
POV Kyara
Hampir 45 menit aku menunggu kak Bagas di terminal. Namun dia tidak datang juga. Berkali-kali aku menghubunginya, dia pun tidak pernah mengangkat telponku. Aku merasa kesal, namun sejurus kemudian, aku teringat tentang perkataannya tadi. Aku benar-benar merasa khawatir, karena itu aku memutuskan untuk pergi menggunakan taksi saja menuju rumah om Ali.
Taksi yang kutumpangi sudah berbelok ke arah gapura perumahan elite itu. Sepanjang jalan aku melihat mobil-mobil mewah berjajar rapi hingga di samping gerbang rumah om Ali. Aku merasa heran dan penasaran. Tiba-tiba kecemasan kembali menghampiri saat aku melihat bendera kuning terpasang di samping gerbang rumah om Ali.
Aku teringat perkataan kak Bagas tentang eyang akung. Seketika pikiranku menjadi kacau. Setelah membayar ongkos taksi, aku turun, dan kudapati ratusan orang berjejal di halaman depan rumah om Ali.
Kekhawatiran yang tak mampu kubendung lagi. Dengan sekuat tenaga aku berlari menerobos kerumunan orang-orang itu. Aku tak memperhatikan jalanku, hingga aku menubruk seseorang dan sesuatu pun terjatuh. Namun aku tidak tahu apa yang telah terjatuh, pikiranku benar-benar kosong saat aku melihat seseorang terbungkus kain kafan. Sejurus kemudian, aku melihat eyang uti duduk di samping jenazah itu sambil mengelus pipinya. Saat itu aku pun menyadari, jika jenazah yang terbujur kaku di hadapanku adalah eyang akung.
Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Suaraku seolah tercekat di kerongkongan. Tiba-tiba duniaku terasa gelap. Sedetik kemudian, aku pun merasakan tubuhku seolah melayang di udara. Eyang...., hanya itu yang mampu kuucapkan...
***
"Kya...!!"
Ajay dan Bagas berteriak bersamaan begitu melihat Kyara limbung dan hendak jatuh. Namun karena jarak Bagas lebih dekat dengan Kyara, akhirnya dengan sigap Bagas menangkap tubuh Kyara agar tidak jatuh ke lantai. Dia pun segera memangkunya dan membawanya pergi ke kamar tamu.
Ajay mengepalkan tangannya melihat perlakuan Bagas terhadap Kyara. Seandainya keadaannya tidak seperti ini, rasanya Ajay ingin sekali menghajar Bagas yang telah menyentuh Kyara.
Di kamar tamu.
Bagas segera membaringkan Kyara di atas ranjang. Sejenak dia keluar untuk mengambil kotak P3K dan segelas air hangat. Kembali lagi ke kamar, Bagas segera mengolesi kaki dan tangan Kyara dengan minyak kayu putih. Dia pun mendekatkan minyak kayu putih tersebut di kedua lubang hidung Kyara, agar Kyara bisa menghirupnya.
Tak lama kemudian, Kyara mengerjapkan matanya. Netranya menatap tajam ke arah Bagas. Dia segera bangun saat teringat kembali jenazah yang telah terbungkus kain kafan tadi.
"Eyang..., a.. apa je.. jenazah itu e..eyang akung ?" tanya Kyara terbata.
Bagas mengangguk.
"Tidak...! Tidak mungkin..! Eyang tidak boleh pergi..! Tidak mungkin...!"
Kyara berteriak histeris, dia meronta, turun dari atas ranjang, kemudian segera berlari keluar kamar. Dengan terhuyung-huyung dia terus berlari hingga terjatuh di samping nyonya Aini.
__ADS_1
"Bangun eyang...! Kya..kya sudah datang...! Eyang bangun...! Jangan tinggalin Kya...! Kya mohon...! Eyang sudah janji akan mengantarkan Kya ke meja akad, bangunlah eyang...! Becanda eyang tidak lucu, ayo bangunlah, Kya sudah datang ! Ky...Kya janji akan selalu menemani waktu senja eyang, kita akan memberi makan ikan-ikan kesayangan eyang, Kya janji, Kya akan menuruti perintah eyang untuk tinggal di sini, asal eyang bangun...! Ayolah eyang...! Sudah cukup becandanya.. ! Apa eyang tidak sayang Kya..! Kya bakalan ngambek kalau eyang nggak mau bangun. Kya nggak bakalan bikinin eyang nasi goreng lagi...! Bangun eyang...! Eyang tidak boleh pergi, Kya mohon...! Bangunlah...!" racau Kyara terdengar sangat pilu.
Bagas yang sedari tadi berlari mengikuti Kyara, segera memeluk Kyara untuk menenangkannya. Begitu juga dengan nyonya Aini yang hatinya merasa teriris mendengar ratapan Kyara.
"Sabar sayang...! Bersabarlah..! Eyang sudah tenang, nak ! Beliau sudah tidak merasakan sakit lagi !" ujar nyonya Aini seraya menangkup wajah Kyara dengan kedua tangannya.
Kyara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak eyang..., eyang akung nggak boleh pergi..! Kya..kya belum bisa berbakti kepada beliau. Jangan biarkan eyang akung pergi. Bicaralah padanya eyang, katakan padanya, Kya akan menjadi anak yang baik. Jika eyang uti yang bilang, eyang akung pasti mau bangun ! Kya mohon, bicaralah padanya...!" Kyara masih terus meracau.
Racauan Kyara membuat semua orang yang berada di sana tampak bersedih. Begitu juga dengan Ajay. Meskipun tuan Mahesa adalah orang yang sangat tegas, namun jauh di lubuk hatinya, beliau adalah seorang yang memiliki hati yang lembut.
Bayangan masa kecilnya yang dia lalui bersama eyang akung, kembali terlintas dalam ingatan Ajay. Dia pun tak kuasa lagi membendung air matanya, terlebih lagi saat mendengar racauan Kyara yang sangat memilukan.
Kyara...ah Kyara..., gadis itu tampak terpuruk melihat kenyataan yang ada. Ajay dapat melihat rasa kehilangan yang besar dalam diri gadis itu. Ajay telah mengenal watak Kyara. Saat ini, hatinya pasti benar-benar hancur. Rasanya Ajay ingin berlari ke arahnya dan memeluknya. Namun egonya terlalu kuat, sehingga berhasil mengalahkan perasaannya sendiri. Dia hanya mampu menatap tajam penuh kebencian ke arah Bagas yang sedang memeluk Kyara.
Tiba-tiba, seseorang yang berjubah putih dan bersorban, menghampiri tuan Ali. Mungkin dia seorang alim ulama. Orang itu membisikkan sesuatu di telinga tuan Ali. Tuan Ali tampak mengangguk. Setelah lelaki berjubah itu pergi. Tuan Ali menghampiri nyonya Aini.
"Bu...!" ujar tuan Ali seraya menyentuh bahu nyonya Aini.
"Pak ustadz bilang, ada baiknya jika jenazah segera dimakamkan. Kasihan ayah jika kita makamkan esok hari, bagaimana bu ?" tanya tuan Ali.
"Apa pemakamannya sudah siap, nak ?" nyonya Aini bertanya balik.
Tuan Ali mengangguk, menjawab pertanyaan ibunya.
"Baiklah, lakukanlah nak...! Lagipula tidak ada lagi yang kita tunggu, alhamdulilah Kyara sudah datang. Ibu rasa, beliau akan semakin tenang di alam sana." lanjut nyonya Aini seraya menggenggam tangan Kyara.
"Baiklah..!" jawab tuan Ali.
Tuan Ali menghampiri Kyara. Dia memegang pundak Kyara. "Bersabarlah nak ! Tabahkan hatimu, dan ikhlaskan kepergian eyangmu !" pinta tuan Ali.
Kyara hanya menatap sendu kepada tuan Ali. Sungguh, hatinya belum sepenuhnya mampu menerima kepergian orang yang sangat menyayangi dan disayanginya.
__ADS_1
Bayangan ketegasan eyang Mahesa saat memberikan keadilan terhadapnya, masih terlihat jelas. Dan Kyara belum mampu membalas budi untuk semua kebaikan dan kasih sayang yang diterimanya dari eyang Mahesa.
Kembali Kyara menatap nanar ke arah jenazah itu. Bahunya pun kembali berguncang karena menangis.
"Sudahlah, Kya..! Jangan menangis lagi ! Eyang akan merasa sakit jika kau tidak mengikhlaskan kepergian beliau." ujar Bagas seraya mengusap-usap punggung Kyara.
Kyara menatap nanar kepada Bagas.
"Ikhlaskan beliau pergi Kya ! Jangan beratkan langkah beliau menghadap Illahi.." ujar Bagas.
Kyara mengangguk.
Bagas menarik pelan kepala Kyara, dan menyandarkannya di dadanya yang bidang.
"Aku izinkan kau menangis di dadaku, tapi hanya untuk saat ini. Setelah ini, aku tidak akan mengizinkan kau menangis lagi ! Mengerti !" bisiknya pelan di telinga Kyara.
Kyara mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia pun kembali terisak di dadanya Bagas. Hingga membasahi pakaian Bagas di area tersebut.
Rupanya Ajay semakin kebakaran jenggot melihat pemandangan di depannya. Dia pun segera pergi keluar untuk mengurusi pemakaman tuan Mahesa.
Setelah mendapatkan kabar dari TPK ( Tempat Pemakaman Keluarga ), jika tempat peristirahatan terakhir tuan Mahesa telah siap. Keluarga besar pun segera membawa jenazah ke TPK untuk dimakamkan.
Satu setengah jam prosesi pemakaman tuan Mahesa dilalui dengan sangat khidmat. Banyak orang yang mengantar hingga ke tempat peristirahatan beliau yang terakhir. Memanglah benar apa kata pepatah. 'Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai'.
Selama hidupnya, tuan Mahesa selalu berbuat kebaikan, hingga detik-detik terakhir menghadap Tuhannya, banyak sekali orang yang mengantar kepergiannya. Entah itu berasal dari keluarga miskin, sedang, bahkan kaya raya sekalipun. Yang berjalan kaki, mengendarai motor hingga mengendarai mobil mewah. Dari kalangan pengamen, kolega bisnis hingga para pejabat, semuanya tumpah ruah di acara prosesi pemakaman tuan Mahesa.
Bersambung....
Alhamdulillah author masih bisa up ya, mumpung ponakan masih tidur...
Jangan lupa untuk like, vote n komen karya ini.
Terima kasih untuk para readers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya ini. Krisan yang membangun sangat diharapkan author agar bisa lebih baik lagi dalam berkarya.
__ADS_1
Terima kasih juga untuk para author yang sudah mendukung karya ini. Mari kita sama-sama saling mendukung untuk memberikan karya terbaik bagi anak bangsa...
Semangat para author...💪💪🙏🤗