Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Melepas Kerinduan


__ADS_3

POV Kyara


Beberapa hari yang lalu, aku kembali bertengkar dengan kak Indah. Masalahnya masih tetap sama, tentang keinginanku untuk membongkar makam itu. Bahkan aku berkata pada kak Indah jika aku memiliki kewenangan penuh atas jasad itu, dan dengan izin ataupun tanpa izin kak Indah, aku tetap akan membongkar makam itu untuk melakukan tes DNA.


Plakk...


Sebuah tamparan keras dari kak Indah mendarat di pipiku. Sakit...! Tentu saja sakit, tapi bukan sakit karena tamparannya. Hatiku sakit karena kak Indah tidak pernah ingin memahami perasaanku. Dia malah mengatakan aku semakin tidak waras, dan dia terus mengancamku untuk mengambil anakku jika aku masih tetap berharap tentang suamiku.


Aku semakin merasa sulit untuk bernapas di rumah ini. Bayangan kehidupan tanpa anakku, membuat pikiranku semakin kacau. Aku tidak ingin mengalami depresi lagi karena mendapatkan tekanan demi tekanan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari kota ini. Aku ingin hidup tenang bersama anakku dan juga kenanganku bersama suamiku.


Saat ini hanya Doni yang bisa aku percaya. Sejak Guntur mendekatiku, aku sudah tidak memiliki kepercayaan apa pun terhadap asisten kakang yang satu itu. Aku tahu, aku tidak bisa mengajukan pensiun muda karena memang usia dan masa kerjaku belum memadai. Akhirnya, aku meminta sebagian hak ku atas keuntungan perusahaan kakang untuk kelangsungan hidupku bersama anakku kelak. Untungnya Doni bukan orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Tanpa banyak bertanya, Doni pun mentransfer sejumlah uang yang sangat besar nominalnya sebagai bekalku hidup bersama anakku.


Setelah mendapatkan uang dari Doni, aku pun segera mengajukan surat pengunduran diriku. Meskipun kepala sekolah tidak menyetujuinya, tapi keputusanku sudah bulat. Aku ingin pergi untuk mencari ketenangan.


Sekarang, aku tinggal di sini. Akan kulewati hariku bersama anakku di sini. Di rumah masa tua kami. Aku akan hidup dengan semua kenanganku bersamamu, kakang... ! Di sini, di tempat yang pernah kita janjikan bersama, sebagai tempat menghabiskan sisa umur kita.


***


"Mau ambu ambilkan atuh ke sini makanannya, neng ?" tawar bik Mar.


"Tidak usah ambu, nanti kalau lapar, Kya ambil sendiri ke bawah." jawab Kyara.


"Ambu teh sangat senang, neng mau tinggal di sini. Neng sendiri tahu jika ambu dan abah tidak punya anak. Sekarang mah alhamdulilah, ambu bisa merasakan bagaimana rasanya mengurus anak." ujar bik Mar mengusap lembut rambut Kyara.


"Kya juga senang tinggal di sini. Kya senang ambu mengizinkan Kya memanggil ambu. Kya jadi ngerasa punya ibu sama ayah lagi. Makasih ambu, sudah mengizinkan Kya dan calon anak Kya untuk tinggal di sini selamanya." ujar Kyara.


"Ish, tidak usah berterima kasih atuh neng ! Ini juga kan rumah den Bagas, suaminya neng Kya. Jadi sampai kapan pun, neng sama anak neng bisa tinggal di sini. Ambu sama abah mah hanya ngurusin saja. Ya sudah atuh, neng istirahat saja ! Pasti sudah sangat capek ya, melewati perjalanan tadi." jawab bik Mar.


Kyara mengangguk. Dia pun mulai merebahkan tubuhnya.


Bik Mar membetulkan selimut Kyara hingga ke dadanya. Suasana di desa cukup dingin, karena itu bik Mar tidak mau majikannya merasa kedinginan. Setelah dilihat Kyara sudah terlelap. Bik Mar pun pergi untuk memeriksa kembali kunci dan jendela rumah, takutnya belum semuanya terkunci.


"Bagaimana non Kya ? Apa sudah tidur, bu ?" tanya pak Usman, suaminya.


"Eh, sudah pak !" jawab bik Mar.


"Kasihan anak itu, menjadi janda di usia yang masih sangat muda."


"Iya, bah ! Anaknya juga harus menjadi yatim sejak di dalam kandungan ibunya. Ambu benar-benar prihatin melihatnya."


"Karena itu, ambu, kita harus selalu memberi perhatian yang lebih, agar dia tidak merasa sendirian lagi."


"Iya, abah benar. Ngomong-ngomong, apa gerbangnya sudah di gembok ?"


"Astaghfirullah ! Abah lupa ambu, abah belum beli kunci gembok yang baru. Besok saja kita ke pasar, sekalian ngajakin neng Kyara jalan-jalan, siapa tahu ada yang mau di beli buat perlengkapan rumah ini."


"Ah, ya ! Abah benar..! Ya sudah atuh, yap kita tidur ! Ambu rasa, tidak apa-apa tidak dikunci juga. Kampung kita kan aman."


Pak Usman pun tersenyum. Mereka akhirnya pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


***


"Ja...jadi Kya pergi, kak ?"


"Maafin kakak, Bagas ! Selama ini kakak tidak pernah mempercayai istri kamu. Bahkan kakak tega mengatakan jika istri kamu sudah tak waras. Maafin kakak ?"


Bagas kembali memeluk kak Indah.


"Sudahlah kak ! Semua ini bukan salah kakak. Bagas lah yang salah ! Bagas terlalu takut mendengar kenyataan jika Kyara tidak pernah mencintai Bagas. Bagas bener-bener pengecut, kak !"


"Sudahlah ! Tidak ada gunanya kalian saling menyalahkan diri kalian sendiri. Yang terpenting saat ini, kita harus segera mencari Kyara. Kakak sangat khawatir, Gas. Terlebih lagi saat ini usia kandungan Kyara sudah semakin mendekati waktunya" ujar Gunawan.


"Kakak sudah mencarinya kemana saja ?" tanya Bagas.


"Kakak baru menghubungi pak Budi. Beliau bilang, tadi pagi Kya memang mengajukan surat pengunduran dirinya. Tapi pak Budi belum menyetujuinya. Beliau hanya mengijinkan Kyara untuk menjalani cuti melahirkan selama 4 bulan ke depan. Maaf, Gas ! Kakak sama sekali tidak mengenal siapa saja teman Kyara. Karena itu kakak belum menghubungi siapa-siapa lagi. Tapi, kak Gun sudah meminta Gerald untuk mengerahkan anak buahnya mencari Kya." jawab kak Indah.


"Apa kakak sudah menghubungi dokter Nita ?" tanya Bagas.


"Siapa dokter Nita ? Maaf, kakak tidak mengenalnya !"


"Biar gue hubungi Ajay ! Siapa tahu dia punya nomor kontak dokter Nita ?" sahut Aaron.


Bagas pun mengangguk. Sedetik kemudian Aaron menelpon sahabatnya dan memijit tanda loud agar mereka mendengar percakapannya bersama Ajay.


"Hallo Jay ? Boleh gue minta nomor kontak dokter Nita ?" (Aaron)


"Ngapain ?" (Ajay)

__ADS_1


"Bukan urusan lo !" (Aaron)


"Ish, jelas ini urusan gue ! Nita calon bini gue ! Lagian, ngapain lo nelpon dia malam-malam gini !" (Ajay)


Bagas tampak tersenyum saat Ajay mengakui jika dokter Nita adalah calon istrinya.


"Udah deh, ceritanya panjang ! Besok-besok gue ceritain, yang penting sekarang gue butuh banget nomor kontak calon bini lo, buruan !" (Aaron)


"Ya udah, sekarang gue kirim lewat WhatsApp !" (Ajay)


Tut....tut...tut...


"Ish, kebiasaan banget nih bocah !" gerutu Aaron.


Tak berapa lama, nomor dokter Nita pun telah muncul di ponsel pintarnya Aaron. Aaron segera menekan nomor itu, namun tak ada jawaban. Berkali-kali Aaron mencoba menghubungi dokter Nita, tapi masih tak di angkatnya.


"Sepertinya dokter Nita sudah tidur, Gas !" ucap Aaron.


"Kak, apa kakak punya nomor kontaknya bu Rani, wali kelasnya Arumi ?"


"Ya, kakak punya. Kenapa Gas ?"


"Bagas boleh pinjam ponselnya ?"


Kak Indah menyerahkan ponselnya ke tangan Bagas. Setelah itu Bagas mulai mencari nomor bu Rani dan menghubunginya.


"Assalamualaikum, umi Arumi ! Ada yang bisa saya bantu ?" (bu Rani)


"Waalaikumsalam, maaf mengganggu waktu istirahatnya, bu ! Saya Bagas, suaminya Kyara ? Maaf bu, apa hari ini ibu bertemu dengan istri saya ?" (Bagas)


Hening....


"Bu...! Hallo, bu Rani !" (Bagas)


"Eh..., ma...maaf...! Sa.. saya hanya kaget saja, bu... bukankah pak Bagas sudah ti... tiada ?" (bu Rani)


"Maaf bu, ceritanya sangat panjang. Tapi saya benar-benar butuh bantuan ibu. Istri saya menghilang, dan orang rumah tidak tahu dia pergi kemana. Jika ibu memiliki informasi tentang istri saya, bisakah ibu memberitahu saya ?" (Bagas)


"Sebenarnya saya tidak tahu apa ini penting atau tidak. Saya sudah mendengar dari rekan-rekan kerja jika hari ini Kyara telah mengajukan surat pengunduran dirinya. Tapi pak, beberapa minggu yang lalu, dia memang pernah berbicara kepada saya jika dia ingin pensiun dini dan pergi dari kota ini. Dia sangat takut dipisahkan dengan anaknya. Karena itu dia berencana untuk pensiun karena ingin fokus mengurus anaknya." (bu Rani)


"Terima kasih bu, itu sudah cukup membantu ! Kalau begitu, saya tutup telponnya, assalamualaikum !" (Bagas)


"Waalaikumsalam !" (bu Rani)


Bagas segera mengembalikan telponnya kepada kak Indah.


"Kak Gun ? Boleh pinjam mobilnya ?" tanya Bagas.


"Tentu saja ! Tapi, kamu mau kemana ?" tanya Gunawan heran.


"Menjemput istri Bagas, kak !" jawab Bagas penuh keyakinan.


Tanpa banyak bertanya lagi, Gunawan pun segera mengambil kunci mobilnya dan menyerahkannya kepada Bagas.


Setelah berpamitan, Bagas mengeluarkan salah satu mobil milik kakak iparnya. Dia kemudian mulai memanaskan mobilnya sejenak, setelah itu dia melajukannya dengan kencang. Dia tidak ingin membuang waktu lagi untuk bisa bertemu dengan kekasih hatinya.


Mobil projects B memang mobil yang bisa diandalkan dalam suasana yang menegangkan. Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, sehingga jarak tempuh yang seharusnya ditempuh dalam 2 jam, mampu Bagas kikis hingga satu jam.


Berulang kali Bagas membunyikan klakson mobilnya, tapi tak ada satu pun orang yang keluar untuk membukakan pintu gerbang. Bagas pun turun dari mobilnya. Dia mencoba memeriksa gembok, barangkali saja bisa dia hancurkan. Tapi kenyataannya, Bagas mendapati gembok di gerbang itu rusak, hingga gerbangnya tidak terkunci. Setelah membuka gerbang, Bagas kembali menuju mobilnya dan melajukannya memasuki halaman rumah.


Di dalam rumah. Bik Mar yang sedang ke kamar mandi untuk buang air kecil, sempat mendengar bunyi klakson mobil. Namun karena saat itu dia sedang berada di kamar mandi, dia pun mengabaikan bunyi itu.


Saat hendak memasuki kamarnya, bik Mar mendengar suara ketukan pintu di ruang tamu. Dia sangat terkejut, perasaan takut mulai menghampirinya. Dia segera melangkahkan kakinya ke kamar untuk membangunkan suaminya.


"Bah...! Abah, ayo bangun...!" ujar bik Mar pelan seraya mengguncang pelan bahu suaminya.


"Ada apa atuh ambu ? Ini teh sudah tengah malam, kenapa ambu belum tidur ?"


"Sst..! Sok dengarkan atuh sama abah ! Sepertinya ada orang yang sedang mengetuk pintu."


Pak Usman mengerjapkan matanya. Dia mulai memasang telinganya dengan baik. Memang benar terdengar bunyi ketukan di pintu utama.


"Ayo bu ! Kita lihat !" ajak pak Usman.


"Tunggu pak ! Ambu mau bawa pentungan dulu, siapa tahu itu orang jahat yang mau merampok kita !"


"Ish, ambu mah terlalu banyak nonton sinetron azab tah eta teh !"

__ADS_1


"Hush, sudah atuh ! Hayu kita ke depan !"


Dengan mengendap-endap, pak Usman dan istrinya menghampiri pintu utama. Mereka bersama-sama membuka pintu itu. Bik Mar telah siap mengacungkan pentungannya, sedangkan pak Usman bersiap dengan kuda-kudanya.


Ceklek...!


Pintu terbuka.


"Siapa ?" ujar pak Usman.


"Rampok bukan ?" tanya bik Mar mengambil ancang-ancang untuk memukul orang itu dengan pentungan.


"Apa istriku ada di sini ?"


"Istri ?" ujar pak Usman dan bik Mar berbarengan.


Bik Mar berjalan menuju saklar lampu. Dia kemudian menekan tombol saklar untuk menyalakan lampunya.


Trek...!


"Den Bagas...!" pekik bik Mar dan pak Usman bersamaan.


"Ssstt...! Pelan-pelan, bik, pak ! Apa Kyara ada di sini ?" tanya Bagas lagi.


"I...iya, den...! Ta...tadi dia baru da.. datang kemari !"


Bagas tersenyum, "Di mana dia, bik ?"


"Di...di ka.. kamarnya, den !"


"Ya udah, Bagas ke kamar dulu ya, bik, pak ! Makasih udah bukain pintunya !" ucap Bagas seraya pergi ke atas.


Bik Mar dan suaminya saling pandang.


"Sok ciwit tangan ambu, bah !" ujar bik Mar seraya mengulurkan tangannya ke arah suaminya.


Pak Usman mencubit kecil lengan istrinya


"Aww...! Ish, abah ! Ulah kenceng teuing atuh !" teriak bik Mar seraya memukul keras bahu suaminya.


"Haaar ari ambu...! Ya sudah, kita tidur lagi yuk ! Kela, abah kunci dulu pintunya !"


Pak Usman kembali mengunci pintu utama, setelah itu dia pun mengajak istrinya kembali ke kamarnya.


Klek....!


Bagas membuka pelan pintu kamarnya. Dia mendekati istrinya yang tengah tertidur nyenyak. Bagas seperti mengalami dejavu, di saat dulu dia pulang larut karena rasa rindunya untuk segera bertemu kekasihnya.


Bagas segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian, Bagas kembali lagi mendekati istrinya yang tengah tertidur menyamping. Bagas merebahkan dirinya di sebelah Kyara. Dengan berlinang air mata, dia memeluk Kyara dari belakang. Tangannya terasa aneh saat pelukannya terhalang oleh perut buncitnya Kyara.


Anakku...., batin Bagas seraya mengusap perut Kyara. Bagas mulai menyusupkan wajahnya di tengkuk Kyara, membaui harum rambutnya yang masih terasa sama. Bagas mulai menghirup kuat aroma leher Kyara. Aroma yang masih sama seperti saat pertama kali mereka bercinta.


Kyara mulai menggeliat merasakan hembusan hangat di lehernya. Dia bergerak dan mengubah posisi tidurnya menjadi telentang.


Bagas mulai merasakan kabut gairah. Terlebih lagi melihat tubuh istrinya yang tengah hamil tua. Entah kenapa saat ini istrinya terlihat sangat sexy di mata Bagas. Tangan-tangan jahil pun mulai bergerilya membuka satu persatu kancing baju Kyara. Kebetulan saat itu Kyara mengenakan daster selutut yang dipenuh kancing hingga bawah.


Perlahan Bagas mulai menyibakkan baju Kyara. Tampak tubuh mulus yang terlihat semakin berisi, telentang di hadapannya. Bagas mulai mengeksplor pelan wanitanya. Tangan jahilnya kembali bergerilya membuka kain berbentuk segitiga itu. Perlahan, Bagas menciumi perut istrinya penuh kelembutan.


Kyara menggeliat karena merasa geli di beberapa bagian tubuhnya. Dia tampak tersenyum dalam tidurnya.


"Aah, kakang...! Kya tau jika ini hanya mimpi ! Tapi Kya tidak ingin bangun. Kya ingin tetap tertidur selamanya, agar Kya bisa merasakan kehangatan tubuh kakang ! Kya rindu, kang...!" gumam Kyara dalam tidurnya.


Bagas tersenyum mendengar racauan Kyara. Perlahan namun pasti, Bagas pun memulai penyatuan dengan istrinya. Menumpahkan rasa yang selama ini terpendam. Bagas melepaskan kerinduan yang selama ini dia tahan. Desahan pelan Kyara membuat Bagas sedikit memacu kecepatan gerak tubuhnya.


"Aaahh, ka... kakang...., aku mencintaimu...!" teriak pelan Kyara saat melakukan pelepasan.


Kyara tersenyum dalam tidurnya. "Aku mencintaimu...! Aku sangat mencintaimu...!" gumamnya.


Tangan Kyara menarik kuat sprei, karena masih merasa jika ini hanyalah sebuah mimpi.


Bagas menyudahi malamnya. Dia segera menyelimuti tubuh istrinya. Bagas pun kembali memeluk istrinya. "Aku juga sangat mencintaimu, nyonya Anggara.


Bersambung....


Tinggal beberapa part lagi ya...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2