
"Apa kau tidak ingin mencium tanganku ?" tanya Bagas begitu mereka selesai solat berjamaah.
"Ck.. !"
Kyara berdecak kesal, namun dia juga tak bisa menolaknya. Sudah menjadi kewajibannya untuk selalu menghormati suaminya.
"Cobalah untuk belajar ikhlas dalam menjalani kewajibanmu, nona !" ujar Bagas lembut seraya mengusap pucuk kepala Kyara.
Kyara mendongak, untuk sejenak mereka saling beradu pandang. Kyara merasa bersalah, namun dia juga tidak bisa menahan egonya.
"Maaf !" ujar Kyara datar.
Kyara menarik napasnya panjang, kemudian dia menatap ke arah jendela.
"Kau tahu ? Selama 6 tahun aku tidak pernah berinteraksi dengan kaum Adam. Aku tidak membencinya, tapi aku juga tidak menginginkannya. Saat aku kuliah dulu, mereka memanggilku Ratu Es. Bahkan sebagian dari mereka ada yang menganggapku abnormal. Mereka berpikir jika aku seorang lesbian, karena itu aku selalu menjadi bahan cemoohan mereka, juga teman-teman wanita yang berkelas. Dan sekarang, tiba-tiba Tuhan memberiku takdir yang tidak pernah kuinginkan. Sungguh, semua ini masih sangat tidak masuk akal. Tuhan mengirimkan orang asing di kehidupanku."
"Hei nona, aku bukanlah orang asing. Aku masih tetap Bagas yang sama, Bagas yang kau kenal 7 tahun yang lalu. Bagas yang akan selalu menjagamu. Bagas yang pernah berjanji untuk tidak akan pernah membiarkan kau menangis lagi." ujar Bagas seraya meraih dagu Kyara agar bisa memandangnya.
"Kau benar ! Kau masih Bagas yang sama, Bagas yang hanya mengasihaniku. Bagas yang mengajakku menikah hanya karena rasa iba akan semua deritaku." ujar Kyara sinis.
Bagas terhenyak mendengar semua ucapan Kyara. Dia benar-benar sedih begitu mendengar anggapan Kyara tentang dirinya selama ini.
"Maafkan aku nona ! Dulu aku memang tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Namun asal kau tahu nona, aku benar-benar mencintaimu !" ujar Bagas penuh dengan kepastian.
__ADS_1
"Hmm, cinta...! Jika kau memang mencintaiku, kenapa kau tidak berusaha untuk membuktikannya waktu itu. Kenapa kau tidak menahanku dan memberikan alasan yang masuk akal ? Kenapa kau tidak mencariku ? Atau tidak usah mencari, cukup hubungi aku saja ! Kenapa kau tidak pernah menghubungiku ? Apa itu yang namanya cinta ? Membiarkan aku melewati semua penderitaanku sendirian ! Apa kau tahu ? Aku...aku kehilangan ayahku karena cinta ? Ibuku menjadi gunjingan tetanggaku hanya karena cinta yang aku rasakan ! Aku benci cinta ! Aku membencinya !"
Dada Kyara mulai bergemuruh meluapkan semua emosinya. Tidak bisa dipungkiri, dulu di saat dia merasa terpuruk dengan semua kesedihannya, dia sangat mengharapkan Bagas berada di sisinya, menemaninya dan menghiburnya. Namun dia harus menelan kekecewaan di saat semua harapan itu tak pernah menjadi kenyataan.
"Maafkan aku nona ! Aku benar-benar minta maaf ! Waktu itu, selepas mengantarkanmu ke terminal, tiba di bengkel, pak Bekti menelponku. Dia memintaku untuk segera menyelesaikan skripsiku. Dan karena aku sangat terobsesi untuk bisa segera lulus, akhirnya aku disibukkan dengan skripsiku agar aku bisa mengikuti sidang pertama. Kesibukan yang membuatku melupakan segalanya. Namun, tidak bisa aku pungkiri, aku masih bisa mengingat bayanganmu saat berada di tempat-tempat yang pernah kita singgahi. Selepas sidang dan setelah dinyatakan lulus, orang yang pertama kali aku ingat dan ingin kuberi kabar adalah dirimu. Namun sayangnya, kau tidak bisa dihubungi. Aku benar-benar kecewa saat nomor telponmu sama sekali tidak pernah aktif. Sampai akhirnya Andin melihat aku duduk termenung seorang diri selepas sidang. Andin bertanya padaku, dan aku pun menceritakan semua kegundahanku. Hingga ucapan Andin menyadarkan aku, jika sebenarnya aku telah jatuh cinta padamu. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku mulai mencintaimu, yang aku tahu, aku sangat merindukan kebersamaan kita. Asal kau tahu nona, aku pernah pergi ke desamu bersama Bima."
"A....apa...!!" Kyara terhenyak mendengar pengakuan Bagas.
"Sudahlah, lupakan saja ! Menceritakan semuanya hanya akan mengorek luka lama !" ujar Bagas seraya berdiri dan melipat sejadahnya.
"Itulah yang tidak pernah aku sukai darimu ! Kau selalu menganggapku lemah ! Cih.. ! Semua laki-laki memang sama, dia selalu menganggap lemah kaum hawa !" dengus Kyara merasa kesal karena Bagas mengakhiri ceritanya.
Bagas menyimpan sajadahnya. Dia mendekati Kyara. Tangannya terulur ke belakang untuk membuka tali mukenanya Kyara. Setelah itu, dia kemudian melepaskan mukena Kyara. Dia meraih tangan Kyara, dan membawanya ke sofa.
"Kau ingin mendengarkan cerita masa lalu ? Baiklah, akan aku ceritakan ! Asal kau tahu nona, aku menceritakan semua ini bukan untuk mengungkit semua penderitaanmu. Aku yakin jika istriku ini orang yang sangat kuat dan tegar. Aku menceritakan ini, agar engkau tahu seberapa jauh aku berjuang untuk menemui cintaku. Duduklah !"
"Tiga minggu setelah Ajay menikah, tiba-tiba Bima datang ke rumahku dengan membawa tas ransel. Tadinya ku pikir dia kabur dari rumah, tapi ternyata dia memintaku untuk menemaninya mencarimu ke kampung halamanmu. Karena hari sudah terlalu sore, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat esok pagi. Keesokan harinya, selepas solat subuh aku dan Bima berangkat ke kampung halamanmu, tapi... "
Bagas menghela napasnya sejenak. Dia pun menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit kamar dengan tatapan nanarnya.
"Tapi...?" Kyara mengulang ucapan Bagas.
Bagas menoleh, menatap lekat wajah oval istrinya.
__ADS_1
"Tapi kami tidak menemukanmu di rumahmu. Tiba di sana, ternyata rumah itu telah ditempati oleh orang lain. Saat kami menanyakan keberadaanmu, wanita itu tidak mengenalmu. Tapi dia menyuruh kami untuk menemui orang yang bernama kang Subro. Akhirnya kami pun pergi menuju rumah kang Subro. Ternyata orang itu tidak berada di rumahnya. Seorang ibu paruh baya memberitahu kami untuk mencari kang Subro di pangkalan. Dan saat kami menunggu orang itu di pangkalan, di situlah kami mengetahui jika ayahmu telah meninggal."
"Ayah....!" lirih Kyara.
Bagas menyeka air mata yang mulai menggenang di sudut mata istrinya.
"Maafkan aku...! Maafkan aku karena tidak pernah berada di sisimu di saat-saat tersulitmu !" ujar Bagas membelai lembut pipi istrinya.
"Lalu ?"
"Akhirnya kang Subro datang. Dia pun mulai menceritakan tentang keadaan kamu dan ibumu. Dia juga bilang kalau kalian telah pindah rumah. Sayangnya, dia tidak mengatakan kemana kalian pindah. Dia hanya menyuruh kami untuk mencarimu ke sebuah panti. Namun tiba di panti, pengurus panti mengatakan jika kamu sudah tidak bekerja di sana lagi. Akhirnya, untuk yang kedua kalinya aku kehilangan jejakmu. Aku benar-benar kecewa, aku merasa frustasi karena tidak tahu harus mencarimu kemana."
Kyara diam tanpa ekspresi. Meski batinnya kini tengah berperang antara harus percaya atau tidak dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Setelah lulus wisuda, aku pun memutuskan untuk menjual semua aset keluarga dan memulai kehidupan baruku di kota ini."
"Hanya sebatas itu perjuanganmu ?" ujar Kyara seraya berdiri hendak keluar kamarnya.
"Sebelumnya, aku juga pernah bertemu dengan ibumu !"
DEG.....!!
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya ya...
🙏🙏🙏