Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kyara VS Rachella


__ADS_3

Brakk...


"Apa kau tidak apa-apa...!"


"ya, aku tidak apa-apa ! Boleh aku duduk di sini ?"


"Maaf, ini tempat duduk temanku ! Jika anda mau, anda bisa memilih tempat duduk yang lainnya. Masih banyak tempat duduk yang kosong di kafe ini." ujar Bagas dingin.


Ish..., apa dia tidak mengenalku.. ??


"Aah..., ayolah tuan..., temanmu kan belum datang, jadi aku boleh kan duduk di sini !" ujar suara manja Kyara.


Bagas sedikit melirik ke arah wanita yang tengah berdiri di hadapannya.


Kenapa suaranya mirip istriku...? Tapi tidak mungkin, penampilannya sangat berbeda.


"Bolehkan tuan...!"


Kyara memaksakan dirinya untuk duduk seraya memegang tangan Bagas yang sedang bermain HP di atas meja.


Bagas terkejut ada rasa tak suka saat gadis itu memegang tangannya. Namun saat dia melihat cincin giok di jari manis itu, akhirnya Bagas mengenali siapa gadis yang sedang duduk di hadapannya.


Bagas menatap lekat gadis itu, memang benar, dia adalah Kyara istrinya. Bagas tidak mengenalinya karena Kyara menggunakan softlens dan baju yang dipakainya pun terlihat modis. Akhirnya Bagas menyadari jika selama ini dia jarang mengajak Kyara keluar, karena itu Kyara jarang sekali mengenakan riasan di wajahnya dan juga pakaian yang bagus.


Ah nyonya Anggara, kau ingin bermain-main denganku ? Baiklah, akan ku layani..., batin Ajay menyeringai licik.


Bagas balik menggenggam erat tangan Kyara, membuat Kyara merasa terkejut.


Ish..., kenapa dia menggenggam tanganku...., batin Kyara.


"Jadi kau tetap mau menemaniku !" ujar Bagas sedikit menggoda.


Meskipun merasa kesal dengan perubahan sikap suaminya, Kyara pun mengangguk.


"Ah, baiklah..! Kau boleh menemaniku makan di sini !" ujar Bagas seraya berdiri dan mendekati gadis itu tanpa melepaskan genggamannya.


Bagas duduk di sebelah Kyara.


"Apa setelah makan kau mau menemaniku ke hotel ?" bisik Bagas di telinga Kyara.


Kyara bergidik geli merasakan hembusan napas suaminya di sekitar telinganya.


Ish..., jadi seperti ini kelakuan dia di luaran...! Ya Allah, apa aku menikahi orang yang salah...! Awas saja kamu, kang...! Setelah ini aku akan kembali ke kontrakanku...!


"Aah...maaf tuan...! Sepertinya kau salah mengajak orang ! Permisi...!" ujar Kyara seraya berdiri dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ajay.


Brugh....!!


Bagas ikut berdiri, namun dengan cepat dia menarik tangan Kyara sehingga Kyara jatuh terjerembab di dada bidangnya Ajay. Tangan kiri Bagas segera memeluk pinggang Kyara erat, sehingga mau tidak mau tubuh mereka saling menempel. Bagas menatap tajam ke arah Kyara seraya melangkahkan kakinya. Kyara akhirnya terjebak dalam himpitan tubuh Bagas dan dinding kafe.


"Apa aku salah mengajak istriku ke hotel ?" ucap Bagas tersenyum.


"Kakang....!"


"Ha....ha....ha....!"


Bagas tertawa renyah, merasa puas karena telah menyerang balik permainan istrinya.


"Jadi kau mengenaliku...?" ujar Kyara bersemu malu.


"Hanya suami bodoh yang tidak bisa mengenali istrinya sendiri..., ha...ha..ha...!"


"Sudah cukup kakang ! Jangan terus mentertawakan aku ! Aku benar-benar malu." ujar Kyara menutup wajahnya.


"Kau cantik sayang ! Sangat cantik, tapi bolehkah aku minta satu hal padamu !" ujar Bagas lembut.


"Apa ?"


"Tolong jangan gunakan softlens, aku tidak suka jika bola matamu yang kecoklatan itu harus tertutupi."


Kyara tersenyum, kemudian mengangguk.


"Kau sendirian ?" tanya Bagas lagi.


"Tidak, aku bersama Rani. Ish, aku harus menghukum Rani karena telah memaksaku untuk menggodamu !" ujar Kyara.


Namun saat Kyara berbalik ke arah mejanya. Tampak Rani hanya tersenyum mesem kepadanya.


"Sudah, ajak temanmu untuk gabung makan di sini !" perintah Bagas.


"Tapi kita sudah makan, kang ! Kakang lanjutkan saja makannya sama Doni. Biar aku tunggu di mejaku saja. Setelah itu kita pulang bareng." ujar Kyara.


"Baiklah !"


***


Keesokan harinya.


"Apa acaramu hari ini, sayang ?" tanya Bagas saat mereka sedang sarapan.


"Sepertinya aku tidak punya acara apa pun. Emm, mungkin aku hanya akan membereskan apartemen saja." jawab Kyara.


"Apa kau tidak akan bosan tinggal di apartemen seharian ?" tanya Bagas lagi.

__ADS_1


"Jangan khawatir, aku masih punya stok buku untuk ku baca. Jadi aku tidak akan bosan tinggal seharian di sini.


"Maafkan aku nona, aku belum bisa mengajakmu jalan-jalan. Aku janji, begitu proyek dengan perusahaan M selesai, aku akan meluangkan waktuku untukmu."


"Sudah, jangan terlalu memikirkan aku. Selesaikan saja pekerjaanmu, supaya kau tidak pulang larut malam terus. Aku khawatir sama kesehatanmu, kang ! Sudah beberapa minggu ini kamu kurang tidur."


"Iya, do'akan saja supaya proyek nya bisa selesai tepat waktu. Ya sudah, aku berangkat dulu ya ! Assalamualaikum !"


Kyara mengantarkan suaminya sampai pintu apartemen. Setelah itu dia kembali ke dalam dan mulai membereskan apartemennya.


Pukul 09.00. Kyara kembali ke dapur untuk memasak makanan kesukaan suaminya. Hari ini dia akan memberikan sedikit kejutan untuk suaminya. Sebelumnya Kyara sudah menghubungi Doni tentang agenda suaminya hari ini. Dan kebetulan, di hari ini Bagas tidak memiliki agenda keluar kantor.


Kyara mulai mengocok telur dan mengiris tempe. Dia pun mulai membersihkan ayam, memotong wortel, kentang dan sayuran lainnya. Menu hari ini, Kyara akan membuat ayam rica-rica, omlett, sayur sop dan mendoan. Kebetulan Bagas memang tidak pernah pilih-pilih makanan. Apa pun yang di masak Kyara, Bagas selalu memakannya dengan lahap.


Dua jam berjibaku di dapur, akhirnya pekerjaan Kyara selesai juga. Setelah mengemas masakannya, Kyara pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. 30 Menit kemudian, Kyara sudah siap dengan menggunakan rok plisket berwarna maroon dipadukan dengan blouse yang berwarna krem, membuat Kyara terkesan lembut dan kalem. Kyara merias wajahnya dengan riasan natural. Tak lupa dia sedikit memoles bibirnya dengan lipstik berwarna soft pink, menambah kesan ayu di wajahnya.


Setelah semuanya siap, Kyara segera memesan taksi online menuju kantor suaminya.


Tiba di kantor.


"Assalamualaikum...! Bisakah anda tunjukkan ruangan pak Bagas Anggara !" ujar Kyara.


"Maaf, anda sudah membuat janji ?" tanya resepsionis.


"Mmm, sebenarnya saya belum membuat janji, tapi tolong anda katakan jika Kyara ingin bertemu." jawab Kyara.


"Ish, tidak bisa seperti itu, nona ! Orang yang ingin bertemu dengan CEO, harus membuat janji dulu. Karena bos tidak bisa menerima tamu yang tidak pernah membuat janji temu dengan beliau."


Ish, apa-apaan ini.. ! Masak aku harus membuat janji dulu hanya untuk bertemu dengan suami sendiri ! gerutu Kyara dalam hati.


Saat Kyara hendak kembali, tiba-tiba dia melihat Doni masuk ke lobi kantor.


"Pak Doni !" teriak pelan Kyara.


"Nona...!" gumam Doni.


Doni segera menghampiri istri bos nya.


"Kenapa nona masih berada di sini ? Kenapa tidak langsung ke ruangan bos saja ?" tanya Doni.


"Aku tidak tahu di lantai berapa ruangan bos mu, he...he...!"


Kyara terkekeh pelan menyadari kebodohannya yang tak mengetahui ruang kerja suaminya.


"Kenapa nona tidak meminta resepsionis untuk menunjukkannya !"


"Ish aku sudah memintanya, tapi resepsionis itu bilang, aku harus punya janji dulu untuk bertemu bos mu !"


"Ishh....! Ikut aku !" ujar Doni geram.


Doni menggebrak meja resepsionis.


"Apa bos kalian menggaji kalian hanya untuk bersikap tidak sopan terhadap tamu ?!"


"Ti... tidak pak !"


"Lalu kenapa kalian tidak menunjukkan di mana ruangan bos kepada nona ini ?"


"Ka...kami hanya menjalankan prosedur di kantor ini, pak ! Lagipula, nona ini tidak memiliki janji temu dengan tuan Bagas."


"Ish.... apa seorang is..."


"Pak Doni...!" seru Kyara seraya menggelengkan kepalanya.


Ish, hampir saja...! gumam Doni dalam hati.


"Maksud ku, nona ini adalah kerabatnya tuan Bagas. Ingat baik-baik wajahnya, jika suatu hari dia datang lagi kemari, kalian langsung persilakan dia masuk. Apa kalian mengerti !"


"Ba..baik tuan !"


"Maaf nona, saya tidak bisa mengantar nona ke ruangan tuan, saya sudah ditunggu klien di depan lobi. Nona bisa langsung naik lift CEO saja dan tekan tombol naik. Lift itu langsung menuju lantai ruangan CEO."


"Ah, baiklah ! Terima kasih !" ujar Kyara seraya membungkukkan badannya.


"Ish tidak perlu seperti itu, nona !" jawab Doni, sungkan.


Sementara itu di ruang Bagas.


"Cukup ya pangeran, sekarang waktunya jam makan siang ! Ayo kita keluar untuk makan siang !" ujar Rachella seraya menutup berkas yang sedang dipelajari Bagas.


"Bisakah anda bersikap sopan ?" tegur Bagas.


"Ah pangeranku, di sini hanya ada kita berdua. Aku sudah capek harus berpura-pura terus di depan semua karyawan. Ayolah pangeran, kapan kau akan mengenalkanku sebagai calon istrimu !" rengek Rachella.


"Tolong keluar, saya sedang sibuk !"


"Ayolah Bagas, kita makan siang dulu ! Kamu bisa sakit jika terus bekerja tanpa makan siang ! Lihatlah pipimu yang semakin tirus, sudah berhari-hari kau melewatkan makan siangmu, kau bisa sakit nanti !"


Dengan tidak tahu malunya, Rachella menyentuh pipi Bagas dan mengusapnya.


Kemarahan Bagas sudah mencapai puncaknya. Tapi dia tidak bersikap kasar kepada Rachella. Mengingat Rachella adalah saudaranya kak Gunawan. Bagas sudah tidak tahan lagi, dia pun berdiri dan mencekal lengan Rachella.


Tanpa mereka sadari sepasang mata sedari tadi mengamati mereka dari balik pintu.

__ADS_1


Ya ! Dia adalah Kyara. Saat dia tiba di depan ruangan Bagas, dia melihat pintu ruangan sedikit terbuka. Terdengar percakapan dari dalam, diam-diam Kyara pun mengintipnya.


Dada Kyara mulai bergemuruh mendengar rivalnya menyebut suaminya pangeran. Terlebih lagi saat dia meminta suaminya untuk mengenalkannya sebagai calon istrinya. Kyara mengepalkan tangannya saat tangan rivalnya menyentuh wajah suaminya.


Enak saja...! Kamu pikir kamu siapa ? Huh ini tidak bisa dibiarkan...


"Assalamualaikum...! Permisi...! Mohon maaf mengganggu kegiatan kalian !" seru Kyara menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu.


"KAU....!!"


Rachella tampak terkejut melihat kedatangan Kyara. Sedangkan Bagas, meski terkejut namun dia tersenyum tipis karena akhirnya Kyara mau menemuinya di kantor.


"Ah ya...! Aku nona..., anda masih mengingatku kan...? Mohon maaf harus mengganggu urusan kalian, tapi aku kemari untuk mengantarkan makanan ini." ujar Kyara sambil memperlihatkan rantang susun yang dibawanya.


"Hei pelayan ! Kenapa harus repot-repot mengantarkan makanan kemari ! Kamu cukup memasak saja di apartemennya ! Urusan di kantor, ada aku yang bisa melayani kebutuhan calon suamiku sendiri ! Pergilah !" usir Rachella merasa tak senang.


"Mohon maaf nona ! Tapi saya harus melayaninya dengan baik !"


"Cukup ! Kamu itu hanya seorang pembantu, tidak usah mencari perhatian tuanmu ! Pergilah !"


Kyara mendekati Bagas. Dia menatap Bagas lembut, dia mulai melingkarkan tangannya di leher Bagas, dengan sedikit berjinjit, Kyara mulai menabrakkan bibirnya ke bibir suaminya. Kyara mengulum bibir bawah Bagas.


Bagas cukup terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya. Namun saat dia melihat istrinya mulai memejamkan matanya, Bagas pun membalas ciuman Kyara. Kedua tangan Bagas melingkar di pinggang Kyara.


Satu menit....


Dua menit....


Tiga menit...


Sepertinya tak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk mengakhiri ciuman itu. Hingga ciuman yang berawal lembut berubah menjadi ciuman panas yang penuh gairah. Tanpa sadar Bagas mulai meremas bokong Kyara. Kyara pun mulai melepaskan ciumannya.


"Ishhh....ka...kang....!" desis Kyara di telinganya Bagas.


Bagas mendekap Kyara erat. Dia mulai menenggelamkan wajahnya di leher Kyara.


"Aku mencintaimu....! Aku sangat mencintaimu...!"


"Apa-apaan ini.. ! Dasar pelayan j*l*ng ! Tidak tahu malu, berani kau menggoda calon imamku !"


Rachella mulai kebakaran jenggot melihat hot movie di hadapannya. Dia pun mulai memaki Kyara dan melayangkan tangannya, namun sebelum tangannya mendarat di pipi Kyara, Kyara menahan tangan Rachella dengan kuat.


"Kau yang apa-apaan ! Kau yang j*l*ng ! Beraninya kau menggoda imamku ! Ya, aku memang pelayan, aku pelayannya luar dalam. Bagimu dia calon imammu, tapi bagiku dia imamku ! Imamku ! Suamiku ! Jadi aku peringatkan, mulai detik ini jangan pernah lagi kau ganggu suamiku ! APA KAU MENGERTI !" ujar Kyara penuh emosi.


"Tidak...! Ini tidak mungkin...!" teriak Rachella.


"Ini mungkin ! Sangat mungkin !"


Kyara mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Setelah itu dia mulai mendekati Rachella.


"Lihatlah ini, nona ! Ini bukti jika kami sah sepasang suami istri. Jadi aku mohon dengan sangat, jangan pernah mengejar suamiku lagi !"


Dengan tangan gemetar, Rachella mengambil surat nikah Bagas dan Kyara. Dia pun membolak-balik surat itu sebelum akhirnya melemparkannya ke lantai. Tanpa bicara lagi, Rachella pun berlari keluar dengan berlinang air mata.


Kyara memungut surat nikahnya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.


"Ish, kau kejam sekali sayang !" ujar Bagas seraya merangkul istrinya dari belakang.


"Demi mempertahankan suami dan harga dirinya, seorang istri harus sanggup bersikap kejam !" ujar Kyara.


"Lagipula, kenapa kakang hanya diam saja saat si gitar spanyol itu memegang pipi kakang ! Apa kakang menikmati sentuhannya !" gerutu Kyara kesal.


"Ish nona, tadi aku sudah ingin menghempaskan tangannya, namun tiba-tiba saja kau datang dan melawannya. Kau tahu nona, kau benar-benar hebat membuat rivalmu tak berkutik."


"Sudahlah, ayo kita makan !" ajak Kyara.


"Sepertinya aku sudah kenyang dengan makanan pembuka tadi." jawab Bagas.


"Makanan pembuka ?" tanya Kyara seraya mengernyitkan keningnya.


"Ciumanmu..." goda Bagas seraya mengedip-ngedipkan matanya ke arah Kyara.


"Ish..., kau ini...!" Kyara tersipu malu.


"Beri aku ciuman di pipi, setelah itu baru aku makan." ujar Bagas.


"Huh...! Kemarilah !"


Kyara menarik tangan Bagas untuk duduk di sofa. Bagas hanya bisa menuruti keinginan istrinya. Kyara menyuruh Bagas duduk di sofa, dan tanpa tahu malu dia pun duduk di pangkuan Bagas. Kyara mengamati kedua pipi Bagas.


"Pipi bagian mana yang tadi di sentuh oleh tangan si gitar spanyol itu ?" tanya Kyara sambil membolak-balik pipi suaminya.


Bagas menunjukkan pipi kanannya.


Kyara kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kali ini dia mengeluarkan hand sanitizer, dia pun mengolesi pipi kanan suaminya dengan hand sanitizer.


"Ish nona ! Istri orang lain mengolesi wajah suaminya tuh dengan moisturizer, ini kok sama hand sanitizer." rengut Bagas.


"Karena aku bukan istri orang lain, aku adalah istrimu ! Jadi bagaimanapun aku, kau harus bisa menerimanya, oke !"


"Sudah pasti nyonya Anggara !"


Bagas meraih tangan Kyara dan mengecupnya penuh kelembutan. Kyara pun tersenyum melihat perlakuan Bagas terhadap dirinya.

__ADS_1


Aku mohon, lindungilah ikatan ini Ya Allah...., batin Kyara seraya memejamkan matanya.


__ADS_2