Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pemakaman Sang CEO (Part 1)


__ADS_3

"Apa...!!"


Pekikan kaget Gunawan di ujung telpon membuat Doni menjauhkan ponselnya.


"Ya sudah ! Tolong jaga dia ! Tanyakan juga pada dokter, jika dia telah sadar, apa dia boleh melakukan kembali perjalanan ke kota J"


"Baik tuan !"


Doni kembali menutup ponselnya setelah sambungan telpon dengan tuan Gunawan terputus. Dia segera mendaratkan bokongnya di kursi samping tempat tidur Kyara. Doni menatap iba kepada gadis yang tengah tidur dengan wajah yang sedikit pucat.


"Anda pasti lelah, nona ! Tidurlah !" ujar Doni seraya membelai lembut rambut istri bosnya itu.


***


Di kota J.


Meskipun hatinya sedih, namun kak Indah harus tetap kuat demi anak-anaknya. Dengan tegar, dibantu asisten suaminya, kak Indah segera membenahi rumahnya untuk menyambut kedatangan jenazah adiknya. Kak Indah sendiri telah menyuruh sopir pribadinya untuk menjemput paman dan bibi Kyara di kampung halamannya.


Hati kak Indah terasa sakit menerima kenyataan jika adik satu-satunya telah meninggalkan dia untuk selamanya. Belum hilang keterkejutannya atas meninggalnya Bagas, kak Indah kembali dibuat terkejut dengan kabar yang disampaikan suaminya tentang Kyara yang tengah hamil muda.


Ya Tuhan..., sungguh berat ujian yang Engkau berikan kepada adik iparku. Kenapa dia harus ditinggalkan suaminya dalam keadaan hamil...? batin kak Indah, perih.


Sementara itu di lain tempat. Ajay sudah dipindahkan ke klinik dokter Nita yang berada di kota J. Klinik yang cukup bersih dengan suasana lingkungan yang sangat asri. Hingga membuat pasien merasa nyaman jika harus menjalani perawatan di sana.


Ajay sudah bertekad untuk sembuh dan akan berusaha kembali memantaskan dirinya untuk Kyara yang masih dianggapnya belum menikah. Karena itu dia melakukan pengobatannya dengan sungguh-sungguh. Dia juga meminta dokter Nita untuk menyembunyikan keberadaannya dari Kyara. Ajay ingin membuat sebuah kejutan untuk Kyara.


Kabar meninggalnya Bagas telah sampai juga di telinga Gerald, asistennya yang berada di Jerman. Gerald pun segera mengumumkan kabar duka tersebut di forum komunitas pengusaha otomotif. Banyak dari mereka yang hanya bisa mengirimkan rangkaian bunga dukacita ke rumah kak Indah. Namun ada juga beberapa pengusaha yang akan meluangkan waktunya untuk melihat Bagas terakhir kalinya.


Gerald bersama para pengusaha itu pergi dengan menggunakan jet pribadi milik perusahaan BA Group Jerman. Mereka sengaja datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pengusaha muda berbakat itu. Sepak terjang Bagas di dunia perusahaan otomotif luar negeri sudah sangat di akui. Banyak pengusaha senior yang ikut dengan Gerald untuk mengantarkan Bagas ke tempat peristirahatan terakhirnya.


***


Kyara dipindahkan ke ruangan VVIP untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Setelah itu, Gunawan segera menemui dokter yang menangani Kyara. Dia menjelaskan tentang semuanya yang terjadi pada Kyara. Dokter pun mulai mengerti kenapa Kyara bisa mengalami drop seperti itu.


"Sebenarnya, jika boleh jujur, saya tidak akan pernah mengizinkan nona Kyara untuk bepergian menggunakan pesawat."


"Saya tahu dok, tapi saya sendiri tidak tahu jika adik ipar saya sedang mengandung. Lalu sekarang, jika kami melakukan perjalanan kembali, apa akan membahayakan kandungannya dok ?"


"Begini saja pak, kita tunggu saja sampai esok hari. Sebenarnya, kondisi nona Kyara sudah stabil. Tapi alangkah lebih baik jika kita membiarkan dia beristirahat sejenak, setidaknya untuk malam ini. Besok saya akan memberikan vitamin untuk nyonya Kyara. Bagaimana ?"


"Baiklah, dok ! Saya setuju."


Setelah itu, Gunawan segera pamit. Namun sebelum dia kembali ke ruangan Kyara, dia menghubungi istrinya tentang keterlambatan pulangnya.


Keesokan harinya.


Setelah dinyatakan cukup stabil, akhirnya Kyara pun diizinkan untuk melakukan perjalanan kembali ke kota J. Meskipun sebenarnya ada rasa khawatir dalam diri dokter, mengingat usia kehamilan Kyara yang belum boleh menaiki pesawat, tapi dokter tidak bisa berbuat apa-apa. Karena bagaimanapun juga, jenazah Bagas harus segera dibawa dan dimakamkan.


***


Sementara itu di rumah Gunawan. Paman dan bibi Kyara telah sampai di rumah kak Indah ketika hari menjelang subuh. Terlihat kak Indah dan bi Irah berpelukan untuk saling menguatkan. Hati bi Irah terasa sakit menyadari kenyataan yang menimpa keponakannya. Apalagi ketika dia mengetahui jika Kyara ditinggalkan suaminya dalam keadaan hamil muda, hatinya semakin menjerit. Ya Gusti Allah.... sungguh berat sekali cobaan putri hamba..., batin bik Irah.


Kak Indah mempersilakan tamunya untuk beristirahat sejenak di kamar yang telah disiapkan. Tak lupa dia juga memberitahukan jika kemungkinan kedatangan jenazah akan sedikit mengalami keterlambatan, mengingat kondisi Kyara yang masih belum stabil.


Pukul 07.00, mobil para pelayat mulai memenuhi halaman depan tuan Gunawan. Mereka datang untuk melihat langsung jenazah CEO muda itu. Begitu juga dengan para penguasa Jerman yang datang bersama Gerald, asisten utama Bagas.


Karangan bunga bertuliskan ucapan dukacita mulai memenuhi trotoar depan rumah Gunawan. Karangan tersebut berdatangan dari berbagai instansi, baik dari instansi pemerintahan ataupun swasta, juga dari para komunitas pengusaha muda.


Kak Indah tampak terharu melihat begitu banyaknya orang yang menantikan kedatangan jenazah adiknya. Begitu juga dengan mang Jajang dan bi Irah yang semakin kaget dengan kenyataan jika suami keponakannya benar-benar orang yang sangat dihormati di kalangan orang-orang penting. Bahkan mereka juga terkejut dengan kedatangan para pejabat pemerintahan negaranya.


Kedatangan jenazah Bagas sebagai orang penting ternyata menjadi buruan para pencari berita.


Breaking news hari ini.


Selamat pagi pemirsa di rumah. Hari ini kami akan menyiarkan langsung penyambutan kedatangan jenazah salah satu eksekutif muda putra kebanggaan negara kita, yaitu owner perusahaan otomotif terbesar kedua di negara Jerman, BA Group yang dikabarkan meninggal dalam kecelakaan di kota Samarinda beberapa hari yang lalu. Jenazah dikabarkan akan tiba di bandara sekitar pukul 08.10 waktu setempat. Itu artinya hanya tinggal beberapa menit lagi, pesawat yang akan membawa jenazah tuan Anggara tiba. Sebelum kita lanjutkan, kita saksikan dulu kilasan balik tentang sepak terjang seorang Bagas Anggara di dalam dunia otomotif.


Sejurus kemudian tampak beberapa slideshow tentang Bagas di mulai ketika dia menjadi buruh pabrik hingga menjadi seorang pengusaha muda.


"Bagas...!" gumam seseorang yang sedari tadi membelalakkan matanya begitu pembawa berita itu menyebutkan namanya.


"Pagi sayang ! Apa yang sedang kau tonton ?" tanya nyonya Diana yang tiba-tiba masuk ke kamar anaknya.


"Ba... Bagas, mih !" jawabnya terbata seraya menunjuk ke arah televisi.


Seketika nyonya Diana pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh anaknya. Dia terkejut melihat tampilan slideshow di televisi tentang Bagas, dan dia semakin dibuat terkejut dengan caption yang terdapat di bagian bawah.

__ADS_1


Dunia bisnis kembali berduka atas meninggalnya CEO muda owner BA Group Bagas Anggara.


"Ya Tuhan, Jay...! Ini...ini... Bagas.." ujar nyonya Diana terbata-bata.


Tak lama kemudian dokter Nita masuk bersama tuan Ali. Mereka tampak heran melihat wajah nyonya Diana dan Ajay tampak pucat. Sejurus kemudian mereka pun mengikuti arah mata kedua orang itu yang berakhir pada sebuah televisi. Dan akhirnya, keduanya sama-sama terkejut mendengar berita yang sedang ditayangkan di televisi itu. Tuan Ali segera keluar.


Sepertinya pesawat telah mendarat. Tampak di layar televisi empat orang berpakaian putih sedang mengangkat peti jenazah. Di belakangnya terlihat tuan Gunawan, seorang lelaki dan tentunya seorang gadis yang mereka kenal.


"Ky... Kya...?" gumam Ajay lirih.


Nyonya Diana segera mematikan televisinya.


"Ish mamih, kenapa dimatikan ?" tanya Ajay kesal.


"Tidak apa-apa sayang, tidak penting !" ujar nyonya Diana gugup.


"Bagaimana tidak penting ? Itu berita yang sangat penting, itu berita tentang kematian Bagas. Dan Bagas, dia adalah sahabat Ajay. Tolong nyalakan kembali televisinya ! Ajay ingin tahu apa yang sudah menimpanya, mih !" pinta Ajay.


Dengan berat hati, nyonya Diana pun menyalakan kembali televisi yang sedang menyiarkan langsung kedatangan jenazah Bagas. Namun sayangnya, sang pembaca berita sama sekali tak menyinggung soal status Bagas, atau wanita yang berdiri bersama kak Gunawan.


Ajay akhirnya menoleh kepada dokter Nita.


"Nit ! Apa kau tahu sesuatu ? Ke... kenapa Kyara bisa bersama kak Gun ?"


Nita yang sedang mengatasi kerkejutannya atas kematian suami sahabatnya, kini harus kembali terkejut saat mendapati Ajay bertanya tentang Kyara. Nita mendekati Ajay.


"Baiklah, aku akan menceritakan tentang Kyara. Tapi sebelumnya, kau harus berjanji jika ini tidak akan membenani pikiranmu." ujar Nita seraya mengulurkan kelingkingnya.


Ajay menyambut uluran kelingking teman barunya. "Aku janji !" ujarnya.


Nita segera duduk di tepi ranjang. "Sebenarnya, Kyara sudah lama menikah. Dan suaminya, dia adalah tuan Bagas Anggara, pemilik perusahaan otomotif BA Group."


Ajay diam. Dia menatap Nita sendu, "Aku sudah menduganya, kasian Kyara !" ujarnya lemah.


Nita dan nyonya Diana hanya bisa saling memandang. Tak lama kemudian tuan Ali masuk kembali ke kamar Ajay. Dia mengajak istrinya pergi.


"Mau kemana pih ?" tanya Ajay.


Tuan Ali dan nyonya Diana saling pandang.


akhirnya tuan Ali pun mengangguk, menjawab pertanyaan putranya.


"Ajay boleh ikut ?" pintanya.


Tuan Ali menatap dokter Nita. Sejurus kemudian mendapati anggukan dari dokter Nita sebagai tanda persetujuan.


"Apa kau mau ikut juga, Nit ! Kita harus memberikan dukungan untuk sahabatmu itu !" ujar Ajay.


Dokter Nita tersenyum, dia kemudian mengangguk, menyetujui ajakan Ajay.


Pukul 08.45. Jenazah Bagas telah sampai di kediaman Gunawan. Isak tangis pecah dari orang-orang yang sangat dekat dengan almarhum, tak terkecuali dengan kak Indah, Wawan dan Agus.


Kak Indah memeluk Kyara, mencoba memberikan kekuatan kepada Kyara. Tapi Kyara hanya diam, tak bergeming. Begitu juga saat mang Jajang dan bi Irah memeluknya, kembali Kyara diam.


"Permisi mang, bi, Aneng mau ke kamar dulu !" pamit Kyara kepada kedua orang yang sudah dianggap sebagai orang tuanya.


"Mari, nona ! Saya antar !" ujar Doni yang segera memapah Kyara ke kamar suaminya.


Mang Jajang dan bi Irah pun membiarkan Aneng pergi. Sementara itu di sudut ruangan ada seorang lelaki yang tengah terkejut setengah mati melihat Kyara berada di rumah kakak bosnya.


Tak lama kemudian, Doni kembali turun untuk segera bergabung dan menemani para pelayat yang terus saja berdatangan. Saat Doni hendak melangkahkan kakinya ke dapur, seseorang segera menarik tangannya.


"Bos Gerald !" pekik Doni kaget.


"Ssst...! Katakan padaku ! Siapa gadis yang baru saja kau antar ke kamar ?"


"Oh, itu nona Kyara." jawab Doni santai sambil berjalan ke arah dispenser untuk mengambil air minum.


"Ish, aku tahu dia bernama Kyara. Tapi..."


"Jadi bos mengenalnya ?"


Doni malah menyelak pembicaraan Gerald.


"Ya, aku mengenalnya. Dia salah satu primadona kampusku, tapi sayang sekali, sikapnya begitu dingin. Semua teman kampus menjulukinya Ratu Es."

__ADS_1


"Uhuk...uhuk...!"


Doni tersedak air minumnya. Dia kemudian menyeka mulutnya.


"Waah..., ternyata dunia itu sempit sekali ya tuan ! Apa tuan tahu, dia adalah istrinya bos Bagas.


"Uhuk...!!"


Kali ini, giliran Gerald yang tersedak air minumnya.


Di ruang keluarga. Tampak tuan Ali beserta rombongan menghampiri peti jenazah Bagas. Perlahan, dia mengusap peti jenazah tersebut. Gunawan dan kak Indah yang melihat itu, segera menghampiri tuan Ali.


"Om...!" ujar kak Indah lirih.


Tuan Ali menoleh, kemudian merentangkan kedua tangannya.


Kak Indah segera menghambur ke dalam pelukan tuan Ali. Mereka kemudian menangisi kepergian Bagas.


"Maafin adik Indah, om ! Maafin Bagas jika selama ini Bagas hanya bisa menyusahkan om !" ujar kak Indah.


"Sst..., sudahlah nak ! Bagas anak yang baik. Selama ini dia tidak pernah menyulitkan om. Dia selalu membantu om, bahkan di sisa-sisa terakhir hidupnya pun, dia masih sangat membantu om." ujar tuan Ali seraya mengusap lembut rambut kak Indah.


"Nit, tolong bantu aku untuk mendekati jenazah Bagas !" pinta Ajay.


Dokter Nita mengangguk, dia segera mendorong kursi roda Ajay mendekati peti mati Bagas.


"Gas...! Maafin gue...! Kenapa lo pergi begitu cepat, Gas ! Kenapa lo tinggalin gue !" ujar Ajay lirih.


Dokter Nita menggenggam tangan Ajay untuk memberikan kekuatan kepada Ajay yang tengah bersedih karena kehilangan sahabatnya.


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Gunawan dan kak Indah sepakat untuk segera memakamkan jenazah. Tak baik jika orang yang sudah meninggal tidak segera dimakamkan. Berasal dari tanah dan kembali ke tanah.


Namun saat jenazah hendak di angkat, tiba-tiba..


"Tunggu !" ujar tuan Ali. "Dimana Kyara, nak ?" tanya tuan Ali kepada kak Indah.


"Dia di kamarnya. Sepertinya dia sangat kelelahan, om." jawab kak Indah.


"Apa tidak sebaiknya kamu panggil dia, nak ! Mungkin saja dia ingin melihat suaminya untuk yang terakhir kalinya." ujar tuan Ali.


"Baiklah, om !"


Saat kak Indah hendak melangkahkan kakinya. Tiba-tiba Kyara tengah menuruni tangga lengkap dengan pakaian dinasnya. Wajahnya terlihat tenang, sama sekali tidak tampak raut kesedihan, meskipun matanya tampak bengkak akibat menangis.


"Mau kemana, Kya ?" tanya kak Indah heran.


Kyara menghampiri kakak iparnya.


"Kak, Kyara kerja dulu ya ! Ini sudah terlambat ! Assalamualaikum...!" ujar Kyara seraya mencium tangan kakak iparnya.


Semua orang dibuat terkejut oleh sikap istri dari CEO ternama. Akhirnya, bisik-bisik tak mengenakkan pun mulai terdengar.


"Ya elah, dasar gadis jaman sekarang, kaga ada sedih-sedihnya ya ditinggal mati laki !" tetangga kak Indah mulai membuka acara ghibah.


"Jangan-jangan, dia emang ngarep banget suaminya cepat mati. Biar dapet harta warisan suaminya." ibu kedua menimpali.


"Ya iyalah, secara gitu..., suaminya kan kayak banget !" ibu pertama kembali bersuara.


Mang Jajang yang sudah tidak tahan mendengar suara sumbang dari para pelayat, akhirnya menghampiri Kyara.


"Mau kemana kamu, neng ?" tanya mang Jajang.


"Eh, mamang ! Aneng mau berangkat kerja dulu ! Kasian anak-anak, mereka pasti sudah nungguin Aneng." jawab Kyara.


"Jangan macam-macam kamu, neng ! Hari ini pemakaman suami kamu !" ujar mang Jajang sedikit geram melihat tingkah keponakannya.


"Dia bukan suami Aneng ! Harus berapa kali Aneng bilang, itu bukan dia ! Jenazah itu bukan kakang ! Dia bukan kang Bagas !"


PLAKK....!!


Bersambung.....


Mohon dukungannya ya....


Terus berikan like vote n komennya 🙏

__ADS_1


__ADS_2