Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Jujur


__ADS_3

Selesai makan, Bagas kembali menaruh piringnya di atas nakas.


"Aku minta maaf, karena aku lupa untuk memberitahukan kepadamu jika aku akan terlambat pulang. Kejutan yang sempurna hari ini benar-benar membuat emosiku memuncak." ujar Bagas.


"Kejutan ?" tanya Kyara


"Hhhh..." Bagas menghela napasnya. "Nona, aku ingin berkata jujur padamu, berjanjilah kau tidak akan marah padaku !" ujar Bagas seraya menggenggam tangan istrinya.


Kyara masih berada dalam mode diamnya. Dia hanya menatap tajam ke arah suaminya.


"Aku..., aku telah melanggar janjiku ! Maafkan aku !"


Seketika Kyara menarik tangannya dari genggaman Bagas.


"Nona, aku terpaksa melakukan semua ini ! Aku tidak mau ada kesalahpahaman di antara kita." ujar Bagas berusaha menjelaskan.


Kyara tetap diam.


"Kau masih ingat ucapanku tentang rencana perjodohan yang diminta keluarga pamannya kak Gunawan ?"


Kyara mengangguk.


"Gadis yang dulu meminta dijodohkan denganku, yang selalu mengejar dan menyatakan perasaannya padaku. Kini dia menjadi sekretarisku di kantor." ujar Bagas lirih.


Deg....deg...deg...


Jantung Kyara berpacu lebih cepat dari biasanya. Dia tidak tahu apa dia berhak untuk cemburu atau tidak dengan semua yang diucapkan Bagas. Satu yang dia tahu, ada rasa tidak nyaman ketika dia mengetahui ada wanita lain yang mengejar cinta suaminya.


"Lalu, apa hubungannya denganku ?" ujar Kyara datar.


"Nona, aku tidak ingin mengkhianati pernikahan kita. Aku sangat mencintaimu. Kehadiran Rachella di kantorku atas permintaan kakakku. Selepas meeting terakhir, aku pun pergi ke rumah kak Indah untuk meminta penjelasan. Dan ternyata kak Indah melakukan semua itu karena ingin melihatku memiliki pasangan. Akhirnya, untuk menghindari kesalahpahaman yang semakin jauh, aku pun terpaksa mengatakan soal pernikahan kita kepada kak Indah dan kak Gunawan." ujar Bagas menjelaskan sedetail mungkin tanpa ada satupun yang terlewat.


"Dia pasti sangat membenciku, karena kehadiranku menghalangi perjodohan kalian. Kamu tidak usah khawatir, silakan ajukan saja gugatan perceraian, akan aku tandatangani secepatnya agar aku tidak menjadi duri dalam hubungan kalian." ujar Kyara seraya berdiri.


Brugh....!


Bagas menarik tangan Kyara hingga tubuh Kyara jatuh menimpa tubuh Bagas yang terjerembab di atas kasur. Secepat kilat Bagas membalikkan tubuh istrinya, hingga posisinya menjadi terbalik. Bagas menggunakan tangannya sebagai tumpuan untuk menahan tubuhnya agar tidak terlalu menindih Kyara. Tatapan mereka saling terkunci satu sama lain.


Bagas melihat tatapan sendu dari istrinya. Entah apa yang dipikirkan oleh istrinya, namun isyarat matanya menyiratkan jika Kyara terluka dengan semua kejujurannya tentang gadis itu.


"Percayalah padaku, aku tidak pernah mencintai dia. Hanya kamu nona...., hanya kamu cinta pertama dan terakhirku." ujar Bagas menatap tajam mata Kyara.


Kyara memalingkan wajahnya.


"A...aku tidak tahu...! Aku hanya tidak ingin terjebak lagi dalam sebuah ikatan yang akan saling menyakiti. Aku mohon lepaskan aku !" ujar Kyara lirih.


Bagas menenggelamkan wajahnya di leher sebelah kanan Kyara.


"Aku mohon, beri aku kesempatan untuk membuktikan semua perasaanku ! Aku mencintaimu nona...!"


Kyara menggigit bibir bawahnya saat merasakan cairan hangat membasahi lehernya. Sungguh hatinya ingin mempercayai setiap ucapan Bagas. Tapi logikanya menolak semua itu.


"Sudah malam, aku ngantuk !" ujar Kyara bergetar menahan rasa sesak di dadanya.


Bagas pun berguling ke samping kiri Kyara. Dia hanya mampu menatap kosong langit-langit kamarnya.


"Katakan ! Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu percaya jika aku sangat mencintaimu, nona ?" tanya Bagas pelan.

__ADS_1


Kyara memejamkan matanya. Cairan hangat mulai keluar dari kedua sudut matanya.


"Buktikan saja semua usahamu dalam mencintaiku ! Biar waktu yang akan menjawab semuanya !" jawab Kyara seraya bangkit dan pergi ke kamar mandi.


Kyara sudah tidak sanggup lagi menahan semua rasa sesak di dadanya. Dia pun menjatuhkan tubuhnya di depan pintu kamar mandi yang telah dikuncinya rapat. Dia mulai menekuk kedua lututnya dan mendekapnya erat. Kembali dia menggoyangkan badannya untuk mencari ketenangan dalam isak tangisnya.


Maafkan aku....! Aku...aku hanya berusaha memberikan perisai pada hatiku agar aku tidak harus merasakan semua kepedihan ini...! Maafkan aku...!!


Bagas segera menyeka air mata yang keluar tanpa permisi. Dia segera bangkit dan mengambil piring kotor bekas makan mereka tadi. Setelah menaruh piring itu ke dapur, Bagas pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Malam sudah semakin larut, akhirnya mereka pun terlelap di kamarnya masing-masing. Kyara yang masih tidur sendirian di kamar, dan Bagas yang menyulap ruang kerjanya sekaligus menjadi tempat istirahatnya.


***


"Bagas, kakak mohon mengertilah ?"


"Tapi itu tidak masuk akal, kak !"


"Apanya yang tidak masuk akal ? Ini sangat masuk akal !"


"Kakak anda benar bos ! Jika bos melakukan semua itu, maka perusahaan akan mengalami kerugian besar."


"Aku tidak peduli dengan kerugiannya. Aku akan menutup kerugian itu dengan aset yang aku miliki di Jerman. Yang terpenting pernikahanku selamat !"


"Dengar Bagas, ini bukan hanya soal kerugian. Aku percaya hanya dengan menjual 10 % asetmu di Jerman, kau pasti bisa menutup kerugian perusahaanmu yang ada di sini. Tapi ini menyangkut kepercayaan dan profesionalisme. Kakak mohon, bertahanlah ! Hanya sampai proyek ini selesai !"


"Bos Gun benar bos ! Ini juga menyangkut reputasi perusahaan, bos ! Tolong pikirkan lagi, bos ! Jika bos bersikeras dengan keinginan bos, bukan hanya perusahaan saja yang akan musnah, tapi juga para karyawan yang akan kehilangan pekerjaan mereka. Apa bos tega membiarkan anak istrinya kelaparan ! Bos enak tinggal balik lagi ke Jerman, lalu kita ?? Apa bos tega kita jadi pengangguran ?"


"Tapi aku tidak bisa mempertaruhkan pernikahanku !"


"Tidak semudah itu, dia gadis yang sangat keras kepala. Apa pun tidak akan mempengaruhinya untuk bisa mencapai keinginannya."


"Kakak lebih tahu tentang dia, lalu kenapa kakak memaksa Bagas untuk mempertahankan dia di kantor ini !"


"Karena perusahaanmu membutuhkannya, Gas ! Setidaknya hanya untuk beberapa bulan saja !"


"Tapi bagaimana dengan Kyara, kak ! Dia pasti sangat terluka jika masih mendengar gadis itu berada di kantorku ! Aku tidak sanggup kak ! Aku tidak ingin menyakitinya !"


"Jujurlah padanya ! Katakan kau membutuhkannya hanya untuk perusahaanmu saja !"


"Kyara pasti akan terluka dengan kejujuran ini kak !"


"Beri pengertian sebaik mungkin, Gas ! Kyara orang yang berpendidikan, kakak yakin dia pasti bisa memahami alasanmu !"


"Aku tidak tahu, kak ! Kemarin saja saat aku bicara jujur tentang gadis itu, aku lihat matanya kembali menyimpan luka. Dan sekarang aku harus kembali jujur mengatakan akan mempertahankan gadis itu demi kelancaran proyek ku, dia pasti akan lebih terluka dan tidak mempercayaiku lagi. Aku bingung kak !"


"Bersabarlah...! Kakak yakin Kyara istri yang sangat bijak !" ujar Gunawan menepuk pundak adik iparnya.


Bagas hanya bisa menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya. Bisakah dia menerima kejujuranku kembali...?


Pukul 15.30, Bagas keluar dari ruangannya. Dia pun segera melajukan mobilnya untuk menjemput istrinya. Tiba di sekolah, dia melihat istrinya tengah berjalan di koridor sekolah. Bagas menunggunya di pintu gerbang hingga istrinya datang menghampirinya.


"Sudah pulang ?"


Pertanyaan unfaedah Bagas membuat Kyara mendelikkan matanya ke arah Bagas.


Bagas tersenyum mesem, dia pun segera membuka pintu mobilnya. Setelah Kyara masuk, Bagas segera memutari mobil dan membuka pintu kemudian duduk di balik kemudinya.

__ADS_1


"Kau sudah solat ashar ?" tanya Bagas.


Kyara mengangguk.


"Apa kau mau ikut denganku ke suatu tempat ?" tanya Bagas kembali.


Kyara hanya menoleh menatap Bagas.


"Aku mohon, ada yang ingin aku bicarakan !"


"Baiklah !" jawab Kyara.


Bagas tersenyum kecil, dia pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya ke sebuah tempat. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah taman pinggir kota yang cukup sepi. Bagas memarkirkan mobilnya, dan mengajak Kyara duduk di salah satu kursi di sudut taman.


Tiba di sana, Bagas duduk bersimpuh di hadapan Kyara.


"Apa yang kau lakukan ?" tanya Kyara merasa tidak enak dengan sikap Bagas.


"Maafkan aku, sekali lagi aku mengingkari janjiku padamu !" ujar Bagas penuh penyesalan.


"Duduklah, kita bicarakan baik-baik !" ujar Kyara.


Bagas kembali duduk di samping Kyara. Dia pun memposisikan tubuhnya untuk menghadap Kyara. Bagas mulai menggenggam tangan Kyara.


"Ada apa ?" tanya Kyara.


"Aku..., aku ingin berkata jujur padamu ! Tapi aku tahu jika kejujuran ini akan kembali menyakitimu !"


Kyara tersenyum.


"Aku hargai semua kejujuran mu. Namun jika kau anggap semua ini akan menyakitiku, lebih baik kita tidak usah membahasnya !"


"Tapi Kya, aku tidak akan tenang jika aku harus menyembunyikan semua ini darimu ? Aku ingin membangun pondasi rumah tangga yang kuat, dan semua itu harus dimulai dengan kejujuran di antara kita !"


"Apa ini tentang ketidakberdayaanmu yang tidak bisa mengeluarkan Rachella dari perusahaanmu ?"


"Ba...., bagaimana kau bisa tahu semuanya...!"


"Aku lebih tahu dari apa yang kamu ketahui ! Dengar, aku hargai usahamu untuk bersikap jujur padaku ! Semalam kau tanya apa yang harus kau lakukan agar aku mempercayai cintamu, kan ?"


Bagas mengangguk.


"Buktikan padaku jika kejujuran akan selalu menjadi pondasi bagi rumah tangga kita !"


"Aku janji, nona ! Apa pun yang terjadi, aku akan selalu jujur padamu !"


"Sudah sore, kita pulang ! Aku harus segera mempersiapkan soal-soal ujian untuk minggu depan."


"Baiklah nyonya Anggara, sesuai dengan perintahmu !"


Mereka pun pergi bersama sinar senja yang mulai temaram.


Bersambung....


Next...!


Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2