
"Bagaimana ?" tanya dokter Nita.
"Baiklah, aku setuju. Kapan kita berangkat ?" Ajay balik bertanya penuh semangat.
"Jangan terburu-buru ! Kita harus mengurus dulu prosedur pemindahanmu. Lagipula, kamu baru akan diberi izin keluar dari rumah sakit ini setelah kamu dinyatakan sehat secara mental sekitar 80 persen. Kalau kamu masih menunjukkan kelabilan-kelabilan lagi, maka pihak rumah sakit pasti akan menahanmu. Untuk itu, dimohon kerja samanya. Tunjukkan kalau kamu punya semangat untuk sembuh." jawab dokter Nita berusaha menjelaskan secara perlahan kepada Ajay.
"Aku tidak gila, Nit !" ucap Ajay tiba-tiba.
Meskipun terkejut, namun dokter Nita berusaha untuk menutupinya. Dia menghampiri Ajay dan duduk berhadapan dengannya. Dokter Nita memegang kedua tangan Ajay.
"Aku tahu Jay, aku percaya kamu tidak memiliki gejala ke arah sana. Jadi aku minta, tunjukkan semuanya kepada semua orang. Terutama kepada para dokter di sini. Dengar, setelah kita keluar dari sini, aku akan membantumu mengatasi semua rasa trauma mu, penyesalanmu, dan juga rasa bersalahmu. Oke !" jawab dokter Nita mencoba menenangkan perasaan Ajay.
"Apa Kya akan memaafkan aku ?" tanya Ajay penuh keraguan.
"Kau lebih tahu bagaimana Kyara ? Menurutmu, apa Kya akan memaafkanmu ?" dokter Nita malah balik bertanya.
"Aku yakin Kya akan memaafkanku. Tapi aku ragu jika dia akan kembali padaku." ujar Ajay menundukkan kepalanya.
"Dari mana kau tahu ?" tanya dokter Nita.
"Pertemuan terakhir kami. Dia terlihat sangat membenciku, dan dia bilang padaku jika detik itu juga dia memutuskan hubungan denganku dan tidak akan pernah kembali padaku." ujar Ajay lirih.
"Sudahlah ! Jangan terlalu berpikir tentang hal yang berat-berat !" ujar dokter Nita menepuk pelan punggung tangan Ajay.
"Nit !" panggil Ajay. "Apa aku salah mencintainya" tanyanya lagi.
Dokter Nita kembali tersenyum. "Kau tidak salah mencintainya, yang salah itu kau memaksakan cintamu. Dengar Ajay, rasa cinta, kekaguman, dan kasih sayang, itu adalah hak setiap manusia. Namun ada kalanya hak itu tidak wajib kita dapatkan di saat orang yang kita cintai telah memiliki rasanya sendiri. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Karena mereka juga memiliki hak untuk menolak dan menerima. Kita patut bersyukur jika orang yang kita cintai menyambut rasa kita, namun jika tidak, sebaiknya lepaskan dia untuk memilih dan memiliki cintanya sendiri. Karena di suatu tempat, ada cinta lain yang sedang menunggu kita untuk memilikinya. Ikhlas adalah kunci utama dalam mencintai. Miliki cintamu dengan ikhlas jika kalian sama-sama saling mencintai. Tapi lepaskan cintamu dengan ikhlas jika pada akhirnya kebersamaan kalian hanya akan saling menyakiti."
Dokter Nita mencoba mencoba memberikan pengertian selembut mungkin, supaya Ajay tidak merasa tersinggung dengan semua ucapannya.
Ajay termenung mendengarkan setiap kalimat yang meluncur dari bibir dokter Nita. Tenang...! Entah kenapa Ajay bisa merasa tenang saat mendengarkan kata-kata dokter Nita.
***
Dua hari telah berlalu, namun tak pernah sekali pun bos nya menghubunginya. Doni pun mulai merasa cemas.
"Je ! Apa sudah dapat kabar dari bos ?" tanya Doni kepada Jeje.
"Belum ada bos ! Mungkin bos besar sedang sibuk, bos !" ujar Jeje dengan gaya kemayunya.
"Ya ! Mungkin saja, tapi aku benar-benar cemas Je, apa aku hubungi pak Anto saja ?"
Hening....
***
Bagas masih terikat di dalam ruangan itu sendirian. Sial...! Siapa sebenarnya orang itu, dan kenapa dia menyanderaku di sini ? Apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku ? batin Bagas.
Tap .... tap...tap...
Terdengar derap langkah kaki menghampirinya. Seseorang menyodorkan sepiring makanan di meja dekat Bagas.
"Makanlah !" perintahnya.
"Apa kau buta !" teriak Bagas.
"Dengar kawan, jangan menyulut emosiku ! Sekarang, makanlah !" kembali pria botak itu memberikan perintah.
"Ah selain buta, rupanya kau benar-benar bodoh !" Bagas kembali mengejeknya.
"Kau....!"
BRAKK....!
Pria botak itu menggebrak meja. Jarena takut lepas kendali, akhirnya pria itu pun pergi. Tak berapa lama, dia datang kembali bersama ketiga rekannya. Dia menghampiri Bagas lagi.
"Dengar, aku akan melepaskan tangan kananmu, jangan coba-coba melawan kami dan berniat lari dari sini ! Apa kau mengerti !"
Bagas diam.
Plukk....!"
Teman si pria botak itu menimpuk kepala Bagas dengan majalah yang tadi sedang dibacanya.
"Hei ! Temanku sedari tadi berbicara padamu. Kau mengerti atau tidak !" ujarnya penuh penekanan.
"Oke ! Aku mengerti !" jawab Bagas.
Setelah itu tangan kanan Bagas pun dibiarkan terlepas. Namun ikatan di matanya tak kunjung jua mereka lepaskan. Akhirnya Bagas terpaksa makan dengan meraba-raba makanan di depannya karena tidak bisa melihat.
Sial...! Awas saja kalian, jika aku bisa keluar dari sini, aku akan menghajar kalian...! batin Bagas seraya memasukkan nasi sesuap demi sesuap.
Selesai makan, Bagas kembali diikat. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Bagas pun kembali bernegosiasi dengan preman-preman di ruangan itu.
__ADS_1
"Dengar, aku tahu kau hanyalah orang suruhan. Berapa mereka membayar mu ? Aku akan memberikan dua kali lipat dari harga yang telah mereka berikan pada kalian !" Bagas masih berusaha untuk membujuk mereka.
Diam..., ketiga preman itu hanya bisa diam. Mereka memang tergiur dengan penawaran yang diberikan Bagas. Tapi mereka tahu jika bos nya sangat kejam. Dia adalah ketua gengster dari luar negeri.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak mengoceh ! Lebih baik kau simpan tenagamu untuk menyambut kematianmu !" bentak pria botak yang sedang merapikan piring bekas makan tawanannya.
Shitt...! umpat Bagas dalam hati.
***
Matahari mulai meninggi. Udara pun semakin panas. Puku 12.15. Suara bel istirahat kedua berbunyi. Anak-anak sekolah dasar Mutiara Bangsa tampak berhamburan keluar dengan wajah cerianya. Mereka terlihat senang menyambut waktu istirahatnya.
Kyara menghampiri Arumi yang tengah asyik menikmati makan siangnya di bawah pohon yang rindang.
"Assalamualaikum, baby Arum !" sapa Kyara sembari menjatuhkan bokongnya di samping Arumi.
"Waalaikumsalam, onty ! Apa kabar ?" tanya Arumi.
"Kabar onty baik. Arum sendiri ?"
"Baik ! Kenapa wajah onty kelihatan pucat ? Onty sakit ?"
"Tidak..., onty tidak sakit. Mungkin cuma kecapean aja ! Oh iya Arum, apa Arum lihat uncle di rumah Arum ?" tanya Kyara mengorek informasi tentang suaminya kepada gadis kecil itu.
Arumi menggelengkan kepalanya. Sejenak kemudian dia menelan makanannya.
"Uncle udah lama nggak main ke rumah, onty." jawab Arumi.
"Apa Arum yakin, dari kemarin uncle nggak ke rumah Arumi ?" tanya Kyara memastikan.
Arumi mengangguk-anggukan kepalanya.
"Uncle kalau ke rumah pasti nemuin Arum dulu. Lagipula semenjak uncle nikah, uncle kan suka ajak onty kalau main ke rumah." ujar Arumi seraya menyendok kembali nasi bekalnya.
Kyara diam. Memang benar apa yang dikatakan gadis cilik itu. Suaminya tak pernah pergi ke rumah kakaknya tanpa mengajaknya. Kyara menyandarkan punggungnya pada batang pohon besar itu. Kemana kamu kakang...? Sudah dua malam kamu tidak pulang...., batin Kyara.
***
Di waktu yang sama di tengah hutan belantara. Sebuah mobil berhenti di depan gubuk dekat gudang kosong yang menjadi tempat untuk menyandera Bagas.
Pria bertato segera turun dan membukakan pintu belakang. Pintu terbuka dan seorang pria bertubuh tegap tampak berjalan menghampiri para penjaga.
"Siang bos !" sapa mereka.
"Apa benar itu bos kita ?" tanya pria botak kepada teman yang berada di sampingnya.
"Benar !" jawab pria bertubuh pendek.
"Tapi kenapa wajahnya tidak sesangar seperti bos-bos mafia lainnya ?" tanyanya semakin penasaran.
"Diamlah ! Wajahnya memang tidak sangar, tapi perbuatannya sangat kejam. Kabarnya, dia tidak akan pernah mau mengampuni orang-orang yang telah menyinggungnya. Sekarang, lebih baik kamu tutup mulutmu, jika kamu memang ingin selamat !" perintah si pria bertubuh pendek.
Pria maskulin bertubuh tegap itu pun segera memasuki ruang penyekapan Bagas.
Brakk...!!
Dia menendang pintu ruangan dengan sangat kuat, membuat pintu itu pun lepas dari engselnya.
Bagas mendongakkan kepalanya dan menajamkan telinganya ketika mendengar suara gebrakan itu.
"Siapa di situ ? Lepaskan aku bajingan !" teriak Bagas. "Aku tahu kalian hanya orang-orang suruhan. Katakan ! Siapa yang menyuruh kalian menyekapku di sini !" teriak Bagas semakin emosi.
"Aku tuan Bagas Anggara....!" ujar pria bertubuh tegap itu.
Suara itu....! Aku kenal suara itu...! batin Bagas.
"Je.... Jeje....?" tanya Bagas pelan.
Orang bertubuh tegap itu memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk membuka kain penutup mata tawanannya.
Kemudian pria bertato tadi mendekati Bagas dari arah belakang. Dia pun membuka kain yang selama 2 hari ini menutupi mata Bagas. Bahkan untuk pergi ke kamar mandi pun, kain itu tak pernah mereka lepaskan. Bagas benar-benar merasa terhina dengan perlakuan mereka.
Bagas mulai mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya remang-remang yang masuk ke dalam retinanya. Beberapa detik kemudian, dia pun mulai bisa melihat dengan jelas keadaan di sekitarnya.
"Jeje....! Kau...?"
Bagas sangat terkejut melihat sekretarisnya yang tengah berdiri di hadapannya dengan memakai setelan jas hitam. Perawakannya begitu tegap, berbeda sekali dengan penampilan dia saat sedang berada di kantor.
"Ya, benar ! Ini aku tuan Bagas Anggara, Jeje sang sekretarismu..., ha...ha... ha...!"
Jeje tertawa keras sambil merentangkan kedua tangannya. Dia menengadahkan wajahnya dengan seringai kecil tersungging di bibirnya.
"Ja...jadi kau dalang di balik penyekapan ini ?" ujar Bagas geram.
__ADS_1
"Ha....ha...ha...! Pintar...., sangat pintar ! Memang akulah dalang di balik semua penculikan dan penyekapanmu tuan Bagas." ujar Jeje tertawa terbahak-bahak.
"Kau...! Lepaskan aku.. ! Lepaskan !"
Bagas mulai berteriak sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya yang terikat, sehingga kembali menimbulkan kegaduhan.
"Diam !"
PLAKK....!
Si pria bertato membentak seraya menampar Bagas hingga sudut bibir Bagas mengeluarkan darah.
"Ish Max..., kenapa kau kejam sekali ! Lihatlah, raut muka adik iparku jadi hilang satu level ketampanannya..!" ujar Jeje seraya mengamati wajah Bagas dari dekat.
A..adik ipar...! gumam Bagas dalam hati.
"Siapa kamu sebenarnya ? Kenapa kamu menculikku ? Apa mau kamu ?" teriak Bagas.
"Hei..., tenanglah...adik ipar...! Jangan pernah berteriak pada kakak iparmu ! Bersikap sopanlah sedikit ! Apa ini cara penyambutan seorang CEO perusahaan otomotif terbesar kepada kakak iparnya ?"
"Cih ! Istriku tidak akan mungkin memiliki kakak ipar seperti kamu !" ucap Bagas dingin.
"Ah, kau benar ! Istrimu yang cantik dan anggun, tidak akan mungkin memiliki seorang kakak ketua gengster sepertiku, dan aku memang bukanlah kakak dari istrimu..., Meskipun aku tidak akan pernah keberatan jika dia menganggapku kakaknya...ha...ha...ha...!"
"Cukup ! Jangan bertele-tele ! Katakan, apa maumu ?!"
Jeje kembali mendekati Bagas.
"Kematianmu ! Aku mau kematianmu, tuan Bagas ! Jika memang adikku tidak bisa mendapatkan dirimu, maka tidak ada seorang pun yang akan bisa mendapatkan dirimu. Kau tahu, istrimu telah menghancurkan kehidupan adikku. Dan sekarang gilirannya, akan aku buat istrimu menderita dengan kematianmu....ha...ha...ha...."
Jeje kembali tertawa keras, membuat orang yang berada di sekitarnya, merinding mendengar tawanya.
"Adik...?" gumam Bagas. "Siapa adik yang kau maksud ?" tanya Bagas.
"Ck...ck...ck..., sepertinya kamu memang benar-benar tidak mengenalku dan bahkan kamu sudah melupakan kenangan tentang adikku. Kau tahu Bagas, semua ini benar-benar membuatku ingin segera membunuhmu ! Kau benar-benar keterlaluan ! Brengsek ! Kau tidak punya hati, sampai kau tega menyakiti perasaan seorang wanita !"
BUGH...
BUGH...
Emosi Jeje sudah mulai tak bisa dibendung saat Bagas melupakan kenangan adiknya. Atau lebih tepatnya mendiang adiknya. Puas memukuli Bagas, Jeje berdiri dan kembali membenahi jasnya.
"Ah, sepertinya kita melupakan sesuatu sampai kau tidak mengingat adikku. Perkenalkan tuan Bagas, namaku Jeremy kakak kandung dari Rachella yang tak lain adalah sepupu dari kakak iparmu."
DEG.....!
***
Di kota J. Doni tampak mondar-mandir setelah mendapatkan kabar jika pertemuan dua hari yang lalu telah dibatalkan.
"Apa maksudnya ini ? Bukankah sudah jelas jika dua hari yang lalu bos pergi ke Samarinda untuk pembebasan lahan masyarakat." gumam Doni.
Doni mendaratkan bokongnya di kursi kebesaran Bagas yang dititipkannya. Dia memejamkan matanya mencoba mencerna kembali pembicaraannya dengan pak Anto semalam.
"Assalamualaikum, pak Anto ! Apakah pembayaran untuk pembebasan lahan kepada masyarakat telah selesai ?" tanya Doni.
Doni merasa cemas karena tak mendapat kabar dari bosnya selama bosnya pergi ke Samarinda.
"Loh, bukankah pertemuannya dibatalkan, pak ?" jawab pak Anto dari sebrang telpon.
"Dibatalkan ? Ke... kenapa...? Dan... siapa yang membatalkan ?" jawab Doni semakin cemas.
"Pihak pak Bagas sendiri yang membatalkan, pak ! Sekretarisnya bilang, pak Bagas sedang melakukan peninjauan di perusahaan utamanya yang berada di Jerman. Jadi kemungkinan pertemuannya diundur seminggu ke depan." jawab pak Anto.
"Apa....! Ya sudah kalau begitu pak, saya coba konfirmasi dulu ke sekretaris pak Bagas. Maaf mengganggu waktunya. Assalamualaikum !" ujar Doni.
"Waalaikumsalam !" jawab pak Anto.
Doni segera menutup telponnya. Kenapa Jeje tidak memberitahukan semua ini ke gue, batin Doni.
Doni mengusap wajahnya kasar. Sudah hampir sore, tapi Jeje sama sekali tak kelihatan. Doni sudah bertanya kepada semua staf yang ada, mereka tidak ada yang tahu kemana Jeje pergi. Tak ada satu pun yang tahu alasan Jeje tidak masuk kantor.
Aaah..., kemana sebenarnya bocah itu...?? batin Doni seraya menjambak rambutnya dengan kasar.
Sementara itu, di gubuk tempat penyekapannya, Bagas hanya mampu diam mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya.
Bersambung....
Hai readers..., author mohon maaf jika kemarin naskahnya telat up, itu murni kesalahan sistem. Jadi othor minta maaf yang sebesar-besarnya jika telah mengecewakan readers.
Jangan lupa like vote n komennya 🙏
Othor juga ingin memperkenalkan cerita recehan othor yang kedua, jika berkenan ditunggu kehadirannya yaa..
__ADS_1