
Assalamualaikum readers....
Mohon maaf, malam ini baru bisa up yaa... soalnya sudah dua hari author nggak enak body...π€π
Lanjut yaaaa....
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bagas menambah kecepatan laju mobilnya. Bertahanlah...! Aku tidak akan membiarkan kau pergi...! Tidak secepat ini...!! kata Bagas dalam hati.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Bagas menghentikan mobilnya di depan pintu lobi rumah sakit. Aaron dan Sisil segera keluar dari mobil. Masih dengan menggendong Kyara, Aaron berlari menuju lobi rumah sakit.
"Dokter....! Suster....! Tolong dia...! Selamatkan dia...! Aku mohon, tolonglah dia...!" Aaron berteriak-teriak tak karuan.
Seorang perawat menghampirinya sambil membawa brankar. "Tolong baringkan di sini, pak ! Biar kami membawanya ke IGD. Bapak, tenanglah..!"
Aaron meletakkan Kyara di atas brankar, kemudian dua perawat pria segera mendorong brankar tersebut untuk dibawa ke ruang IGD. Aaron dan Sisil mengikutinya dari belakang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bagas langsung menuju ruang pendaftaran. "Permisi mbak, saya mau mendaftarkan pasien yang baru saja dibawa masuk oleh teman saya." kata Bagas kepada salah satu karyawan rumah sakit di bagian pendaftaran dan administrasi.
"Atas nama siapa, pak...?" tanya karyawan tersebut.
"Kyara." jawab Bagas.
"Usianya...?" tanya karyawan itu lagi.
"21 tahun."
"Hubungan bapak dengan pasien...?"
Bagas termenung, bingung harus menjawab apa. "Saya....mm...saya...."
"Ah...bapak pasti suaminya kan, dengan bapak siapa ?"
"Bagas." jawabnya singkat.
"Baiklah, pak... pasien sudah dibawa ke IGD. Sebentar lagi akan segera ditangani. Bapak bisa menyimpan depositnya terlebih dahulu !"
"Berapa ?"
"Sepuluh juta rupiah, pak !"
Sebenarnya ini simpanan untuk modal membuka cabang bengkelku, tapi tak apalah...uang bisa dicari, yang penting nyawa gadis itu tertolong... batinnya. Bagas mengeluarkan kartu kreditnya, kemudian menyerahkannya kepada bagian administrasi. Setelah selesai, dia pun segera menyusul Aaron ke ruang IGD.
****
"Tolong tunggu di sini, pak !" perintah salah satu perawat saat melihat Aaron hendak masuk ke ruang IGD.
"Kenapa.... kenapa aku tidak bisa masuk ? Aku ingin menemaninya...!" tanya Aaron gusar.
"Dimohon kerjasamanya, pak...!" kata perawat itu lagi dengan sopan.
"Tapi, dia...."
"Tenanglah, pak....! Dokter akan segera menanganinya."
Kemudian, pintu ruangan IGD pun tertutup.
"Arrhhh...!" Aaron memukul dinding, kesal.
__ADS_1
"Tenanglah, tuan...!" Sisil mendekati Aaron, menepuk pundaknya untuk menenangkan Aaron.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang...! Denyut nadinya tadi....tadi.. bilang... dia... dia... arrhh..." Aaron menjambak rambutnya sendiri, merasa frustasi dengan keadaan Kyara.
"Tuan...., Kyara sudah ditangani oleh ahlinya. Tenanglah...! Kita tidak bisa melakukan apa-apa selain berdo'a. Bersabarlah, tuan...!"
Tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka, seorang perawat menghampiri Aaron dan Sisil. "Permisi, apakah di antara kalian ada yang memiliki golongan darah A negatif ?" tanya perawat itu.
"Memangnya kenapa, sus...?" tanya Sisil penasaran.
"Pasien kehilangan banyak darah. Kami memerlukan darah bergolongan A negatif atau O negatif. Kebetulan di rumah sakit ini sedang tidak ada stok."
"Bagaimana ini, tuan....? Golongan darahku B..." ujar Sisil
"Golongan darahku A positif, apa bisa, sus...?"
"Mohon maaf, tidak bisa pak... Saya sarankan, bapak segera menghubungi kedua orang tuanya..."
"Tuan....ba... bagaimana ini...?" Sisil mulai khawatir.
"Ada apa...?" tanya Bagas yang baru saja tiba di depan ruang IGD.
"Kyara kehilangan banyak darah. Dia butuh donor darah, sayangnya... golongan darah yang dia miliki, tidak tersedia di rumah sakit ini. Dan, di antara kami, tidak ada yang cocok dengan golongan darahnya." jawab Aaron panjang lebar.
"Apa golongan darahnya ?" tanya Bagas
"A negatif. Dia hanya bisa menerima darah dengan golongan yang sama, atau darah bergolongan O negatif."
"Suster bisa ambil darah saya, golongan darah saya O negatif."
"Baiklah, bapak bisa ikut saya !" ajak perawat itu.
Baru saja mereka hendak pergi, tiba-tiba...
"Memangnya ada apa ?"
"Detak jantung pasien mulai melemah. Kita harus segera melakukan tindakan."
"Brakk..!!" pintu IGD terbuka lebar. Dengan tergesa-gesa, dua orang perawat mendorong brankar yang di atasnya terdapat Kyara yang tampak tertidur pulas. Seorang dokter mengikutinya dari belakang, berjalan tampak tergesa pula.
"Suster Irma, hubungi dokter Alex, cepat..!!" perintah sang dokter.
"Tapi, dok.... pendonornya...?"
"Bawa saja ke ruang operasi ! Kita tidak punya banyak waktu lagi...!" perintah dokter
"Apa yang terjadi, dok...?" tanya Aaron cemas.
"Bapak tolong tenang dulu, kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien." jawab dokter.
Detik selanjutnya, bayangan mereka pun menghilang memasuki sebuah lift darurat.
Dengan tergesa-gesa, Aaron dan Sisil mengikuti rombongan itu melalui lift pengunjung. Sementara Bagas masih tetap mengikuti perawat yang membawanya untuk melakukan tes kecocokan.
Tiba di ruang operasi. Tim dokter sudah sangat siap menyambut kedatangan pasien. Ya...! Rumah sakit ini merupakan rumah sakit yang cukup terkenal dengan kesigapan para dokter dan perawatnya, juga pelayan kesehatannya yang tidak pernah mengecewakan.
Kyara segera dipindahkan ke meja operasi. Sementara itu, Bagas telah siap berganti pakaian untuk mengikuti operasi tersebut. Pasalnya, dengan kondisi Kyara saat ini, saat tidak memungkinkan untuk menunggu darah terkumpul dalam kantong darah. Beruntungnya, setelah menjalani tes kecocokan, ternyata Bagas sangat cocok untuk menjadi pendonor bagi Kyara.
Suasana di ruang operasi tampak tegang. Bagas melihat ketegangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara takut, cemas dan rasa kasihan bercampur menjadi satu di hatinya. Takut, jika operasinya tidak berjalan dengan baik. Cemas akan keselamatan gadis itu. Dan merasa kasihan atas kesakitan yang sekarang dirasakan oleh gadis itu. Bagas memejamkan matanya, Ya Tuhan... selamatkanlah dia.... batinnya.
__ADS_1
"Bagaimana ini dok, apa kita harus mengeluarkannya ?" tanya seorang dokter tampan yang tadi menangani Kyara di ruang IGD.
"Tidak ada pilihan lain, kita harus segera mengeluarkannya ! Kita selamatkan ibunya saja !" jawab dokter yang ditanya.
Selamatkan ibunya...? Apa artinya...? Bagas membuka matanya, melihat ke arah samping. Tampak Kyara seperti sedang tertidur pulas, dengan berbagai macam selang yang terpasang di hidung dan rongga mulutnya. Dia pun mengedarkan pandangannya. Ya...! Para dokter dan perawat itu nampak sibuk. Salah seorang perawat memantau sebuah alat, yang Bagas sendiri tidak mengerti alat untuk apa. Seorang perawat lagi tampak memegang benda-benda untuk diserahkan kepada dokter. Sungguh, benda-benda yang sangat asing bagi Bagas. Ada seorang dokter yang berdiri di samping dokter yang sedang berjongkok di bawah kedua kaki Kyara, ah... entah apa yang mereka lakukan. Bagas benar-benar tidak mengerti.
Detik selanjutnya, Bagas merasakan kepalanya seolah berputar.
"Apa bapak merasa pusing...?" samar-samar dia mendengar pertanyaan perawat yang bersamanya tadi. Bagas hanya bisa mengangguk lemah. "Pejamkan saja matanya pak..! Ini adalah hal yang wajar ketika darah bapak sedang diambil." lanjutnya.
Bagas mengikuti saran perawat, dia pun tak menghiraukan lagi keadaan sekitar.
Hampir dua jam lampu merah menyala di depan pintu ruang operasi. Aaron tampak mondar-mandir dengan perasaan kacau. Sedangkan Sisil, dia hanya duduk di kursi tunggu. Mulutnya komat-kamit tak henti-hentinya berdo'a untuk keselamatan Kyara.
Tiba-tiba lampu merah itu padam. Tak lama, tim dokter keluar dari ruang operasi.
"Ba... bagaimana keadaannya, dok ?" tanya Aaron, merasa tak sabar untuk mendengar perkembangan Kyara.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar pak. Tapi, untuk saat ini, pasien akan dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi pasca operasi." jawab dokter Alex, ketua tim dokter.
Tak lama kemudian, Bagas keluar dengan menggunakan kursi roda yang tengah didorong oleh perawat yang bernama suster Irma tadi.
"Lalu, teman saya...?" tanya Aaron yang cemas melihat wajah pucat Bagas
"Tidak apa-apa, pak. Dia hanya sedikit lemas saja setelah mendonorkan darahnya." jawab suster Irma.
"It's oke Ar....!" Bagas tersenyum.
"Apa bapak mau saya bawa ke ruang rawat, untuk sekedar berbaring memulihkan kondisi bapak..?" tanya suster Irma lagi.
"Tidak usah sus, di sini saja." jawab Bagas. "Oh iya dok, tadi di ruang operasi, samar-samar saya dengar dokter bilang, 'kita selamatkan ibunya saja !' itu... maksudnya apa ya...?" tanya Bagas, teringat akan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia lontarkan di ruang operasi.
"Aah itu.... begini pak, pasien mengalami pendarahan yang sangat hebat, sehingga dia banyak kehilangan darah, dan membuat janin yang ada dalam kandungannya tidak bisa bertahan. Karena itu, kami terpaksa mengeluarkan janinnya untuk bisa menyelamatkan nyawa ibunya." jawab dokter Alex.
"Janin...!" gumam Sisil, terkejut.
"A... apa...itu...artinya, Kyara kehilangan calon bayinya ?" tanya Aaron, merasa terkejut juga.
"Iya...., mohon maaf, pak, hanya ini jalan yang terbaik secara medis. Sepertinya pasien mengalami sebuah kejadian. Hanya saja untuk saat ini, kami tidak bisa menyimpulkan kejadiannya seperti apa. Namun, ada sedikit memar di sekitar perut pasien. Apa mungkin pasien terjatuh dan terbentur keras di bagian perutnya..?"
Aaron dan Bagas menatap Sisil bersamaan....
Sisil yang mendapatkan tatapan tajam dari kedua pria dingin itu, merasa gelagapan, "A...aku ti..tidak tahu..." jawabnya gugup.
"Baiklah, tidak apa-apa. Kita akan mengetahuinya besok. Mudah-mudahan besok hasil labnya sudah keluar."
"Boleh kami menjenguknya, dok ?" tanya Aaron.
"Sebaiknya dilihat dari luar saja, pak. Nanti setelah pasien sadar dan dipindahkan ke ruang rawat, silakan bapak bisa menjenguknya."
"Baiklah, dok." jawab Bagas.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, saya permisi...!" pamit dokter Alex.
"Oh iya, silakan dok...! Terima kasih...!" kembali hanya Bagas yang menjawab, karena Aaron dan Sisil terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Kyara hamil...? Dan kini dia kehilangan janinnya, kenapa aku bisa nggak tahu kalau dia sedang hamil.. batin Sisil
Ya Tuhan.... dia sangat mencintai bayinya, dan kini dia kehilangan bayinya... Apa yang akan terjadi nanti jika dia sudah sadar... batin Aaron.
__ADS_1
Bersambung....
Deti