Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Petaka


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu. Tanpa terasa sudah dua bulan lebih, Andin berada di negeri orang. Sesekali dia mengirimkan foto kepada Ajay, memberi kabar bahwa dia baik-baik saja. Meskipun banyak cowok-cowok bule yang mendekati Andin, tapi Andin masih berusaha untuk tetap setia kepada Ajay. Baginya, sudah saatnya dia melabuhkan hatinya. Dan pelabuhan terakhir Andin adalah Ajay.


Di kota B. Pertemanan Ajay dengan Cecilia semakin hari semakin dekat. Cecilia mampu membuat Ajay melupakan Andin untuk sejenak. Selalu ada saja yang menjadi alasan untuk mereka bertemu dan berbagi cerita. Kini Ajay telah tahu jalan hidup seperti apa yang harus Cecilia lalui. Seorang anak pengusaha sawit yang rela hidupnya menderita demi untuk menghindari pertengkaran keluarganya. Ajay belajar banyak dari hidup Cecilia yang sederhana. Aah..., entah bumbu apa yang Cecilia selipkan dalam ceritanya. Sehingga semakin hari, rasa simpati Ajay terhadap diri Cecilia, semakin besar.


Bagas mengisi waktu liburnya dengan pergi mengunjungi kakaknya di kota J. Kebetulan, saat ini sang kakak baru saja melahirkan seorang bayi, setelah hampir 3 tahun pernikahannya. Bagas merasa senang sekali memiliki keponakan yang lucu dan chubby. Selain berkunjung, Bagas juga datang ke kota J untuk belajar mendalami bisnis dari kakak iparnya yang merupakan CEO sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi.


Karena basic pendidikan Bagas adalah otomotif, maka sang kakak ipar pun mengenalkan Bagas kepada teman CEO-nya yang memiliki perusahaan otomotif terbesar di kota J. Dia adalah Alvaro Adinata. Bagas merasa senang sekali bisa belajar tentang dunia bisnis dengan mereka. Bagaimanapun, Bagas memiliki perusahaan yang diwariskan almarhum ayahnya yang kelak harus dikelolanya.


***


Pagi ini Cecilia terbangun karena rasa yang tak nyaman di perutnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja perutnya terasa bergejolak dan dia merasakan mual yang amat sangat.


Cecilia mencoba memejamkan matanya kembali, berharap hal itu bisa meredakan rasa mualnya. Namun ternyata sia-sia. Cecilia mencoba untuk bangun, tiba-tiba saja....


"Umh...!"


Cecilia menutup mulutnya, dia segera berlari ke kamar mandi.


"Hooeekk..... hooeekk... hooeekk...."


Ada apa denganku...? Kenapa aku bisa sampai muntah begini ? Apa mungkin aku masuk angin...? batin Cecilia. Dia pun segera membersihkan mulutnya dari sisa cairan yang terasa asam itu.


Cecilia kembali ke kamarnya. Tubuhnya benar-benar merasa lemas setelah memuntahkan semua isi perutnya. Cecilia duduk di depan meja riasnya. Dia menatap dirinya di cermin. Ish...! Kenapa wajahku pucat begini, ya...? Ah..., akhir-akhir ini aku memang malas dandan, mungkin karena itulah wajahku bisa sampai pucat begini.


Tanpa sengaja matanya melirik kalender duduk yang berada di atas meja riasnya. Cecilia menatap kalender itu, kenapa tidak ada bulatan merah di bulan ini ? Bukankah sekarang sudah akhir bulan...? batin Cecilia.

__ADS_1


Cecilia terkejut, segera dia mengambil kalender itu. Membolak-balikkan setiap lembarannya, Ya Tuhan...! Aku baru sadar jika bulan ini dan bulan kemarin, aku belum mendapatkan menstruasi...! Bagaimana ini...! Jangan-jangan...!!


Cecilia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang....?? Aah..., testpack...! Aku harus segera membeli alat itu untuk memastikan apakah aku hamil atau tidak...?


Cecilia segera memoleskan sedikit bedak di wajahnya, agar tidak terlalu terlihat pucat. Setelah itu dia turun dari apartemennya menuju apotek terdekat.


Cecilia membeli beberapa alat testpack dengan berbagai merk. Mulai dari yang termurah hingga yang paling mahal, yang kualitasnya biasa saja hingga kualitas bagus. Setelah itu dia kembali ke apartemennya.


Rasa cemas mengiringi langkahnya sepanjang jalan. Banyak do'a yang dia panjatkan. Berharap rasa mual yang tadi menyerangnya mungkin memang karena masuk angin.


Tiba di apartemennya, Cecilia segera menuju kamar mandi. Dia buka bungkusan plastik hitam itu dan mengeluarkan semua merk alat testpack. Dia mengambil wadah sebagai alat untuk menampung urinenya. Dengan hati yang berdebar, Cecilia mencelupkan semua alat testpack tersebut ke wadah yang telah berisi urine.


Kekhawatiran semakin tampak di wajahnya saat satu persatu alat testpack itu berubah warna dan menyisakan 2 garis merah. Ya Tuhan...., positif...! A....apa ini artinya, aku hamil...?


"Atau aku gugurkan saja janinku...!" gumam Cecilia, penuh keyakinan. Tapi tiba-tiba saja, bayangan seorang anak kecil melintas di pikirannya. Tidak....tidak...! Aku telah melakukan dosa besar dengan berzina. Aku tidak ingin berbuat dosa lagi dengan menggugurkan janin ini...! Ya Tuhan..., apa yang harus aku lakukan ?


Cecilia duduk terkulai di sudut kamar mandinya. Saat ini, sebuah petaka datang menghampirinya akibat perbuatannya saat sedang dipengaruhi alkohol. Cecilia menundukkan wajahnya, dia benar-benar merutuki sikapnya dulu. Seandainya waktu itu aku tidak mabuk, semua ini pasti tidak akan terjadi...! Bodoh..., bodoh..., bodoh...! Kenapa aku harus minum alkohol sebanyak itu...? Semua ini gara-gara kamu, Ajay...! Kenapa kamu harus menjadi kekasih sahabatku...? Kenapaaaa....?


Tiba-tiba, Cecilia mendongakkan kepalanya. "Ajay..." gumamnya lirih. "Dia...dia harus bertanggungjawab...! Karena dirinya aku sampai mabuk-mabukan dan bertindak bodoh...!" gumamnya.


Sepertinya sebuah ide sedang tercipta di benaknya. Cecilia tersenyum sinis, mungkin ini jalan Tuhan untuk membalas semua rasa sakitku dulu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Tunggulah Andin...! Aku sudah pernah bilang, karma pasti berlaku....! batinnya.


Cecilia bangkit dan mulai membenahi dirinya. "Mulai saat ini, aku tidak boleh memberikan sedikit pun waktu bagi Ajay untuk memikirkan Andin. Akan kubuat dia hanya akan memikirkanku sepanjang hidupnya. Bersiaplah Andin, waktu kehancuranmu sudah semakin dekat...!" gumam Cecilia penuh ambisi.


***

__ADS_1


Malam itu....


Hujan deras mengguyur kota B. Seorang gadis berlari di tengah derasnya air hujan yang mengguyur bumi. Sesekali dia menengok ke belakang dengan perasaan cemas. Namun langkahnya masih tidak berhenti. Semakin lama, dia semakin cepat berlari dengan rasa takut yang amat sangat, tergambar di raut wajahnya.


Gadis itu tiba di depan pintu gerbang sebuah rumah.


Ting tong...


Sepi....


Ting tong...


Bunyi bel di rumah yang berdiri kokoh terus berbunyi untuk yang kesekian kalinya.


"Ish...! Siapa yang datang malam-malam begini..?" gumam sang tuan rumah. Dia pun segera turun untuk melihat tamunya.


Sang tuan rumah mengambil sebuah payung, kemudian dia keluar untuk membukakan pintu gerbang. Saat dia tiba di pintu gerbang, dia terkejut melihat seorang gadis sedang berdiri dengan keadaan yang sangat menyedihkan.


"Kau....!!


Bersambung...


Selamat menunaikan ibadah puasa...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2