Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Extra Part 5 Beautiful in White


__ADS_3

Tok-tok-tok!



"Sebentar!" teriak Kyara dari dalam rumahnya.


Dengan menggendong Elang yang tengah tertidur di pangkuannya, Kyara pun berjalan untuk membukakan pintu.


Ceklek!


Kyara menekan handle pintu dengan tangan kirinya. Pintu terbuka, tampak Guntur tengah berdiri di ambang pintu.


"Pa-Pagi, Non! Maaf, sa-saya disuruh bos Bagas buat datang kemari," ujar Guntur merasa canggung saat berhadapan dengan istri bosnya.


"Ah, masuklah Gun!" ujar Kyara mempersilakan tamunya masuk.


Guntur memasuki rumah yang dulu pernah dibelinya. Guntur kemudian mendaratkan bokongnya di sofa itu setelah dipersilakan duduk oleh Kyara.


"Sebentar ya, Gun! Saya panggil dulu kang Bagasnya!" ujar Kyara.


"Eh, tunggu Non!"


"Ish kamu ini, panggil Kya saja!"


"Eh, iya, Kya. Ini untuk putra kalian!" ujar Guntur seraya menyerahkan kado untuk Elang.


"Ah, Gun. Kenapa harus membawa bingkisan segala? Jadi merepotkan saja," ujar Kyara.


"Tidak merepotkan kok, Kya! Lagi pula, itu bukan hadiah yang bagus dan mahal, kok! Tapi, semoga suka ya, Elang," ucap Guntur.


"Makasih, Om! Elang pasti suka!" ujar Bagas menirukan suara anak kecil.


Kyara menengok ke belakang, dia melihat Bagas telah berdiri di batas ruangan keluarga dan ruang tamunya.


"Ish, Kakang! Ngagetin aja!" ujar Kyara. "Ya sudah, Kya ke kamar dulu mau menidurkan Elang. Ditinggal dulu ya, Gun!" pamit Kyara kepada tamunya.


"I-Iya, silakan Kya," jawab Guntur.


Bagas sedikit mengernyitkan dahinya mendengar panggilan Guntur untuk istrinya. Tapi Bagas segera menghempaskan rasa cemburunya.


"Apa kabar, Ger?" tanya Bagas seraya mendekati asistennya dan duduk berhadapan dengan asistennya.


"Baik, Bos!" jawab Gerald menundukkan kepalanya.


Bagas merasa heran dengan sikap Gerald. Tapi dia sendiri enggan untuk bertanya.


"Oh iya, apa kau membawa pesananku?" tanya Bagas.


"Iya, Bos! Ini, sudah paket komplit sama kartunya. Saya juga sudah memasukkan nomor-nomor klien kita, baik yang di Indonesia juga yang di Jerman," jawab Gerald.


"Doni apa kabar?" tanya Bagas.


Sungguh satu pertanyaan yang membuat kepala Gerald serasa dipenuhi oleh burung-burung yang sedang terbang mengitarinya.


"Ba-Baik Bos," ujar Gerald.


"Perusahaan yang di handle-nya?" tanya Bagas lagi.


Gerald merasa bersalah kepada bos-nya. Tidak bisa dipungkiri jika omset perusahaan di Jerman sedikit menurun karena ada beberapa klien yang memutuskan hubungan kerja karena ketidakpuasannya terhadap kinerja Doni.


"Maaf, Bos! Sebenarnya ini kelalaian saya yang secara sepihak mengambil keputusan. Saya berjanji saya akan memperbaikinya," ujar Gerald.


"Maksudnya?" tanya Bagas tak mengerti.


"Mm..., sebenarnya omset perusahaan kita yang berada di Jerman sedang mengalami penurunan. Ada beberapa klien yang memutuskan kerja samanya karena-- "


"Sudahlah! Rezeki sudah ada yang mengaturnya, Ger!" ujar Bagas memotong kalimat Gerald. Bagaimanapun juga, Bagas tidak ingin kedua asistennya saling menjatuhkan di depan matanya.


"Eh, iya Bos!" ujar Gerald.


"Ger, tujuanku memanggilmu kemari, aku ingin kamu mengatur aqiqah anakku dan juga resepsi pernikahanku dengan istriku," ujar Bagas.


"Resepsi?" tanya Gerald.


"Iya Ger. Aku ingin mengenalkan istriku ke publik, agar ke depannya tidak akan terjadi kesalahpahaman di antara aku dan istriku," jawab Bagas.


"Saya mengerti, Bos! Baiklah, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat semua acara Bos berjalan dengan lancar," ucap Gerald.


Bagas menghampiri asistennya, dia kemudian menepuk bahu Gerald.


"Makasih ya, Ger! Aku tahu kamu pasti bisa diandalkan! Terima kasih juga karena telah menjaga istri dan anakku selama aku tidak ada," tambah Bagas.


"Iya, Bos!" jawab Gerald semakin canggung.


***


Setelah 40 hari, akhirnya 2 acara besar dalam kehidupan Bagas dan Kyara pun di selenggarakan. Pagi hari, diadakan acara aqiqah putra pertamanya. Tak banyak yang di undang dalam acara aqiqah itu. Bagas sadar jika anaknya masih terlalu kecil untuk sebuah keramaian. Karena itu Bagas hanya mengundang keluarga dan anak-anak panti yang selalu dikunjungi kakaknya.


Acara aqiqah Kian Prabu Erlangga diadakan di rumah Bagas yang berada di kota J. Setelah 40 hari, Bagas memboyong anak dan istrinya untuk kembali ke kota J. Raut kebahagiaan terpancar di wajah kak Indah beserta suami dan anak-anaknya.


Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an beserta shalawat, menggema merdu di ruang keluarga yang telah disulap Gerald untuk acara aqiqah putra bos-nya. Tausiyah sang ustadz terdengar renyah dan mudah dicerna oleh para tamu undangan.


Bagas dan Kyara tersenyum bahagia melihat kegembiraan terpancar di raut wajah anak-anak. Mereka merasa senang dengan hidangan dan hadiah yang disiapkan oleh Bagas dan Kyara.


Senyum bahagia pun tersirat jelas di wajah orang tua Kyara, Mang Jajang dan Bi Irah.


"Maafkan Mamang, Neng! Dulu Mamang tidak pernah mempercayai firasatmu yang mengatakan cep Bagas masih hidup. Ternyata, cinta kalian memang sangat kuat. Seperti cintanya Nabi Adam dan Siti Hawa yang Allah pertemukan kembali di Jabal Rahmah," ujar Mang Jajang.


"Tidak apa-apa, Mang! Aneng bisa memahami perasaan Mamang saat itu. Ya, wajar saja jika tidak ada yang percaya sama ucapan Aneng. Karena semua bukti memang menyatakan jika kakang memang telah meninggal," ujar Kyara.


"Tapi alhamdulilah, Neng! Allah masih menyayangi kalian, memberikan kalian kesempatan untuk menjaga dan mendidik anak kalian. Bibi hanya bisa berdo'a, semoga ke depannya, hidup kalian teh selalu dilindungi Allah, dijauhkan dari bala'i dunia jeung akhirat," timpal Bi Irah.


"Aamiin!" jawab Kyara dan Mang Jajang.


"Cik atuh, Bibi mau gendong nu kasepna. Ayo, Raden! Sini, digendong dulu sama Enin, ya!" ujar Bi Irah mengambil alih Elang dari pangkuan Kyara.


Tepat ba'da dzuhur. Acara aqiqah Elang pun selesai. Semua orang kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


Sementara di tempat lain, di salah satu hotel milik almarhum eyang Mahesa. Tamu-tamu sang CEO mulai berdatangan. Sebagian besar datang dari luar negeri, mengingat Bagas lebih terkenal di luar negeri daripada di negaranya sendiri. Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, Bagas hanya mengundang beberapa perusahaan yang telah terlibat bekerja sama dengannya. Baik itu perusahaan swasta ataupun pemerintah.


Bagas juga tak lupa mengundang perusahaan Alvaro yang pernah memberikan kesempatan kepada Bagas untuk meraih awal kesuksesannya.


Ba'da isya, acara resepsi sang CEO pun di mulai. Tampak Bagas mengenakan setelan jas berwarna putih tengah menggandeng tangan istrinya untuk naik ke atas pelaminan.


Kyara yang saat itu mengenakan gaun pengantin simpel namun terkesan elegan dan berwarna senada dengan suaminya, terlihat sangat ayu dipadupadankan dengan potongan rambut berkepang seperti tokoh Elsa dalam film Frozen.


Semua orang tampak berdecak kagum melihat pasangan itu. Acara demi acara, diatur dengan sangat sempurna oleh sebuah WO yang telah disewa Gerald. Tiba saatnya pada tradisi acara pelemparan bunga oleh sang pengantin.


Bagas dan Kyara naik ke atas panggung yang telah disediakan panitia. Lantunan musik berirama beat mulai menggema di ballroom hotel.


"Siap, semuanya!" teriak MC. "Kita hitung mundur dari hitungan ke-5, ya! 5....,4....,3....,2....,1... lempar!"


Kedua tangan Bagas dan Kyara melemparkan bunga tersebut mengikuti arahan MC.


Hup!


Seorang pria tinggi berkulit putih yang memiliki bola mata berwarna biru, melompat dan menangkap bunga itu. Sontak semua mata memandangnya.


"Tuan Alvaro!" gumam Bagas.


Alvaro tersenyum menatap pasangan pengantin yang tak lain adalah mantan karyawannya. Dia kemudian mengacungkan bunga yang tadi berhasil di tangkapnya.


MC yang memandu acara pelemparan bunga itu pun meminta sang pemenang untuk menaiki panggung.


Dengan langkah tegap, Alvaro mendekat dan mulai menaiki panggung. Dia berdiri di antara pengantin. Sebelum Alvaro menjawab pertanyaan sang MC, Alvaro tak lupa bersalaman dengan pengantin itu seraya mengucapkan selamat. Alvaro dan Bagas saling berpelukan, sedangkan Kyara hanya mengulurkan tangannya saja untuk berjabat tangan.


"Baiklah, siapa nama Anda, Tuan?" tanya sang MC.


"Alvaro Adinata," jawab Alvaro tegas.


"Hmmm, ekeu tak menyangka ya, jika seorang pria tampan, sukses, kaya raya, ternyata masih memiliki status jomblo. Ish! Malang sekali nasibnya. Benar, kan, teman-teman?" ujar sang MC meledek Alvaro.


"Huuuu...." Sorak sorai para tamu undangan menggema di ballroom hotel.


"Tenang! Tenang semuanya!" ujar Alvaro. "Mohon maaf mengecewakan Anda sekalian, saat ini saya akan mengumumkan status saya yang sebenarnya."


Alvaro mulai turun dari podium. Setelah itu dia menghampiri panggung hiburan, kemudian membisikkan sesuatu kepada pemain band di sana.


Jreng!


Musik mulai menggema.


"Tes..."


"Tes..."


Alvaro mengetes mikrofon-nya untuk memastikan suaranya. Lalu....


🎵🎵🎵


Kamu yang aku butuhkan


Untuk jadi teman hidupku


Bidadari tak bersayap datang padaku


Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu


Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu

__ADS_1


Sungguh tenang kurasa saat bersamamu


Sederhana namun indah kau mencintaiku


Sederhana namun indah kau mencintaiku


Sampai habis umurku


Sampai habis usia


Maukah dirimu jadi teman hidupku?


Kaulah satu di hati


Kau yang teristimewa


Maukah dirimu hidup denganku?


Diam-diam aku memandangi wajahnya


Tuhan, kusayang sekali wanita ini


Tuhan, kusayang sekali wanita ini


Sampai habis nyawaku


Sampai habis usia


Maukah dirimu jadi teman hidupku?


Kaulah satu di hati


Kau yang teristimewa


Maukah dirimu hidup denganku?


Katakan "Yes I do"


Jadi teman hidupku


Du du-du-du-du


Du du-du-du-du du-du-du


Ho—o ...


Sampai habis umurku


Sampai habis usia


Maukah dirimu jadi teman hidupku?


Kaulah satu di hati


Kau yang teristimewa


Maukah dirimu hidup denganku?


Katakan "Yes I do"


Jadi teman hidupku


Katakan "Yes I do"


Hiduplah denganku


Jadi teman hidupku


🎵🎵🎵


Di 2 bait terakhir, Alvaro turun dari panggung sambil bernyanyi. Dia kemudian tiba di depan wanita yang sedang menikmati puding di piring kecilnya. Hingga di akhir lagu, Alvaro berjongkok dan mengulurkan bunga yang didapatnya tadi ke arah gadis itu.


Bagas dan Kyara begitu terkejut melihat gadis itu yang ternyata Cecilia. Begitu juga dengan Ajay dan Andin yang sama-sama terperanjat saat pandangannya mengikuti langkah Alvaro.


Cecilia yang dilamar di depan tamu undangan sama terkejutnya dengan kedua pasangan itu. Akhirnya, dengan rona malu yang terpampang jelas di wajahnya, Cecilia pun menerima bunga yang diulurkan Alvaro. Semua orang bertepuk tangan melihat Alvaro memeluk Cecilia.


"Ah, co cweet...!" ujar sang MC kemayu itu. "Ada lagi yang mau menyumbangkan suaranya, nggak?" teriak cempreng MC itu seolah ingin memecahkan gendang telinga para tamu undangan.


Seorang laki-laki tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangannya.


"Ah ya! Silakan langsung menuju panggung ya, Tuan!" perintah sang MC.


Ajay melangkah dengan penuh percaya diri menuju panggung.


"Ehm...ehm...! Pertama-tama, saya ucapkan selamat untuk sahabat saya dan mantan tunangan saya...."


"...yaitu Tuan Bagas Anggara dan Nyonya Anggara atas pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Lagu ini saya persembahkan untuk mantan saya.


Orang-orang yang pernah mengetahui pernikahan Ajay dan istrinya terdahulu, seketika langsung menatap Cecilia. Mendapati tatapan seperti itu, Cecilia semakin menguatkan pegangan tangannya kepada Alvaro. Dia tidak ingin Alvaro berpikir buruk tentangnya.


"... yang sekarang telah menjadi istri saya, dan saya juga memintanya untuk naik ke atas panggung dan menemani saya dalam menyanyikan lagu ini. Karena ini lagu tentang kita."


Seorang wanita yang sedari tadi tengah berjalan mendekati panggung, kini mulai menaiki tangga panggung tersebut. Tiba di atas panggung, Ajay segera merangkul dan menciumnya sekilas. Sontak semua orang tampak terkejut dengan perbuatan pasangan itu. Lalu mengalunlah lagu merdu yang dinyanyikan si wanita.


🎵🎵🎵


Di setiap doaku di setiap air mataku selalu ada kamu


Di setiap kataku ku sampaikan cinta ini cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu


mencintaiku


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku


Satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


Di setiap kataku ku sampaikan cinta ini


Ooh cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu


Mencintaiku


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku


Satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


🎵🎵🎵


Tanpa malu, Ajay mencium bibir istrinya setelah mengakhiri lagunya. Tingkahnya itu sontak membuat Andin memukul keras bahu suaminya hingga Ajay meringis dan melepaskan ciumannya.


"Dasar pasangan mesum!" teriak Aaron dan Sisil berbarengan yang disambut dengan kekehan sahabatnya.


"Mesum sama istri sendiri, kan, wajib. Bener nggak, Gas?" tanya Ajay seraya mengalihkan pandangannya kepada pasangan pengantin itu.


Bagas tersenyum seraya mengacungkan kedua jempolnya. Seketika Kyara memukul bahu suaminya.


"Ish, Kakang! Turunkan jempolnya, malu dilihat orang," bisik Kyara.


"Sayang..., sakit...!" ujar Bagas pelan seraya mengusap bahunya.


"Kawan-kawan! Bagaimana kalau kita minta pengantin kita naik ke atas panggung untuk bernyanyi, setuju atau setuju?" teriak Ajay.


"Setuju....!"


Jawaban serempak terdengar sangat menggema di ruangan itu.


Kyara terlihat mengibas-ngibaskan kedua tangannya pertanda menolak permintaan itu. Sedangkan Bagas, si cowok dingin sedari duduk di bangku kuliah, entah memiliki keberanian dari mana, dia mulai melangkahkan kakinya seraya menarik tangan Kyara. Dengan terpaksa, Kyara pun mengikuti langkah suaminya.


"Kyara Adistya!" ujar Bagas membuka kalimatnya. "Terima kasih untuk semua cinta dan keyakinanmu tentang keberadaanku. Terima kasih, telah menerima cintaku. Terima kasih, telah bertahan dengan semua keegoisanku. Terima kasih, telah mengandung dan menjaga anakku di saat aku tak mampu menjaganya karena rasa pengecutku. Aku tak bisa menjanjikan yang terindah untuk kehidupan kita. Namun satu yang pasti, aku hanya bisa menjanjikan yang terbaik untuk masa depan kita. Aku mencintaimu," ucap Bagas seraya mengecup mesra punggung tangan istrinya.


"Jawab...!"

__ADS_1


"Jawab...!"


"Jawab...!"


Para tamu undangan kembali riuh meminta pengantin wanita untuk menjawab ungkapan cinta sang CEO.


Kyara pun mengambil mikrofon yang berada di tangan suaminya.


"Kakang Bagas Anggara! Terima kasih untuk semua rasa yang Kakang miliki untuk Kya. Terima kasih karena telah mencari Kya. Terima kasih, karena mampu bertahan selama 6 tahun dalam memperjuangkan cinta Kakang terhadap Kya. Terima kasih karena telah mengangkat kehormatan Kya sebagai seorang wanita. Terima kasih atas kesempatannya untuk menjadikan Kya sebagai istri dan ibu dari keturunan Kakang. Terima kasih karena telah sabar mengajarkan arti cinta dan ketulusan. Kya juga mencintai Kakang, dan akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kakang dan anak-anak kita kelak."


"Suit...suit....!"


"Wuuuuuuu"


"Nyanyi....!"


"Nyanyi....!"


Teriak para tamu undangan.


Kyara menyerahkan mikrofonnya kembali kepada Bagas. Sebuah lagu persembahan sang CEO pun mulai mengalun merdu.


🎵🎵🎵


Not sure if you know this


But when we first met


I got so nervous I couldn't speak


In that very moment


I found the one and


My life had found its missing piece


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


What we have is timeless


My love is endless


And with this ring I


Say to the world


You're my every reason


You're all that I believe in


With all my heart I mean every word


So as long as I live I love you


Will haven and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


You look so beautiful in white, yeah yeah


Na na na na


So beautiful in white


Tonight


And if a daughter is what our future holds


I hope she has your eyes


Finds love like you and I did


Yeah, and if she falls in love, we'll let her go


I'll walk her down the aisle


She'll look so beautiful in white, yeah yeah


So beautiful in white


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now 'til my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


Na na na na


So beautiful in white


Tonight


🎵🎵🎵


Semua orang tampak terhanyut dalam lirik lagu yang dinyanyikan oleh Bagas. Begitu juga dengan Kyara yang meneteskan air matanya melihat Bagas bernyanyi penuh penghayatan untuknya.


Di sudut ruangan tampak Jaka sedang memeluk Tania dari arah belakang. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sendu tengah memandangnya.


Tak sanggup melihat kemesraan yang ditampakkan lelaki yang pernah mengisi hatinya, Anti pun segera berlari kecil mencari toilet. Tiba-tiba,


Brugh...!


Hup...!


Tanpa sengaja, Anti menabrak seseorang yang tengah menghindar dari kemesraan yang diperlihatkan sang pengantin.


Lelaki itu seketika menangkap tubuh Anti agar tidak terjatuh.


Syerrr....


Gelanyar aneh menghampiri hati mereka saat tatapan matanya saling bertemu. Mungkinkah dia jodohku? gumam keduanya.


T A M A T


Alhamdulillah...., kali ini beneran tamat ya gaiss...🤭🙏


Insyaallah, othor hendak membuat season kedua. Tapi othor masih bingung nih gaisss, kira-kira apa yang cocok untuk dijadikan judul di season 2. Apakah Kian Prabu Erlangga, atau Elang, Sang Pewaris ? Bantu othor ya gaiss....



...Kian Prabu Erlangga (Elang, Sang Pewaris)...


"Tutup semua akun media yang telah mengunggah foto anakku sejak kecil!" ujar Bagas.


"Baik, Bos!"


Doni segera menjalankan perintah tuannya.


***


"Aku tidak setuju, Kakang! Aku tidak akan bisa hidup tanpanya!"


"Sayang, aku mohon. Ini demi keselamatan anak kita."


"Tapi aku tidak akan sanggup kakang! Sampai kapan? Harus berapa lama?"


"Sampai kita menemukan pelakunya."


***


Apa yang akan terjadi kepada anak Bagas selanjutnya ?

__ADS_1


__ADS_2