Kyara. Lagipula, dia itu kan sahabatmu, apa kau tak merindukannya ?"


"Bodoh jika gue tidak merindukannya. Gue sangat merindukannya. Dia sahabat terbaik gue. Selama ini dia sudah sangat menderita. Gue hanya nggak mau Kyara balik lagi sama Ajay. Apalagi setelah tahu perbuatan Ajay padanya. Ah gadis yang malang.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Sebaiknya kita masuk yuk ! Udaranya mulai terasa dingin.


Sisil mengangguk, dan mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah.


***


"Pulang jam berapa sayang ?" tanya Bagas pada saat dia mengantarkan Kyara ke hotel Shangrila untuk mengikuti seminar workshop.


Ya ! Kyara menjadi utusan dari pihak sekolahnya untuk mengikuti seminar ini. Tema seminar kali ini adalah Mengatasi Masalah Pembelajaran Anak melalui Metode Hypnoteaching. Kyara sangat menyukai seminar, karena itu bisa memberikan Kyara ilmu yang baru, pengalaman baru dan juga menambah teman baru.


"Kalau di jadwal sih jam 3. Tapi biasanya agak suka sedikit ngaret, soalnya diakhir pertemuan suka diadakan diskusi dan tanya jawab tentang materi yang telah di sampaikan. Memangnya kenapa kang ?"


"Aku sama Doni akan meninjau pabrik dulu. Mungkin akan sedikit terlambat, tapi aku pastikan akan menjemputmu. Aku ingin membawamu ke suatu tempat. Bisakah kau menungguku ?" pinta Bagas.


"Baiklah, aku akan menunggumu !" jawab Kyara pasti.


"Terima kasih sayang, akan aku usahakan untuk menjemputmu tepat waktu."


Bagas melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah hampir jam 8, masuklah ! Nanti kau terlambat !" ujar Bagas memberikan perintah.


Kyara mengangguk. Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama menjalani waktu bersama suaminya. Terlebih lagi, dalam seminggu terakhir ini, dia selalu melihat suaminya diam tanpa banyak bicara. Dia tahu jika suaminya memiliki beban, tapi dia tidak akan memaksa suaminya untuk bercerita.


"Ya sudah, Kya pamit dulu ya kang !" ujarnya seraya mencium tangan suaminya.


Bagas mengangguk. Seperti biasanya, dia pun akan memberikan kecupan hangat yang sekilas di keningnya Kyara. Sungguh pasangan yang akan membuat orang yang melihatnya iri dengan kemesraan mereka.


Acara di mulai pukul 09.00. Inilah wajah-wajah dari orang-orang di negara ini. Waktu seakan tidak berharga, karena itu banyak peserta seminar yang terlambat datang. Dan mau tidak mau, panitia penyelenggara memundurkan acara pembukaan seminar ini.


Entahlah, untuk kali ini, Kyara tidak bisa mengikuti seminar ini dengan baik. Hatinya benar-benar gundah dengan perubahan sikap suaminya.


Apa aku coba tanya Doni saja ? batin Kyara.


Setelah berjibaku dengan pemateri selama kurang lebih 7 jam, akhirnya seminar pun selesai juga. Kyara melirik jam tangannya. Sudah pukul 16.15, tapi kakang belum nelpon juga. Ah sebaiknya aku solat ashar dulu. Biar lebih tenang.


Kyara pun pergi ke mushola yang berada di sekitar hotel.


Pukul 16.35.


Bagas memasuki lobi hotel untuk menjemput istrinya. Bagas segera menghubungi panitia penyelenggara seminar, karena setelah 15 menit menunggu, Kyara tak kunjung datang juga.


"Permisi, apa seminarnya sudah selesai ?" tanya Bagas kepada salah seorang panitia penyelenggara.

__ADS_1


"Sudah pak ! Malahan sudah dari jam 4 sore tadi." ujar sang panitia


Seperti suara kak Bagas ! ucap seseorang yang sedang membantu membereskan panggung kecil bekas kegiatan berlangsung. Sebaiknya setelah semua ini beres, aku segera menemuinya.


"Apa peserta yang bernama Kyara Adistya, utusan dari SDIT Mutiara Bangsa, sudah pulang ?"


DEG....


Jantung pemuda itu berdetak kencang setelah mendengar pertanyaan Bagas. Apa dia sudah berhasil menemukan kakak Kyara ? batinnya.


"Waduh, mohon maaf, pak ! Peserta seminar kali ini dihadiri oleh ratusan peserta dari SD dalam dan luar kota. Saya tidak mampu mengingat satu persatu wajah dan namanya.


Namun, baru saja Bagas hendak mengambil ponselnya untuk memperlihatkan wajah cantik istrinya kepada panitia tersebut, tiba-tiba.


"Kakang...!" seseorang yang sangat dirindukannya memanggilnya dari arah pintu lobi hotel.


Kak Kya...??!


Mata pemuda itu membulat sempurna saat mendapati seorang wanita yang menghampiri Bagas. Lelaki itu adalah Bima yang diperintahkan oleh kampusnya ikut terlibat dalam seminar ini. Karena ternyata, pada kenyataannya, pihak kampusnya lah yang mengadakan seminar ini.


Bima terus mengawasi interaksi kedua insan yang berada 5 meter di depannya. Kyara dan Bagas terlihat saling melemparkan senyuman tanpa kecanggungan, seolah-olah mengisyaratkan jika mereka sudah lama saling mengenal.


Ish, kenapa kak Bagas menyembunyikan ini dari kami ? Bagaimanapun juga, aku harus menemui kak Bagas untuk meminta penjelasan ! batin Bima seraya mengepalkan tangannya.


Sementara itu di luar lobi.


"Pakailah !" perintah Bagas seraya memberikan kain berwarna hitam yang panjangnya kira-kira 50 cm lebih.


"Ini untuk apa kang ?" tanya Kyara heran.


"Sudah, nurut saja ! Nanti kau juga akan tahu


Tanpa bertanya hal lainnya lagi, akhirnya Kyara pun mengikuti perintah suaminya.


Setelah melewati perjalanan selama setengah jam, mobil yang dikendarai Bagas akhirnya berbelok melewati sebuah gapura besar yang bertuliskan Perumahan Elite Taman Sari Indah.


Mobil Bagas berhenti di sebuah rumah yang sangat megah berlantai dua. Bagas segera membunyikan klakson mobilnya. Tiba-tiba muncul seorang pria paruh baya membukakan pintu gerbang. Mobil pun masuk.


Setelah memarkirkan mobilnya. Bagas segera memapah istrinya untuk keluar dari mobil.


"Apa sudah boleh dibuka, kang ?" tanya Kyara yang matanya sudah terasa kurang nyaman.


"Sebentar lagi sayang !" bisik Bagas lembut di telinga istrinya.


Kyara bergidik saat merasakan hembusan napas suaminya.


Setelah mereka berjalan sebentar. Bagas pun menghentikan langkahnya yang otomatis langkah Kyara pun ikut ikut terhenti.


"Apa sudah sampai, kakang ?" tanya Kyara sambil mencoba menggapai tangan suaminya.


"Bersiaplah sayang, aku akan membuka kainnya !"


Bagas mendekati istrinya dari belakang. Dengan perlahan, dia kemudian membuka kain hitam yang sedari tadi digunakan sebagai penutup mata istrinya.


Kyara mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Tiba-tiba, pupil matanya membulat sempurna saat dia menyadari pemandangan yang ada di hadapannya.


"Ru... rumah siapa ini, kang ?' tanya Kyara yang merasa heran.


Ya ! Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu rumah yang baru saja mereka datangi. Rumah berlantaikan 2 dengan desain interior dan eksterior yang sangat megah.


"Ini rumah yang pernah aku janjikan saat pertama kali aku membawamu ke kota J. Apa kau masih ingat ?" ucap Bagas seraya memeluk istrinya dari belakang.


"Apa ini rumah yang kau bilang sedang direnovasi itu ?" Kyara balik bertanya.


"Tebakan anda tepat sekali, nyonya Anggara !" ujar Bagas tersenyum senang.


"Ini rumah masa depan kita sayang ! Aku ingin menghabiskan waktu ku bersama anak-anak kita di sini. Nanti, setelah kau pensiun, dan aku punya pewaris untuk meneruskan perusahaan, kita akan pindah ke rumah kita yang ada puncak. Seperti yang kau bilang, itu adalah rumah hari tua kita. Dan kita akan melewati masa pensiun kita di sana."


"Pensiun ?" ulang Kyara.


Bagas mengangguk.


"Aku tahu kamu sangat mencintai pekerjaanmu. Setelah kupertimbangkan secara seksama. Aku memutuskan untuk tidak akan memintamu berhenti bekerja meskipun kita telah memiliki anak. Aku yakin, ke depannya kau bisa membagi waktumu dengan adil."


Cup....


Tanpa diduga, dengan cepat Kyara membalikkan badannya dan mencium bibir suaminya untuk menggambarkan perasaannya. Kecupan sekilas yang membuat wajah Bagas bersemu merah.


"Thanks for everything !" bisik Kyara seraya memeluk erat suaminya.


Bersambung....


Mohon maaf telat up. Ketiduran lagi...🙈

__ADS_1


Semoga masih suka ceritanya...


Jangan lupa like vote n komennya


__ADS_2