
"What...! Are you seriously ?"
"Yes, i am very seriuos !"
"Gila, ini bener-bener gila !"
"Hei...! It's not crazy, man...! But it's just an attempt at love !"
"Tapi nggak gini juga kali, bos !"
"Nggak gini, gimana maksud lo ?"
"Ya, nggak harus mutasi gue juga, kalleee...! Udah ah, gue mo ketemuan sama lawyer nya bos besar ! Minggir lo !"
"Ah, come on, man...! Just give me one more chance !"
"Ayolah, bos ! Kita bicarakan lagi nanti, oke ! Sekarang aku harus benar-benar pergi ! Aku ada urusan yang lebih penting daripada sekedar menanggapi ide konyolmu itu !"
"Oke ! Tapi jawabannya harus menyenangkan ya, bro !"
Doni hanya mendengus kesal mendengar tuntutan tak masuk akal dari bos nya yang menurutnya agak sedikit tidak waras.
Sedangkan di kursi kebesaran bos nya, tampak Gerald senyum-senyum sendiri membayangkan sebuah ide yang terlintas di benaknya.
Semoga saja kali ini nasib baik berpihak padaku....
***
Senja menyapa. Mentari senja tampak jingga memberi warna pada dunia. Kyara menengadahkan wajahnya di tepi balkon kamarnya. Merasai jiwa yang selalu dipenuhi rasa hampa tanpa kehadiran suaminya. Segeralah kembali kakang ! Aku sangat merindukanmu..! batin Kyara sendu menatap langit yang mulai kemerahan.
Tok...tok...tok...
"Kya ! Apa boleh kakak masuk !"
Ketukan pintu kamar dan suara kakak iparnya seketika menghentikan Kyara dari kegiatan senjanya. Dia kemudian pergi untuk membukakan pintu kamarnya.
"Masuk, kak !" ujar Kyara mempersilakan kakak iparnya masuk.
Kak Indah tersenyum, dia kemudian memasuki kamar adiknya.
"Kenapa pintu balkonnya terbuka ?"
"Itu, tadi Kya sedang lihat Nata sama Arumi main di halaman belakang. Mereka kelihatannya senang banget ya, kak !" ujar Kyara seraya kembali menatap jendela kamarnya. Tampak Nata kecil dengan riangnya mengejar kakaknya.
"Ah, masa kecil, memang masa yang tak punya beban. Beberapa bulan ke depan, rumah ini akan semakin ramai dengan kehadiran dedek bayi ya...!" ujar kak Indah seraya mengusap lembut perut Kyara.
"Ah, iya. Kakak benar, Kya nggak sabar nunggu baby nya pengen segera launching, he...he...! Kakang Bagas juga pasti sudah bahagia menunggu kehadiran anaknya, benar kan kak ?"
Kak Indah menatap Kyara penuh keharuan. Dia pun mengusap pipi Kyara.
"Iya Kya, Bagas pasti sangat bahagia dengan kehadiran anak kalian.Tetap tersenyum Kya ! Kau sangat cantik jika tetap tersenyum seperti ini."
Tok... tok...tok..
"Permisi, nyonya ! Di depan ada tuan Gerald sama tuan Donii. Katanya mereka ingin bertemu dengan nona Kyara." ujar mbok Jum asisten rumah tangganya kak Indah.
"Ah ya, baiklah mbok ! Sebentar lagi kami turun !" ujar kak Indah.
"Nggeh, nya !"
Setelah itu mbok Jum kembali ke bawah.
"Ada apa mereka kemari, kak ?"
"Entahlah ! Ayo, kita ke bawah !"
Setelah menutup pintu balkon dan tirai jendelanya, Kyara dan kak Indah pun turun menuju ruang tamu. Tiba di sana, mereka sudah mendapati Gerald, Doni dan kak Gun sedang bercakap-cakap.
"Assalamualaikum...!" ujar kak Indah berbarengan.
"Waalaikumsalam ! Ah Khumairaku, kemarilah !" ujar Gunawan seraya menepuk sofa kosong di sampingnya.
Kak Indah tersenyum, dia pun segera duduk berdampingan dengan suaminya. Sedangkan Kyara duduk berhadapan dengan kedua asisten suaminya.
"Mmm, begini Kya..."
Doni langsung memelototi Gerald saat Gerald menyebut nama Kyara tanpa embel-embel nona.
"Ups...! Maksud saya, nona Kyara."
Gerald langsung meralat kalimatnya ketika Doni memelototinya.
"Tidak usah terlalu formal, Gun ! Aku lebih suka kau memanggilku Kya saja."
"Gun...?"
Serentak semua orang bersuara seraya mengernyitkan dahi mereka.
"Iya, Guntur !"
"Guntur ?"
Kembali raut keterkejutan terpancar di wajah ketiga orang yang sedang berada di ruang tamu.
"Apa maksudmu Guntur, bukankah dia Gerald ?" tanya Gunawan.
"Iya kak, dia Guntur dan juga Gerald. Kalau di Indonesia dia dipanggil Guntur, tapi kalau di Jerman dia menjadi Gerald, he...he...! Benar kan, Gun ?"
Entah kenapa, Kyara memiliki keberanian untuk meledek kawan sekampusnya itu.
"Aku sungguh tidak mengerti maksud kamu itu apa, Kya !" ujar Gunawan.
"Mm, sebenarnya, namanya saya Guntur Geraldy Roeslan. Tapi karena saya tinggal di Jerman, saya pun mengenalkan nama tengah saya kepada teman-teman di sana. Gengsi lah tuan, masak iya, tinggal di luar negeri tapi namanya nggak keren..."
"Hups...hua...hua...hua..."
Doni tertawa renyah sekali melihat ekspresi Guntur.
"Udah deh bos, wong ndeso mah, tetep aja wong ndeso " ujar Doni.
"Ish, kau ini...!"
"Sudahlah Don ! Jangan ledek dia terus ! Kasihan !" ujar kak Indah. "Ngomong-ngomong, gimana ceritanya sampai kamu kenal sama, Gerald ?" tanya kak Indah pada Kyara.
"Sebenarnya, Kyara ini teman satu kampusku dulu, hanya saja berbeda jurusan. Kyara mengambil program psikologi anak, sedangkan aku, manajemen. Dulu, Kyara tuh...."
"Gun, aku rasa kau ke sini bukan untuk curhat, kan ?" ujar Kyara penuh penekanan.
"Ah, kau benar nona !" tiba-tiba Doni teringat kembali tujuan mereka menemui istri bosnya.
__ADS_1
"Maafkan bos Gerald, nona ! Mohon dimaklumi saja !"
"Eits, maksud lo apaan, Don !"
"Sudahlah bos ! Kita datang kemari bukan untuk berdebat, tapi untuk menyampaikan amanat bos Bagas !"
"Amanat Bagas ! Maksud kalian ?" tanya kak indah yang tersentak kaget mendengar ucapan asisten adiknya itu.
"Ini nona !"
Doni mengeluarkan sebuah map berwarna hijau dari dalam tas kantornya, begitu juga dengan Gerald.
"Apa ini ?" tanya Kyara datar.
"Beberapa hari sebelum tuan Bagas kecelakaan, beliau meminta kami untuk membuat surat wasiat tentang semua aset kepemilikannya. Beliau menyerahkan semua perusahaan dan harta benda yang beliau miliki kepada anda, nona !"
"Cukup ! Aku tidak mau menerima semua ini ! Kakang masih hidup, aku yakin dia masih hidup ! Jadi aku tidak butuh surat wasiat yang kalian buat !"
Kyara mulai emosi mendengar maksud dan tujuan kedua asisten suaminya menemuinya. Kyara masih memiliki keyakinan jika suaminya masih hidup, karena itu dia selalu merasa emosi jika ada orang yang menyinggung soal kematian suaminya.
"Dengar, jika tidak ada yang ingin kalian sampaikan lagi, sebaiknya kalian pulang saja !" usir Kyara seraya beranjak dari kursinya.
"Tapi, nona !
"Sudahlah, Don ! Sebaiknya sekarang kalian pulang saja. Biar aku yang bicara dengan Kyara." ujar Gunawan.
"Eh, Kya tunggu !" ujar Gerald menghentikan langkah Kyara.
"Ada apa lagi ?" Kyara membalikkan badannya dengan perasaan kesal.
"Apa aku bisa pindah ke perusahaan yang berada di sini ?"
"Lalu Doni ?"
"Aku akan memutasi Doni ke perusahaan Jerman." jawab Gerald yang berhasil membuat Doni menganga sempurna.
Haiss...! Benar-bebar bocah gila nih, si bos ! Gerutu Doni dalam hati.
"Suamiku telah mempercayakan perusahaan itu kepada kalian ! Lakukan apa pun yang kalian suka ! Tapi jangan sampai mengkhianati suamiku !"
Kata-kata yang simpel namun penuh ketegasan dalam setiap baris kalimatnya.
Gerald tersenyum mendengar ucapan Kyara, berbanding terbalik dengan Doni yang merenggut kesal karena asisten bos nya yang menyebalkan itu telah berhasil memutasi dirinya.
Setelah kepergian Kyara, kedua asisten Bagas pun akhirnya pamit pulang.
"Mas, apa kau tidak lihat cara Gerald menatap Kya, tadi ?" tanya kak Indah setelah tamu nya pergi.
"Tidak, kenapa ?" ujar Gunawan seraya merebahkan tubuhnya di sandaran sofa.
Kak Indah sedikit menyampingkan tubuhnya menghadap Gunawan.
"Aku rasa, dia sangat menyukai Kyara. Gimana, jika nanti setelah Kyara melahirkan, kita jodohkan saja mereka, mas !"
"Ahh..., jangan mulai lagi Khumaira...! Biarkan Kyara menentukan masa depannya sendiri ! Kemarilah ! Aku sangat merindukanmu !" ujar Gunawan seraya meraih tangan istrinya.
Kak Indah pun mendekat, dia menempelkan dadanya di dada bidang suaminya.
"Ish Khumaira, jangan seperti ini, sayang...! Aku tidak kuat jika juniorku harus on di jam segini !" ujar Gunawan seraya menyentuh dada istrinya.
"Memangnya kenapa jika harus on, bukankah kau bisa mengoff-kan kembali.." ujar kak Indah seraya menempelkan pipinya di pipi suaminya.
"Aish... khumairaku..., aah..., sejak kapan kau menjadi nakal begini...?"
"Tentunya sejak kau masuk dalam kehidupanku, suamiku !" ujar kak Indah menggigit kecil ujung daun telinga Gunawan.
"Maafkan aku Khumaira, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi !"
Gunawan segera menggendong tubuh istrinya ala bridal style. Kali ini dia membawa kak Indah ke kamar tamunya, karena sudah tidak mampu membendung hasratnya.
Trek...
Gunawan mengunci pintu kamarnya. Dia kemudian membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dia mulai mencumbu istrinya, menciumi ceruk leher kak Indah. Mata Gunawan sudah semakin buram oleh gairah cintanya. Gunawan mulai membuka kancing baju istrinya. Dia mulai menyelusuri bukit kembar nan Indah itu, namun saat tangan jail Gunawan ingin mengharapkan lebih, tiba-tiba..
Allahu Akbar... Allahu Akbar....
Sayup-sayup terdengar bunyi azan magrib yang seketika membuat kak Indah mendorong tubuh suaminya.
"Astaghfirullah hal adzim ! Sudah magrib, mas ! Aku lupa, jika ba'da magrib, aku ada pengajian bersama ibu-ibu kompleks."
Kak Indah segera membenahi dirinya. Dia mengancingkan kembali bajunya satu persatu.
"Biar ku bantu !" ujar Gunawan seraya mengancingkan baju istrinya.
Kak Indah tersenyum melihat raut suaminya yang tampak kecewa.
"Mas !" ujar kak Indah pelan
"Hmm..." jawab suaminya seraya menatap kak Indah.
Tiba-tiba kak Indah menempelkan bibirnya di bibir suaminya. Dia mulai mengulumnya lembut, menyesapnya penuh kesempurnaan, membuat jantung suaminya berdegup kencang melihat inisiatif sang istri. Setelah puas saling menuangkan cinta melalui bibirnya. Kak Indah pun melepaskan pagutannya.
"Aku janji, lepas isya, aku akan menyerahkan diriku padamu, seutuhnya !" ujar kak Indah seraya tersenyum manis.
***
"Bersiaplah ! Aku sudah menemukan alamat kakaknya almarhum. Sore nanti kita berangkat !" ujar Aaron kepada istrinya.
"Benarkah ?" tanya Sisil penuh kegembiraan.
"Ya ! Nanti sepulang kerja aku akan menjemputmu ! Kita akan menjenguk Ajay dulu, aku dengar dia sedang menjalani pengobatan di kota yang sama. Pulang dari sana, baru kita ke rumah kak Indah."
"Ish, ngapain sih kita jengukin cowok itu lagi !" gerutu Sisil kesal.
"Sudahlah ! Jangan bersikap seperti anak kecil ! Bagaimanapun juga, Ajay adalah sahabatku, jadi kau harus mulai terbiasa untuk berteman dengannya." Aaron mencoba memberikan pengertian.
"Ya sudah, terserah lo aja ! Tak masalah, lagipula semua ini hanya untuk beberapa bulan saja. Setelah melahirkan, aku akan kembali lagi ke kampung halamanku. Jadi aku tidak harus menemui temanmu itu !" ujar Sisil seraya pergi meninggalkan suaminya.
Aaron hanya bisa menarik napasnya panjang. Ya Tuhan..., tumbuhkan cinta itu di antara kami, agar kami bisa memberikan orang tua yang utuh untuk anak kami !
***
Pukul 15.00, mobil Aaron memasuki halaman rumah kak Indah.
"Permisi nyonya, ada tamu di luar ! Katanya teman almarhum tuan Bagas." ujar mbok Jum.
"Siapa ?"
"Waduh, maaf nyah, si mbok nggak nanya namanya !"
__ADS_1
"Ya sudah, titip Nata dulu ya mbok ! Saya ke depan dulu !"
Kak Indah pergi ke ruang tamu. Sejenak dia tampak tertegun mendapati sahabat adiknya. Bayangan kebersamaan mereka yang pernah dilihat kak Indah mulai menari di benak kak Indah. Tanpa terasa, air mata mulai mengalir di kedua pipi kak Indah.
"Ar...!"
Aaron yang sedang melihat-lihat album foto keluarga kak Indah, segera mendongakkan wajahnya. Dia segera menghambur memeluk kak Indah. Mereka pun menangis bersama saat terkenang dengan almarhum.
"Kak, aku turut berdukacita atas kepergian almarhum."
"Terima kasih, Ar ! Tolong maafkan Bagas jika selama ini dia punya salah sama kamu, Ar !"
"Iya, sama-sama kak ! Bagas orang baik, dia tidak pernah punya salah sama Ar. Justru Ar yang selalu menyusahkan Bagas.
Air mata Aaron kembali mengalir saat mengingat kebersamaannya dengan almarhum. Melihat hal itu, Sisil memegang tangan suaminya untuk menenangkannya.
"Apa dia istrimu, Ar ?" tanya kak Indah yang sedari tadi penasaran dengan wanita yang tengah hamil, duduk di samping Aaron.
"Iya kak, ini istri Ar, namanya Sisil. Kebetulan dia juga sahabatnya Kyara."
"Saya Sisil, kak !" ujar Sisil seraya mencium punggung tangan kak Indah.
"Benarkah ? Jadi kamu bersahabat dengan adik iparku ?"
"Iya kak, dulu kami teman satu kost sekaligus teman kerja di sebuah pabrik di kota B."
"Alhamdulillah, pasti Kyara senang dengan kunjungan kalian."
"Ngomong-ngomong, Kyara nya di mana, kak ? Kok nggak kelihatan ?" tanya Aaron.
"Kalau jam segini, Kyara masih kerja. Pulangnya nanti sekitar pukul 4 lewat."
"Oh, jadi Kyara kerja, kak ?" tanya Sisil.
"Iya, dia mengajar di SD Mutiara Bangsa, sekolahnya Arumi." jawab kak Indah.
Setelah beberapa lama mereka berbincang-bincang, tiba-tiba Arumi dan Kyara tiba di rumahnya.
"Yeayyy...! Onty menang...! Onty duluan sampainya !" teriak Kyara seraya mengacungkan kedua tangannya.
"Aahh, onty kan curang, Arum kan belum siap, tapi onty sudah lari duluan !" rengut Arumi.
Kyara tergelak melihat lucunya wajah Arumi yang sedang merengut kesal.
"Astaghfirullah hal adzim, Kya ! Sudah berapa kali kakak bilang, jangan pernah berlari-lari ! Jangan selalu mengikuti keinginan Arumi ! Dan kamu Arumi, jangan ajak onty mu berlari, kasihan dedek bayi yang ada di perut onty, dia pasti kecapean kalau kamu ajak lari terus !"
Akhirnya, kultum sore hari pun di mulai.
"Ra...!"
Panggil Sisil dengan suara yang serak menahan air mata kerinduan untuk sahabatnya itu.
Kyara menoleh, dia sangat terkejut melihat sahabatnya tengah duduk di samping seorang laki-laki di ruang tamu. Keterkejutannya semakin sempurna saat dia melihat lelaki itu adalah Aaron. Kyara segera menghampiri mereka. Dia dan Sisil pun berpelukan erat untuk menumpahkan kerinduannya.
"Ra...! Maafin gue Ra ! Maafin gue yang selalu nggak pernah ada di setiap kesulitan lo !" ujar Sisil terisak.
Kyara hanya mampu menangis seraya mengusap-usap punggung sahabatnya.
"Aku kuat, Sil ! Aku pasti kuat !" gumam Kyara.
Puas menangis dan berpelukan, mereka pun akhirnya mengobrol. Saling bercerita satu sama lain selama 7 tahun berpisah. Aaron sesekali tersenyum melihat interaksi mereka.
Ah, Gas..., seandainya lo masih ada, lo pasti akan merasa bahagia melihat ikatan persahabatan yang menyatukan kita. Kau dan istrimu, begitu juga dengan aku dan istriku.
"Ar, kalian menginap di sini kan ?" tanya Kyara membuyarkan lamunan Aaron.
"Eh.., sepertinya kami menginap di hotel, karena kami harus mengunjungi Ajay. Aku dengar, dia juga sedang berada di sini untuk pengobatannya."
"Oh..!"
"Hanya oh ?" tanya Sisil.
"Maksudmu ?"
"Apa lo nggak mau tahu sesuatu tentang cinta pertama gila lo itu ?"
"Hush ! Maaf Kya, Sisil emang orangnya seperti ini ! Dia suka nyablak kalau bicara."
"Tidak apa-apa Ar, aku udah tahu lama soal dia, kok !"
"Loh, emang gue salah gitu ? Bener kan kalo tuh co.... hummpphh... humpp.. !"
Mata Sisil membulat sempurna saat Aaron membekap mulutnya dengan tangan kanannya.
Kyara hanya tersenyum melihat aksi kocak keduanya.
***
Selepas makan malam, Kyara dan Sisil tengah duduk di gazebo taman bermain. Sedangkan Aaron tengah berbincang-bincang dengan Gunawan di ruang kerjanya.
Pasangan muda itu akhirnya menginap di rumah Gunawan karena permintaan Kyara yang setengah merajuk.
Kyara dan Sisil saling bertukar cerita tentang kehidupannya selama 7 tahun berpisah.
"Gue nggak pernah nyangka Ra, jika akhirnya lo menikah sama tuan si minim kosakata itu." ujar Sisil.
"Aku sendiri nggak pernah nyangka, jika ternyata Aaron si cowok kalem, bisa mendapatkan seorang istri dengan mode cerewet sepanjang waktu." ujar Kyara menggoda sahabatnya.
Sisil hanya mengerucutkan bibirnya mendengar godaan Kyara.
"Pernikahan gue sama Aaron itu terjadi hanya karena bayi yang ada di perut gue Ra." ujar Sisil lirih.
"Maksudnya ?" tanya Kyara heran.
Sisil pun menceritakan semua kejadian malang yang menimpa dirinya. Kejadian yang memaksa Aaron melakukan hubungan badan demi menyelamatkan nyawanya, hingga akhirnya tumbuh janin sebagai akibat dari perbuatan mereka.
"Sabar ya Sil ! Tuhan selalu memiliki cara lain untuk menyatukan jodoh di antara makhluk-Nya."
"Tapi gue nggak yakin, Ra ! Gue tahu jika Aaron tidak pernah mencintai gue. Dari awal, gue tahu jika cintanya Aaron tuh hanya buat lo. Gue udah ambil keputusan, begitu anak ini lahir, gue akan melepaskan Aaron dari pernikahan yang tak pernah diinginkannya ini. Gue bakalan balik kampung dan berusaha melupakan semuanya."
Kyara menggenggam tangan Sisil.
"Jangan pernah melepaskan apa yang telah Tuhan persatukan dengan cara-Nya Sendiri ! Jangan pernah lepaskan ! Percayalah Sil, kau akan menyesal setelah kau kehilangan dirinya. Aku tahu sakitnya sebuah penyesalan, Sil ! Dulu aku pernah menyia-nyiakan cinta dan kasih sayang suamiku, dan sekarang, aku masih berharap jika aku memiliki kesempatan lagi untuk meraih cinta itu. Aku menginginkan Bagas ku kembali, dan aku percaya jika dia akan kembali."
"Ma... maksud kamu ?"
"Apa kamu akan mempercayaiku jika aku katakan suamiku masih hidup ?"
"Haahh...!"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote n komennya ya...