Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Di Sandera


__ADS_3

Keesokan harinya Kyara bangun dengan mata yang semakin membengkak. Semalaman dia menangis karena mendapati suaminya tak kunjung pulang. Berulang kali Kyara menelpon, tapi tetap nomor ponsel suaminya tidak aktif. Semarah itukah dia padaku ? pikir Kyara.


"Huummpppphh...."


Rasa mual kembali bergejolak di perutnya. Kyara segera berlari ke kamar mandi. Seperti biasanya, makanan yang semalam dimakannya, kini harus ia keluarkan demi kenyamanan perutnya.


Setelah puas memuntahkan isi perutnya, Kyara segera membasuh mulutnya yang terasa pahit. Dia menatap wajahnya yang terlihat pucat di cermin wastafel. Tanpa terasa bening air hangat mulai meleleh di pipinya.


"Sabar ya dik...! Bunda mohon, kita harus berdamai dengan keadaan, biar kita sama-sama kuat. Do'akan abap ya, agar kemarahannya kepada bunda bisa mereda." gumam Kyara sambil menahan rasa sesaknya.


Kyara segera membersihkan dirinya dan berwudhu. Setelah itu dia pun segera menunaikan kewajibannya solat subuh. Pukul 6 pagi, Kyara membuka pintu kamarnya. Dia kemudian pergi ke dapur untuk membantu bik Lilis.


"Selamat pagi, bik !" sapa Kyara sambil merangkul pundak asisten rumah tangganya.


Bagi Kyara, bik Lilis bukan hanya sekedar asisten rumah tangga, tapi Kyara sudah menganggap bik Lilis seperti ibunya sendiri. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan bik Lilis untuknya, selalu membuat perasaan Kyara hangat.


"Selamat pagi, bu ! Ini, bibik masak cumi saus tiram, kesukaan ibu !" jawab bik Lilis.


"Waahh..., pasti enak ! Udah mateng ?" tanya Kyara seraya mengambil air minum dari dispenser.


"Sebentar lagi bu. Sabar ya...!" jawab bik Lilis sambil tersenyum.


Kyara mengangguk seraya meneguk minumannya. "Oh iya bik, bisa nggak kalau manggil Kya nggak usah pakai kata ibu ! Kesannya kan Kya kayak tua banget gitu, he..he.." pinta Kyara seraya terkekeh.


"Tapi ibu kan majikannya bibik. Nggak enak kalau nggak panggil ibu atau non, entar bibik dianggap ngelunjak lagi !" protes bik Lilis.


Kyara merangkul kedua pundak bik Lilis.


"Bibik, apa bibik lupa apa kata kang Bagas ?" tanya Kyara lembut. "Bukankah kang Bagas pernah bilang kalau di rumah ini tidak ada yang namanya majikan dan pembantu. Tapi yang ada hanyalah hubungan kekeluargaan. Itu artinya, mulai sekarang, Kya akan panggil bibik dengan sebutan ibu. Karena bagi Kya, bibik sudah seperti ibu Kya sendiri. Jadi bibik harus panggil Kya sama Kyara, setuju ?"


Mata bik Lilis berkaca-kaca mendengar ucapan majikannya yang tulus. Sejurus kemudian dia pun mengangguk pertanda menyetujui apa yang telah diucapkan majikannya.


"Hmmm..., sepertinya cuminya sudah matang, bu ! Aromanya tercium sedap sekali !" ujar Kyara.


"Astaghfirullah...! Ibu lupa, sebentar ibu matikan dulu kompornya. Neng duduk aja dulu ! Nanti ibu ambilkan !"


"Iya bu, makasih !"


Bik Lilis pun segera mematikan kompornya. Dia kemudian menuangkan cumi saus tiram itu ke sebuah oval plate. Setelah itu bik Lilis menyajikannya di atas meja tepat di depan Kyara.


Namun saat Kyara mendekatkan wajahnya untuk mencium wangi aroma masakan dari dekat, perutnya kembali bergejolak. Wajah Kyara seketika terlihat pucat. Dia pun segera pergi ke kamar mandi.


Bik Lilis yang melihat hal itu sangat terkejut. Dia pun segera menyusul Kyara ke kamar mandi.


"Hooeekk....hoooeeekk.... hoooeeekk...!"


Kyara kembali memuntahkan cairan bening, karena memang perutnya hanya baru diisi oleh air hangat saja.


"Astaghfirullah hal adzim..., kenapa kamu teh neng ? Apa neng Kya sedang sakit ?" tanya bik Lilis cemas sambil memijit tengkuk Kyara agar merasa nyaman.


"Hmm...su.. sudah bu...!" ujar Kyara seraya mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat agar bik Lilis menghentikan pijatannya.


"Tidak apa-apa, neng ! Biar lebih plong sedikit !"


"Hooeekk.... hooeekk....!" kembali Kyara muntah.


Setelah dirasa sudah tidak ada yang ingin keluar lagi. Kyara segera membersihkan cairan masam yang menempel di mulutnya. Setelah itu dia keluar kamar mandi dan merebahkan dirinya di sofa ruang keluarga.


"Sebentar ya neng, ibu ke dalam dulu bawa minyak kayu putih !" ujar bik Lilis.


Kyara hanya bisa mengangguk lemah.


Tak lama kemudian, bik Lilis datang dengan membawa minyak kayu putih. Dia memejamkan matanya merasakan pijatan hangat di kedua pelipisnya. Nyaman sekali, hingga bunyi deringan ponselnya memaksa Kyara membuka matanya.


"Bu, bisa tolong ambilkan ponsel Kyara di meja makan !" pintanya.


"Tentu saja neng, sebentar ya !"


Bik Lilis kembali pergi ke ruang makan untuk membawa ponsel Kyara. Setelah itu dia kembali lagi dan langsung menyerahkannya kepada Kyara.


"Nita...!" gumam Kyara.


"Assalamualaikum, Nit !" (Kyara)


"Waalaikumsalam, Kya hari ini kita jadi jengukin Ajay ?" (dokter Nita)


"Maaf Nit, kayaknya kamu pergi sendiri, nggak apa-apa kan ?" (Kyara)


"Kenapa ? Kok suara kamu lemes gitu sih, Kya ! Apa kamu sakit ?" (dokter Nita)


"Iya, Nit ! Aku kurang enak badan !" (Kyara)


"Oh, ya udah, nanti aku pergi sendiri aja. Tapi aku minta tolong kamu, boleh ?" (dokter Nita)


"Minta tolong apa, Nit ?" (Kyara)


"Bisakah kau telpon Ajay dan mengatakan alasan itu, nanti ! Aku akan pancing dia supaya bisa di rawat di klinikku. Jadi kamu nggak harus bolak-balik ke kota B. Aku nggak enak sama kakang Bagas mu, takut dia merasa tersinggung." (dokter Nita)


Ah Nit..., seandainya saja kamu tahu, dia bukan hanya tersinggung, tapi dia sudah benar-benar marah. Bahkan sampai detik ini aku tidak tahu keberadaan dia...


"Hallo...! Ky... Kya...!" (dokter Nita)


"Eh, iya Nit ! Kenapa ?" (Kyara)


"Ish, kamu ngelamun ya ? Itu, soal nelpon Ajay nanti !" (dokter Nita)


"Iya, kamu atur aja deh !" (Kyara)


"Ya udah, nanti kalau aku sudah ketemu dia, aku telpon kamu, ya !" (dokter Nita)


"Ya !' (Kyara)


"Oke ! Bye Kya...! Assalamualaikum..!" (dokter Nita)

__ADS_1


"Waalaikumsalam...!" (Kyara)


Setelah sambungan terputus, Kyara pun meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kembali memejamkan matanya, berharap rasa pusing di kepalanya segera hilang.


***


Bagas mulai mengerjapkan matanya. Tapi yang terlihat hanya sebuah kegelapan. Dia mencoba menggerakkan tangannya, namun tak bisa. Bagas terkejut. Seketika dia ingat jika sebelumnya dia hendak memindahkan pohon yang menghalangi jalan. Ish..., apa gue di begal ? batin Bagas.


Duk....duk...duk...


Bagas mulai membuat gerakan yang mengakibatkan kegaduhan.


Hening...


Para preman itu tak mengindahkan kegaduhan yang dibuat Bagas.


"Hallo...! Apa ada orang di sini...!" teriak Bagas.


Masih hening...


Ish, di mana aku ? Kenapa semuanya sepi begini ? Sebenarnya apa yang mereka mau dariku ? Apa uang ? Tebusan ?


"Woi...! Apa maksud lo nyekap gue kayak gini ? Apa lo mau uang ? Katakan ! Lo mau berapa ? Nanti gue kasih, tapi tolong lepasin gue !" kembali Bagas berteriak.


"Brengsek, dia semakin berisik ! Kita tutup aja mulutnya pake lakban !" ujar pria bertubuh pendek.


"Sst...! Jangan gegabah ! Lo nggak dengar perintah bos kemarin ! Jangan pernah buka penutup matanya, ingat itu !" ujar pria berkepala cepak.


"Tapi kuping gue bisa rusak akibat ocehannya !" sanggah si pria bertubuh pendek.


"Udah... udah..., lo tidur lagi !" tukas si pria botak.


"Enak aja lo main perintah ! Bengek tau kuping gue denger teriakannya !" si pria bertumbuh pendek masih terlihat emosi.


Meskipun saling berbisik, namun Bagas bukan orang bodoh yang tak mendengar apa-apa.


"Siapa kalian ! Kenapa kalian menyekapku di sini ! Dasar pengecut ! Buka kalau berani ! Jangan bisanya cuma menyandera orang ! Cih, dasar banci ! Beraninya cuma main sandera ! Lepasin ! Kita berkelahi kalo emang lo cowok !" teriak Bagas.


"Sialan ! Bener-bener minta dihajar ni orang !"


Akhirnya si pria bertubuh pendek tersulut emosi. Hatinya meradang dikatai banci oleh Bagas.


BRAKK....!


Kakinya menggebrak meja hingga meja itu terbelah menjadi dua.


PLAKK....!!


PLAKK....!!


Lelaki itu menampar Bagas bolak-balik dengan kuatnya.


"Berani lo bilang gue banci ! Berani lo !"


Bugh...


Kembali pria itu memukul rahang Bagas, pelipis kanan Bagas pun tak luput dari kepalan tangannya, hingga membuat kursi yang tengah diduduki Bagas jatuh terjungkal ke belakang.


"Shit...! Dasar pengecut ! Buka kalau berani ! Lo mukul gue dalam keadaan gini sama aja lo bencong ! Cih !" Bagas semakin berteriak memaki orang itu.


Alhasil, orang tersebut semakin terpancing. Semakin menggila mendengar perkataan Bagas.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Kembali dia memukuli Bagas bertubi-tubi. Namun bukannya meminta ampun, Bagas malah tertawa terkekeh, menertawakan si pemukul.


"Ha....ha....ha...! Dasar bencong, bisanya cuma gitu doang...!" ejek Bagas.


Si pria bertubuh pendek semakin meradang. Dia mengambil bongkahan kayu meja yang tadi terbelah. Saat dia hendak memukulkannya kepada Bagas, tiba-tiba.


"Berhenti...!"


Si pria berambut cepak yang tak lain asisten bos nya segera menyergap pria itu.


BRAKK...!


Dia menyambar meja itu dan melemparkannya dengan kuat ke sudut ruangan.


"Apa li sudah gila, hah ! Lo bisa membunuhnya !" teriak si pria cepak itu.


"Biar saja ! Biar saja gue membunuhnya ! Lo tahu dia ngatain kita apa ? Dia ngatain kita banci ! Gue nggak terima ! Gue mau bunuh dia !"


Si pria bertubuh pendek itu kembali mengangkat belahan meja yang satunya lagi. Namun segera ditepis oleh si pria berambut cepak.


"Lo mau bikin bos marah, hah ! Bukankah kemarin bos melarang kita untuk tidak menyentuhnya ! Ayo, kita keluar !" ajak pria berambut cepak seraya menarik tangan pria yang bertubuh pendek itu.


"Sialan...!!" umpat si pria bertubuh pendek.


"Lo !" tunjuk pria berambut cepak kepada pria botak yang sedang duduk. "Urus dia ! Obati lukanya !" perintahnya !"


"I...iya...!" ujar si pria botak tergagap.


Sedangkan Bagas hanya bisa diam mencoba mencerna pembicaraan mereka.


Bos...?? Jadi mereka hanya orang-orang suruhan ! Lalu siapa orang yang telah menyuruh mereka ? Siapa yang dimaksud bos oleh mereka ? batin Bagas.


Tiba-tiba, sepersekian detik Bagas merasa tubuhnya melayang.


Buk...

__ADS_1


Ternyata seseorang tengah membenarkan kembali kursinya. Tak berapa lama, Bagas merasakan dingin menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang terluka.


Hmmm, mungkin salah satu dari mereka sedang mengobatiku. Aku harus bicara baik-baik dengannya. Mungkin saja dia tidak seemosi orang yang tadi. Aku yakin, dia pasti berbeda.


"Apa kau tahu kenapa aku di bawa ke sini ?" tanya Bagas.


Hening...


"Kau tahu siapa yang membawaku ?"


Hening...


Masih terdengar hening. Rupanya pria itu mengobati luka Bagas tanpa mau berbicara apa pun dengannya.


"Aku mohon, bantu aku keluar dari sini. Aku punya istri, dan dia pasti sangat menantikan kepulanganku. Dengar, aku akan membayar berapa pun yang kau minta. Tapi aku mohon, lepaskan aku !" bisik Bagas.


Sejenak orang itu diam saat Bagas menyebutkan kata istri. Tiba-tiba dia pun teringat akan anak istrinya. Ingin rasanya dia membantu Bagas untuk bisa kabur dari sini. Tapi dia sendiri belum tahu bagaimana caranya.


"Apa kau mendengarku ? Apa kau mau menolongku ?" ujar Bagas.


"Diamlah ! Nanti mereka akan kembali memukulimu !" orang itu malah menghardik Bagas.


Akhirnya Bagas menyerah. Tiba-tiba wajah Kyara tergambar jelas dalam benaknya.


Kya..., maafkan aku...! Mungkin aku tidak bisa menepati janjiku untuk bisa segera pulang. Tapi aku akan tetap berusaha...! Aku akan berjuang supaya aku bisa keluar dari sini dan kita bisa kembali bersama. Aku mencintaimu Kya, aku mohon jaga dirimu sayang...!"


Hati Bagas terasa semakin sakit membayangkan pertengkaran mereka tempo hari.


Seandainya waktu bisa diulang, aku tidak akan pernah bersikap kasar seperti itu. Ya Tuhan, pertemuan terakhirku dengan istriku menyisakan luka. Apa dia akan mengingatku jika sesuatu terjadi padaku ? Aku mohon, jika memang hidupku harus berakhir di tempat ini, lindungilah istriku dan berikan kembali dia jodoh yang terbaik. Namun jika Engkau masih memberikan aku kesempatan untuk menjadi jodohnya dan menjaganya, bantu aku keluar dari penyekapan ini. Beri aku kekuatan untuk memperjuangkan cinta dan apa yang telah menjadi milikku. Aamiin...


***


Pukul 13.00 dokter Nita tiba di rumah sakit yang merawat Ajay. Tanpa menyia-nyiakan waktu, dokter Nita pun segera mendatangi kamar Ajay.


"Assalamualaikum...!" ucap dokter Nita seraya membuka pintu kamar Ajay.


"Waalaikumsalam...!"


Wajah Ajay terlihat sumringah melihat kedatangan dokter Nita. Namun sejurus kemudian wajah itu berubah sendu saat mengetahui Kyara tak kunjung masuk kamarnya.


"Kamu cari Kya ?" tanya dokter Nita yang melihat Ajay celingak-celinguk ke depan pintu.


Ajay menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dokter Nita.


"Kyara sedang sakit." ujar dokter Nita seraya menyimpan tas nya di atas nakas.


Ajay mengernyitkan dahinya. "Sakit ? Benarkah ?" tanyanya lagi.


"Sebentar !"


Dokter Nita mengeluarkan ponselnya dari dalam saku blazernya. Dia kemudian melakukan video call dengan Kyara.


"Hallo assalamualaikum !" ujar Kyara di sebrang telpon.


"Hai Ky...! Alhamdulillah, aku sudah sampai ! Oh iya, ada seseorang nih yang ingin berbicara sama kamu !" ujar dokter Nita sembari menyerahkan ponselnya kepada Ajay.


"Hai sayang !" sapa Ajay yang wajahnya memenuhi ponsel Kyara.


"Hai !" jawab Kyara lemah.


"Wajahmu terlihat pucat, yang ! Kamu sakit apa ?"


"Mungkin cuma masuk angin."


"Sudah periksa ke dokter ?"


"Belum."


"Ish, kau ini ! Selalu saja seperti itu ! Pergilah ke dokter ! Minta Bagas untuk menemanimu pergi ke dokter ! Maaf ya, yang ! Aku nggak bisa mengantarmu pergi ke dokter !" ucap Ajay sendu.


Sementara Kyara hanya bisa tertegun mendengar Ajay mengucapkan nama Bagas. Apa dia sudah mulai ingat dengan semuanya...? Pikir Kyara.


"Jay ! Apa kau sudah ingat Bagas ?" tanya Kyara ragu.


"Ish kamu ini ngomong apa, tentu saja aku ingat, dia itu sahabatku sedari kecil. Dia itu sudah seperti kakakku. Eh, bukankah dia juga kakakmu ? Dia kan selalu membelamu kalau kita lagi bertengkar ! Ngomong-ngomong, kamu kok manggilnya Jay sih bukan Han, aku kan honey nya kamu, he..he.. ! Kayaknya kamu udah banyak berubah ya, yang. ..?"


"Maaf...! Kamu benar, semuanya sudah sangat berubah !" ucap Kyara sendu.


"Maksudmu ?


"Ah, tidak apa-apa ! Lupakan ucapanku ! Jay, badanku lemas, aku mau istirahat dulu, boleh ?"


"Ah ya...! Silakan ! Semoga lekas sembuh !"


Kyara pun mengakhiri panggilannya.


Ajay menyerahkan ponselnya kepada dokter Nita.


"Nit, kapan aku bisa sembuh ?" tanya Ajay ketika dokter Nita sedang memeriksa detak jantungnya.


"Insyaallah secepatnya !" jawab dokter Nita.


"Aku tidak sabar, Nit ! Aku ingin segera menjaga Kyara !"


Dokter Nita menatap tajam ke arah Ajay.


"Jika kau ingin segera sembuh, ikutlah denganku ! Kita lakukan terapimu di klinikku. Setelah mentalmu stabil, kita bisa melanjutkan pengobatan untuk kakimu. Aku dengar di salah satu rumah sakit kota J, terdapat dokter ortopedi yang sangat hebat."


"Benarkah ?" tanya Ajay berbinar.


Dokter Nita mengangguk menjawab pertanyaan Ajay. "Bagaimana ?"


Bersambung...

__ADS_1


Mohon maaf dari Kamis malam sudah kuserahkan naskahnya, tapi entah kenapa belum di up juga sama pihak NT nya. Semoga untuk bab ini bisa segera di up...🙏


__ADS_2