Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Berubah Pikiran


__ADS_3

Assalamualaikum readers...


Jumpa lagi ya...


Mohon maaf jika selalu telat up...


Dikejar tugas negara dulu...πŸ™πŸ™


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Anggap saja seperti itu Diana ! Ayah hanya berusaha memberikan keadilan untuk gadis tak berdosa itu !" ujar tuan Mahesa seraya berlalu pergi dari ruang makan.


"Pih ! Lakukan sesuatu dong..! Ini tidak adil..!" nyonya Diana mendekati suaminya. "Papih mau kan, bujuk ayah untuk mencabut semua keputusannya ?" tanya nyonya Diana.


"Sudahlah mih...! Ajay sudah dewasa. Dia tahu mana yang terbaik untuk hidupnya. Papih sudah berjanji untuk tidak ikut campur dengan keputusan ayah. Ayah tahu apa yang terbaik untuk kehidupan keduanya. Cukup adil kan..? Ajay mendapatkan kebebasannya, dan gadis itu mendapat aset-aset ayah untuk melanjutkan hidupnya. Kelak, lelaki mana yang tidak akan mau mendampinginya setelah mengetahui kalau dia pemilik dari Mahesa Sanjaya Group..." jawab tuan Ali. "Papih lelah, papih mau istirahat ! Bu, Ali ke kamar dulu, ya...!" pamit tuan Ali kepada ibunya.


"Nyonya Aini tersenyum, "Silakan nak, istirahatlah..!" ujarnya.


Setelah selesai dengan makan malamnya, Bima dan nyonya Aini pergi ke ruang keluarga, menemani tuan Mahesa yang sedang bersantai menonton TV.


Tinggallah Ajay dan nyonya Diana yang berada di meja makan dengan pikirannya masing-masing. Hening..., hanya itu yang tercipta di ruang makan.


"Bagaimana ini, mih ?" tanya Ajay.


Nyonya Diana mulai gusar. Jika dia menolak keputusan mertuanya, maka hidup anaknya akan sengsara. Nyonya Diana tahu, Ajay tidak akan mampu bertahan tanpa materi. Sama seperti dirinya.


"Kita pikirkan nanti, nak ! Mamih pusing ! Mamih mau ke kamar dulu !" ujar nyonya Diana, pergi meninggalkan Ajay sendirian.


Shitt...! Kenapa semuanya jadi seperti ini ? Ajay beranjak dari tempat duduknya, kemudian pergi ke kamarnya.


Ceklek...


Brakkk...


Ajay membuka pintu kamarnya, kemudian menutupnya secara kasar.


"Semua ini gara-gara Kyara ! Berani-beraninya dia melawanku ! Lihat saja nanti, akan kubuat hidupmu hancur !" teriak Ajay.


Buggh...


Ajay memukul dinding kamarnya. Kemudian melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Bayangan Kyara yang sedang tersenyum, seolah sedang mengejek kekalahannya.


Di kamarnya. Nyonya Diana masih diam seribu bahasa. Pikirannya masih berusaha mencerna ucapan mertuanya. Jika ini terjadi, maka hidup Ajay akan semakin menderita. Ya Tuhan..., apa yang harus aku lakukan untuk menolong anakku...?!


Sementara di ruang kerjanya, tuan Ali tampak memejamkam matanya. Masih tampak jelas dalam ingatannya tentang percakapannya dengan ayahnya melalui telpon, tadi siang.


"Ali, bagaimana dengan perkembangan perusahaanmu ? ( tuan Mahesa )


"Cukup baik, yah.." ( tuan Ali )


"Baiklah. Apa perusahaanmu mampu bertahan tanpa sokongan dana dari ayah ?" ( tuan Mahesa )


"Investor perusahaan Ali cukup banyak. Untuk ekspor dan impor produk pun sangat stabil. Ali pikir, perusahaan ini akan baik-baik saja, jika memang ayah hendak mengambil saham ayah." ( tuan Ali )


"Ayah harap kamu bisa mengerti, nak ! Ini satu-satunya cara untuk merubah jalan pikiran istri dan anakmu." ( tuan Mahesa )


"Maksud ayah ?" ( tuan Ali )


"Jika anakmu bersikeras tidak ingin bertanggungjawab, maka ayah terpaksa akan menarik semua saham ayah dari perusahaanmu. Ayah berencana untuk menghibahkan sebagian aset ayah untuk gadis itu. Ayah akan mencabut hak waris terhadap Ajay dan menyerahkannya kepada Kyara. Apa kau setuju ?" ( tuan Mahesa )


Hening....

__ADS_1


"Hallo...! Ali...! Kenapa diam, nak ? Apa ini berarti kamu tidak setuju dengan keputusan ayah, nak ?" ( tuan Mahesa )


"Bukan begitu ayah. Saham itu milik ayah, dan ayah berhak untuk mengambilnya. Tapi untuk aset..., Ali tidak mengerti yah, kenapa harus dihibahkan kepada Kyara ? Dan soal pencabutan hak waris, Ali tidak yakin kalau Ajay dan Diana bisa menerimanya.." ( tuan Ali )


"Justru itu nak, ayah tahu sifat Diana dan Ajay yang tidak akan pernah bisa lepas dari kemewahan. Ayah akan menggunakan ini sebagai ancaman jika mereka masih bersikeras pada keputusannya. Ayah yakin, ancaman ini akan merubah keputusan mereka. Tapi, kalaupun ini tidak berhasil, ya... anggap saja semua ini sebagai kompensasi untuk gadis itu. Dengan harta yang ayah hibahkan, ayah berharap hidupnya tidak akan menderita. Setidaknya, mereka akan lebih dihargai karena kedudukan yang ayah berikan. Kamu mengerti kan maksud ayah ?" ( tuan Mahesa )


"Ya...! Ali paham yah..." ( tuan Ali )


Tok...tok...tok ..


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan tuan Ali.


"Masuk...!" perintah tuan Ali.


Ceklek...


Pintu terbuka, nyonya Aini masuk dengan nampan berisi secangkir teh jahe di tangannya.


"Ini, ibu bawakan teh jahe untuk kamu nak..!" ujar nyonya Aini seraya meletakkan secangkir teh jahe di meja kerja tuan Ali.


"Ah ibu, seharusnya tidak usah repot-repot seperti ini !" jawab tuan Ali.


"Tidak apa-apa nak, ini bisa sedikit menenangkan pikiranmu." jawab nyonya Aini.


"Iya bu, terima kasih." tuan Ali mengambil cangkir tersebut, kemudian menyeruputnya, "Hmm..., enak bu. Rasanya masih tetap sama seperti waktu Ali masih kuliah dulu. Ah..., ibu selalu menjadi yang terbaik..!" ujarnya.


Nyonya Aini tersenyum, "Kamu itu...! Paling bisa bikin ibu senang, he...he..he.." nyonya Aini terkekeh mendengar pujian tuan Ali.


"Oh iya nak, ibu datang kemari, hendak minta maaf atas keputusan ayahmu yang mencabut hak warisnya Ajay. Ibu merasa bersalah, ka... karena usulan untuk memberikan aset itu adalah usulan ibu. Tapi ibu benar-benar tidak menyangka jika ayahmu akan bertindak jauh dengan mencabut hak waris anakmu. Ibu sungguh menyesal, telah memberikan usulan konyol seperti itu. Ibu hanya merasa, gadis itu sudah kehilangan harga dirinya. Dengan keadaan dia sekarang, akan sulit bagi dia untuk merasa berharga di hadapan lelaki. Ibu tahu betul rasanya menjadi seseorang yang tidak berarti. Karena itu, ibu meminta ayahmu untuk menghibahkan sebagian hartanya. Harapannya, jika dia memiliki kedudukan yang terhormat, maka orang-orang akan menghormatinya tanpa mempedulikan masa lalunya. Maafkan ibu nak...?"


Tuan Ali beranjak dari tempat duduknya. Kemudian duduk bersimpuh di hadapan ibunya. Tangannya menggenggam kedua tangan nyonya Aini.


"Tidak bu...! Ini bukan salah ibu. Ini sudah keputusan mutlak ayah.." kemudian tuan Ali merebahkan kepalanya di atas pangkuan ibunya, "Ali beruntung, punya ibu sambung seperti ibu, yang sangat penyayang, meskipun terhadap orang yang sama sekali tidak ibu kenal. Ali juga bisa merasakan, jika gadis itu adalah gadis yang sangat baik. Ya..! Dia hanyalah korban dari mulut manisnya Ajay..! Tapi Ali benar-benar lemah bu, Ali tidak sanggup memaksa Ajay untuk bertanggungjawab. Sebagai seorang ayah, Ali sudah gagal mendidik anak Ali sendiri, bu...!" jawab tuan Ali, mulai terisak di pangkuan ibunya.


"Aamiin bu..., aamiin..." jawab tuan Ali.


***


Keesokan harinya, di pagi buta...


Tok...tok...tok...


"Boleh mamih masuk, nak ?" tanya nyonya Diana.


Sepi, tak ada jawaban.


"Jay, mamih masuk ya...!"


Masih tetap tak ada jawaban.


Ceklek...


Nyonya Diana membuka pintu kamar Ajay. Tampak Ajay masih tertidur lelap. Nyonya Diana menggoyangkan bahu Ajay untuk membangunkannya.


Ajay menggeliat, kemudian membuka matanya. "Mamih ?" Ajay merasa heran, kenapa di pagi buta seperti ini, mamihnya sudah berada di kamarnya. "Mamih ngapain di sini ?" tanyanya.


"Ssstt...!" jawab nyonya Diana. "Jangan berisik, mamih mau bicara sama kamu !" ujarnya.


"Bicara soal apa, mih ?" tanya Ajay.


"Ini soal keputusan eyangmu. Kita tidak punya pilihan lain nak, kita harus terima keputusan eyangmu !"

__ADS_1


"Maksud mamih, aku harus jadi gelandangan ?" tanya Ajay


"Ish..., bukan itu ! Maksud mamih, terpaksa kita turuti keputusan eyang yang hendak menikahkan mu dengan gadis kampung itu !"


"Apa...!!" teriak Ajay.


"Ssstt...!!" nyonya Diana membekap mulut Ajay, "Jangan berisik !!"


Ajay mengangguk. Nyonya Diana melepaskan bekapannya.


"Maksud mamih, Ajay harus menikah dengan Kyara ?" tanya Ajay, pelan.


"Iya nak..." jawab nyonya Diana.


"Tapi mih, Ajay kan masih kuliah...!" Ajay berusaha mengelak.


"Dengar, kita minta eyangmu untuk melamar dia dulu. Urusan nikah, kita pikirkan nanti. Yang penting, saat ini kita harus yakinkan eyang dulu jika kita akan menuruti semua keinginannya."


"Tapi mih...!" Ajay masih belum bisa menerima keputusan mamihnya.


"Ish, kau ini...! Apa kau mau jadi gembel ?!" teriak nyonya Diana.


"Ah mamih..., ya enggak lah...!" jawab Ajay.


"Makanya, dengar mamih ! Nanti pas sarapan, kamu bilang sama eyang, kalau kamu berubah pikiran dan mau menikahi Kyara, tapi nanti setelah lulus kuliah. Untuk saat ini, kamu bilang saja kalau kamu akan bertanggungjawab dan mengikatnya dengan sebuah pertunangan. Gimana ?"


Ajay tampak berpikir. Ya...! Tak ada salahnya gue ikuti saran mamih. Dengan begini, gue jadi punya kesempatan untuk membalas dendam pada Kyara... batinnya. "Oke mih, Ajay setuju...."


***


Seperti biasa, pukul setengah tujuh pagi, keluarga Sanjaya berkumpul untuk sarapan bersama. Bahkan kali ini, Ajay sudah berada terlebih dahulu di ruang makan. Satu persatu orang-orang di rumah Sanjaya, berdatangan ke ruang makan. Mereka pun duduk di kursinya masing-masing.


Mbok Nah dan dua pelayan lainnya sibuk mempersiapkan hidangannya. Setelah semuanya siap dan hendak mengambil makanan, tiba-tiba saja...


"Ehm...hm..., semuanya..., mohon perhatiannya sebentar !" seru Ajay.


Semua orang mengurungkan niatnya, dan mulai memperhatikan Ajay.


"Eyang, Ajay mau minta maaf atas semua sikap Ajay kemarin-kemarin. Setelah semalaman Ajay berpikir, ya...! Ajay akui, Ajay memang salah." Ajay menundukkan kepalanya, menunjukkan sikap penyesalannya kepada semua orang. "Sekarang, Ajay siap bertanggungjawab. Namun, untuk saat ini Ajay belum siap menikahinya..."


Tuan Mahesa mengernyitkan dahinya, "Permainan apalagi ini, Ajay ?" tanyanya, tegas.


"Eyang jangan marah dulu, eyang kan tahu Ajay masih kuliah. Ajay mau fokus dulu, nanti setelah lulus kuliah, baru Ajay nikahi Kyara. Untuk saat ini, Ajay minta eyang dan papih melamar Kyara dulu, mengikat dia dengan sebuah pertunangan untuk membuktikan keseriusan Ajay."


Tuan Ali menganggukkan kepalanya. "Gimana yah, Ali pikir alasan Ajay masuk akal juga. Yang terpenting, saat ini Ajay sudah berubah pikiran dan mau bertanggungjawab."


"Tapi, apa gadis itu akan menerimanya ?" tanya tuan Mahesa, ragu. "Dua tahun, Ali..., dua tahun dia harus menunggu Ajay sampai lulus kuliah. Dua tahun bukan waktu yang singkat, apa dia mau menunggu ?"


"Ajay yakin Kyara setuju. Ajay tahu bagaimana sifat Kyara. Dia gadis yang sangat sabar dan penuh pengertian. Ajay yakin, Kya bisa mengerti Ajay. Lagipula, ini juga buat kebaikan kami ke depannya. Ajay tidak mungkin hanya berpangku tangan dan mengandalkan kekayaan papih. Ajay mau bikin usaha dari nol, sama seperti eyang dan papih." jawab Ajay, meyakinkan.


Tuan Mahesa tersenyum, "Eyang bangga sama kamu nak. Baiklah, nanti eyang dan eyang uti akan persiapkan untuk lamarannya. Eyang lega mendengar semua ini. Sekarang, makanlah..!"


Semua orang tersenyum senang mendengar ucapan Ajay. Ya...! Semoga saja tidak ada siasat buruk dibalik semua ucapannya.


Bersambung...


Terima kasih buat para readers yang sudah mendukung karya ini. Mohon maaf jika author selalu membuat readers menunggu. Itu dikarenakan author memiliki tanggungjawab lain terhadap pekerjaan author.


Menulis adalah hobi author sedari kecil, meski author sadar sangat sedikit waktu author untuk menyalurkan hobi ini, tapi insyaallah author berusaha untuk memberikan yang terbaik...


Terima kasih, dan semoga masih setia untuk menunggu kelanjutan ceritanya...

__ADS_1


Ditunggu like vote n komennya....πŸ™πŸ™


__ADS_2