
"Makanlah Adi ! Nanti keburu dingin makanannya !"
"Sebentar lagi, kak !"
Adi kembali mengumpulkan dan mengangkat tandan buah sawit segar.
"Sudah Adi, jangan terlalu memforsir tubuhmu ! Nanti kamu drop lagi, kakak juga kan yang repot !"
"Iya, kak !"
Adi menghampiri kakaknya yang sedang duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Dia melihat kakaknya yang sedang membuka rantang susun miliknya. Adi kemudian melihat satu lagi rantang susun yang sama sekali belum tersentuh tangan kakaknya. Adi pun mulai menghela napasnya.
"Apa ini makanan pemberian Tania lagi, kak ?" tanya Adi.
Pemuda itu mengangguk.
"Ish, aku sudah bilang padanya untuk tidak mengirimkan apa pun lagi, tapi kenapa gadis itu masih terus mengirimkannya, huh !" dengus Adi kesal.
"Itu karena dia mencintaimu, he...he..!"
"Ish, kakak ! Yang benar saja...!"
"Hei ! Kapan aku bicara tak benar padamu ? Adi, Tania itu menyimpan rasa padamu. Apa kau tidak bisa merasakan jika dia sangat perhatian padamu ? Dia terlihat sangat khawatir jika sakit kepalamu kambuh. Adi, sejak kamu bekerja di sini, kakak bisa melihat jika gadis itu sangat menyukaimu. Mungkin sebaiknya kau sedikit membuka pintu hatimu untuknya, Di !"
"Entahlah, kak ! Aku merasa semua rasa di hatiku telah habis untuk seseorang !"
"Untuk seseorang ? Siapa ?"
Adi menggedikkan bahunya. "Aku sendiri tidak tahu untuk siapa. Mungkin untuk seorang putri mahkota, he...he...! Sudahlah, kak ! Tidak usah dibahas lagi ! Lagipula, mana mungkin aku melangkahi kakakku yang ganteng ini, he...he..."
"Kamu ini, bisa saja ngelesnya !"
"Adi gitu, loh...!"
Mereka pun tergelak bersama.
***
Kyara semakin merasa tidak nyaman berada di rumah kakak iparnya. Sejak Kyara mengemukakan keinginannya untuk melakukan tes DNA terhadap jenazah Bagas, sikap kak Indah mulai terasa dingin. Terkadang hal-hal sepele pun bisa membuat kak Indah mendiamkannya selama berhari-hari.
Belum lagi rasa pusingnya hilang karena sikap dingin kakak iparnya, Kyara pun semakin dibuat pusing dengan sikap Gerald yang selalu mendatanginya ke tempat kerjanya.
"Neng Kya !" teriak kecil pak satpam saat Kyara menuruni taksi online nya.
Ya ! Sejak perseteruannya dengan kakak ipar terkait tes DNA, Kyara pun memutuskan untuk pergi dan pulang kerja menaiki taksi online. Dia sadar jika dia tidak mungkin selamanya bergantung terus pada kedua kakak iparnya. Kalau saja kak Gunawan tak menahannya, sudah sejak lama Kyara hendak kembali ke rumah yang pernah dibuatkan suaminya untuknya.
"Tamu ? Siapa, pak ?" tanya Kyara heran.
"Entahlah, bapak sendiri tidak tahu ?" jawab pak satpam.
"Laki-laki atau perempuan ?" tanya Kyara lagi.
"Laki-laki, non !"
"Oh, ya sudah ! Kalau begitu, Kya permisi dulu ya pak !" pamit Kyara kepada satpam di sekolahnya.
__ADS_1
"Oh, iya, monggo neng !" jawab sang satpam, ramah.
Tiba di ruangan, Kyara tampak heran melihat seorang lelaki berjas hitam sedang mengamati lemari kaca yang berisikan piala dan piagam penghargaan Kyara.
"Maaf ! Siapa, ya ?" tanya Kyara menelisik tamunya dari belakang.
Deg...deg...deg...
Jantung Kyara berpacu lebih cepat saat tamunya itu membalikkan badannya.
"A... Ajay...!" gumam Kyara perlahan namun masih bisa didengar oleh sang tamu yang ternyata Ajay.
"Apa kabar Kya ?" Sapa Ajay seraya mengulurkan tangannya.
Namun Kyara tak menyambut uluran tangan Ajay. Dia malah melangkahkan kakinya menuju kursinya.
"Ada apa anda mencari saya ?" tanya Kyara tanpa berbasa-basi.
"Kau tidak menyuruhku duduk, Kya ?" bukannya menjawab, Ajay malah balik bertanya.
"Aku rasa tidak perlu, bukankah kau hanya akan singgah sebentar ?" jawab Kyara penuh penekanan.
"Hhhh...!"
Ajay menghela napasnya, dia kemudian menarik kursi di depan meja Kyara. Setelah itu dia menduduki kursi tersebut.
"Aku datang ke sini untuk meminta maaf, Kya !" ucap Ajay menatap sendu wajah Kyara.
Kyara tersenyum sinis, "Seharusnya kau tidak usah repot-repot menemuiku, bukankah dulu sudah kukatakan jika aku sudah memaafkanmu. Bahkan aku sendiri sudah lupa jika kau telah menyakitiku !" sindir Kyara.
"Baguslah, kalau begitu ! Sekarang, Tuhan memiliki alasan untuk mempertimbangkan tujuan akhir hidupmu ! Setidaknya, kau memiliki kesempatan untuk masuk surga." Kyara masih berkata sinis kepada orang yang pernah mengisi hatinya.
"Kya, aku mohon ! Jangan bersikap dingin seperti ini ! Kemana Kyara yang dulu, yang bersikap lembut dan penuh kehangatan ?"
Hati Kyara meradang mendengar semua ucapan Ajay. Dia benar-benar tidak terima jika laki-laki di hadapannya masih mendominasi dirinya.
"Dengar tuan Ajay Sanjaya ! Wanita yang berada di hadapanmu, bukanlah wanita yang masih sendiri ! Dia telah bersuami. Bahkan saat ini dia tengah mengandung anak dari suaminya. Jadi aku mohon, hormatilah ! Aku bukan Kyara Adistya, tapi aku nyonya Anggara, apa kau mengerti !"
"Kya, aku mohon ! Jangan salah paham dulu ! Aku tidak bermaksud menyinggungmu, aku hanya..."
"Pergi...! Aku minta, kamu pergi dari ruanganku !" teriak Kyara seraya berdiri untuk membuka pintu ruangannya.
Namun, belum sampai Kyara di depan pintu, tiba-tiba Ajay menghampirinya dan menggenggam kedua tangan Kyara.
"Jangan sentuh tanganku !"
Kyara mencoba menepiskan tangan Ajay. Tapi tiba-tiba saja, Ajay berlutut di kedua kaki Kyara.
"Aku mohon Kya ! Beri aku kesempatan sekali lagi ! Aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi ! Aku benar-benar menyesal Kya ! Izinkan aku kembali mendampingimu !"
Kyara memejamkan matanya, sejenak dia merasa iba terhadap Ajay. Namun tendangan kuat sang jabang bayi seolah mengingatkan Kyara akan statusnya.
"Maaf Jay ! Tapi rasaku telah habis untuk seseorang. Dan orang itu adalah suamiku, sepenuhnya rasaku hanya milik suamiku !"
Kyara kembali menepiskan kedua tangan Ajay. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu.
__ADS_1
Ceklek...!
Kyara membuka pintu ruangannya hendak pergi ke kelasnya. Namun saat pintu ruangan terbuka, tampak Gerald dengan seikat bunga di tangannya sedang berdiri di depan pintu ruangan Kyara.
"Kau...!" pekik Kyara.
"Hai cantik ! Apa kabar ? Ini seikat bunga untuk wanita tercantik, silakan diterima !" ujar Gerald tersenyum manis seraya menyerahkan bunga di tangannya.
"Grrhh....!"
Kyara mengepalkan kedua tangannya, merasa geram dengan kedatangan kedua laki-laki yang tidak pernah diharapkan dalam hidupnya.
"Kenapa...? Kenapa kalian harus datang dalam kehidupanku...! Kepalaku benar-benar bisa pecah dengan ulah kalian..! Aargghh...!"
Kyara sedikit berteriak, membuat Rani yang sedari tadi memperhatikan Gerald berdiri di ruangan Kyara, segera mendekati mereka.
"Ada apa, Kya ?"
Kyara menoleh.
"APA LAGI....!!
Kyara kembali berteriak. Harinya benar-benar buruk. Dia pun menghentakkan kakinya dan berlalu menuju kelasnya.
Ajay keluar dari ruangan Kyara. Matanya menatap tajam kepada seorang pemuda yang sedang membawa seikat bunga.
Siapa pemuda itu ? batin Ajay menatap sinis.
Gerald yang mendapatkan tatapan sinis dari seorang pemuda yang baru keluar ruangan, langsung tersenyum.
"Hai ! Kenalkan, nama saya Guntur Geraldy Roeslan, pengagum berat nona Kyara !" ujar Gerald seraya mengulurkan tangannya.
Dengan perasaan kesal, Ajay menerima uluran tangan pemuda itu.
Hmm, sepertinya dia rivalku..., batin Ajay.
"Ajay !" ucapnya.
"Apa kau menyukai nona Kyara ?"
Pertanyaan Gerald yang blak-blakan membuat Ajay sedikit mengernyitkan dahinya.
"Jika memang iya, kenapa ? Apa anda keberatan ?" tanya Ajay sinis.
"Ah tidak, saya tidak keberatan ! Saya tidak punya hak untuk melarang anda menyukai Kyara. Tapi saya tegaskan, saya juga mencintai Kyara. Kita mencintai orang yang sama, jadi kita akan bersaing secara sehat. Deal !"
Gerald kembali mengulurkan tangannya, tapi kali ini hanya dibalas dengusan kesal dari Ajay.
Aah..., ternyata, selain bersaing dengan orang yang sudah meninggal, aku juga harus bersaing dengan seorang pemuda yang sepertinya sangat gencar mendekati Kyara...
Batin Ajay tak terima
Bersambung....
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗
__ADS_1