
"Ayo Adi, biar aku antar kamu ke bandara !"
"TANIA....!" ujar Jaka dan Bagas berbarengan.
"Ka...kamu kenapa bisa ada di sini ?" tanya Jaka.
"Maaf bang Jack ! Tadi Tania ikuti bang Jack karena merasa penasaran. Tania pengen tahu tentang Adi yang sebenarnya. Sekali lagi, Tania minta maaf."
"Tidak apa-apa, non ! Oh iya Adi, sebaiknya kau segera ganti bajumu !" perintah Jaka.
"Iya kak..! Kak, apa kakak masih menyimpan baju Bagas yang dulu ?"
"Ya, kakak masih menyimpan jasnya. Sayangnya, celananya sudah robek, dek ! Waktu itu kakak gunakan untuk membalut luka di kaki kamu."
"Tidak apa-apa, kak ! Itu saja sudah cukup !"
"Ya sudah ! Bersihkan dulu wajahmu ! Jangan biarkan istrimu melihat wajah babak belurmu itu !"
"Ish, ini juga karena perbuatan bang Jack ! Tega banget sih bang Jack buat bonyok wajah tampan adik iparku !"
"Adik ipar...?"
"Ups ! Maaf, keceplosan !"
"Tunggu ! Apa kamu menyukai kakakku ?"
Tania menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah seperti kepiting rebus.
"Kamu ini bicara apa sih, dek ? Ayo cepat bersihkan dirimu !" perintah Jaka yang merasa kikuk juga ketika melihat sikap Tania.
Bagas kemudian pergi ke kamar mandi. Sedangkan Jaka melangkah menuju lemari pakaian untuk mencari jas milik Bagas. Tiba-tiba,
Brugh...!
Tania mendekap erat penggung Jaka.
"Aku...aku suka sama bang Jack...!" ucapnya.
Jaka terkejut, namun dia masih tetap diam tak bergeming. Sungguh, hatinya tidak siap untuk cinta. Terlebih lagi cinta seorang gadis, putri tunggal bosnya. Apa pantas dia menerima itu ? Lalu, bagaimana dengan keluarga sang gadis ? Bisakah mereka menerima hubungan berbeda kasta ini ?
"Bang Jack....!" panggil lirih Tania.
Jaka memutar badannya. Kini, wajah manis putri bos nya berada beberapa cm dari hadapannya.
"Nona, saya ini hanya seorang buruh biasa. Saya tidak mungkin mendapatkan cinta dari seorang gadis seperti nona. Dunia kita berbeda, nona ! Saya sangat berterima kasih atas perasaan nona. Tapi alangkah jauh lebih baik, jika nona mencari pasangan hidup yang sepadan dengan nona." ujar Jaka panjang lebar.
"Apa kau tidak mencintaiku ?"
"Bukan seperti itu, nona ! Aku hanya... hummpphh..."
Tiba-tiba bibir Tania membungkam bibir Jaka dengan sebuah ciuman yang begitu hangat Jaka rasakan. Jiwa lelaki Jaka pun meronta. Tidak bisa dipungkiri jika dia sendiri merindukan sentuhan wanita. Usia Jaka sudah sangat matang untuk membina hubungan serius.
Jaka memegang tengkuk gadis itu. Perlahan dia pun mulai membalas ciuman Tania. Jaka menyesap bibir itu lebih dalam, memagutnya penuh cinta. Melihat Tania yang mulai kehabisan napasnya, Jaka pun menyudahi kegiatannya.
Jaka menyapu bibir Tania dengan jarinya. "Aku mencintaimu..!" ucapnya serak, menahan hasrat dan rasa haru karena telah dicintai oleh Tania yang sangat sempurna menurutnya.
"Aku sangat mencintaimu, bang Jack ! Emhhh...!"
Kembali Tania mencium Jaka berulang-ulang sebagai ungkapan perasaannya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Jaka pun melakukan hal yang sama, hingga
"Ehm...ehm...!"
Suara dehaman Bagas, memaksa mereka menyudahi kegiatannya.
"Eh, sudah selesai kamu, Adi ?" ujar Jaka kikuk, seperti seorang maling yang tertangkap mencuri.
Tania hanya bisa tersenyum di samping orang yang beberapa detik yang lalu resmi menjadi pasangannya.
"Sebentar, kakak ambilkan jas nya dulu !" ujarnya.
Jaka kemudian meraih jas berwarna navy yang tergantung di lemarinya. Setelah itu dia memberikannya kepada Bagas.
"Sebentar, Adi !"
Tiba-tiba Jaka teringat sebuah amplop putih yang berada dalam saku jas Bagas saat Jaka hendak mencucinya. Dia segera membuka laci lemari dan menyerahkan amplop itu kepada Bagas.
"Apa ini, kak ?"
"Entahlah, kakak menemukannya di saku dalam jasmu."
Bagas membuka amplop itu. Dahinya berkerut melihat foto hitam putih yang hanya tampak seperti sketsa saja.
"Itu namanya foto hasil USG, Adi !" ujar Tania saat melihat wajah heran Bagas.
Bagas tersentak kaget, "Kakak....?" ujarnya menatap Jaka.
"Selamat Adi ! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah !" ujar Jaka.
__ADS_1
Mata Bagas buram karena air mata. Mereka akhirnya saling berpelukan. Bagas merasa terharu melihat foto hasil USG istrinya.
"Sudah, jangan menangis ! Pergilah ! Nanti kamu bisa ketinggalan pesawat !" kembali Jaka menepuk pundaknya Bagas.
Setelah berpamitan, Bagas pun pergi ke bandara diantar Tania. Dengan lincahnya, Tania menjalankan mobilnya hingga hanya dalam waktu 1, 5 jam, mobil pun tiba di bandara.
Setelah mobilnya terparkir, Tania dan Bagas segera turun dan langsung menuju loket pembelian tiket pesawat. Mereka menunggu sekitar 15 menit hingga panggilan untuk penumpang menuju kota J pun mulai terdengar.
Bagas berdiri, dia menatap Tania.
"Makasih ya, Tan !" ucap Bagas.
"Sama-sama ! Hati-hati di jalan, salam buat istri kamu ! Kabari aku dan bang Jack jika sudah sampai !"
"Pasti !"
Bagas dan Tania saling berpelukan, sebagai tanda perpisahan. Tiba-tiba,
"BAGAS...!!"
Saat Bagas menoleh,
BUGH....!
Aaron baru keluar dari bandara. Namun saat dia hendak menuju taksi yang menjemputnya, tiba-tiba pandangannya menangkap sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Bagas sedang berlari memasuki bandara. Akhirnya Aaron memutuskan untuk mengikutinya.
Tiba di sana, Aaron melihat laki-laki itu memesan tiket menuju kota J. Setelah itu mereka menunggu di ruang tunggu. Setelah terdengar panggilan, Aaron melihat laki-laki itu berdiri dan tiba-tiba saja saling berpelukan dengan wanita yang sedari tadi bersamanya.
Aaron mulai mendekatinya. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Aaron mencoba memanggilnya dengan nama Bagas. Dan ternyata laki-laki itu menoleh. Akhirnya Aaron pun sadar jika laki-laki itu memanglah Bagas.
Aaron senang melihat Bagas masih hidup. Namun kesenangannya berubah menjadi amarah saat dia melihat Bagas memeluk dan merangkul wanita itu. Tanpa banyak bertanya, Aaron pun melayangkan pukulannya ke rahang Bagas.
"Dasar laki-laki brengsek ! Tidak tahu diri ! Lo tahu, istri lo setiap hari nangis meratapi kepergian lo, tapi lo malah berpelukan dengan cewek lain ! Bajingan lo !"
BUGH...
BUGH...
Aaron terus memukuli Bagas tanpa ampun. Hingga akhirnya datang 2 orang security memisahkan mereka.
"Kalian, ikut saya !" ujar sekuriti tersebut.
Tiba di ruang intograsi, Aaron dan Bagas pun ditanya perihal permasalahan yang membuat mereka berkelahi. Lebih tepatnya Bagas dipukuli sahabatnya sendiri.
Akhirnya, Tania yang menjadi saksi atas perkelahian itu pun buka suara. Dia pun menjelaskan dari awal hingga kejadian itu terjadi.
Bagas tertunduk lesu karena pesawat yang hendak membawanya pergi ke kota J telah berangkat beberapa menit yang lalu.
"Lo nggak usah kuatir, Gas ! Gue udah hubungi asisten gue. Gue pastiin, hari ini juga kita bakalan balik ke kota J !" ujar Aaron seraya menepuk pundak sahabatnya.
"Tapi, kerjaan lo ?"
"Gampang ! Gue bisa atur ulang schedule nya, nanti !"
Tak berapa lama, ponsel Aaron berdering. Sang asisten mengatakan jika pesawatnya telah siap. Aaron pun mengajak Bagas untuk memasuki pesawatnya.
Sepanjang perjalanan, Aaron bertanya tentang menghilangnya Bagas selama hampir 8 bulan ini. Bagas pun menceritakan semuanya. Tentang awal mula pertengkarannya dengan Kyara, penculikan dan penyanderaan yang dilakukan oleh sekretarisnya dan juga tentang pertemuannya dengan orang-orang yang telah menyelamatkannya. Satu pun tak ada yang terlewat.
"Sudahlah ! Semuanya telah berakhir ! Aku sendiri melihat jika Ajay sedikit demi sedikit telah melupakan Kyara. Saat ini dia sedang dekat dengan dokter yang menanganinya. Aku yakin dia tidak akan menggangu hubungan kalian lagi." ujar Aaron.
Bagas hanya bisa tersenyum mesem.
***
Sementara itu di kota J. Semua orang tampak panik setelah melihat surat yang ditinggalkan Kyara.
Beberapa jam sebelum surat itu ditemukan.
Kak Indah merasa khawatir karena sudah hampir magrib, tapi Kyara belum juga pulang ke rumah. Beberapa hari yang lalu, mereka memang berdebat kembali perihal pembongkaran makam adiknya. Karena sudah merasa putus asa dengan sikap Kyara, tanpa sengaja kak Indah pun menamparnya.
Saat itu Kyara sudah merapikan bajunya. Dia hendak kembali tinggal di rumahnya. Namun Gunawan berhasil mencegahnya. Hingga kak Indah meminta maaf dan mereka pun sepakat untuk melupakan segalanya.
Namun hari ini, entah kenapa perasaan kak Indah benar-benar cemas.
"Arumi !" panggil kak Indah.
"Ya, umi !" teriak Arumi seraya menghampiri ibunya.
"Apa tadi di sekolah, Arum lihat onty ?" tanya kak Indah.
"Kalau istirahat pagi, Arum lihat onty sedang berjalan ke ruang kepala sekolah. Tapi pas istirahat siang, Arum nggak lihat lagi, mi !"
"Ya sudah, kamu boleh pergi !"
Setelah Arumi pergi, kak Indah segera menghubungi kepala sekolah tempat Kyara bekerja. Dia mulai menanyakan Kyara, barangkali bapak kepala sekolah memberikan tugas yang mendesak, hingga Kyara belum sempat memberitahukan kepada orang rumah.
"Sebenarnya tadi siang bu Kyara datang ke kantor saya untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya. Tapi saya belum menerima pengunduran dirinya. Saya hanya memberikan cuti melahirkan selama 4 bulan ke depan, bu !"
__ADS_1
Kak Indah merasa kaget atas penuturan kepala sekolah Kyara.
"Baiklah, pak ! Terima kasih atas informasinya !" ucap kak Indah seraya menutup telponnya.
Tiba-tiba saja,
"Nya....! Nyonya...!"
Mbok Jum datang tergopoh-gopoh dengan wajah paniknya.
"Ada apa mbok ?"
Mbok Jum pun menyerahkan selembar kertas yang ditemukannya di atas meja rias Kyara saat sedang menutup tirai jendela kamar Kyara.
Dengan tangan gemetar, kak Indah membuka kertas itu.
*Assalamualaikum kak Indah dan kak Gun.
Sebelumnya Kyara minta maaf jika Kyara sudah sangat bersikap tidak sopan kepada kalian. Kyara sangat berterima kasih atas kasih sayang kalian terhadap Kya. Namun Kya mohon maaf jika Kya tidak bisa membalas semua kebaikan kalian.
Melalui surat ini, Kyara hanya ingin memberitahukan jika Kyara saat ini sedang baik-baik saja. Maafkan semua keputusan Kyara yang harus pamit melalui surat ini. Semuanya bukan karena Kyara membenci kalian, namun karena Kyara tak sanggup berbicara langsung kepada kalian.
Maafkan Kya, kak ! Kya tidak bisa menjadi adik ipar yang baik bagi kalian. Bagi Kya, kang Bagas adalah segalanya. Kya tidak akan pernah sanggup membagi cinta Kya. Kya juga tidak mau menggantikan posisi kang Bagas di hati Kya. Maafkan Kyara, kak...!
Kya pergi ! Tolong jangan cari Kya*...
Seketika, tubuh kak Indah seakan tak bertulang. Dia pun jatuh tak sadarkan diri setelah membaca surat dari Kyara.
Mbok Jum pun segera menghubungi Gunawan. Setelah beberapa jam berlalu, Gunawan pun tiba bertepatan dengan kak Indah yang telah sadar. Kak Indah hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya.
Setelah melihat kak Indah mulai tenang, Gunawan segera menghubungi Gerald untuk mengerahkan anak buahnya mencari Kyara.
"Mas, apa tidak sebaiknya kita lapor polisi ?"
"Ini masih belum 1x24 jam, Khumaira. Mas rasa, polisi tidak akan menanggapi laporan kita.
"Terus bagaimana, mas ? Atau kita telpon saja paman dan bibinya Kyara ! Siapa tahu Kya pulang ke sana."
"Mas bukannya tidak ingat dengan mereka, tapi mas khawatir jika Kyara tidak pulang ke sana, mereka pasti akan kepikiran soal Kyara. Mas nggak mau mereka merasa cemas dengan kepergian Kya dari rumah kita."
"Terus kita harus gimana, mas ?"
"Jangan cemas, kita tunggu saja kabar dari Gerald ! Mas yakin, Kya pasti akan baik-baik saja."
"Semua ini salah aku mas...! Aku... hiks....aku terlalu keras sama Kyara..., hu...hu....! Seandainya aku tidak menjodohkan dia dengan Gerald, mungkin dia tidak akan pernah pergi..., hu...hu..."
Kak Indah mulai menangis dan menyesali perbuatannya.
"Sudahlah Khumaira ! Tidak ada yang salah dengan semua kejadian ini. Mungkin Kyara hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya."
Gunawan mencoba menenangkan istrinya.
"Sudah malam, tidurlah !"
Saat kak Indah hendak membaringkan tubuhnya. Tiba-tiba mereka mendengar suara bel pintu berbunyi. Namun sejurus kemudian, terdengar teriakan mbok Jum di ruang tamu. Sejenak kak Indah dan Gunawan saling pandang, hingga akhirnya seseorang menggedor pintu kamar mereka.
Dug.... dug...dug...!
"Tuan...! Nyonya... ! Buka pintunya...! Tu...tuan muda Ba.... Bagas telah kembali...!" teriak mbok Jum dengan suara bergetar.
Mendengar hal itu, kembali Gunawan dan kak Indah saling pandang.
"Ba... Bagas ?" tanya kak Indah.
Gunawan mengangguk. Akhirnya mereka segera keluar untuk melihat kebenarannya. Tiba di ruang tamu, mereka melihat dua orang pemuda yang sudah tidak asing lagi.
"Ba.... Bagas....!" pekik kak Indah yang teramat sangat terkejut melihat adik kesayangannya sedang duduk di sofa bersebelahan dengan Aaron.
"Kakak...!"
Bagas segera menghambur ke arah kakaknya. Mereka pun saling berpelukan untuk melepaskan kerinduannya.
"Ya Tuhan...! Ini beneran kamu, Gas ? Subhanallah...! Ka..kakak nggak lagi mimpi kan, Gas ?" ujar kak Indah melepaskan pelukannya dan menatap erat adiknya.
"Iya kak ! Ini Bagas ! Kakak nggak lagi mimpi, tapi ini beneran Bagas !" ujar Bagas mengusap air mata di kedua pipi kakaknya.
Gunawan dan Aaron menatap mereka penuh keharuan. Namun tangis bahagia itu seketika berubah mencekam saat Bagas menanyakan keberadaan Kyara.
"Apa istriku sudah tidur, kak ? Aku benar-benar merindukannya. Boleh aku menemuinya ke atas, kak ?"
DEG.....
Jantung kak Indah berdegup kencang mendengar pertanyaan adiknya tentang istrinya. Dia merasa bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Dia juga tidak tahu bagaimana harus memberitahu Bagas tentang hilangnya Kyara. Kak Indah pun mengalihkan pandangannya kepada suaminya. Terlihat anggukan kecil dari suaminya sebagai isyarat jika dia yang akan memberitahukan semua kebenarannya kepada adiknya.
"Ky.... Kya..."
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🤗