
Assalamualaikum...
Jumpa lagi ya...
Semoga hari ini bisa segera up..
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Assalamualaikum...! Bu.., Aneng pulang...!" seru Kyara, setibanya di rumah.
"Wa'alaikumsalam!" Bu Ratna membuka pintunya. "Ah, kamu sudah pulang, Neng. Loh, nak Jaka, mana?" tanya Bu Ratna.
"Kang Jaka sudah pulang, Bu. Tadi dia titip salam buat ayah dan Ibu. Dia tidak bisa mampir, karena dia harus segera berkemas untuk keberangkatannya esok hari," jawab Kyara.
"Oh, begitu ya. Ya sudahlah, semoga dia selamat sampai tujuan." Do'a Bu Ratna. "Ayo, masuk Neng! Bersih-bersih sana!" perintah Bu Ratna.
"Iya, Bu," jawab Kyara.
Kyara masuk dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Bu Ratna pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap melaksanakan solat magrib.
***
"Sebenarnya, apa yang lo hindari Jay?" tanya Bagas, saat mereka sedang beristirahat di pos terakhir.
"Keinginan eyang akung," jawab Ajay sambil menyeruput kopinya.
"Ya, keinginan eyang akung yang seperti apa?" tanya Bagas lagi.
"Keinginan eyang untuk menikahkan gue sama cewek pilihannya," ucap Ajay datar.
"Uhuk-uhuk!" Bagas tersedak kopinya.
"Ih, lo kayak anak kecil sih Gas, bisa tersedak begitu!" ujar Ajay sambil menepuk-nepuk punggung Bagas.
Pletak!
__ADS_1
Bagas menjitak kepala Ajay, "Gue tersedak juga karena lo! Uhuk-uhuk ..." ujar Bagas seraya memegangi dadanya yang terasa sedikit sakit.
"Loh, kok gue sih yang disalahin?" gerutu Ajay sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Sorry, gue cuman kaget dengar omongan lo. Serius? Lo mau dijodohin?" tanya Bagas.
Ajay mengangguk.
Tiba-tiba Bagas teringat pada Kyara. Apa ini waktu yang tepat untuk menanyakan gadis itu? Mungkin saja Ajay tahu keberadaannya.
"Jay, lo masih ingat sama cewek yang waktu itu ketemu di mall?" tanya Bagas, berusaha memancing omongan Ajay.
"Cewek mana?" Ajay malah bertanya balik.
"Cewek yang waktu itu berdebat sama Andin. Itu, yang ngaku mantan pacar lo?" tanya Bagas dengan nada bicara sedatar mungkin. Bagas takut Ajay akan menaruh curiga atas pertanyaannya.
"Kyara?" tanyanya
"Ya, dia! Apa lo ...."
Bagas dan Ajay pun kembali berkumpul dengan teman-temannya.
***
Selepas solat isya, Kyara berkumpul dengan kedua orang tuanya.
"Jadi bagaimana, Neng? Kapan pernikahanmu akan dilaksanakan? Kok tadi siang, Ayah tidak mendengar tuan Mahesa membahas soal tanggal pernikahan, ya?" tanya Pak Ahmad.
"Ma-maaf Ayah. Sebenarnya ... ada yang belum Aneng beritahukan pada Ayah dan Ibu." ujar Kyara.
"Apa itu, Neng?" tanya Bu Ratna.
"Waktu itu ... eyang uti bilang, kalau Ajay minta waktu dulu sebentar untuk menikahi Aneng," jawab Kyara.
"Maksudnya ini gimana ya, Nak?" tanya Pak Ahmad. "Ayah jadi bingung," lanjutnya.
__ADS_1
"Ajay minta waktu untuk menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Setelah lulus, baru dia ... dia akan menikahi Aneng," jawab Kyara.
"Astaghfirullah, berapa lama itu, Neng?" tanya Bu Ratna.
"Kurang lebih, dua tahun lagi, Bu," jawab Kyara.
Pak Ahmad terkejut, "Dari mana kamu tahu hal itu, Nak?" tanyanya.
"Se-sebenarnya ... sehari sebelum keluarga besar Ajay datang, eyang uti menelpon Aneng dan memberitahukan semua ini," jawab Kyara, lirih.
"Astaghfirullah hal adzim, Neng! Kenapa kamu tidak terus terang sama Ayah? Jika Ayah tahu, mungkin saat lamaran tadi, Ayah bisa memaksa tuan Mahesa untuk segera melakukan pernikahan kalian!" ujar Pak Ahmad. Lagi-lagi beliau kecewa dengan keputusan sepihak Kyara.
"Maaf, Yah. Tapi Aneng juga tidak ingin memaksa Ajay. Lagi pula, semua ini dia lakukan untuk kebaikan kami juga. Ajay ingin memulai usahanya dari nol. Untuk itu, dia harus fokus menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Supaya ke depannya, dia memiliki karir yang bagus dan bisa menghidupi keluarganya secara layak," jawab Kyara, mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal kepada orang tuanya.
"Tapi Neng, jika sudah bertunangan, sebaiknya jangan ditunda terlalu lama untuk menikah. Orang tua bilang, pamali!" ujar Bu Ratna. "Apalagi ini dua tahun loh, Neng," lanjutnya.
"Aneng mengerti, Bu. Tapi inshaallah, semuanya akan baik-baik saja," jawab Kyara.
Pak Ahmad menarik napasnya, panjang. "Jadi, apa rencanamu selanjutnya? Dua tahun bukan waktu yang singkat, Nak. Apa kau akan menyia-nyiakan waktumu hanya untuk menunggunya?" tanya pak Ahmad lagi.
"Rencananya, Aneng ... Aneng akan kembali ke panti, Yah. Aneng akan menunggunya sambil bekerja di panti," jawab Kyara.
"Tapi, apa bu Hana akan menerimamu lagi?" tanya Bu Ratna, ragu. "Kamu sudah terlalu lama tidak masuk kerja, Nak," lanjutnya.
"Besok Aneng akan coba menemui bu Hana dan menanyakannya, Bu. Mudah-mudahan, beliau masih mau menerima Aneng bekerja lagi. Kalau pun tidak, Aneng akan mencoba mencari pekerjaan yang lainnya," jawab Kyara.
"Baiklah, sudah malam. Sebaiknya kita istirahat. Seharian ini, sudah terlalu banyak aktivitas yang kita lakukan," ujar pak Ahmad. Dia pun berlalu pergi meninggalkan istri dan anaknya.
Bu Ratna mendekati Kyara, kemudian menggenggam tangannya. "Ibu akan selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu, Nak. Istirahatlah!" ucapnya.
Kyara tersenyum, "Terima kasih, Bu," ujarnya seraya memeluk ibunya.
Semoga kamu bahagia Nak. Semoga Ajay adalah jodoh terbaik kamu. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi ikatan pertunangan kalian hingga ke jenjang pernikahan, batin Bu Ratna seraya memeluk erat Kyara. Tanpa terasa, air bening menggenang di kedua sudut matanya.
Bersambung...
__ADS_1
Alhamdulillah, akhirnya author bisa up juga...